Kamis, 16 Oktober 2008

Surat Al-Qadar dalam Kajian Riwayat


Dalam tafsir Al-Burhan disebutkan riwayat dari Syeikh Att-Thusi dari Abu Dzar. Ia berkata, aku bertanya kepada Rasulullah saw tentang malam Al-Qadar, apakah malam itu terjadi di zaman para nabi yang di dalamnya turun kepada mereka persoalan Ilahiyah, kemudian sesudah zaman itu berlalu Allah menghentikannya? Beliau menjawab: “Tidak, bahkan ia terjadi hingga hari kiamat.”

Allamah Thabathaba’i mengatakan: riwayat seperti ini banyak dari jalur Ahlussunnah.

Dalam tafsir Majma’ul Bayan: dari Hammad bin Utsman, dari Hassan bin Abi Ali, ia bertanya kepada Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) tentang malam Al-Qadar. Beliau berkata: “Carilah malam itu di malam ke 19, malam ke 21 dan malam ke 23.”

Allamah Thabathaba’i mengatakan: Dalam makna yang lain terdapat dalam sebagian riwayat carilah malam itu pada malam ke 21 dan malam ke 23. Seperti dalam riwayat yang disebutkan dalam tafsir Al-‘Ayyasyi: dari Abdul Wahid dari Imam Muhammad Al-Baqir (sa): Malam itu terjadi pada malam ke 23, muliakan malam itu karena Al-Amr, (persoalan) di dalamnya, jangan hinakan ia dengan perbuatan maksiat.

Dalam Al-Kafi, dengan sanad dari Zurarah, ia berkata bahwa Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Takdir pada malam ke 19, Ibram (penetapan yang pasti) pada malam ke 21, dan Imdha’ (pengesahan) pada malam ke 23.”

Allamah Thabathaba’i mengatakan: riwayat seperti makna tersebut banyak sekali. Riwayat dari Ahlul bait (sa) sepakat bahwa malam Al-Qadar terjadi berulang kali setiap tahun. Yakni di bulan Ramadhan, di salah satu malam yang tiga: malam ke19, 21, atau ke 23.

Adapun dari jalur Ahlussunnah riwayat tentang malam Al-Qadar berbeda-beda dan bermacam-macam. Tapi yang masyhur di kalangan mereka adalah malam Al-Qadar terjadi pada malam ke 17, malam nuzulul Qur’an. Jika ingin tahu lebih detail, silahkan baca tafsir Ad-Durrul Mantsur, Jalaluddin As-Suyuthi.

Dalam tafsir Ad-Durrul Mantsur, diriwayatkan dari Al-Khathib dari Ibnu Musayyab. Ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: “Aku melihat Bani Umayyah naik ke mimbarku, hal itu menyesakkan nafasku, maka Allah menurunkan surat Al-Qadar.”

Allamah Thabathaba’i mengatakan: makna seperti riwayat tersebut diriwayatkan juga oleh Al-Khathib dalam Tarikhnya dari Ibnu Abbas. Juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Jarir, Ath-Thabrani, Ibnu Mardawaih, Al-Baihaqi, dari Al-Hasan bin Ali. Riwayat dalam makna ini juga banyak diriwayatkan dari jalul para Imam Ahlul bait (sa) bahwa Allah swt menghibur Nabi-Nya saw dengan mengkaruniakan malam Al-Qadar kepadanya, dan menjadikannya lebih baik dari seribu bulan, yakni lebih baik dari masa kerajaan Bani Umayah.

Humran bertanya kepada Imam Muhammad Al-Baqir (sa) tentang firman Allah “Kami turunkan Al-Qur’an pada malam yang penuh berkah” (Ad-Dukhkhan/44: 3). Beliau menjawab: “Ya, malam itu adalah malam Al-Qadar dan terjadi setiap tahun di bulan Ramadhan, sepuluh malam terakhir; dan Al-Qur’an tidak diturunkan kecuali pada malam Al-Qadar, Allah swt berfirman: “Pada malam itu diperjelas setiap persoalan yang penuh hikmah” (Qs. 44: 4).Beliau berkata: “Pada malam itu, tahun itu hingga tahun berikutnya ditetapkan takdir setiap sesuatu dari sisi baik dan buruknnya, ketaataan dan kemaksiatan, kelahiran dan ajalnya atau rizkinya. Takdir yang ditentukan dan qadha’ yang ditetapkan pada malam itu adalah sesuatu yang mahtum (pasti); dan Allah Azza wa jalla memiliki kehendak di dalamnya.”Ia bertanya lagi: Malam Al-Qadar lebih baik dari seribu bulan, apa maksudnya? Beliau menjawab: “Amal shaleh di dalamnya yakni shalat, zakat dan segala kebaikan lebih baik dari seribu bulan yang di dalamnya tidak terdapat malam Al-Qadar. Sekiranya Allah swt tidak melipatgandakan bagi kaum mukminin, niscaya mereka tidak akan mampu mencapainya, tetapi Allah melipatgandakan kebaikan bagi mereka.”

Dalam tafsir Majma’ul Bayan, diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dari Nabi saw. Beliau bersabda: Pada malam Al-Qadar turunlah para malaikat penghuni Sidratul Muntaha. Di antara mereka adalah Jibril. Jibril turun dengan membawa panji-panji besar. Satu panji diletakkan di kuburku, satu panji di Baitul Muqaddis, satu di Masjidil Haram, dan yang satu lagi diletakkan di Thur Sina’. Sehingga tidaklah berdoa seorang mukmin dan mukminah di dalamnya kecuali diucapkan salam kepadanya, kecuali peminum khomer, pemakan daging babi dan makanan yang dimasak dengan ja’faron.”

Dalam tafsir Al-Burhan, dari Sa’d bin Abdillah, dengan sanad dari Abu Bashir, ia berkata: Aku bersama Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa), lalu beliau menyebutkan persoalan imam. Lalu beliau berkata: Pada malam Al-Qadar terjadi tambahan Ar-Ruh. Kemudian aku bertanya: Jadikan aku tebusanmu, bukankah Ar-Ruh itu malaikat Jibril? Beliau menjawab: Jibril bagian dari para malaikat, sedangkan Ar-Ruh lebih agung dari para malaikat, bukankah Allah berfirman: “Turunlah para malaikat dan Ar-Ruh.”
Allamah Thabathaba’i mengatakan: riwayat tentang malam Al-Qadar dan keutamaannya banyak sekali. Sebagian riwayat menyebutkan tentang tanda-tandanya yang tidak selalu mesti demikian, seperti terbitnya matahari di pagi hari tanpa sinar, terjadinya keseimbangan cuaca dan iklim.(Tafsir Al-Mizan oleh Allamah Thabathaba’i, jilid 20: 379-384)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar