Jumat, 17 Oktober 2008

Nasab (garis keturunan) Nabi saw


Dalam Kanzul Ummal 6: 300, kitab Fadhail, hadis ke 35512 disebutkan:Ibnu Abbas berkata, aku mendengar Nabi saw bersabda: “Aku adalah Muhammad bin Abdillah bin Abdil Muththalib bin Hasyim bin Abdil Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Luay bin Ghalib bin Fahr bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nazzar bin Ma’da bin ‘Adnan bin Adda bin Udada bin Hamyasa’ bin Yasyhab bin Nabat bin Jamil bin Qaidar bin Ismail bin Ibrahim bin Tarikh bin Nahur bin Asyu’ bin Ar’us bin Faligh bin ‘Abar (Hud) bin Syalikh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh bin Lumka bin Mutawasysyalikh bin Akhnukh (Idris) bin Azda bin Qinan bin Anwasy bin Syayts bin Adam (as).”

Al-Muttaqi Al-Hindi mengatakan: Hadis ini diriwayatkan oleh Ad-Daylamni.Dalam Kanzul Ummal 6: 106, kitab Fadhail, hadis ke 32010 disebutkan:Rasulullah saw bersabda: “Aku dan Adam berada di surga dalam sulbinya, aku menaiki bahtera dalam sulbi ayahku Nuh, aku dilemparkan ke dalam api dalam sulbi Ibrahim, ayah-ayahku tidak pernah tersentuh oleh perzinaan. Allah senantiasa memindahkan aku dari sulbi yang baik ke dalam rahim yang suci, suci dan memberi petunjuk. Tidaklah tumbuh dua cabang kecuali aku yang terbaik. Allah menjadikan kenabian sebagai perjanjian (mitsaq)ku dan Islam sebagai perjanjian (‘ahd)ku. Allah menginformasikan sebutanku dalam Taurat dan Injil, menjelaskan sifat-sifatku kepada setiap nabi, memancarkan cahayaku ke muka bumi, menaungi wajahku dengan awan, mengajarkan kepadaku kitab-Nya, memuliakanku di langit-Nya, menjadikan namaku dari asma-Nya, Pemilik Arasy adalah Al-Mahmud dan aku adalah Muhammad. Allah berjanji padaku bahwa mereka yang mencintaiku akan berada di telaga Haudh dan Kautsar. Dia menjadikan aku orang yang pertama memberi syafaat dan diizinkan untuk memberi syafaat. Kemudian Dia menghadirkan aku pada abad yang terbaik bagi ummatku, mereka adalah orang-orang yang terpuji, melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar.”Al-Muttaqi Al-Hindi mengatakan: Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dan Ibnu Abbas.

Dalam Thabaqat Al-Kubra Ibnu Sa’d, jilid 1, bagian 1: 31, dzikr ummahat Rasulillah saw, disebutkan:Imam Ali bin Husein (sa) berkata bahwa Rasulullah saw bersabda:“Sesungguhnya aku dilahirkan dari pernikahan, aku belum pernah dilahirkan dari perzinaan sejak dari Adam. Aku belum pernah sedikit pun tersentuh oleh perzinaan kaum jahiliyah, aku belum pernah dilahirkan kecuali dari kesucian pernikahan.”

Allamah Sayyid Murtadha, penulis kitab “Fadhâil Al-Khamsah min Ash-Shihhah As-Sittah”, mengatakan: Hadis tentang bahwa Nabi saw dilahirkan dari pernikahan bukan dari perzinaan banyak sekali.

57 komentar:

  1. Kalau nasabnya ditarik dari garis Ibunda Hasan dan Husein, Ibunda Fatimah, maka sama halnya dengan Adat Minangkabau di Indonesia, yang juga menggunakan nasab dari garis ibu.

    Apa iya, ini ajaran Nabi Muhammad SAW?. Mukjizat terbesar dari Nabi Muhammad SAW, ialah beliau tidak meninggalkan anak laki-laki yang sempat dewasa!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keturunan Rasulullah SAW melalui puterinya Fathimah Azzahra berlanjut dari keturunan Imam Hasan dan imam Husen. Keberlangsungan keturunan berikutnya adalah dari anak cucu cicit, seterusnya dari keturunannya yang LAKI-LAKI.

      Umumnya di Timur Tengah dan Asia Barat, Asia Selatan yang keturunan yg laki-laki sebagiannya disebut Sayid atay Seyed/ Syed, Sedangkan di Wilayah Indonesia : Habib/ Syarif/ Wan, dll. Keturunan yg Perempuan terkadang disebut: Syarifah/Ipah, dll.

      Hapus
    2. mau meralat perkataan sauara elfi sedikit,

      minangkabau tidak menggunakan nasab ibu, tetapi ayah. nasab adalah garis keturunan darah. makanya anak memakai bin/binti ayahnya. di minangkabau hanya menurunkan nama suku ibu, bukan garis darahnya. suku hanyalah permslhan adat saja, tetapi nasab tetap kepada ayah

      dan nama suku bukan nama keluarga. suku itu kaum, sama spt orang arab yg terdiri dari kabilah2 atau suku2. sama halnya dg minangkabau. walau sama2 minang, akan tetapi didalam minang terdiri dari berbagai macam suku. seperti suku jambak, pisang, sikumbang, koto dll. nama suku inilah yang diturunkan kpd anak.

      persoalan adat memang matrilineal, tapi persoalan agama tetap patrilineal. makanya utk warisan juga bgtu, anak perempuan hanya mendpt warisan adat (tanah dari turun temurun yang dipunyai oleh pihak ibu dari generasi ke generasi). sedangkan harta yang dihasilkan oleh ayah dibagi menurut hukum agama kps anak2nya yaitu perempuan mendpt setengah dari warisan laki2.

      dan untuk meluruskan kembali perspepsi orang yg pada umumnya mengenai pernikahan bahwa di minang yang memberi mahar adalah perempuan, itu tidak benar. mahar dari pihak pria, tetapi ada adat dari daerah Pariaman (hanya di pariaman saja. setiap daerah minang punya adat berbeda2 dg daerah lainnya) disaat pra pernikahan, memang ada sejumlah uang diserahkan pihak perempuan kepada pihak laki. dinamakan uang jemputan sbg simbol 'ganti rugi' pihak perempuan kepada orangtua laki2 karena anaknya dijemput kedalam keluarga perempuan (laki2 setelah menikah tinggal di rumah perempuan, dengan tujuan jika terjadi KDRT di rumah tangga tsb, maka yang perempuan bisa dilindungi oleh keluarganya. dan jika tjs perceraian, maka yang angkat kaki keluar rumah adalah laki2, bkn perempuan. itu cara orang minang dalam melindungi perempuan krn tidak semuanya laki2 bisa bertanggungjawab dan melindungi istrinya. itu hanya tindakan preventif yang dibuat oleh adat utk melindungi pihak perempuan) tapi khusus di pariaman saja, pihak laki2 diberikan uang jemputan kepada orangtuanya disaat pra pernikahan. tetapi mahar dlm pernikahan tetap diberikan oleh si laki2 kepada perempuan di saat akad nikah. tapi uang jemputan ini srg disangka orang laur sbg mahar atau pihak pria dibeli oleh perempuan. sbnrnya bukan

      tapi di daerah minang lainnya tidak ada adat uang jemputan spt tsb. hanya berlaku utk pria didaerah pariaman saja

      Hapus
  2. Assalamualaikum.Wr.Wrb
    Bismillahirrahmanirrahiim
    Allahumma Shalli 'ala Muhammad wa 'ala Alihi wa Ashabihi wa Salam


    Ya akhi/Ukhti, untuk menjawab pertanyaan anda, mari kita sama-sama membuka hati untuk mengetahui makna surah al kautsar.

    Makna dari kata al Kautsar secara harfiah adalah kebaikan atau kenikmatan yang sangat banyak berlimpah, disamping itu al Kautsar adalah nama sebuah telaga surgawi yang disediakan khusus oleh Allah Ta’ala bagi Rasulullah Saww, dan ditempat ini pula kelak kaum muslimin akan diijinkan untuk berziarah dan bertemu dengan Rasulullah Saww serta para Ahlulbaitnya, makna ini diambil berdasarkan daripada hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan Muslim yang bersumber dari Sayyidina Anas bin Malik.

    Sementara itu Syekh Fakhruddin ar Razi menyebutkan bahwa salah satu makna dari al Kautsar adalah keturunan Rasulullah Saww, hal ini berkaitan dengan asbabun nuzul surah ini (berdasarkan hadits riwayat al Baihaqi didalam kitab ad Dala’il, bersumber dari Muhammad ibn Ali) turun untuk membantah orang-orang kafir yang menghina dan mengolok-olok Rasulullah Saww sebagai orang yang abtar, tidak memiliki penerus atau terputus keturunannya setelah putra Rasul wafat, dan dalam anggapan kaum Quraisy saat itu bahwa meninggalnya seorang anak laki-laki berarti terputus keturunannya. Namun Allah menjawab bahwa keturunan Rasulullah Saww tidak akan terputus, yang dimaksud keturunan beliau itu berasal daripada anak cucu Sayyidatun nisa fil alamin Siti Fathimah az Zahra. Selain Syekh Fakhruddin ar Razi, diantara para ulama yang berpendapat seperti ini adalah Syekh Muhammad Abduh, Abu Hayyan, al Alusi, al Qasimi, dan Ibn Jinni. Tidak diragukan lagi bahwa satu diantara beragam nikmat yang dianugerahkan Allah kepada Rasulullah Saww adalah anak keturunannya yang tidak akan terputus dan habis bahkan sampai hari kiamat. Berkaitan dengan inilah kiranya Rasulullah Saww bersabda dalam riwayat dari Sayyidina Abdullah bin Abbas :

    “Setiap hubungan keluarga dan nasab terputus pada hari Kiamat, kecuali hubungan keluarga dan nasabku.”
    (HR. At Thabrani didalam kitab al Ausath dan kitab al Kabir ; al Hakim didalam kitab al Mustadrak menyatakan bahwa hadits ini shahih ; al Baihaqi didalam as Sunan al Qubra dari Umar bin Khathab ; Ibnu Asakir juga meriwayatkan hadits serupa dengan sumber riwayat dari Ibnu Umar ; Jalaluddin as Suyuthi menganggap hadits ini shahih dan meriwayatkannya didalam kitab Jami as Shagir, hadits no.6361)

    Umar bin Khathab meriwayatkan bahwa Rasulullah Saww bersabda :

    “Setiap anak keturunan seorang perempuan dinisbatkan kepada bapak-bapak mereka, kecuali anak keturunan Fathimah. Sesungguhnya mereka dinisbatkan kepadaku dan akulah bapak mereka.”
    (HR. At Thabrani didalam kitab al Kabir, beliau juga meriwayatkan hadits yang sama dengan riwayat dari Siti Fathimah az Zahra ; Abu Nu’aim dalam kitab al Ma’rifah ; Jalaluddin as Suyuthi didalam kitab Jami al Kabir, hadits no.6294)

    Pendapat ini juga didukung dengan ayat Qur’an yang mengungkapkan bahwa diantara para Nabi, anak cucu dari seorang perempuan juga dianggap sama seperti keturunan dari seorang laki-laki.

    Allah Ta’ala Berfirman :

    “Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Yaqub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Ibrahim) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shaleh.”
    (Qur’an surah al An’am ayat 84 & 85)

    Perhatikanlah dengan seksama masalah ini, sebagaimana al Qasimi menulis didalam kitab tafsirnya, “Al Qur’an menamai Isa putra Maryam sebagai anak keturunan Nabi Ibrahim, padahal Nabi Isa adalah anak dari ibunya.” Maka berkaitan dengan hal inilah Jabir ibn Abdillah menuturkan bahwa Rasulullah Saww bersabda :

    “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menjadikan anak keturunan setiap Nabi dari tulang rusuk mereka, tetapi Allah menjadikan keturunanku dari tulang rusuk Ali ibn Abi Thalib ra.”
    (HR. At Thabrani dan al Khathib al Baghdadi ; Jalaluddin as Suyuthi didalam kitab Ihya al Mayyit fi Fadha’il Ahlul Bait, hadits tambahan ke 23)

    Dalam hemat kami, hal ini pula yang menjadi makna dari Firman Allah berikut ini :

    “Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.”
    (Qur’an surah at Thuur ayat 21)

    Waminallahu at taufiq
    walhamdulillahi Rabbul 'alamin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Assalamualaikum,
      kebetulan saya sedang mencari-cari referensi mengenai keturunan Rasulullah SAW, hingga menemukan halaman ini.

      Maafkan bila sedikit lancang, sepertinya pembanding anda tidak seimbang, membandingkan antara sebutan Nabiullah Isa putera Maryam, karena beliau memang diciptakan tanpa kehadiran seorang ayah, sehingga status Siti Maryam pun dlm kondisi perawan, sehingga banyak orang menyebutnya sebagai perawan suci. Kemudian anda memperbandingkan status Sayyidina Hasan dan Husein utk mempertemukan keturunan Rasulullah SAW, dengan kondisi Siti Fathimah berstatus sebagai seorang istri dari Sayyidina Ali ra.

      Sepertinya jawaban anda masih kurang pas, sy juga secara pribadi agak ragu-ragu dengan keberadaan para haba'ib terkecuali Sayyidina Hasan & Husein sendiri krn beliau-beliau memang benar keturunan Rasulullah melalui Siti Fathimah, tetapi bila memang hadits2 yang anda sodorkan itu shahih, bahwa ada pengecualian yang diberikan sebutan keturunan Rasulullah SAW itu bisa melalui Fathimah, semoga Alloh mengampuni dosa-dosaku.

      Amin

      Hapus
  3. Peristiwa penciptaan Isa As. binti Maryam di sisi Alla SWT adalah seperti penciptaan Adam (QS. 3:59). Dan, akibat mukjizat ini, oleh para pengikut yang durhaka atau bukan pengikut Isa As., maka dijadikannya peluang untuk merusak ajaran Isa As. sendiri, yakni mereka memposisikan Isa As. bin Maryam sebagai 'Anak Tuhan'.

    Kebohongan dan kedustaan tentang 'Anak Tuhan', Insya llah akan terjawab dengan adanya upaya 'rekayasa genetik' yakni 'kloning anak manusia' yang Insya Allah, akan 'melahirkan' manusia dolly. Manusia dolly ini pun bernasab pada ibunya karena unsur spermanya diambil dari ibunya sendiri. Oleh karena itu, pihak-pihak yang menjadikan Nabi Isa As. adalah Anak Tuhan, bahkan dijadikannya sebagai Yesus, sangat memprotes upaya kloning manusia.

    Semoga Allah SWT dan mukjizat Al Quran dimasa mendatang, akan bisa membukti teori 'Anak Tuhan' yang diciptakan oleh manusia ini, adalah perusak ajaran Islam.

    BalasHapus
  4. Assalamualaikum.Wr.Wrb
    Bismillahirrahmanirrahiim
    Allahumma Shalli 'ala Muhammad wa 'ala Alihi wa Ashabihi wa Salam

    Yaa akhi/ukhti, masalah kloning seperti yang anda tulis itu adalah sisi pembahasan yang berbeda.

    Kalau anda masih meragukan hadits-hadits mengenai keturunan Rasulullah Saww, saya persilakan anda untuk lebih mempelajari lagi kitab-kitab hadits & sejarah Islam.

    Semoga Allah senantiasa membimbing kita semua.

    Wassalam.

    BalasHapus
  5. Kalau kita membuka Al Quran, tentang kisah nabi dan rasul, maka keluarga Nabi Ibrahim As. adalah yang mendapat anugerah dari Allah SWT keturunan yang istimewa. Wajar jika Nabi Ibrahim As, selain sebagai nabi dan rasul, beliau juga diberi gelar sebagai 'imam' (QS. 16:120).

    Fakta, bahwa dari keturunan anak beliau, Nabi Ishak As. cukup banyak keturunannya yang memperoleh kedudukan sebagai nabi dan rasul. Terakhir, adalah Nabi dan Rasul Isa As. bin Maryam. Sudah ini, barulah nasabnya putus, dan tak ada lagi keturunannya yang dianugerahi Allah SWT dengan jabatan nabi dan rasul.

    Ternyata, dari keturunan Nabi Ibrahim As maupun Nabi Ishak As. ini, dalam Al Quran sama sekali tidak ada menceritakan tentang adanya 'nasab' yang diambil dari anak perempuannya.

    Begitu juga, keturunan Nabi dan Rasul, Ismail As. tidak 'banyak' anugerah Allah SWT untuk keturunannya yang berjabatan sebagai nabi dan rasul. Sesudah beberapa generasi, baru ada keturunannya yang dianugerahi Allah SWT menjadi seorang nabi dan rasul, inilah Nabi Muhammad SAW bin Abdullah.

    Keistimewaan lain dari Nabi kita Muhammad SAW, beliau adalah penutup para nabi'. Berarti, sesudahnya tidak ada lagi pengangkatan nabi oleh Allah SWT.

    Oleh karena itu, mukjizat istimewa Nabi Muhammad SAW adalah tidak diberikannya kesempatan adanya keturunan (dari nasab) anak laki-lakinya. Hal ini, dimaksudkan agar ajaran agama-Nya dapat tetap dan terus terjaga kesuciannya sampai akhir jaman. Otomatis, Nabi Muhammad SAW sendiri, tidaklah bermaksud untuk membangun 'kedinastian'-nya.

    BalasHapus
  6. Assalamualaikum.Wr.Wrb
    Bismillahirrahmanirrahiim
    Allahumma Shalli 'ala Muhammad wa 'ala Alihi wa Ashabihi wa Salam

    Ya akhi/ukhti, terima kasih atas kekritisan anda menyikapi tulisan-tulisan kami, ini adalah tanda bahwa anda orang yang mau mempergunakan akalnya.

    Akan tetapi mohon maaf sebelumnya saya mau bertanya, apakah anda orang yang percaya dan mengakui hadits-hadits Rasulullah Saww sebagai salah satu sumber hukum dan ajaran Islam setelah al Qur'anul Karim?

    Saya berusaha menyajikan hadits-hadits yang terdapat dalam kitab masyhur tulisan para Ulama besar.Saya tuliskan lagi untuk menjadi bahan perenungan anda
    hadits yang shahih ini. Umar bin Khathab meriwayatkan bahwa Rasulullah Saww bersabda :

    “Setiap anak keturunan seorang perempuan dinisbatkan kepada bapak-bapak mereka, kecuali anak keturunan Fathimah. Sesungguhnya mereka dinisbatkan kepadaku dan akulah bapak mereka.”
    (HR. At Thabrani didalam kitab al Kabir, beliau juga meriwayatkan hadits yang sama dengan riwayat dari Siti Fathimah az Zahra ; Abu Nu’aim dalam kitab al Ma’rifah ; Jalaluddin as Suyuthi didalam kitab Jami al Kabir, hadits no.6294)

    “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menjadikan anak keturunan setiap Nabi dari tulang rusuk mereka, tetapi Allah menjadikan keturunanku dari tulang rusuk Ali ibn Abi Thalib ra.”
    (HR. At Thabrani dan al Khathib al Baghdadi ; Jalaluddin as Suyuthi didalam kitab Ihya al Mayyit fi Fadha’il Ahlul Bait, hadits tambahan ke 23)

    Kalau anda mencoba memahami sendiri kandungan ayat-ayat Qur'an tanpa mencari penjelasan dari hadits, maka saya khawatir anda terjebak kedalam kesalahan pemikiran.

    Maka sudilah kiranya anda mempelajari lebih dalam lagi kajian hadits dan sejarah yang berkaitan dengan tema nasab Rasulullah Saww ini. Cobalah untuk bertanya kepada para Ulama yang memahami permasalahan ini. Karena riwayat-riwayat tentang Ahlulbait Rasulullah Saww ini diakui secara shahih dan mutawattir oleh segenap kalangan ulama Ahlusunnah.

    Semoga Allah menganugerahi kita semua taufik dan mengampuni dosa-dosa kita.

    Wassalam.

    BalasHapus
  7. Dalam 'Buku Pintar Al Quran' karangan Mokhtar Stork dan Muhamad Iqbal tentang 'Ahli Bait' didefinisikannya adalah 'anggota-anggota keluarga Nabi Muhammad SAW'. Dan pada alinia selanjutnya ditulisnya: 'Tidak ada untungnya membahas masalah ini terlalu jauh karena tidak ada manfaatnya atau kegunaan nyata kecuali akan menambah perpecahan yang semakin runyam di kalangan muslimin'.

    Ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW tidak ada yang memposisikan adanya perbedaan satu manusia dengan manusia lain atau diskriminasi, karena satu ras dengan ras lainnya, atau satu suku dengan suku lainnya, atau ningrat dengan bukan ningrat, tetapi yang membedakannya adalah bagaimana tingkat ketakwaanya kepada Allah SWT. Oleh karena itu, penekanan ajaran Islam terhadap manusia, agar dia berbuat amal saleh yang didasarkan pada iman yang benar yakni imannya Islam. Jadi derajat manusia bukan 'diukur' karena adanya dinasti 'keturunan' dan sebagainya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. TIDAK MEYAKINI ADANYA KEBERLANSUNGANKETURUNAN RASULULLAH SAW MELALUI FATIMAH, SAMA HALNYA TIDAK MEMBENAR SABDA NABI, YANG NOTA BENE APA YG BELIAU SABDAKAN TIDAK TERLEPAS DARI KEHENDAK ALLAH SWT.

      KALAU ALLAH SWT BERKEHENDAK. SESUNGGUHNYA JIKA ALLAH BERKEHENDAK SESUATU, MAKA CUKUP DENGAN PERKATAN KUN (JADILAH) MAKA TERJADILAH IA.

      Hapus
  8. Assalamualaikum.Wr.Wrb
    Bismillahirrahmanirrahiim
    Allahumma Shalli 'ala Muhammad wa 'ala Alihi wa Ashabihi wa Salam


    Ya akhi/ukhti, kalau anda berkenan maka saya bisa mengungkapkan puluhan hadits mengenai keutamaan Ahlulbait Rasulullah Saww. Namun kalau antum termasuk mereka yang tidak mempercayai hadits Nabi, saya rasa percuma saja.

    Sebagai bahan referensi, antum bisa
    cari dan baca kitabnya Imam Jalaluddin as Suyuthi (rh.a) terjemahan indonesia berjudul 105 hadits mengenai keutamaan Ahlulbait Nabi. Atau antum bisa tunggu kitab "Miftah at Thariq - Pembuka Jalan Spiritual" yang sedang saya susun diterbitkan.

    Mengenai pendapat antum tentang derajat manusia itu ditentukan oleh ketaqwaannya saya setuju. Mungkin antum lupa bahwa dalam al Qur'an Allah telah menyucikan Ahlulbait sehingga mereka menempati posisi tertinggi dalam ketaqwaan, Firman Allah :

    “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”
    (Surah al Ahzab ayat 33)

    Abu Ja'far Muhammad Ibnu Jarir al-Thabari, dalam buku tafsir al-Thabari mengatakan bahwa sesungguhnya Allah berkehendak untuk menghilangkan al-suuk (kejelekan) dan al-fahsya (kekejian) dari mereka dan mensucikan mereka sesuci-sucinya dari kotoran yang timbul akibat maksiat.

    Dalam kitabnya al-Shawaiq al-Muhriqah, Ibnu Hajar al-Haitsami menjelaskan bahwa ayat itu adalah sumber keutamaan keluarga Nabi saw, sebab ia memuat beberapa keindahan, keutamaan mereka dan perhatian Allah swt atas mereka. Ayat tersebut diawali dengan kata إنَّمَا (hanya) yang berfungsi sebagai pembatas kehendak Allah untuk menghilangkan al-rijs (yang berarti dosa atau ragu terhadap apa yang seharusnya diyakini) hanya dari mereka saja dan mensucikan mereka sesuci-sucinya dari semua akhlaq dan tingkah laku yang tercela.

    Dari Imran bin Hushain, ia mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda:

    سَأَلْتُ رَبِّي اَنْ لاَ يُدْخِلَ النَّارَ اَحَدًا مِنْ اَهْلِ بَيْتِي فَأَعْطَانِيْهَا
    "Aku telah memohon kepada Tuhanku supaya tidak memasukkan seorangpun dari ahlul baitku (keturunanku) ke dalam neraka, dan Dia (Allah swt) mengabulkan permohonanku".

    Umar bin Khattab telah melamar Umi Kulsum untuk dirinya dari ayahnya Ali bin Abi Thalib. Ketika itu Ali menjawab bahwa puterinya itu masih terlalu kecil dan juga sudah dipersiapkan buat calon isteri putra saudaranya, Ja'far. Namun Umar bersikeras hendak menyuntingnya juga, ia naik ke atas mimbar dan berkata: 'Saudara-saudara, demi Allah, tidak ada yang mendorongku memaksa Ali dalam perkara putrinya itu, melainkan bahwa aku pernah mendengar Nabi saw bersabda: Semua sebab, nasab dan periparan terputus pada hari kiamat kelak, kecuali sababku, nasabku dan periparanku!. Dan akhirnya Ali menikahkan putrinya itu dengan Umar. Dari perkawinan tersebut, lahir seorang putra yang diberi nama Zaid, dan meninggal setelah dewasa.

    Tapi bukan berarti itu satu-satunya tolak ukur, didalam al Qur'an kita bisa baca Allah Ta'ala Berfirman :

    niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (QS.Al Mujadilah ayat 11)

    Selain keimanan, Allah meninggikan derajat seseorang itu karena keilmuannya. Sementara kita tahu didalam hadits terkenal disebutkan bahwa Rasulullah Saww bersabda :
    “Sesungguhnya aku adalah kota ilmu dan Ali adalah gerbangnya, barangsiapa menginginkan ilmu, maka datangilah pintunya.”
    (HR. al Hakim dalam al Mustadrak, jilid. 3, hal.127 ; Ibnu Hajar, Lisan al Mizan ; Jalaludin al Suyuthi, Jami al Shagir, jilid. 1, hal. 362)

    Yaa akhi/ukhti, hendaknya kita renungkan sabda Baginda Rasulullah Saww,

    “Sesungguhnya aku tinggalkan untuk kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh kepadanya niscaya kalian tidak akan tersesat sepeninggalku, (yaitu) Kitabullah dan Itrahku (Anak keturunanku), yakni Ahlulbaitku. Keduanya tidak akan terpisah hingga keduanya menjumpaiku kembali di telaga surga. Maka perhatikanlah bagaimana diri kalian menggantikan aku didalam memperlakukan keduanya.”
    (HR at Tirmidzi dalam Manaqib Ahlbayt hadits nomor 3788 ; al Hakim didalam al Mustadrak jilid 3 halaman 146 ; Jalaluddin al Suyuthi didalam Jam’ al Jawami hadits nomor 8019 halaman 2854 bagian ke 31 bab pertama yang diterbitkan oleh Majma al Buhuts al Islamiyyah dan oleh ath Thabrani didalam kitab al Awsath dengan berbagai sanad)

    Semoga Allah menyinari hati kita dengan cahaya ilmu.

    Wassalam.

    BalasHapus
  9. Orang Arab dan bukan orang Arab,
    Orang ahli bait dan bukan orang ahli bait,
    Orang ningrat dan bukan orang ningrat,
    Orang pangeran dan bukan orang pangeran,
    Orang jenderal dan bukan orang jenderal,
    ya tetap aja 'manusia' hamba ciptaan Allah SWT
    lahir melalui rahim seorang ibu.
    sama dan sama,
    jangan terbuai dengan
    dinasti, dinasti, dinasti
    kecuali
    jika dia bertakwa,
    jika dia beriman, dan
    jika dia beramal saleh,

    Insya Allah menjadi orang yang muttakin
    Insya Allah memperoleh surga

    wassalam

    BalasHapus
  10. Assalamualaikum.Wr.Wrb
    Bismillahirrahmanirrahiim
    Allahumma Shalli 'ala Muhammad wa 'ala Alihi wa Ashabihi wa Salam

    Alhamdulillah yaa akhi/ukhti,
    Semoga antum menjadi orang muttaqin dan layak untuk memperoleh surga.

    Amin yaa Rabbal alamiin.

    Wassalam.

    BalasHapus
  11. taufik ibin yahya27 November 2008 23.17

    Assalamualaikum.Wr.Wrb
    Bismillahirrahmanirrahiim
    Allahumma Shalli 'ala Muhammad wa 'ala Alihi wa Ashabihi wa Salam

    saya taufik yahya, saya sudah membaca semua artikel dan dialognya.
    saya jadi tambah banyak tahu setelah membacanya.
    mudah"an bermanfaat untuk semua.
    amiin.

    good luck ya hasan wa husien.

    wassalam..

    BalasHapus
  12. Wa Alaikum salam.Wr.Wb
    Allahumma Shalli 'ala Sayyidina Muhammadin Nabiyyil Umiyyi wa 'ala Aalihi wa Shahbihi
    wa Salam

    Allahumma Amin, bi haqqi Muhammad wa Alihi
    wa bi Hurmati Auliya Allah

    Terima kasih pak taufik :)


    Wassalam.

    BalasHapus
  13. Asalamualaikum wr. wb.
    Saya Sayid Akhmad Fauzi Al bin Yahya
    Alhamdulillah Artikelnya menambah ilmu saya wahai saudaraku...

    BalasHapus
  14. Wa Alaikum salam.Wr.Wb
    Allahumma Shalli 'ala Sayyidina Muhammadin Nabiyyil Umiyyi wa 'ala Aalihi wa Shahbihi
    wa Salam


    Wahai Sayyid Ahmad, semua artikel yang ada di blog ini, dan semua ilmu yang "menempel" pada diri kami, seluruhnya adalah milik anda dan
    semuanya berasal dari datuk-datuk anda.


    kami hanya sebutir debu, jika dibandingkan
    dengan anda wahai Sayyid. Mohon doakan kami.

    Ma'a salamah.

    BalasHapus
  15. sebaiknya memberi daripada meminta, karena itu doakan saja sendiri langsung ke hadirat Allah SWT

    BalasHapus
  16. assalamu'alaikum...
    allohumma sholli 'ala muhamad wa 'ala ali saidina muhamad..
    jadi keturunan/dzuriah nabi muhamad yang melalui jalur perempuan setelah hasan husein dst, masih di katakan ahlu bait??
    mohon dalilnya..

    BalasHapus
  17. Terjemahan Surat Yasin dan Habib An Najjar

    Ketika saya membaca terjemahan Surat Yasin dalam 'Al Quran dan Terjemahannya', "AN NUR", Penerbit Asy-Syifa Semarang, maka ketika sampai pada ayat ke 20 terbaca oleh saya yang terjemahannya sbb.:

    "Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki (Habib An Najjar) dengan bergegas-gegas ia berkata: 'Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu'".

    Nama yang termuat dalam tanda kurung, HABIB AN NAJJAR, inilah yang menjadi tanda tanya saya, siapakah gerangan tokoh ini?

    Al Quran dan Terjemahannya, An Nur ini, diterbitkan berdasarkan pada Surat Tanda Tashih dari Lajnah Pentashih Mushaf Al Quran, Departemen Agama RI Nomor P III/TL.02.1/182/1998. Lalu, saya ingin tahu bagaimana pula Al Quran dan Terjemahannya versi lainnya.

    Al Quran dan Terjemahannya yang diterbitkan oleh Penerbit Mujamma' Al Malik Fadh Li Thiba'at Al Mushaf Asy-Syarif, Medinah, terbitan 1420 atau terbitan 1426, yang biasanya dibagikan secara gratis bagi jamaah haji kita waktu akan pulang sehabis hajinya, saya lihat terjemahan Surat Yasin ayat 20 adalah sbb.:

    " Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki (Habib An Najjar) dengan bergegas-gegas ia berkata: 'Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu'".

    Al Quran dan Terjemahannya, versi Penerbit Mujamma' Al Malik Fadh Li Thiba'at Al Mushaf Asy-Syarif ini ditrerbitkan berdasarkan pada Surat Tanda Tashih, Nomor P III/TL.02.1/67/1990.

    Berarti kedua versi Al Quran dan Terjemahannya tersebut adalah sama-sama memuat nama HABIB AN NAJJAR setelah kalimat 'seorang laki-laki'. Untuk perbandingan dan mencari tahu siapakah sang tokoh Habib An Najjar, saya lihat Tafsir Al Quran yang disusun oleh H. Zainuddin Hamidy dan Fachruddin Hs. Penerbit Widjaya, Jakarta, tahun 1990. Penyusunan tafsir ini berdasarkan pada Surat Tanda Tashih, Nomor J III/171/B-II/77, maka terjemahan Surat Yasin ayat 20 sbb.:

    "Dan datang tergesa-gesa seorang laki-laki dari ujung kota mengatakan: ' Hai kaumku! Turutlah utusan itu'".

    Begitu pula Al Quran dan Terjemahannya, yang diterbitkan oleh Proyek Pengadaan Kitab Suci Al Quran Departemen Agama RI Proyek Tahun 1984-1985, disusun berdasarkan pada Surat Tanda Tashih, Nomor P III/190/TL.02.1/85, maka terjemahan Surat Yasin ayat 20 sbb.:

    "Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: 'Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu'

    Ternyata, bahwa kedua versi terakhir ini, sama sekali tidak memuat nama HABIB AN NAJJAR setelah kalimat 'seorang laki-laki'. Lalu terjemahan manakah yang benar terhadap dua versi terjemahan Surat Yasin ayat 20 tersebut?. Padahal semua terjemahan Al Quran ini diterbitkan berdasarkan data dari Departemen Agama RI atau setelah melalui seleksi dari Lajnah Pentashih Mushaf Al Quran milik Departemen Agama RI juga?. Pertanyaan lain, siapakah gerangan tokoh HABIB AN NAJJAR itu sendiri?

    BalasHapus
  18. Assalamualaikum..wr..

    afwan sebelumnya, saya ingin bertanya bagaimana dengan syarifah yang tidak menikah dengan sayid, bagaimana status syarifah tersebut?????apakah masih di sebut syarifah atau sudah keluar dari garis ketrunanx????????mhn penjelasanx..

    BalasHapus
  19. Wa Alaikum salam.Wr.Wb
    Allahumma Shalli 'ala Sayyidina Muhammadin Nabiyyil Umiyyi wa 'ala Aalihi wa Shahbihi
    wa Salam


    Syarifah tersebut tetap sebagai syarifah,
    hanya anaknya tidak menjadi sayyid

    BalasHapus
  20. Alhamdullillah,Syukron

    BalasHapus
  21. apakah identias gelar tertentu harus kita pakai dan pertahankan? apakah Saidina Muhammad SAW yg nasab ke atasnya Saidina Ibrahim juga memakai gelar tertentu? apakah Saidina Ismail mewajibkan anak keturunannya wajib memakai gelar ortunya, Saidina Ibrahim As. ya pasti jawabannya TIDAK.

    Gelar dlm Islam sederhana saja, ya bin atau binti dari ortu kita saja titik. penambahan gelar di depan atau di belakang yang kita takutkan dengan memakai gelar tertentu itu adalah menimbulkan rasa 'kebanggaan' tertentu pula, sehingga orang yang tdk memakai gelar kita anggap statusnya di bawah atau di luar kita. lebih parah lagi jika 'identitas' gelar itu menjadi pengkultusan terhadap seseorang tokoh tsb.

    Gelar yang harus kita cari ialah gelar menjadi insan yang TAQWA atau Muattaqin. Mohon maaf saya tidak berhak untuk berkomentar atas gelar tsb. jika dia kawin dng orang yang nongelar.

    BalasHapus
  22. Assalamualaikum wr.wb...

    saya hy ingin menambahkan, bahwa ketentuan Allah SWT mengenai Ahlul bait yang memang byk sekali hadisx yng berasal dari Imam-Imam besar dan Sholeh yang menjadi panutan kita sekarang seharusnya wajib kita ikutin karena, kadang kita tidak bisa mempergunakan akal kita jika sudah menjadi ketentuan Allah SWT karena akal kita terbatas...mata kita terbatas...ilmu kita terbatas...segalax terbatas...Sedangkan Allah Maha Segalanya..kita hanya makhluk dengan penuh batas...Syukron

    BalasHapus
  23. Subhanallah, mari kembali pada QS. 33:4-5, dlm ayat ini posisi anak angkat saja 'langsung' dimuliakan oleh Allah SWT supaya posisi 'nasab'-nya tidak boleh dihapus, diganti dsb. oleh bapak angkatnya.

    Dalam ayat 37-nya diabadikan nama anak angkat tersebut dlm Al Quran dan mantan isterinya pun boleh nikah dengan 'bapak' angkatnya.

    Artinya, kedudukan seorang manusia itu sangatlah ditentukan dengan nasabnya. Kalau nasabnya itu dari Saidina Ali bin Abi Thalib ya saya kira kita harus mengakui bahwa nasab anak-anaknya adalah dari Saidina Ali bin Abi Thalib, tidak bisa lalu nasabnya beralih pada ibunya, Bunda Fatimah. Walaupun kita tahu bahwa bunda Fatimah itu adalah salah seorang dari 'ahlul bait' dari Saidina Muhammad SAW ya karena beliau adalah ANAK KANDUNG dari Saidina Muhammad SAW.

    Lalu, apakah Saidina Ali bin Abi Thalib, anaknya paman Saidina Muhammad SAW adalah juga termasuk keturunan ahlul bait, saya taklah mampu menjawabnya, silahkan pada ahlinya. Begitu juga halnya dengan anak Saidina Ali bin Abi Thalib, apakah masuk kriteria masih keturunan 'ahlul bait' silahkan tanya pada yang ahlinya juga.

    Jadi yang saya masalahkan itu bahwa dalam ajaran Islam sebagaimana yang termuat dalam Al Quran bahwa 'nasab' itu tetap saja diambil dari garis laki-laki, KECUALI nasab Saidina Isa Al Masih yang bernasab pada Bunda Maryam.

    Lalu, dengan tegas pada ayat 40 dalam surat Al Ahzab itu juga, yang terjemahannya sbb.:

    "MUHAMMAD itu sekali-kali bukanlah BAPAK DARI SEORANG LAKI-LAKI di antara kamu, tetapi dia adalah RASULULLAH dan PENUTUP NABI-NABI. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu".

    BalasHapus
  24. Assalamualaikum Wr Wb


    Ya iyalah kan anak Rasulullah Saw Saiditina Fatimah Zahra..

    BalasHapus
  25. Kalau kita lihat silsilah Saidina Muhammad SAW, jelas ada benang merah dari Hasyim, ayah dari Abdul Muthalib, kakek dari Saidina Muhammad SAW, beliau juga anak tunggal, sama dengan Abdul Muthalib sendiri. Orang tuanya, Hasyim meninggal sebelum Abdul Muthalib lahir. Tetapi, anak Abdul Muthalib banyak, yang bungsu adalah Abdullah, juga wafat sebelum lahir Saidina Muhammad SAW. Berarti, Saidina Muhammad SAW adalah anak tunggal.

    Lalu, anak lelaki Saidina Muhammad SAW dengan Bunda Khadijah, baik Ibrahim dan Abdullah, juga tidak hidup lama krn meninggal sebelum dewasa. Tak heran jika kelompok musuh Nabi Muhammad SAW slalu mencela dengan putusnya nasab beliau krn tidak adanya anak laki-laki.

    Inilah mukjizat Allah SWT pada Nabi kita Muhammad SAW, nasab beliau diputuskan supaya tidak ada golongan yang mengklaim 'mereka' adalah keturunan Saidina Muhammad SAW, atau keturunan nabi dan keturunan rasul. Jika merujuk pada QS. 33:4-5 jelas nasab itu hanya dari pihak laki-laki bukan perempuan. Otomatis mahkota 'ahlul bait' dari keluarga Saidina Muhammad SAW itu terputus hanya sampai pada Bunda Fatimah.

    Artinya, anak-anak dari Saidina Ali bin Abi Thalib dengan Bunda Fatimah, jelas bukan bernasab pada Saidina Muhammad SAW, sehingga anak-anaknya tidaklah mewarisi tahta 'ahlul bait' atau ada yang menyebutnya sebagai 'keturunan' nabi atau rasul. Kalau saya, tidak ada keturunan nabi atau rasul, tetapi yang ada keturunan Saidina Muhammad SAW jikalah anak beliau yang laki-laki sempat berketurunan.

    Apa hikmahnya, baik kelompok Syiah maupun habaib yang sama-sama mengaku keturunan 'ahlul bait' tidak perlu bertengkar lagi karena mahkota 'ahlul bait' atau keturunan nabi yang diperebut-rebutkannya itu, memang 'sudah' tak ada.

    BalasHapus
  26. Hasan wal Husein.....terima ksih bnyak atas penjelasanya........

    BalasHapus
  27. Hasan wal Husein.....terima ksih bnyak atas penjelasanya........

    BalasHapus
  28. Suruh aj tidur dia tu...klu msih lom faham

    BalasHapus
  29. Nasab oh nasab :)

    BalasHapus
  30. Elfi gublug. Pinter mana loe sm mereka para awlia, para ulama, para imam yg sudah hafal alqur'an dan hadits sebelum umur 10th, mereka diberi kelebihan bisa berkomunikasi secara langsung dg rosulallah di alam ruh. sedang mereka begitu tawadzuk terhadap para habaib. Kamu yg anak kmarin sore dah sok pintar, pdhl tiap hari msh melakukan dosa. Dasar pekuk

    BalasHapus
  31. Kalau tidak ada mereka para ahlul bait, mungkin islam tidak akan pernah sampai ke negri kita, karna hampir smua mereka yang menyebarkan islam di negeri kita adalah para ahlul bait. Termasuk wali songo

    BalasHapus
  32. Kalau anda masih berpendapat ‘ada’ keturunan Ahlul Bait, maka timbul pertanyaan berikutnya:

    1. Keturunan Ahlul bait dari manalah yang anda pilih dan yakini, apakah dari keturunan?
    a. Sunni
    b. Syiah
    c. Hasyim
    d. Ahmadiyah dll.
    Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

    ليس مِن رجلٍ ادَّعى لغير أبيه وهو يَعلَمه إلاَّ كفر بالله، ومَن ادَّعى قوماً ليس له فيهم نسبٌ فليتبوَّأ مقعَدَه من النار ))، رواه البخاريُّ (3508)، ومسلم (112)، واللفظ للبخاري

    “Tidak ada seorangpun yang mengaku (orang lain) sebagai ayahnya, padahal dia tahu (kalau bukan ayahnya), melainkan telah kufur (nikmat) kepada Allah. Orang yang mengaku-ngaku keturunan dari sebuah kaum, padahal bukan, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka” (HR. Bukhari dan Muslim).

    2. Selanjutnya dikabarkan bahwa dari keturunan Ahlul bait tersebut akan lahir Imam Mahdi maka mana pula yang anda pilih dan yakini bahwa apakah dari:

    a. Imam Mahdi kelompok Sunni dan Hasum masih akan lahir;
    b. Imam Mahdi Syiah sudah lahir tapi kini menghilang dulu, nanti dia datang kembali.
    c. Imam Mahdi Ahmadiyah sudah datang dan sudah wafat yakni Mirza Ghulam Ahmad

    3. Rasanya ya gara-gara kita 'nungguin' sang tokoh Imam Mahdi, maka kaum Muslim di dunia terlena dng ketidakpastian!

    Yang sudah pasti, sudah ada Al Quran dan sudah hadir Nabi Muhammad SAW sebagai 'nabi penutup' adalah mukjizat terakhir dari Allah SWT kepada umat manusia.

    Jadi, jangan ditunggu lagi Nabi Isa As akan datang karena misinya sudah selesai (QS. 2:134 dan 141; 21:34-35) dan begitu juga sang Imam Mahdi tidak akan lahir, muncul atau hidup kembali walaupun semua sekte dalam kaum Muslim ada yang meyakini atau ditambah pula dari berbagai agama yang non-Islam juga menanti kedatangan sang Imam Mahdi atau semacam itu.
    http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/06/13/m5jvrf-inilah-figur-imam-mahdi-yang-dinanti

    Dan, inilah pula penyebab perebutan 'sang pemimpin' Imam Mahdi sehingga semua agama mengakui akan datang sang tokoh ini. Pada Kitab Suci umat Islam sama sekali tidak menyebut akan datang lagi IMAM MAHDI dan apalagi akan datang kembali Nabi Isa As. Sang Mesiah itu sudah ditutup dengan pernyataan Tuhan, Allah SWT sendiri (QS. 33:40).
    http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/06/13/m5jsoj-imam-mahdi-sosok-yang-diyakini-tiga-agama-besar

    Imam Mahdi: Sosok yang Diyakini Tiga Agama Besar | Republika Online
    www.republika.co.id

    BalasHapus
  33. nampaknya ada yang mau nambahkan agama baru selain katanya tiga agama besar yakni AGAMA SYI'AH?

    BalasHapus
  34. Kamu wahabi musuh ALLAH...

    BalasHapus
  35. Subhanallah, disampaikan ayat Al Quran kok pada ngeyel?

    BalasHapus
  36. namanya: Anonim, tak jelas rimbanya entah nampak atau tak nampak orangnya, siluman kali yee.

    BalasHapus
  37. Ayat tentang Kesucian Ahlul Bait Nabi saw
    Allah swt menegaskan dalam firman-Nya yang mulia:
    إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِب عَنكمُ الرِّجْس أَهْلَ الْبَيْتِ وَ يُطهِّرَكمْ تَطهِيراً
    “Sungguh tiada lain Allah berkehendak menjaga kamu dari dosa-dosa hai Ahlul bait dan mensucikan kamu dengan sesuci-sucinya.” (Al-Ahzab/33: 33)
    Surat Al-Ahzab: 33 merupakan ayat menegasan tentang kesucian Ahlul bait Nabi saw. Lalu siapakah Ahlul bait Nabi saw itu? Jawabannya ada tiga pendapat.
    Pendapat pertama:
    Ayat ini khusus untuk: Nabi saw, Ali, Fatimah, Hasan dan Husein (as).
    Pendapat ini berdasarkan hadis shahih yang bersumber dari Aisyah, Ummu Salamah, Abu Said Al-Khudri, Anas bin Malik dan lainnya bahwa ayat ini turun hanya untuk lima orang: Rasulullah saw, Ali, Fatimah, Hasan dan Husein (as).
    Dalam Tafsir Ad-Durrul Mantsur jilid 5 halaman 198 dan 199:
    Jalaluddin As-Suyuthi berkata bahwa Ummu Salamah berkata: Ayat ini turun di rumahku, dan di rumahku ada tujuh: Jibril dan Mikail (as), Ali, Fatimah, Hasan dan Husein (ra), sementara aku ada di pintu rumahku. Kemudian aku berkata: Ya Rasulallah, bukankah aku termasuk ke dalam Ahlul baitmu? Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya kamu adalah orang yang baik, kamu termasuk ke dalam golongan isteri-isteri Nabi (bukan Ahlul bait Nabi saw).”
    Abu Said Al-Khudri berkata: Ketika Ummu Salamah Ummul mukminin (ra) berada di rumahnya, turunlah malaikat Jibril kepada Rasulullah saw membawa ayat ini (ayat Tathhir). Kemudian Rasulullah saw memanggil Hasan dan Husein, Fatimah dan Ali (as) lalu beliau menghimpun mereka, menghampar kain untuk mereka, dan melarang Ummu Salamah berhimpun bersama mereka. Kemudian beliau bersabda: Ya Allah, mereka inilah Ahlul baitku, jagalah mereka dari dosa-dosa dan sucikan mereka dengan sesuci-sucinya.”
    Lalu Ummu Salamah (ra) berkata: Wahai Nabi Allah, aku bersama mereka? Rasulullah saw bersabda: “Kamu berada dalam kedudukanmu dan kamu adalah orang yang baik.”
    Dalam Shahih Muslim, Shahih At-Tirmidzi, Shahih An-Nasa’i, Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad Al-Bazzar, Musnad Abd bin Humaid, Mustadrak Al-Hakim, Talkhish Al-Mustadrak Adz-Dzahabi, Tafsir Ath-Thabari, Tafsir Ibnu Katsir, Ad-Durrul Mantsur menyebutkan bahwa:
    Ibnu Abbas, Abu Said Al-Khudri, Jabir Al-Anshari, Sa’d bin Abi Waqqash, Zaid bin Arqam, Ummu Salamah, Aisyah, dan sebagian sahabat yang lain mengatakan: ketika ayat ini turun kepada Rasulullah saw, beliau mengumpulkan keluarganya yaitu Ali, Fatimah, Hasan dan Husein, dan beliau memayungi mereka dengan kain kisa’ sambil bersabda:
    اَللَّهُمَّ هَؤُلاَء أَهْلُ بَيْتِي
    “Ya Allah, mereka inilah Ahlul baitku.”
    Dalam Shahih At-Tirmidzi 2/319, hadis ke 3871, bab 61:
    Ummu Salamah berkata bahwa Nabi saw memberi kehormatan yang khusus kepada Hasan dan Husein, Ali dan Fatimah dengan kain kisa’ (mengumpulkan mereka di bawah kain kisa’). Kemudian beliau bersabda:
    اَللَّهُمَّ هَؤُلاَء أَهْلُ بَيْتِي وَخَاصَّتِي، أَذْهِبْ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهِّرْهُمْ تَطْهِيْراً
    “Ya Allah, mereka inilah Ahlul baitku dan keistimewaanku, jagalah mereka dari dosa-dosa dan sucikan mereka dengan sesuci-sucinya.” Kemudian Ummu Salamah berkata:
    وَأَنَا مَعَهُمْ يَا رَسُولَ الله ؟
    Ya Rasulullah, aku bersama mereka? Rasulullah saw menjawab:
    إِنَّكَ إِلَى خَيْرٍ
    “Engkau orang yang baik.”
    Dalam Shahih Muslim, kitab Fadhail Ash-Shahabah, bab Fadhail Ahlul bait (as):
    Aisyah berkata: Pada pagi hari Nabi saw keluar dari rumah, membawa kain berbulu yang menyerupai rambut yang hitam. Kemudian datang Hasan bin Ali, lalu datang Husein kemudian masuk bersamanya, kemudian datang Fatimah lalu beliau mempersilahkan masuk, kemudian datang Ali lalu beliau mempersilahkan masuk. Kemudian beliau membaca ayat:
    إنَّما يُريد اللهُ ليُذْهِبَ عنكم الرّجسَ أهلَ البيت ويُطهّركم تطهيراً

    BalasHapus
  38. Rujukan lain terkait dengan Ahlul Bait dapat dilihat dalam daftar berikut :

    1. Shahih Muslim, kitab Fadhail Ash-Shahabah, bab Fadhail Ahlul bayt Nabi, jilid 2 halaman 368; cetakan Isa Al-Halabi; jilid 15 halaman 194 dalam syarah An-Nawawi, cetakan Mesir.
    2. Shahih At-Tirmidzi, jilid 5 halaman 30, hadis ke 3258; halaman 328, hadis ke 3875, cetakan Darul Fikr.
    3. Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid 5 halaman 25, cetakan Darul Ma’arif Mesir.
    4. Mustadrak Al-Hakim, jilid 3 halaman 133, 146, 147.
    5. Mu’jam Ash-Shaghir Ath-Thabrani, jilid 1 halaman 65 dan 135.
    6. SyawahidutTanzil, oleh Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, jilid 2, halaman 11-92, hadis 637, 638,639, 640, 641, 644, 648, 649, 650, 652, 653, 656, 657, 658, 659, 660, 661, 663, 664, 665, 666, 667, 668, 671, 672, 673, 675, 678, 680, 681, 686, 690, 691, 694, 707, 710, 713, 714, 717, 718, 729, 740, 751, 754, 755, 756, 757, 758, 759, 760, 761, 762, 764, 765, 767, 768, 769, 770, 774, cet pertama, Bairut.
    7. Khashaish Amirul Mu’minin, oleh An-Nasa’i Asy-Syafi’i, halaman 8, cet, Bairut; halaman 49,, cet. Al-Haidariyah.
    8. Tarjamah Al-Imam Ali bin Abi Thalib, dalam Tarikh Damsyiq, oleh Ibnu Asakir Asy-Syafi’i, jilid 1, halaman 185.
    9. Kifayah Ath-Thalib, oleh Al-Kanji Asy-Syafi,i, halaman 45, 373, 375

    BalasHapus
  39. 10. Musnad Ahmad, jilid 3,halaman 259 dan 285;jilid 4, halaman 107; jilid 6, halaman 6: 292, 296, 298, 304, dan 306, cet. Mesir
    11. Usdul Ghabah fi Ma’rifati Ash-Shahabah, oleh Ibnu Atsir Asy-Syafi’i, jilid 2, halaman 12 dan 20; jilid 3, halaman 413; jilid 5, halaman 521 dan 589.
    12. Dzakhairul ‘Uqba, oleh Ath-Thabari Asy-Syafi’i halaman 21, 23, dan 24.
    13. Asbabun Nuzul, oleh Al-Wahidin, halaman 203, cet Al-Halabi, Mesir.
    14. Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi Al-Hanafi, halaman 23 dan 224.
    15. Tafsir Ath-Thabari, jilid 22, halaman 6,7 dan 8, cet Al-Halabi, Mesir.
    16. Ad-Durrul Mantsur, oleh As-Suyuthi, jilid 5, halaman 198 dan 199.
    17. Ahkamul Qur’an, oleh Al-Jashshash, jilid 5, halaman 230, cet Abdurrahman Muhammad; halaman 443, cet. Cairo.
    18. Manaqib Ali bin
    19. Mashabih As-Sunnah, oleh Al-Baghawi Asy-Syafi’i, jilid 2, halaman 278, cet. Muhammad Ali Shabih; jilid 2, halaman 204, cet. Al-Khasyab
    20. Misykat Al-Mashabih, oleh Al-’Amri, jilid 3, halaman 354.
    21. Al-Kasysyaf, oleh Zamakhsyari, jilid 1, halaman 193, cet. Mushthafa Muhammad; jilid 1, halaman 369, cet. Bairut.
    22. Tadzkirah Al-Khawwash, oleh As-Sibt bin Al-Jauzi Al- Hanafi, halaman 233.
    23. Mathalib As-Saul, oleh IbnuThalhah Asy-Syafi’i, jilid 1, halaman 19 dan 20. Ahkamul Qur’an, oleh Ibnu ‘Arabi, jilid 2, halaman 166, cet. Mesir.
    24. Tafsir Al-Qurthubi, jilid 14, halaman 182, cet. Kairo.
    25. Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3, halaman: 483, 494, dan 485, cet. Mesir.
    26. Al-Fushul Al-Muhimmah, oleh Ibnu Shabagh Al-Maliki, halaman 8.
    27. At-Tashil Li’ulumi AtTanzil, oleh Al-Kalbi, jilid 3, halaman 137.
    28. Tafsir Al-Munir Lima’alim At-Tanzil, Al-Jawi, jilid 2, halaman 183.
    29. Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar Asy-Syafi’i, jilid 2, halaman 502; jilid 4, halaman 367, cet. Musththafa Muhammad; jilid 2, halaman 509; jilid 4, halaman 378, cet. As-Sa’adah. Mesir.
    30. Al-Itqan fi’Ulumil Qur’an, oleh As-Suyuthi, jilid 4, halaman 240, cet. Mathba’ Al-Mashad Al-Husaini, Mesir.
    31. Ash-Shawa’iqul Muhriqah, oleh Ibnu Hajar, halaman 85, cet. Al-Maimaniyah; halaman 141 dan 227, cet. Al-Muhammadiyah.
    32. Muntakhab Kanzul ‘Ummul Kanzul ‘Ummul (catatan pinggir) Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 5, halaman 96.
    33. As-Sirah An-Nabawiyah, oleh Zaini Dahlan (catatan pinggir) As-Sirah Al-Halabiyah, jilid 3, halaman 329 dan 330, cet. Al-Mathba’ Al-Bahiyah, Mesir; jilid 3, halaman 365, cet. Muhammad Ali Shabih, Mesir.
    34. Is’afur Raghibin, oleh Ash- Shabban (catatan pinggir) Nurul Abshar, halaman: 104,105, dan 106, cet. As-Sa’idiyah; halaman 97 dan 98, cet. Al-Utsmaniyah; halaman 105, cet. Mushthafa Muhammad, Mesir.
    35. Ihqaqul Haqq, oleh At-Tustari, jilid 2, halaman 547-502.
    36. Fadhailul Khamsah, jilid 1, halaman 223 dan 224.
    37. Al-Isti’ab, oleh Ibnu Abd Al-Birr (catatan pinggir) Al-Ishabah, jilid 3, halaman 37, cet. As-Sa’adah;jilid 3, halaman 317, cet. Mushthafa Muhammad.
    38. Yanabi’ul Mawaddah, oleh Al-Qundusi, halaman: 107, 108, 228, 229, 230, 244, 260, dan 294. cet. Istambul; halaman: 124, 125, 126, 135, 196, 229, 269, 272, 352, dan 353, cet. Al-Haidariyah.

    BalasHapus
  40. السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

    أللهمّ صلّ على سيّدنا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين
    Salam Ta`aruf, dan Salam Silatur rahim buat Mursyid Thariqah Hasan wal Husain semoga Allah memelihara ( Mahfuzh )anda.

    Saya Tambahkan buat pak elfizoanwar , coba lihat dalam Al-Qur`an Surat Annisa ayat 115 :
    1. Al-quran surat An-Nisaa ayat 115.
    ومن يشاقق الرسول من بعد ما تبين له الهدي ويتبع غير سبيل المؤمنين نوله ما تولي ونصله جهنم وساءت مصيرا
    Artinya :
    “Dan barang siapa yang menentang Rasul Saw. sesudah jelas kebenaran bagi-Nya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan mereka leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”.

    Pada kenyataannya سبيل المؤمنين (jalan orang-orang mukmin) dari Barat sampai Timur baik dalam negeri Arab atau ajam ( yakni para U`lama sedunia )tidak menentang akan Ahlul Bait ( yakni para Habaib )
    kenapa bapak elfizoanwar menentang...? kayak ilmu melebihi Nabi Aja and kayak Ilmu melebihi para U`lama saja ?

    dan coba Lihat dalam kitab Jamharatul Auliya karya Sayyid Mahmud Abul Faidh Al-Manufi Al-Husaini tentang Ahlul bait, yang berbunyi :
    من أبغض أهل البيت فهو منافق

    Barang siapa yang membenci Ahlul Bait ( para Habib ) maka ia adalah seorang Munafik,
    predikat munafik jasadnya Haram dikubur.....

    dan Imam Hakim telah meriwayatkan sebuah hadits Shahih dari Imam Bukhari dan Muslim, mengatakan :

    لايبغضنا أهل البيت من أحد إلا أدخله الله النار

    "Tiada seorang membenci Kami, Ahlul Bait ( para Habib ) melainkan Allah Swt. akan mencampakkan dia kedalam api neraka ".
    Tsumma Na`udzubillahi Ming Dzalik.

    Maaf yach pak elfizoanwar apabila bapak tersinggung....
    semoga bapak ada dalam hidayah Allah Swt...Aaaaaamiiiin.

    والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

    BalasHapus
  41. السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

    أللهمّ صلّ على سيّدنا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين
    Salam Ta`aruf, dan Salam Silatur rahim buat Mursyid Thariqah Hasan wal Husain semoga Allah memelihara ( Mahfuzh )anda.

    maaf pak, saya udah 2 hari cari2
    Masjid Jami Hasan wa Husein
    Jl. Dewi Sartika Gg.Muncang - Bandung
    (Dekat ITC Kebon Kelapa)

    tapi belum ketemu juga...?
    saya pingin Silatur rahmi dengan bapak, kalau bisa no Hp./Tlp nya di cantumin di bawah sini supaya saya tidak muter2 terus...terima kasih.

    والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

    BalasHapus
  42. Alaikumsalam. Wr. Wb

    Silakan kirim email ke
    12deputy@gmail.com

    Wassalam

    BalasHapus
  43. Udahlah ngga perlu pada ribut, malu ama yang non-muslim. Kok umat Islam mudah sekali ribut dan diadu domba ? Saya sendiri sampai sekarang masih mencari-cari sumber paling pasti tentang keturunan Nabi Muhammad SAW. Pada akhirnya, ada maupun tidak ada keturunan tersebut, toh Alloh tetap saja menilai seseorang karena ketaqwaannya. Kalau ada seseorang yang mengaku keturunan Nabi Muhammad SAW ya biarkan saja, yang penting kita kan pengikut Nabi Muhammad SAW saja dan menghormati semua manusia. Boleh jadi orang yang mengaku tersebut bukan orang yang taqwa dan pantas dihormati. Jadi tidak perlu terjebak dengan atribut, tapi lihat esensi dan isinya. Kalaupun ada orang taqwa jadi ulama hebat walau keturunan penzina, ya kita tetap hormati individu tsb saja dan menutup mata nenek moyangnya yang penzina. Sesederhana itu kok. Jadi ngga perlu ribut deh. Biarkan masing-masing memiliki pendapatnya sendiri. Asal ya itu, jangan terjebak atribut, tapi lihat esensinya. Jangan buang energi kita untuk hal-hal negatif seperti ribut-ribut. Lebih baik salurkan untuk hal-hal positif seperti membangun ekonomi umat dan tinggalkan perdebatan. Oke :)??

    BalasHapus
    Balasan
    1. MENGETAHUI KETURUNAN DAN KELUARGA NABI SAW ADALAH ANJURAN!

      KARENA KITA DISER UNTUK MENCINTAI KELUARGA, KETURUNAN NABI SAW MELEBIHI KECINTAAN KEPADA KELUARGA KITA.

      KETURUNAN NABI SAW AKAN SELALU EKSIS DI SETIAP ZAMAN, WALAUPUN PEMBUNUHAN DAN UPAYA MEMBASMI MEREKA MASIH DILAKUKAN OLEH PARA PEMBENCI KELUARGA DAN KETURUNAN NABI SAW

      Hapus
  44. Assalamualaikum.Wr.Wrb
    Bismillahirrahmanirrahiim
    Allahumma Shalli 'ala Muhammad wa 'ala Alihi wa Ashabihi wa Salam

    Orang yang pernah mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW putus keturunannya bernama Al ‘Ash bin Al Wail Assahmy. Ketika wafat putra Nabi Muhammad SAW yang bernama Qasim (dalam riwayat lain Ibrohim), Al ‘Ash berkata “Muhammad putus keturunannya”. Perlakuan/perkataan Al ‘Ash tersebut membuat sakit hati Pimpinan Para Rasul tersebut. Dalam kesedihannya Rasulullah SAW tertidur, kemudian Allah SWT menghibur beliau dengan turunnya Surat Al Kautsar sekaligus sebagai bantahan terhadap ucapan Al ‘Ash tersebut dengan Firman Nya :
    Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah, Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus. (Al-Kautsar)

    Lihatlah betapa Allah murka terhadap orang yang telah membuat sedih kekasihnya tersebut, hingga Allah menyebutnya “musuhmu”. Hal ini karena Al ‘Ash telah lancang dengan berkata bahwa “Muhammad putus keturunannya”. Semoga kita tidak mengikuti jejak Al ‘Ash. Amin ....

    BalasHapus

  45. Assalamualaikum.Wr.Wrb
    Bismillahirrahmanirrahiim
    Allahumma Shalli 'ala Muhammad wa 'ala Alihi wa Ashabihi wa Salam

    Bahkan Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin BAZ, Mufti resmi kerajaan Saudi Arabia dari kalangan Mazhab Al Wahabiyah (yang penganutnya tidak percaya ada keturunan rasul) memberi keterangan yang dimuat dalam Majalah “Al Madinah”, Hal 9, No: 5692, tanggal 7 Muharram 1402 H (24 oktober 1982 M), bahwa : Keturunan atau Ahlul bait Rasulullah SAW memang ada, yang silsilahnya berasal dari Al Hasan RA, dan ada pula yang berasal dari Al Husen RA.

    BalasHapus
  46. Assalamualaikum.Wr.Wrb
    Bismillahirrahmanirrahiim
    Allahumma Shalli 'ala Muhammad wa 'ala Alihi wa Ashabihi wa Salam

    Al Imam Musa Al Kadzim bin Ja’far Ashshodiq bin Muhammad Al Baghir bin Ali Assajjad bin Al Husen putra Imam Ali dan Sayidah Fatimah binti Muhammad Rasulullah SAW, pernah ditanya oleh Harun Ar Rasyid “Kalian mengaku keturunan Nabi Muhammad, bukankah seseorang bernisbah kepada kakek dari ayah bukan kakek dari ibu?” Al Imam Musa membaca Surat Al An’am, ayat 84-85 yang berbunyi “Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Ya’qub kepadanya. kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) Yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. - Dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. semuanya Termasuk orang-orang yang shaleh”. Lalu Beliau berkata “Bukankah Nabi Isa tidak mempunyai ayah?” tetapi dalam ayat ini Nabi Isa dikelompokan dalam cucu keturunan Nabi Nuh AS, begitu pula yang terjadi pada kami”.

    Meskipun Isa as diciptakan tanpa ayah, permasalahannya bukan penciptaan Isa as, namun pada kenyataan meskipun Isa as tidak memiliki ayah biologis namun Allah SWT mengelompokkannya sebagai keturunan Nuh as dari jalur ibunya.

    BalasHapus
  47. Assalamualaikum.Wr.Wrb
    Bismillahirrahmanirrahiim
    Allahumma Shalli 'ala Muhammad wa 'ala Alihi wa Ashabihi wa Salam

    “Setiap anak bernisbah kepada ayahnya kecuali anak-anak Fathimah, akulah wali dan nisbahnya” (H.R. Hakim)

    BalasHapus
  48. Walaikumsalam Wr. Wb. mari kita semua merujuk pada hadits ini:

    Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

    ليس مِن رجلٍ ادَّعى لغير أبيه وهو يَعلَمه إلاَّ كفر بالله، ومَن ادَّعى قوماً ليس له فيهم نسبٌ فليتبوَّأ مقعَدَه من النار ))، رواه البخاريُّ (3508)، ومسلم (112)، واللفظ للبخاري

    “Tidak ada seorangpun yang mengaku (orang lain) sebagai ayahnya, padahal dia tahu (kalau bukan ayahnya), melainkan telah kufur (nikmat) kepada Allah. Orang yang mengaku-ngaku keturunan dari sebuah kaum, padahal bukan, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Hal ini sejalan dengan QS. 33:4-5 dimaksud.

    Terima kasih, mohon maaf jika ada kesalahan dalam menyampaikannya dan semoga taufik dan hidayah Allah Ta'ala slalu dilimpajkan pada kita.

    selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan.

    BalasHapus
  49. manusia ciptaan allah28 November 2013 18.48

    dimata allah kt smua sm
    arab atw non arab t sam
    Nabi tidak perna membedaka
    Org yg merasa keturunan nabi dan merasa dirix hebt n kastx tingg nanti jg ujung2 masuk nerak
    buat apa pusing kt liat aja nanti saat kiamat ..bru kt tw ..karna hanya amal perbuatan yg di liat
    BUKAN GARIS KETURUNAN BOS.HAHAHAHA

    BalasHapus
  50. manusia ciptaan allah28 November 2013 18.51

    1 lg .,kalian ni yg buat islam hancur..n terpech belah
    Kalian it tjda kena tipu daya yahudi

    BalasHapus