Rabu, 14 Januari 2009

Kitab Ar Rasul - Sa'id Hawwa (Bagian III)

1) Kejujuran Rasulullah saw. dalam Canda
Manusia kadang-kadang tidak memegang teguh kejujuran dan kebenaran dalam
candanya, tetapi canda Rasulullah saw adalah jujur dan benar, serta meme-
rintahkan kepada umatnya untuk memegang teguh kejujuran dalam segala situasi
dan kondisi.

Ahmad meriwayatkan dari Anas bin Malik, “Seorang datang pada Nabi saw. dan
meminta pada beliau untuk dinaikkan kendaraan, Rasulullah saw. menjawab,
‘Aku akan menaikkan kamu pada anak unta.’ Lelaki itu menukas, Wahai Rasu-
lullah, apa yang aku perbuat dengan anak unta?’ Rasulullah menjawab, Tidakkah
unta hanya melahirkan anak unta (Maksudnya, bukankah anak unta itu juga
unta).’” (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Zaid bin Aslam berkata, “Seorang wanita yang disebut Ummu Aiman datang
kepada Nabi saw. dan berkata, ‘Suamiku mengundangmu.’ Nabi menimpali
(dengan nada bergurau), ‘Siapakah ia? Apakah ia yang di matanya ada putih-
putihnya?’ Wanita itu berkata, ‘Demi Allah, tidak ada putih-putih pada matanya.’
Beliau menjawab, Thenar, pada matanya ada putih-putihnya.’ Ia berkata, Tidak
demi Allah.’ Beliau menjawab, Tidak ada seorang pun kecuali di matanya ada
putih-putihnya.’” Beliau memaksudkan putih biasa yang melingkari kornea mata,
tetapi wanita itu memahaminya sebagai putih di tengah-tengah mata yang berarti
lelaki tersebut terkena penyakit mata semacam katarak.

Ahmad meriwayatkan dari Anas, “Seorang lelaki dari Badui bernama Zahir
memberi hadiah Nabi dengan suatu hadiah dari Badui, maka Nabi memper-
hatikannya ketika hendak keluar. Rasulullah bersabda, ‘Zahir adalah orang Badui
kita dan kita adalah orang kotanya.’ Ia adalah lelaki yang kurus dan Rasulullah
menyukainya. Ketika ia sedang menjual barang-barangnya, Rasulullah menda-
tanginya dan mendekapnya dari belakang, saat itu ia tidak melihat Nabi. Zahir
berkata, ‘Lepaskan aku, siapa ini?’ Lalu, ia menoleh dan mengenal Rasulullah. Ia
membiarkan punggungnya melekatpada dada Nabi ketika ia mengetahui bahwa
yang mendekap adalah Nabi. Rasulullah lalu berkata (dengan nada bercanda),
*Siapa yang mau membeli seorang hamba?’ Zahir lalu menyahut, Wahai
Rasulullah, jadi, demi Allah engkau menjadikan aku murah tak laku.’ Rasulullah
saw. bersabda, ‘Kamu di sisi Allah tidak murah.’ Atau beliau bersabda, ‘Kamu
mahal di sisi Allah.’” Diriwayatkan oleh orang-orang tsiqah. Dari perbincangan di
atas, beliau memaksudkan hamba adalah hamba Allah, dan kita semua adalah
hamba Allah swt.

At-Tirmidzi mengeluarkan dalam bab Syamail bahwa Hasan berkata, “Seorang
nenek-nenek mendatangi Nabi saw. dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, doakanlah
pada Allah agar memasukkan aku ke surga.’ Beliau menjawab, Wahai Ummu
Fulan, sesungguhnya perempuan tua tidak masuk ke dalam surga.’ Maka
perempuan tua itu berpaling dan menangis. Beliau bersabda, ‘Beri tahu ia bahwa
ia tidak akan masuk surga dalam keadaan tua. Allah berfirman,

‘Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung,
dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan.”‘ (al-Waaqi’ah: 35-36)

At-Tirmidzi juga mengeluarkan dalam bab Syamail bahwa Anas berkata,
“Rasulullah berkata kepadaku, Wahai yang memiliki dua kuping.’” Abu Samar
berkomentar bahwa maksud beliau adalah bergurau, setiap manusia memiliki dua
kuping.

Anda lihat dari contoh-contoh di atas bahwa canda beliau tidak keluar dari
kebenaran dan kejujuran, melainkan menggunakan cara yang halus, sampai
kadang tidak dimengerti lawan bicaranya, sehingga lawan bicaranya tersebut
memahaminya dengan pemahaman yang lucu. Begitulah, semua canda dan gurau
beliau adalah jujur dan benar.

At-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Abu Hurairah berkata, “Para sahabat berkata,
Wahai Rasulullah. Engkau bergurau dengan kami.’ Beliau bersabda,

‘Aku tidak berkata kecuali benar.’”

Yang ada pada beliau itu adalah kenabian yang jujur dan benar. Tidak ada
kenabian yang di dalamnya ada kebatilan sedikit pun.


2) Kejujuran Rasulullah dalam Janji
Abu Dawud meriwayatkan bahwa Abdullah bin Abi Khansa berkata, “Aku
melakukan transaksi jual-beli dengan Nabi saw. sebelum beliau diutus, dan ada
sisa barang yang belum aku berikan padanya, lalu aku menjanjikan padanya untuk
memberikannya di tempatnya itu. Di hari yang telah ditentukan itu dan hari se-
telahnya ternyata aku lupa mendatanginya, aku datang pada hari yang ketiga, aku
dapati beliau telah berada di tempat itu. Beliau berkata, Wahai Pemuda, kau telah
menyusahkan aku, aku telah berada di sini selama tiga hari menunggumu.’”

Dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dan al-Hakim, “Rasulullah sedang duduk membagi
pampasan perang Hawazin di Hunain, seseorang berdiri di hadapan beliau dan
mengatakan, ‘Engkau mempunyai janji denganku wahai Rasulullah.’ Beliau
menjawab, ‘Kamu benar, ambillah yang kamu inginkan.’ Lelaki itu berkata, ‘Aku
ambil delapan puluh domba dan penggembalanya.’ Beliau menjawab, Ya, itu
milikmu.’ Lelaki itu berkata, ‘Engkau memutuskan dengan mudah sekali.’”

Al-Hakim meriwayatkan dari Huwaithib bin Abdul Uzza dalam kisah masuk
Islamnya. Ketika masih musyrik, ia memimpin delegasi yang meminta pada
Rasulullah saw. untuk meninggalkan Mekah dalam Umrah Qadha’ setelah masa
tiga hari yang disepakati. Huwaithib berkata, ‘Ketika Rasulullah datang untuk
Umrah Qadha’ dan kaum Quraisy keluar dari Mekah, aku termasuk orang-orang
yang tetap tinggai di Mekah, yaitu aku dan Suhail ibnul Amru, yang bertugas
untuk mengeluarkan Rasulullah jika waktunya telah lewat Tatkala tiga hari telah
terpenuhi aku dan Suhail ibnul Amru menghadap beliau dan mengatakan, Telah
lewat syaratmu maka keluarlah dari negeri kami.’ Beliau langsung berteriak,
Wahai Bilal, jangan sampai ada kaum muslimin yang ikut kita masih berada di
Mekah saat matahari terbenam.’”

Berikut ini bagian dari kitab Bathlul Abthal, pengarangnya merinci sebagian sikap
setia pada janji yang diamalkan oleh Rasulullah saw. Ia menuliskan, “Sebelum
tahun Perjanjian Hudaibiyah kaum Quraisy telah mengepung Madinah.
Persekutuan orang-orang kafir (Ahzab) yang terdiri dari seluruh bangsa Arab baik
Arab kota maupun Badui telah bersepakat untuk melakukan hal itu. Bani
Quraizhah mencabut perjanjiannya dengan Rasulullah. Dengan adanya hal itu,
bertambahlah penderitaan kaum muslimin, mereka benar-benar digoncang dengan
goncangan yang dahsyat, tetapi Allah menolong hamba-Nya yang beriman, dan
memuliakan mereka serta menanam ketakutan dalam hati kaum musyrikin.
Akhirnya, pasukan Islam dengan dipimpin Rasulullah menyerang kota Mekah dan
sampai di Hudaibiyah. Kaum Quraisy lalu mengirim utusannya pada Muhammad.
Coba perhatikan, inilah Urwah ibnul Masud ats-Tsaqafi utusan mereka, kembali
kepada mereka dan menyifati keadaan Muhammad saw. serta tentaranya dengan
kalimat sebagai berikut

‘Aku telah datang pada Kisra Persia dalam kerajaannya, dan Kaisar Romawi
dalam kerajaannya serta Raja Najasyi dalam kerajaannya, sungguh aku tidak
melihat seorang raja sekali pun di mata rakyatnya seperti Muhammad di mata
sahabat-sahabatnya.’ Muhammad saat itu dalam keadaan mantap dan kuat tetapi
ia tidak ingin perang. Ia bersabda,
‘Jika saat ini Quraisy mengajakku kepada rencana yang isinya memintaku untuk
menjalin silaturahmi, pasti aku penuhi’

Suhail bin Amru datang sebagai delegasi Quraisy yang membuat Muhammad
saw. dan pasukannya tidak jadi masuk Mekah. Salah satu syarat perjanjian ini
adalah syarat yang secara zahir merugikan, yaitu bahwa Muhammad harus
menyerahkan kepada Quraisy orang yang pergi ke tempat kaum muslimin tanpa
izin walinya, dan mereka tidak dituntut mengembalikan pengikutbeliau yang pergi
ke Quraisy.

Syarat ini mengagetkan para sahabat Nabi saw., termasuk Umar ibnul Khaththab
r.a.. Sehingga ia pergi menemui Abu Bakar dan Rasulullah saw. seraya
mengatakan, ‘Bukankah kita muslimin! Bukankah mereka musyrikin! Bukankah
engkau Rasulullah! Untuk apa kita berikan kerendahan pada agama kita?’
Rasulullah saw. bersabda, ‘Aku adalah hamba Allah dan rasul-Nya tidak akan
menyalahi perintah-Nya dan Dia tidak akan menyia-nyiakan aku.’ Abu Bakar
berkata, ‘Aku bersaksi sesungguhnya dia utusan Allah.’

Menerimanya kaum muslimin pada syarat ini adalah menyerahnya mereka pada
perkara yang belum diketahui rahasianya. Hal itu merupakan ujian yang terbesar
bagi kesabaran mereka.
Ketika mereka dalam keadaan bersitegang seperti ini dan Rasulullah saw. telah
selesai bernegosiasi dengan delegasi Quraisy, yaitu Suhail bin Amru, namun akad
belum ditulis dan belum selesai. Tiba-tiba datanglah pada mereka Abu Jandal, ia
berteriak dan berjalan tertatih-tatih dengan kaki terbelenggu. Abu Jandal ini
adalah anak Suhail bin Amru. Begitu Suhail melihat anaknya, ia beranjak ke arah-
nya dan mengambil rantai belenggunya seraya berkata, ‘Wahai Muhammad, per-
soalan antara aku dan kamu telah mengerucut-artinya negosiasi telah selesai-
sebelum datang anak ini.’ Nabi menjawab, ‘Kau benar.’ Dan, Abu Jandal
berteriak memanggil-manggil kaum muslimin, ‘Apakah aku akan dikembalikan
pada kaum musyrikin yang merusak agamaku?’

Bayangkanlah sikap itu, sikap Muhammad saw. yang berani, yang telah aku
ceritakan pada Anda keberaniannya yang tiada bandingnya. Dialah orang kuat
yang keluar dari Madinah maju dengan tentaranya. Sekarang telah Anda dengar
bagaimana Urwah bin Mas’ud menyifatinya. Bayangkanlah bagaimana beliau
melihat sahabat terdekatnya (dalam keadaan tersiksa), datang tertatih-tatih
terbelenggu, padahal ia termasuk orang terpandang di Quraisy, ia berjalan
terbelenggu karena ikut Muhammad dan ikut agama Muhammad. Kemudian
lihatlah, beliau tidak goyah dan tidak ragu-ragu sama sekali pada apa yang belum
ditulis dan belum selesai. Beliau berkata pada Suhail, ‘Kau benar, persoalan telah
selesai.’ Dan beliau mengembalikan sahabatnya dalam keadaan menangis pada
musuhnya. Coba lihatlah itu semua. Lantas siapa saja, coba tuliskan padaku satu
keteladanan saja dalam sejarah manusia semua seperti keteladanan yang dicontoh-
kan Muhammad saw. dalam menjaga dan menepati perkataan yang telah ia kata-
kan meski belum ditulis dan belum selesai.”

Penulis kitab juga menuturkan contoh lain,
“Kemudian lihatlah, kesetiaan beliau juga terhadap musyrikin. Di antara syarat
Perjanjian Hudaibiyah adalah siapa saja bisa masuk dalam akad dan janji
Muhammad dan siapa saja bisa masuk dalam akad dan janji Quraisy. Masuklah
kabilah Khuza’ah dan sekutunya pada akad dan janji Muhammad saw. serta
menjadi sekutu beliau. Ketika Quraisy merusak perjanjiannya dan membantu
sekutunya, yaitu Bakar dan melibas Khuza’ah. Datanglah Amru bin Salim al-
Khuza’i meminta janji Rasulullah saw. dan meminta beliau menolong sekutunya.
Amru bersimpuh di hadapan Rasulullah saw saat berada di masjid. Ia meratap dan
berkata,

Wahai Tuhan, aku meratap pada Muhammad.
Sekutu ayah kami dan ayahnya yang sangat erat
Tolonglah (Muhammad).
Allah menunjukkanmu kemenangan yang pasti.
Ajaklah hamba-hamba Allah, mereka pasti datang memberi bantuan.
Dalam gelombang pasukan seperti samudra
yang berjalan berbuih-buih.
Sesungguhnya Quraisy mengingkari janji padamu
Dan merusak perjanjianmu yang telah dikuatkan.’

Maka serangan Quraisy terhadap kaum musyrikin bani Khuza’ah yang menjadi
sekutu kaum muslimin itu, menjadi sebab disiapkannya pasukan terbesar yang
dikenal Jazirah Arab dan sejarah untuk membantu sekutu seseorang saat itu.
Dampak hal itu adalah terbukanya kota Mekah sebagaimana kita diketahui
bersama Inilah contoh kesetiaan Rasulullah saw. pada musuh agama yang telah
beliau ikat perjanjian, atau sebelum mereka bersekutu dengan kaum musyrikin
1
selain mereka.”

Inilah contoh-contoh dari kejujuran dan kesetiaan beliau dalam menepati janji dan
perjanjian. Tidak pernah terjadi bahwa Rasulullah saw. berjanji atau membuat
perjanjian kemudian beliau ingkar atau berkhianat

Bukhari meriwayatkan bahwa ketika Heraklius bertanya pada Abu Sufyan tentang
Muhammad, “Apakah ia berkhianat?” Abu Sufyan menjawab, ‘Tidak.” Setelah
itu, Heraklius mengatakan, “Aku tanyakan kepadamu apakah ia berkhianat maka
kalian anggap bahwa ia tidak berkhianat memang seperti itulah seorang rasul, ia
tidak berkhianat”

Berkhianat tergolong dusta, ingkar janji adalah dusta, dan Rasulullah saw. bersih
dari itu semua. Dari contoh sedikit yang kami sebutkan, Anda melihat bahwa
tidak ada seorang pun dari manusia yang mencapai tingkatan yang dicapai
Rasulullah saw. dalam kesetiaan menjaga kehormatan perkataan. Kalaupun ada, ia
adalah murid yang mengikuti keteladanannya.

Kalimat yang terucap dari Rasulullah saw. adalah jaminan yang tidak ada jaminan
setelahnya. Sampai-sampai musuhnya yang paling keras dan paling lama
memusuhi beliau dalam perjalanan dakwah beliau tidak ragu-ragu untuk
memasukkan dirinya dalam naungan kaum muslimin, jika telah mereka pastikan
bahwa yang menjamin keamanan mereka adalah Muhammad saw. Mereka
percaya bahwa perkataan Muhammad adalah jaminan yang tidak sama dengan
jaminan lainnya. Siapa yang menelusuri peristiwa-peristiwa sirah pasti
menemukan contoh yang banyak atas hal ini. Itulah sifat shidiq (jujur dan benar)
yang dimiliki para nabi. Tidak pernah berubah sama sekali.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar