Kamis, 23 Oktober 2008

Dosa yang Meruntuhkan Penjagaan



Penjagaan Manusia
Di antara bahaya dosa atas masyarakat adalah runtuhnya benteng yang menghalangi ruh hewani dalam diri manusia. Benteng-benteng penghalang itu disebutkan dengan berbagai ungkapan dalam hadis dan riwayat.Imam Ja`far Al-Shadiq (as) berkata: “Sesungguhnya Allah swt memiliki empat puluh macam perisai penjagaan yang diberikan kepada hamba-Nya yang mukmin. Jika hamba itu melakukan sebuah dosa besar, maka akan diangkatlah satu penjagaan dari dirinya.” (Al-Ikhtishash: 220)

Rasulullah saw bersabda: “Orang mukmin memiliki tujuh puluh dua tirai. Jika dia melakukan sebuah dosa maka akan runtuhlah satu tirai darinya …” (Al-Bihar 73: 362)

Dalam doa Kumail bin Ziyad dari Imam Ali bin Abi Thalib (as) disebutkan: “Ya Allah, ampuni dosa-dosaku yang meruntuhkan penjagaan.”

Ada beberapa naluri yang sama-sama dimiliki oleh manusia dan hewan, yang dianugerahkan oleh Allah swt. Bagi manusia, naluri itu mengandung suatu hikmah, begitu pula naluri yang sama yang dititipkan Allah pada binatang. Semua itu untuk mengantarkan hidupnya pada kesempurnaan yang dicarinya. Dan naluri yang ada dalam diri manusia itu merupakan salah satu kondisi jiwa manusia.Manusia dan binatang sama-sama dilengkapi naluri sejak dilahirkan. Di antara naluri itu ialah cinta pada diri sendiri, nafsu makan, nafsu seksual, marah, dan mempertahankan diri.Yang membedakan antara manusia dan binatang dalam hal ini adalah manusia dengan kesempurnaan akal dan pikirannya secara bertahap mampu menyelamatkan keliaran nalurinya agar tunduk pada akal pikirannya, serta menempatkan akal sebagai penguasa atas wujudnya. Adapun binatang, mereka hidup di bawah kekuasaan nalurinya sejak lahir sampai mati.

Hanya manusialah yang mampu menguasai naluri kebinatangan yang tumbuh dalam dirinya agar menjadi sifat-sifat insani. Dan jika sifat-sifat ini tidak tumbuh dalam dirinya, maka dia tidak lebih daripada binatang, bahkan lebih sesat ketimbang binatang.

Apa yang kita bicarakan ini contohnya sangat banyak. Untuk memperjelas konsep penjagaan (al-’isham) dan perisai (al-junnah) serta kata-kata lain yang semakna dengannya, yaitu sekat yang menghalangi kita agar tidak terjatuh ke dalam dosa, kami kemukakan di sini beberapa pengantar untuk itu.

Tubuh dan Ruh
Tubuh ialah bagian anggota yang tampak pada badan manusia, sedangkan ruh ialah kekuatan yang menggerakkan dan mengarahkan anggota-anggota tersebut. Dalam nash-nash Islam, ruh diungkapkan dalam berbagai kata, misalnya jiwa (al-nafs), dan kadangkala menggunakan kata hati (al-qalb). Sebagian ulama membagi wujud manusia menjadi tubuh Uism), ruh (ruh), dan jiwa (nafs). Tidak terlalu penting bagi kita untuk memperhatikan pembagian tersebut, karena kita mesti memfokuskan pembicaraan kita pada jiwa, baik yang disebut dengan istilah ruh atau yang lainnya.

Dalam dunia binatang, tidak dikenal makna keadilan dan persamaan, menghormati hak-hak yang lemah, formulasi saleh dan tidak saleh, dan konsep-konsep kemanusiaan yang dijunjung tinggi terhadap yang lain. Tujuan akhir hidup binatang ialah memuaskan nalurinya sendirinya walaupun untuk itu harus mengorbankan bangsanya sendiri.

Kita seringkali melihat seekor burung terbang berputar-putar cukup lama, berusaha dengan keras mencari makanannya. Ketika ia telah mendapatkan makanan itu, tiba-tiba ada burung lain yang mematuk kepalanya. Akhirnya, jatuhlah makanan dari paruh burung yang mencari makanan itu dan diambil oleh burung yang mematuknya.

Tidak jarang kita melihat seekor anjing yang dengan lahapnya menyantap daging bangkai keledai. la memakannya kekenyangan, dan makanan itu sampai ke tenggorokannya. Tetapi ia tidak memperbolehkan anjing-anjing yang lain untuk ikut menikmati bangkai itu.

Imam Ali bin Abi Thalib (as) mengatakan:“Sesungguhnya keinginan binatang itu adalah mengenyangkan perutnya, dan keinginan binatang buas itu adalah bermusuhan dengan yang lainnya….”

Dalam suratnya yang dikirimkan kepada pembantunya di Basrah, Utsman bin Hunayf, Imam Ali bin Abi Thalib (as) mengatakan:“Apakah aku harus puas terhadap diriku yang dikatakan sebagai amir al-mu’minin dan aku tidak ikut serta bersama mereka dalam merasakan pahitnya hidup ini, ataukah aku mesti menjadi contoh bagi mereka untuk menikmati hidup ini? Diriku tidaklah diciptakan untuk sibuk memakan yang enak-enak seperti binatang yang terikat yang keinginannya hanyalah mendapatkan rumput, atau binatang yang diumbar yang keinginannya menyikat habis rerumputan, dan bersenang-senang sesuai dengan keinginannya.” (Nahj Al-Balaghah, Syarh Muhammad Abduh, 4: 505)

Untuk menghadapi sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri manusia, dalam diri manusia telah dilengkapi dengan sifat-sifat kemanusiaan yang tinggi untuk membedakan antara dirinya dan binatang, dan untuk menjadikannya sebagai makhuk yang istimewa di atas nilai-nilai yang tidak ada pada kehidupan binatang. Ketika manusia melepaskan keliaran nafsu syahwatnya, maka syahwat itu akan menerjang dan mengoyakkan batas-batas kemanusiaannya. Pada gilirannya, manusia akan berubah menjadi binatang liar seperti binatang yang berkeliaran di hutan.

Allah swt hendak memuliakan anak-anak Adam. Oleh karena itu, Dia memberikan potensi agar dapat mengendalikan nafsunya dan mencegahnya untuk tidak terjerumus ke dalam dunia binatang. Potensi itulah yang membuahkan sifat “rasa malu”. Rasa malu merupakan sifat kemanusiaan yang mendorong manusia untuk mencapai kemuliaan dan menjauhkannya dari kejelekan.

Imam Ja`far Ash-Shadiq (as) berkata kepada muridnya:“Lihatlah olehmu wahai Mufadhdhal keistimewaan yang dimiliki oleh manusia yang tidak dimiliki oleh binatang. Penghormatannya sangat mulia, kehati-hatiannya sangat tinggi, yang saya maksudkan adalah rasa malunya. Kalaulah tidak ada sifat-sifat ini, niscaya tamu-tamu tidak dihormati, janji-janji tidak ditepati, keperluan-keperluan tidak dipenuhi, yang baik tidak dicari, dan yang jelek tidak dihindari. Bahkan sebagian besar kewajiban dikerjakan karena rasa malu itu. Jika tidak ada sifat rasa malu dalam diri manusia, niscaya dia tidak akan menghormati hak-hak kedua orangtuanya, tidak akan menyambungkan tali silaturahim dengan kerabatnya, tidak akan menunaikan amanat, dan tidak akan merasa malu mengerjakan kekejian.” (Bihar Al-Anwar 3:81)

Dari hadis-hadis sebelumnya dapatlah ditegaskan bahwa ada dosa dapat meruntuhkan penjagaan dan menghancurkann perisai yang menghalangi manusia dari dunia binatang.

Dosa Apakah yang Meruntuhkan Penjagaan?
Di sini kami hanya akan menyebutkan dosa yang terdapat dalam hadis Imam Ali Zainal Abidin (as) , kemudian kami akan menguraikan secara ringkas.

Imam Ali Zainal Abidin (as) berkata:“Dosa-dosa yang meruntuhkan penjagaan ialah: meminum khomer, bermain judi, melucu yang membuat manusia tertawa, menyebutkan aib orang lain, bergaul dengan orang-orang yang penuh keraguan.” (Ma’ani Al-Akhbar: 27)

Pertama: Minum Khomer
Inilah dosa pertama yang mendorong manusia agar terjerumus kepada kehinaan. Sebabnya sangat jelas. Minum khomer dapat merenggut daya kemauan yang mengendalikan syahwat manusia. Oleh sebab itu, runtuhlah salah satu perisai yang menjaga manusia yaitu rasa malu dan menanglah syahwatnya. Pada akhirnya manusia berada dibawah kekuasaan penuh syahwatnya, yang akan menggiringnya dan menjadikannya binatang yang sangat liar.

Imam Ali bin Musa Al-Ridha (as) mengatakan:“Sesungguhnya Allah swt mengharamkan khomer karena di dalamnya ada kerusakan dan menghilangkan akal, serta melenyapkan rasa malu dari wajahnya.” (Ma’ani Al-Akhbar: 27).

“..Allah mengharamkan khomer karena di dalamnya terdapat kerusakan dan perubahan akal peminumnya. Juga menyebabkan pengingkaran terhadap Allah swt, meragukan para Rasul-Nya, kerusakan, pembunuhan, menuduh orang lain, perzinaan, dan mudah melakukan hal-hal yang haram…” (Al-Mustadrak 3:137)

Rasulullah saw bersabda:“Seorang hamba akan tetap berada di bawah penjagaan Allah swt sampai dia minum khomer. Jika dia telah meminumnya, maka Allah akan menghanguskan perisainya. Dia akan dibimbing oleh setan dan teman-temannya adalah Iblis. Pendengaran, penglihatan, tangan, dan kakinya akan digiring kepada semua kejahatan, dan akan dibelokkan dari setiap kebaikan.”(Al-Wasail 3: 357)

Ketika syahwat telah menguasai manusia yang teracuni khomer, ia akan menggiringnya pada kehinaan dan melupakan kemanusiaan, kewarasan, kehormatan, dan rasa malunya. Oleh karena itu, Rasulullah saw bersabda tentang khomer ini: “Khomer adalah kejahatan.”(Ushul Al-Kafi, 4:35)

Imam Muhammad Al-Baqir (as) berkata:“Allah menciptakan gembok bagi kejahatan dan menjadikan kunci bagi gembok itu, yaitu minuman keras …” (Furu’ Al-Kafi,6: 403)

Memang, minuman khomer adalah kunci bagi setiap kehinaan dan kejahatan, karena:“Peminum khomer apabila sedang meminumnya akan melakukan perzinaan, pencurian, dan pembunuhan jiwa-jiwa yang diharamkan oleh Allah, serta meninggalkan shalat,” seperti hadis Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib (as).” (Al-Mustadrak, 3:139)

Kedua: Perjudian
Di antara faktor lain yang meruntuhkan penjagaan manusia ialah perjudian. Perjudian merupakan dasar bagi keuntungan dan kerugian yang tak teratur. Pada satu saat dia merupakan jalan bagi manusia untuk tiba-tiba menjadi kaya-raya, memiliki harta kekayaan yang melimpah tanpa usaha dan kerja. Kekayaan seperti itu membuat manu¬sia kehilangan sifat-sifat baiknya dan melenyapkan kemampuannya untuk menguasai diri atas harta kekayaan yang dia miliki. Sehingga dia sangat bernafsu untuk menghamburkan harta kekayaannya dalam hal-hal yang merusak dan mencelakakan, atau untuk bermain judi lagi.

Dengan jalan judi pula, manusia dapat kehilangan harta kekayaannya secara tiba-tiba. Pada gilirannya, akan tertanam di dalam hatinya rasa dendam dan marah kepada orang yang memperoleh keuntungan dari dirinya. Dan seringkali hal ini menimbulkan balas dendam dan pertengkaran berdarah.

Ketahuilah bahwa sesungguhnya perjudian dapat menanamkan sifat permusuhan di dalam hati dan juga membuatnya culas. Meja perjudian yang dikelilingi oleh orang-orang yang duduk di sampingnya mampu mengubah mereka menjadi beringas dan buas untuk menerkam satu sama lain. Masing-masing individu di antara mereka ingin menerkam yang lain, memakan dagingnya dan menghisap darahnya. Alangkah indahnya ungkapan yang disampaikan oleh Al-Quran Al-Karim dalam masalah ini:“Sesungguhnya setan bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khomer dan perjudian…” (Al-Maidah/5: 91).

Ketiga: Lawakan dan Lelucon
Dosa ketiga yang meruntuhkan penjagaan adalah lawakan yang sengaja dilakukan untuk membuat manusia tertawa. Sejauh mana kejatuhan orang yang melawak?

Rasulullah saw bersabda:“Sesungguhnya seseorang yang berbicara agar ditertawakan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya akan jatuh lebih jauh daripada sebuah biji yang diiatuhkan oleh tanamannya.” (Al-Mahajjah Al-Baydba’ 5: 232)

Agar kita memahami betul pengaruh lawakan dan lelucon dalam meruntuhkan perisai malu dan kehormatan manusia, ada baiknya kita kemukakan di sini beberapa hadis:
Rasulullah saw. bersabda:“Banyak Ganda dan melucu akan menghilangkan air wajah (kewibawaan).”(Bibar AI-Anwar 76:58)

Imam Al-Hasan Al-’Askari (as) berkata:“Janganlah kamu menghina karena hal itu akan menghilangkan kewibawaanmu, dan janganlah kamu bercanda karena hal itu membuat orang-orang akan berani kepadamu.”(Tubaf Al-’Uqul: 486)

Dari Hamran bin A’yun pernah menghadap kepada Imam Muhammad Al-Baqir (as) dan berkata: “Berilah wasiat kepadaku.” Al-Baqir menjawab “Kuwasiatkan kepadamu untuk bertakwa kepada Allah. Jauhilah canda-tawa karena hal itu akan menghilangkan wibawa dan air muka seseorang. (Bihar Al-Anwar, 76:60)

Imam Ali bin Abi Thalib (as) berkata:“Janganlah sekali-kali kamu mencandai saudaramu, karena dengan hal itu dia akan memusuhi kamu. Jika tidak menjadi musuh, dia akan menyakiti kamu. (Ghurar Al-Hikam: 726)

Beliau juga berkata:“Barangsiapa banyak bercanda, maka dia tidak pernah akan sepi dari orang yang menaruh dendam kepadanya atau meremehkannya.(Ghurar Al-Hikam: 726)

Di antara wasiat Imam Ali bin Abi Thalib (as) kepada putranya Al-Hasan (as) : “… Bercanda itu menimbulkan permusuhan.”(Ghurar Al-Hikam: 726)

Keempat: Mengikuti Perkembangan Aib Orang Lain
Dosa keempat yang meruntuhkan penjagaan dan prisai manusia adalah mengikuti perkembangan aib orang lain.

Patut disebutkan di sini bahwa menyebutkan aib orang lain adalah dosa yang berakibat sangat buruk bila dilakukan oleh pengumpat dan pencela yang jiwanya sakit. Adapun bila dilakukan oleh orang yang jiwanya bersih dan tidak pernah menyimpang dari aturan-aturan yang benar, bukan merupakan dosa, bahkan itu wajib dilakukan oleh orang muslim terhadap saudara muslimnya yang lain.

.Imam Ali bin Abi Thalib (as) mengatakan:“Barangsiapa yang melihatmu dan menjagamu tatkala kamu tidak ada, maka dia adalah sahabatmu yang perlu kamu jaga. Dan barangsiapa yang menutupi aibmu dan membukakan aibmu ketika kamu tidak ada, maka dia adalah musuhmu yang perlu kamu bersikap hati-hati kepadanya.”(Ghurar Al-Hikam: 679)

Dalam hadis yang lain, beliau mengatakan:“Kawanmu yang paling jelek adalah orang yang memuji dirimu berlebih-lebihan dan yang menutup aibmu.”(Ghurar Al-Hikam: 679)

“Barangsiapa yang menjelaskan kepadamu aib-aibmu maka dialah orang yang perlu kamu cintai, dan barangsiapa yang menutupi aibmu, maka dialah sebenarnya musuhmu.”(Ghurar Al-Hikam: 679)

Para Imam memberanikan para sahabat mereka untuk menunjukkan aib-aib mereka agar menjadi sunnah yang baik di kalangan kaum Mukmin.

Imam Ja’far Al-Shadiq (as) berkata:“Aku sangat senang kepada kawan-kawanku yang menunjukkan kepadaku aib-aibku. (Safinah Al-Bihar, 2:295)

Sunnah yang baik ini sama sekali tidak mungkin dijalankan kecuali dalam suasana keimanan yang dipenuhi rasa saling percaya antara semua individu, yang jauh dari rasa dendam dan permusuhan di antara mereka, serta dilandasi oleh ruh pendidikan yang meng¬antarkan manusia menuju kepada kesempurnaan. Dengan demikian akan hilanglah aib-aib yang ditunjukkan itu dari diri kita dan perilaku mulia itu akan semakin bertambah dalam jiwa kita.

Adapun yang dimaksud menyebutkan aib orang lain sebagai dosa yang menjatuhkan penjagaan adalah mengungkapan aib orang lain yang dasari oleh kebencian, permusuhan, dan dendam kesumat yang berupaya menjelekkan, menjatuhkan orang lain, dan menyebarkan aibnya di tengah masyarakat.

Tidak rahasia lagi, bahwa perilaku seperti itu adalah timbul karena hilangnya salah satu hijab saling menghormati antara satu individu dengan individu yang lain. Sehingga manusia lupa dengan aibnya sendiri ketika dia sibuk membicarakan aib orang lain. Dan boleh jadi, perilaku membukakan aib orang lain seperti itu juga timbul akibat hilangnya perisai penghalang aib yang ada dalam masyarakat pada tingkat tertentu.

Allah swt berfirman:“.. dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri…. (Al-Hujurat/49:11).

Rasulullah saw. bersabda:“Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya, dan hatinya belum ikhlas untuk beriman, janganlah kamu mencela kaum Muslimin dan membukakan aurat mereka. Karena sesungguhnya orang yang membukakan aurat mereka, maka Allah akan membukakan aibnya. Dan barangsiapa yang dibuka auratnya oleh Allah swt maka dia akan sangat terhina meskipun dia berada di rumahnya sendiri.” (Ushul All-Kafi 4: 57)

Imam Ali bin Abi Thalib (as) berkata:“Barangsiapa yang mengikuti rahasia aib orang lain, maka Allah akan mengharamkan baginya rasa cinta di dalam hatinya.”(Ghurar Al-Hikam: 683)

Imam Ali (as) juga berkata:“Berbahagialah orang-orang yang disibukkan oleh aibnya sendiri dan tidak sempat melihat aib orang lain.” (Safinah Al-Bihar 2: 295)

“Kebanyakan aib yang engkau limpahkan kepada orang lain adalah sebenarnya aib yang ada pada dirimu sendiri.” (Ghurar Al-Hikam: 194, 447)

“Orang yang paling jelek ialah orang yang mengikuti aib orang lain tetapi dia tidak mengetahui aib dirinya sendiri.” (Ghurar Al-Hikam: 194, 447)

Jika ada lidah seseorang yang mudah membukakan aib orang lain dalam suatu masyarakat, maka dia akan menjadi sumber bagi runtuhnya kepribadian dalam masyarakat tersebut serta menimbulkan keonaran di dalamnya. Biasanya, orang-orang seperti itu akan ditakuti di dalam masyarakat karena orang-orang takut terhadap sengatan lidahnya. Dan pada gilirannya akan timbul hubungan dan keterkaitan yang kurang wajar antara individu dalam masyarakat tersebut.

Rasulullah saw. bersabda:“Orang yang paling buruk pada hari kiamat nanti adalah orang-orang yang dihormati karena manusia takut akan sengatan lidahnya.” (Ushul Al-Kafi, 4:19)

Dalam wasiatnya kepada Imam Ali (as) Rasulullah saw bersabda:“Wahai Ali, maukah kau kuberitahukan tentang orang yang paling jelek? Aku berkata: ‘Ya, wahai Rasulullah.”‘ Rasulullah kemudian meneruskan: “Orang yang tidak memaafkan kesalahan orang lain, tidak memaafkan kekeliruan orang lain. Maukah kau kuberitahu tentang orang yang lebih buruk daripada itu?” Aku menjawab: “Ya, wahai Rasulullah.” Kemudian Rasulullah saw bersabda: “Orang yang tidak bisa dijamin keamanannya, dan tidak bisa diharapkan kebaikannya.” (Tuhaf Al-’Uqul: 13)

Imam Ja`far Al-Shadiq (as) berkata:“Barang¬siapa yang ditakuti lidahnya oleh orang lain, maka dia akan masuk neraka. (Ushul Al-Kafi, 19)

Kelima: Bergaul dengan Orang yang Diragukan
Dosa kelima yang meruntuhkan penjagaan manusia adalah bergaul dengan orang yang diragukan.

Tidak diragukan lagi mengenai pengaruh pergaulan dengan orang-orang yang rusak kepribadiannya, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk masyarakatnya. Secara internal seseorang akan dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya, dan dia akan meniru idolanya. Seseorang akan meniru lingkungannya yang rusak yang telah menghilangkan hijab rasa malu dalam dirinya. Secara eksternal nilai seseorang yang bergaul dengan orang-orang yang diragukan akan mencemari manusia yang lain, dan akan menjatuhkan martabat masyarakatnya. Akibatnya, runtuhlah prisai-prisai masyarakat dan putuslah ikatan-ikatan sosial yang sebenarnya dapat memacu kegiatan manusia dan mencegah mereka dari kehancuran.

Rasulullah saw. bersabda:“Orang yang pertama kali berhak dituduh adalah orang yang bergaul dengan orang yang menuduh.”(Al-Mustadrak 2: 65)

Imam Ja`far Al-Shadiq (as) berkata:“Barangsiapa yang bergaul dengan orang yang diragukan, maka dia perlu diragukan.” (Bihar Al-Anwar 74: 197)

Beliau juga berkata:“Janganlah engkau bersahabat dengan orang-orang yang suka membuat bid`ah, janganlah bersahabat dengan mereka karena orang-orang akan menganggap kamu satu kelompok dengan mereka.” (Ushul Al-Kafi 4: 83)

Imam Ali bin Abi Thalib (as) berkata:“Barangsiapa yang mendudukkan dirinya sebagai orang yang menuduh, maka janganlah dia mencela orang yang berprasangka buruk padanya.”(Bihar Al-Anwar 74: 186)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar