Jumat, 31 Oktober 2008

Tanda-tanda Ilmiah Kemunculan Imam Mahdi


Disusun Oleh :
Jafar Hasan – Khalifah Mursyid Thariqah Qadiriyyah Hasan wa Husein


Riwayat-riwayat kemunculan Imam Mahdi ini terdapat dalam kitab Al Urf al Wardi fi Akhbar al Mahdi karya Allamah Jalaluddin as Suyuthi pengarang kitab tafsir Jalalain yang terkenal, dan dari kitab Al Burhan fi Alamati al Mahdi Akhir Zaman karya Ulama besar Syaikh Ali bin Hussamuddin yang bergelar Al Muttaqi.

Sanad hadits mengenai Imam Mahdi yang tidak terputus, dan banyak sekali diriwayatkan (mutawatir), menjelaskan mengenai kuatnya hadits-hadits tentang Imam Mahdi ini. Menurut Ibnu Hajar al Asqalani, suatu hadits yang diriwayatkan tiap-tiap generasi yang tak henti-hentinya memimpin ke arah menetapkan kejujurannya, dan suatu tindakan yang diambil didasarkan di atas nya bukanlah suatu takhayul.
(Ibn Hajar al-'Asqalani, Nuzhat al-nazar, hal. 12.)



Sebuah Tanda Dari Matahari

Nu’aim bin Hammad (Pengarang kitab Hilyatul Auliya) dan Abul Hasan al Harabi dalam bagian pertama dari kitab Al Harabiyat meriwayatkan dari Ali bin Abdullah bin Abbas ra, beliau berkata, “Mahdi tidak akan muncul hingga terlihat suatu tanda dari matahari.”

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Abbas menceritakan sabda Rasulullah Saww, “Mahdi tidak akan muncul hingga terlihat suatu tanda pada matahari.”
(HR. Baihaqi dan al Hafidz Abu Abdillah Nu’aim bin Hammad)

Sebagai pusat peredaran planet-planet di tata surya, matahari merupakan sumber energi bagi makhluk di bumi. Energi itu dihasilkan dari reaksi termonuklir untuk mengubah hidrogen menjadi helium yang terjadi di dekat inti matahari. Suhu di bagian pusat matahari yang terdiri dari gas berkerapatan 100 kali kerapatan air di bumi itu, mencapai 15 juta derajat celsius. Di dalam perut matahari terjadi rotasi dan aliran massa atau konveksi yang memengaruhi gaya magnetnya. Pada aktivitas tinggi, gaya magnet ini bisa terpelintir atau berpusar hingga menembus permukaan matahari membentuk "kaki-kaki", yang tampak bagai bintik hitam.



Bintik hitam matahari memiliki diameter sekitar 32.000 kilometer, umumnya terdiri dari dua bagian, yaitu bagian dalam yang disebut umbra, berdiameter 13.000 km atau seukuran diameter rata-rata bumi dan bagian luar disebut penumbra yang garis tengahnya kurang lebih 19.000 km. Suhu penumbra lebih panas dan warnanya lebih cerah dibanding umbra. Suhu gas yang terbentuk di lapisan fotosfer dan kromosfer di atas kelompok bintik hitam itu naik sekitar 800º Celsius di atas suhu normalnya. Akibatnya, gas ini memancarkan sinar lebih besar dibandingkan dengan gas di sekelilingnya. Setelah beberapa hari, pelintiran magnetik ini terpecah menjadi beberapa pelintiran lebih tipis. Masing-masing bergerak melintasi permukaan ke berbagai arah hingga menghilang.

Seperti di bumi, di permukaan matahari pun terjadi badai. "Bintik matahari ini adalah sinyal awal badai matahari yang intensitasnya akan terus meningkat dalam tahun-tahun mendatang," tandas ilmuwan Douglas Biesecker dari Space Weather Prediction Center (SWPC) di NOAA. Bintik matahari adalah sebuah aktivitas magnetis di permukaan matahari. Bintik baru temuan NOAA itu diidentifikasi sebagai #10.981 dan menjadi bintik matahari terbaru yang terlihat sejak NOAA menghitungnya mulai tahun 1972. Menurut NOAA, dalam badai matahari, ada materi yang bisa sampai ke bumi dan mengganggu sistem komunikasi, sumber daya, sinyal GPS dan bahkan membahayakan satelit. Pembicaraan via ponsel dan penarikan uang dari ATM juga bisa terganggu.


Badai matahari terjadi di daerah kromosfer dan korona-berada di atas kawasan munculnya bintik-bintik hitam. Beberapa badai matahari juga muncul ketika terjadi ledakan cahaya atau flare. Ketika flare muncul, terjadi pelepasan sejumlah besar energi. Umumnya, kian banyak bintik hitam terbentuk, maka flare pun makin banyak. Flare yang mengeluarkan partikel kecepatan tinggi dalam badai matahari menyebabkan timbulnya tekanan pada magnetosfer bumi hingga mengakibatkan badai magnetik di bumi. Fenomena ini mengganggu komunikasi radio dan membuat jarum kompas berputar liar di bumi.


Badai Matahari terbentuk karena terjadinya gejolak di atmosfer Matahari yang dipicu terbentuknya bintik hitam (sunspot). Bintik hitam merupakan daerah yang mempunyai suhu lebih rendah dibanding daerah sekitarnya. Kondisi tersebut memicu lidah api (solar flare) dan coronal mass ejection (CME) atau terlontarnya materi matahari yang juga mencapai Bumi. Partikel-partikel bekecepatan tinggi dalam jumlah besar yang sampai ke atmosfer Bumi menghasilkan aurora dan badai geomagnetik. Inilah yang disebut para astronom solar storm atau badai Matahari. Puncak aktivitas atau disebut solar maximum umumnya terjadi setiap 11 tahun sesuai dengan siklus perubahan medan magnetik Matahari. Aktivitas yang terjadi secara berkala tersebut akan mencapai puncaknya kembali pada periode antara 2011 hingga 2012.
Bintik hitam matahari dan flare, menurut Sri Kaloka, Kepala Pusat Pengamatan Dirgantara Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), telah menimbulkan dampak berarti di beberapa wilayah di bumi-terutama di lintang tinggi-karena meningkatnya elektron di lapisan ionosfer. Tahun 1980-an, misalnya, pembangkit listrik di Quebec, Kanada, padam akibat terpengaruh badai matahari. Gangguan di lapisan ionosfer di ketinggian 60 km-6.000 km dari permukaan bumi ini juga menyebabkan kekacauan dalam penyampaian sinyal komunikasi frekuensi tinggi, yang menggunakan lapisan itu sebagai media pemantul sinyal. Sistem navigasi dengan satelit global positioning system menjadi tidak akurat. “Jumlah dan intensitas noise akan meningkat dan dapat mengaburkan sinyal GPS selama periode ini,” kata Paul Kintner dari Departemen Teknik Elektro Universitas Cornell. Keakuratan GPS akan berkurang hingga 90%, dan dapat rusak. Hal ini sangat membahayakan dunia penerbangan, di mana fungsi GPS sudah seperti “nafas pada Manusia.

Pengukuran dengan teleskop radio di NJIT (Institut Teknologi New Jersey) memastikan bahwa saat puncaknya badai membawa emisi radio dari Matahari hingga 20 ribu kali lebih besar daripada kondisi normal. Hal tersebut cukup untuk mematikan seluruh penerima GPS yang berhadapan langsung dengan Matahari, ujar Dale Gary dari NJIT. Hal ini pernah terjadi beberapa tahun silam, tepatnya pada akhir oktober 2003. Pada waktu itu, tidak hanya satelit GPS saja yang rusak, tapi juga satelit komunikasi publik. Namun, yang paling bahaya adalah apabila distribusi listrik terganggu. Pada 28-30 Oktober 2003, hampir seluruh pembangkit listrik di dunia dinonaktifkan untuk sementara. Apabila listrik tidak dimatikan, maka akan terjadi kerusakan pada pembangkit-pembangkit listrik di setiap negara. Hal ini disebabkan karena terjadinya ketidakstabilan medan magnet di Bumi.

Jumlah bintik hitam yang tampak dari pengamatan dari bumi bervariasi, dari 1-100 titik. Bintik ini butuh waktu 11 tahun untuk mencapai jumlah tertinggi, lalu menurun lagi. Periode ini disebut siklus bintik matahari. Sri Kaloka mengingatkan, puncak jumlah bintik hitam dapat terjadi lagi sekitar tahun 2011.
Zaman Es Kecil

Dari Tsauban ra yang berkata, bahwa telah bersabda Rasulullah Saww. “Akan datang Panji-Panji Hitam (kekuasaan) dari sebelah Timur, hati dan keimanan mereka (Imam Mahdi dan pendukungnya) kokoh layaknya kepingan-kepingan besi (gagah berani). Barangsiapa mendengar tentang mereka, hendaklah datang kepada mereka dan berbai'atlah kepada mereka sekalipun kalian harus merangkak di atas salju.
(Hadits ini diriwayatkan oleh Al Hafiz Abu Nu’aim al Isfahani)

Diriwayatkan oleh Ibnu Mas'ud ra, , "Ketika kami berada di sisi Rasulullah Saww, tiba-tiba datang sekumpulan anak muda dari kalangan Bani Hasyim (Imam Hasan, Imam Hussein, dan saudara-saudaranya). Apabila menyaksikan mereka, maka kedua mata baginda Rasulullah Muhammad Saww dilinangi air mata dan roman wajah baginda berubah. Aku pun bertanya, "Mengapa kami melihat pada wajah engkau sesuatu yang tidak kami sukai?" Baginda menjawab, "Kami Ahlul Bait telah Allah pilihkan akhirat lebih daripada dunia dan seisinya. Kaum kerabatku akan menerima fitnah dan penindasan selepasku kelak, sampai tiba saatnya datang suatu kaum dari Timur yang dipimpin oleh salah satu dari Ahlulbaitku, membawa bersama-sama mereka Panji-panji Hitam. Mereka meminta kebaikan tetapi tidak diberikan, maka mereka pun berjuang dan memperoleh kejayaan lalu diberikanlah apa yang mereka minta itu tetapi mereka tidak menerima sampai mereka menyerahkannya kepada pemimpinnya, yaitu seorang lelaki dari kaum kerabatku yang akan memenuhi bumi ini dengan keadilan sebagaimana bumi ini dipenuhi dengan kedzaliman sebelumnya. Siapapun yang sempat mendengar ataupun menyaksikanya, maka datangilah mereka, walaupun harus terpaksa merangkak di atas salju. Sesungguhnya dia adalah al-Mahdi."
(HR. Ibnu Majah didalam as Sunan)


Secara langsung maupun tidak langsung, angin dan awan di permukaan bumi terkait dengan matahari. Panas dari matahari memproduksi perbedaan temperatur, yang mengarahkan pada perbedaan temperatur. Dan angin selalu bergerak dari tekanan tinggi ke rendah. Laut menjadi tempat penyimpanan panas matahari, dan arus laut global menggerakkan energi yang tersimpan tersebut, menyebabkan adanya iklim global, dari angin sepoi-sepoi sampai adanya badai lautan. La-nina, el-nino, merupakan salah satu fenomena musiman, yang selalu terjadi setiap tahun, seiring dengan perubahan bumi mengelilingi matahari. Demikian juga dengan interaksi harian antara udara tropis yang hangat-lembab dan udara dingin arktik yang menyebabkan adanya tornado di selatan dan barat-tengah amerika, dan kadang-kadang mengarah ke timur laut. Pergeseran kutub bumi dalam mengelilingi matahari juga merupakan penyebab terjadinya musim.

Dalam kondisi ekstrem, baik tinggi maupun rendah, bintik hitam matahari atau flare memberi dampak buruk bagi kondisi di bumi. Saat ini kejadian bintik hitam, menurut Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Mezak Ratag, justru dalam titik terendah.

Bintik hitam adalah indikator aktivitas matahari. Bila sedikit jumlahnya, energi yang dipancarkan matahari berkurang, yaitu 0,1 persen pada cahaya tampak, tetapi bisa puluhan persen pada ultraviolet. Kejadian bintik matahari bisa berkurang akibat menurunnya aktivitas dinamo matahari, konveksi, dan atau tekanan radiasi dari reaksi nuklir di pusat matahari.

Dalam beberapa tahun terakhir terjadi anomali aktivitas matahari itu. "Hanya beberapa hari saja dalam dua tahun terakhir ini terpantau aktivitas bintik matahari," ujar Mezak. Kondisi permukaan matahari hampir tanpa sunspot dalam beberapa tahun terakhir itu dikhawatirkan mengarah pada minimum Maunder kedua setelah kejadian pendinginan global sekitar tahun 1600an. Rendahnya aktivitas matahari berarti berkurangnya suplai panas ke bumi secara rata-rata global dalam skala waktu tahunan-bukan harian atau bulanan. Akan tetapi, pemanasan lokal masih bisa terjadi. Seperti beberapa bulan terakhir, suhu laut di bagian timur agak hangat, urai Mezak.

Berkurangnya suplai energi dari matahari pada bumi menyebabkan berkurangnya pemanasan lautan, berarti pula penguapan air laut yang akan menjadi hujan pun rendah. Menurunnya suplai energi matahari juga melemahkan monsun. Gerakan angin monsun terjadi karena perbedaan panas antarlautan dan benua berdasarkan posisi garis edar matahari. Pengaruh matahari ini tidak berkorelasi dengan peningkatan suhu udara beberapa pekan terakhir. Tingginya suhu udara di bumi disebabkan tingginya uap air, tetapi sedikit yang terbentuk menjadi awan, sedangkan matahari sudah di lintang selatan. Cahaya matahari sampai ke permukaan bumi tanpa halangan awan. Namun, inframerah yang dipancarkan ke bumi tertahan uap air sehingga menaikkan suhu. Uap air banyak dari laut. Itu dijelaskan Mezak selaku Executive Panel Riset Monsun Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada pertemuan WMO di Beijing, Selasa (21/10), berdasarkan laporan sejumlah ilmuwan dari AS, China, dan Australia. Mereka mengatakan, ada tren pelemahan monsun di berbagai tempat di bumi. ”Di Indonesia, kondisi itu mengakibatkan pelemahan monsun rata-rata dalam beberapa tahun terakhir, tetapi variasinya dari tahun ke tahun bisa besar,” tambahnya.

Senin (20/10/2008), Pusat Data Aktivitas Matahari (SIDC) di Belgia menghentikan peringatan "All Quiet Alert", karena peneliti di sana mendeteksi adanya aktivitas di matahari. Namun, laporan ini belum final, mengingat banyak pakar astrofisika matahari meyakini perioda aktivitas rendah ini masih akan berlangsung lama hingga berdampak pendinginan global (global cooling).

Pada kondisi belakangan ini, Cina mengalami musim dingin paling dingin dalam 100 tahun terakhir, Amerika Utara mencatat rekor tinggi salju, Inggris mengalami April terdingin. Kondisi ini bukan pertama kali ini terjadi. Dari catatan sejarah, tahun 1645-1715 matahari hampir tanpa bintik, aktivitasnya sangat lemah. Pada kurun waktu itu, suhu permukaan global sangat rendah sehingga dinamakan zaman es kecil.

(Jafar Hasan : Bogor, akhir Oktober 2008)

Rabu, 29 Oktober 2008

Keutamaan surat Al-Falaq



1. Rasulullah Saww. bersabda: “Barangsiapa yang ingin memperoleh penjagaan Allah dari orang yang bermaksud buruk, hendaknya ketika melihat orang itu memohon perlindungan dengan kekuatan Allah Azza wa Jalla dari kekuatan makhluk-Nya, kemudian membaca surat Al-Falaq dan ayat yang difirmankan oleh Allah Azza wa Jalla kepada Nabi-Nya Saww.: Fain tawallaw faqul hasbiyallâhu lâ ilâha illâ Huwa, ‘alayhi tawakkaltu wa Huwa Rabbul ‘arsyil ‘azhîm (At-Taubah: 129), niscaya Allah menyelamatkan ia dari tipu daya setiap penipu, makar setiap pemakar, dan kedengkian setiap orang yang dengki.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 5/717).

2. Imam Muhammad Al-Baqir (as) berkata: “Barangsiapa yang membaca surat Al-Falaq dan An-Nas, ia seperti membaca seluruh kitab suci yang diturunkan kepada para Nabi.” (Tafsir Nur Tsaqalayn 5/717)

3. Imam Musa Al-Kazhim (as) berkata: “Tidak ada seorang pun yang membacakan pada anak kecil setiap malam: surat Al-Falaq dan An-Nas masing-masing (3 kali), dan surat Al-Ikhlash (100 kali) atau (50 kali), kecuali Allah menyingkirkan darinya setiap penyakit atau derita anak kecil: kehausan, penyakit lambung dan darah, sampai ia berusia remaja. Jika sesudah remaja ia membacanya sendiri, maka ia akan dijaga oleh Allah Azza wa Jallah sampai hari wafatnya.” (Tafsir Nur Tsaqalayn 5/717)

4. Imam Ali Ar-Ridha (as) berkata bahwa beliau pernah melihat orang yang sedang pingsan. Beliau menyuruh mengambilkan gelas yang diisi air. Kemudian beliau membaca surat Al-Fatihah, surat Al-Falaq dan An-Nas, kemudian meludahi/meniup gelas itu, lalu menyuruh menyiramkan/mengusapkan air itu pada kepala dan wajahnya. Orang yang pingsan itu sadar dan bangun. Imam berkata kepadanya: “Insya Allah penyakit itu tidak akan kembali lagi kepadamu selamanya.” (Tafsir Nur Tsaqalayn 5/718)

Keutamaan surat An-Nas



1. Imam Musa Al-Kazhim (as). berkata: “Sangatlah banyak keutamaan surat ini bagi anak kecil jika padanya dibacakan surat Al-Falaq (3 kali), surat An-Nas (3 kali), dan surat Al-Ikhlash (100 kali) dan jika tidak mampu (50 kali). Jika ia ingin memperoleh penjagaan diri dengan bacaan itu, ia akan terjaga sampai hari kematian men-jemputnya. (Mafatihul Jinan 479).

2. Imam Muhammad Al-Baqir (as) berkata bahwa Rasulullah Saww. mengadu karena sakit yang dideritanya. Kemudian Jibril (as) datang kepadanya, dan Mikail (as) berada di dekat kakinya. Kemudian Jibril memohonkan perlindungan untuknya dengan surat Al-Falaq, dan Mikail memohonkan perlindungan untuknya dengan surat An-Nas.” (Tafsir Nur Tsaqalayn 5/725)

3. Imam Ja’far Ash-Shadiq (as). berkata bahwa: “Jibril datang kepada Rasulullah SAW. ketika sedang mengadu karena sakit, lalu Jibril meruqiyah (mengobati)nya dengan surat Al-Falaq, An-Nas dan Al-Ikhlash. Jibril berkata: Dengan nama Allah aku ruqiyah kamu, Allah pasti menyembuhkan kamu dari segala penyakit, ambillah surat ini niscaya ia akan memberi kamu ketenangan dan kesembuhan. Kemudian Nabi Saww. membacanya.” (Tafsir Nur Tsaqalayn 5/725)

Keutamaan Ayat Qursy

(Al-Baqarah : 255)

1. Rasulullah SAW. Bersabda : «Barangsiapa yang membaca empat ayat dari awal surat Al-Baqarah, dan ayat Kursi serta dua ayat sesudahnya, dan tiga ayat dari akhir surat, ia tidak akan melihat pada diri dan hartanya sesuatu yang tidak diinginkan, tidak didekati oleh setan, dan tidak melupa-kan Al-Qur’an. (Kitab Tsawabul A’mal 104).

2. Rasulullah SAW. bersabda: “Barangsiapa yang membaca ayat Kursi (100 kali), maka nilainya sama dengan orang yang beribadah sepanjang hidupnya.” (Tafsir Ats-Tsaqalayn 1/258).

3. Rasulullah SAW. bersabda: “Ketika Allah Azza wa Jalla hendak menurunkan surat Al-Fatihah, ayat Kursi, Ali-Imran 18, dan Ali-Imran 26-27, … (lihat keutamaan Surat Al-Fatihah. (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 1/258; Tafsir Majma’ul Bayah).

4. Rasulullah SAW berwasiat kepada Ali bin Abi Thalib (as): «Wahai Ali, barangsiapa yang menderita sakit perut, maka tuliskan ayat kursi pada perutnya, dan minumlah air (yang dibacakan ayat kursi), dengan izin Allah ia akan sembuh.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 1/258).

5. Imam Ali Ar-Ridha (as) berkata: “Barangsiapa yang mem-baca ayat Kursi menjelang tidur, insya Allah diselamatkan dari penyakit lumpuh separuh badan; dan barangsiapa yang membacanya setiap sesudah shalat, ia akan terjaga dari bahaya penyakit demam.” (Kitab Tsawabul A’mal 105).

6. Sebagian ulama besar sufi mengatakan: “Jika ayat Kursi dibaca sebanyak jumlah nama-nama Allah, maka akan dibukakan baginya pintu-pintu Futuhat (kemenangan dan pertolongan), menjadi orang yang bahagia dan dijauhkan dari kefakiran.”

Keutamaan Surat Yasin



1. Rasulullah Saww. bersabda: “Barangsiapa yang membaca surat Yasin karena Allah Azza wa Jalla, Allah akan mengampuni dosanya dan memberinya pahala seperti membaca Al-Qur’an dua belas kali. Jika surat Yasin dibacakan di dekat orang yang sedang sakit, Allah menurunkan untuknya setiap satu huruf sepuluh malaikat. Para malaikat itu berdiri dan berbaris di depannya, memohonkan ampunan untuknya, menyaksikan saat ruhnya dicabut, mengantarkan jenazahnya, bershalawat untuknya, menyaksikan saat penguburannya. Jika surat ini dibacakan saat sakaratul maut atau menjelang sakaratul maut, maka datanglah padanya malaikat Ridhwan penjaga surga dengan membawa minuman dari surga, kemudian meminumkan padanya saat ia masih berada di ranjangnya, setelah minum ia mati dalam keadaan tidak haus, sehingga ia tidak membutuhkan telaga para nabi sampai masuk ke surga dalam keadaan tidak haus.” (Tafsir Nur Ats-tsaqalayn 4/372).

2. Anas bin Malik berkata bahwa Rasulullah Saww. bersabda: “Barangsiapa yang mendatangi pekuburan lalu membaca surat Yasin, maka pada hari itu Allah meringankan siksaan mereka, dan bagi yang membacanya mendapat kebaikan sejumlah penghuni kubur di pekuburan itu.” (Tafsir Nur Ats-tsaqalayn 4/373).

3. Imam Ja’far Ash-Shadiq (as): “Sesungguhnya setiap sesuatu mempunyai hati, dan hati Al-Qur’an adalah surat Yasin. Barangsiapa yang membacanya sebelum tidur atau di siang hari sebelum bepergian, maka hari itu sampai sore hari ia tergolong pada orang-orang yang terjaga dan dikaruniai rizki. Barangsiapa yang membaca di malam hari sebelum tidur, Allah mengutus seribu malaikat untuk menjaganya dari keburukan semua setan yang terkutuk dan dari setiap penyakit; jika ia mati pada hari itu, Allah akan memasukkannya ke surga, tiga ribu malaikat hadir untuk memandikannya, memohonkan ampunan untuknya, mengantarkan ke kuburnya sambil memohonkan ampunan untuknya; ketika ia dimasukkan ke liang lahatnya para malaikat itu beribadah kepada Allah di dalam liang lahatnya dan pahalanya dihadiahkan kepadanya, kuburan-nya diluaskan sejauh batas pandang, diamankan dari siksa kubur, dan dipancarkan ke dalam kuburnya cahaya dari langit sampai Allah membangkitkannya dari kuburnya…” (Kitab Tsawabul A’mal, hlm 111).

Tafsir Tasawuf (Sufi): Surah An-Nur ayat 35 - 38


Maksud ayat:
“Allah (memberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti lubang yang tak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca dan kaca itu seakan-akan (bintang yang bercahaya) seperti mutiara yang menyalakan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, iaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah baratnya yang minyaknya sahaja menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis) Allah membimbing kepada cahayanya, siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahka untuk dimulakan dan disebut namanya di dalamnya, pada waktu pagi dan pada waktu petang, lelaki yang tida dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingati Allah dan dari mendirikan solat dan dari membayar zakat. Mereka takut pada suatu hari (yang dihari itu) Hati dan penglihatan menjadi goncang. Mereka yang mengerjaka demikian itu supaya Allah memberikan balsan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan, dan supaya Allah menambahkan kurnianya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki pada siapa yang dikehendakinya.” (An-Nur: 35-38)

1.1. Hakikat Cahaya
Kejelasan, penafsiran dan pengertian ayat misykat memberi bantuan yang amat besar dalam memahami persoalan hati dan perjalanan suluk.

Pada ayat pertama, komposisi atau komponen manusia diumpamakan dengan lubang yang tidak tembus dengan pelita dan kaca. Misykat adalah suatu lubang di dinding yang tidak tembus ke sebelahnya. Pelita sama dengan lampu, dan kaca adalah dinding yang menghimpun dan melingkupi pelita yang menerangi.

Perumpamaan ketiga-tiga komponen ini adalah perumpamaan dari manusia yang beriman yang padanya ada jasadnya, hatinya dan cahaya yang ada di dalam hati. Jasad diumpamakan dengan misykat, hati diumpamakan dengan kaca dan cahaya diumpamakan dengan pelita yang ada dalam kaca.

“Allah cahaya langit dan bumi”

Bermaksud; Dia adalah pemberi petunjuk (cahaya) kepada langit dan bumi; di mana tiada petunjuk di langit dan di bumi tanpa cahaya-Nya. Selanjutnya Allah mengumpamakan petunjuk-Nya sebahagian petunjuk bagi orang mukmin. Hidayah ditamsilkan dengan perumpamaan-perumpamaan, kebesaran dan kemuliaan hidayah-Nya menjadi jelas.

Jadi, misykat adalah jasad orang mukmin yang melingkupi hatinya, kaca ialah hati orang mukmin yang melingkupi cahaya hati yang merupakan petunjuk dari penunjuk bagi orang mukmin itu sendiri, sehingga dia mampu melihat hakikat segala sesuatu yang berjalan di atas hidayah dari Tuhannya dengan cahaya tersebut. Ini adalah Tahap Pertama dalam perumpamaan.

Tahap perumpamaan kedua ialah kaca yang melingkupi pelita atau hati yang melingkupi cahaya dan kebenderangan cahaya yang sangat cemerlang diumpamakan dengan bintang yang menerangi, di mana bintang itu diserupakan dengan mutiara kerana sangat cemerlangnya cahaya bintang tersebut.

Kita perhatikan di sini, perbincangan tentang kaca dan semua pelitanya atau tentang hati dan cahayanya, seluruhnya diumpamakan dengan bintang yang mutiara (al-Kaukub ad-Durriy) sehingga pelita itu mampu bersinar. Demikian pula kacanya, ia bersinar kerana cemerlang dan putih bersih.

Perumpamaan Tahap Ketiga ialah pelita ada dalam kaca, dari mana dan dengan apa kaca itu dinyalakan? Dari mana cahaya itu didapati? Bagaimana kecahayaan (nuraniyah) mampu berlangsung? Dengan ungkapan lain, cahaya itu ada di dalam hati, dari mana hati itu memperoleh nuraniah? Bentuk pertolongan bagaimana yang yang diberikan kepada hati atau yang diperolehinya hingga ia bernuraniah? Apa yang menimbulkan cahaya rohani tersebut?

Allah SWT berfirman yang dinyalakan, maksudnya yang dinyalakan adalah pelita yang ada dalam kaca atau cahaya yang ada dalam hati orang mukmin dinyalakan, “dengan minyak yang dari pohon yang banyak berkatnya atau yang banyak manfaatnya. Iaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah baratnya”. Sedangkan Zaitun ialah syariat Allah.

Menurut Ibnu Katsir, kejernihan, sinar atau nuraniah yang ada dalam diri seorang mukmin diumpamakan seperti dinding kaca yang jernih lagi murni seperti permata, sedangkan al-Qurán dan syariát diumpamakan seperti minyak jernih, baik, bercahaya dan seimbang tanpa ada sedikit pun keruh.

Perumpamaan terhadap keempat pohon yang penuh berkah merupakan sumber dari cahaya hati, adalah syariat Allah yang penuh manfaat, yang merupakan sumbe dari cahaya kalbu. Dari situlah kalbu mengambil cahaya. Berapa kadar besar minyaknya? Allah befirman:

“Yang minyaknya sahaja hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api”

Minyak itu dinyatakan jernih dan bercahaya, kata an-Nasafi kerana kilaunya hampir-hampir bersinar tanpa ada api atau tanpa dinyalakan api. Kadar besar nuraniah syariat yang memberi cahaya pada hati? Dan betapa besar cahaya hati yang diperoleh dari sinaran cahaya syariat?

Demikianlah adanya, dan kerana itulah Allah berfirman:

“Cahaya di atas cahaya”

Ini adalah perumpamaan tahap kelima. Cahaya yang diumpamakan kebenaran itu, kata an-Nasafi, seperti yang bersatu yang berlapis-lapis yang mana di dalamnya terjadi interaksi antara (cahaya) misykat, pelita dan minyak. Sehingga tidak ada satupun yang tinggal untuk memperkuat benderangnya cahaya, kerana pelita yang ada di dalam tempat yang sempit menyerupai lubang yang tidak tembus, di mana ia mampu menghimpun dan memadukan seluruh cahaya. Hal ini berbeza seandainya di tempat yang luas, maka sinar cahayanya akan tersebar dan berserakan. Sedangkan (dinding) kaca merupakan suatu yang paling banyak menambah penerangan, demikian juga dengan minyak dan kebenderangannya.

Menurut Ibnu Katsir’As-Saddi yang pernah berkata tentang firman Allah tersebut, cahaya di atas cahaya adalah cahaya api dan cahaya minyak bila bersatu akan memancarkan sinar, dan yang satu tidak akan memancarkan cahaya yang lain. Demikian pula cahaya al-Qurán dan cahaya iman bersatu padu.

Dengan demikian, perumpamaan yang Allah buat untuk menerangkan kebebasan hidayahNya telah sempurna, dan dari penjelasan tentang perumpamaan tersebut, kita tahu bahawa penunaian syariat Allah lah yang mampu memberikan cahaya iman yang abadi.

Selain itu, berdasarkan pendapat Ibnu katsir’As-Saddi juga, cahaya api dan cahaya minyak bila bersatu padu memancarkan sinar, dan tidak akan bersinar satu di antaranya tanpa yang lain. Demikian juga cahaya al-Qurán dan cahaya iman ketika bersatu padu, dan satu di antaranya tidak akan memancarkan cahaya tanpa yang lain.

Di sini, kita sudah mulai memahami bahawa kewujudan kandungan al-Qurán merupakan makanan yang kekal bagi kalbu, sebab dengan al-Qurán pelita hati akan tetap menyala terang dan akan tetap memperolehi petunjuk. Bertambahnya perpaduan cahaya hati dan pancarannya bergantung kepada kadar penunaian seseoang terhadap kandungan al-Qurán dan misykat atau jasad akan memantulkan cahaya ini sehingga jalan baginya menjadi terang dan juga bagi yang lain.

“Allah membimbing kepada cahaya-Nya kepada siapa yang dia kehendaki dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Maksudnya Allah membimbing kepada cahaya syariat-Nya atau Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki dari ahli Iman sehingga mereka memperolehinya dan mengikuti petunjuk yang diberikan kepada mereka.

Ayat berikutnya menjelaskan tentang tempat mereka yang hatinya dipenuhi cahaya dan hidayah:

“Di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya.”

Ketika menerangkan ayat misykat (lubang yang tidak tembus) yang terdapat di sebahagian rumah Allah, iaitu masjid, an-Nasafi mengulas bahawa Misykat adalah jasad orang mukmin yang hatinya adalah mencintai masjid. Dapat disimpulkan bahawa titik tolak kepada pendidikan keimanan yang tinggi adalah masjid dengan cara menyucikan diri di dalam masjid pada waktu pagi dan pada waktu petang dengan melaksanakan solat di dalamnya. Ini adalah kerana mereka adalah lelaki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula dari jual beli dari mengingat Allah, dari mendirikan solat, dan dari membayar zakat. Mereka takut pada satu hari (yang di hari itu) hati penglihatan menjadi goncang.

Hadits-Hadits Tentang Dzikrullah

Dzikir merupakan ibadah yang paling utama dan merupakan amal ibadah yang paling dapat mendekatkan diri kita Alloh SWT. Oleh karena itu, di dalam Al-Qur?an kita dapatka banyak sekali ayat-ayat yang memerintahkan kepada kita untuk melakukan dzikir disertai dengan pujian dan sanjungan dari Alloh kepada mereka yang melaksanakannya.

Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah dengan menyebut nama Alloh, dzikir yang sebanyak- banyaknya? (Al-Ahzab: 41)

Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (dengan meyebut nama) Alloh, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau bahkan berdzikirlah lebih banyak dari itu? (Al-Baqoroh: 200)

Yaitu orang-orang yang mengingat Alloh sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring? (Ali ?Imran: 191)

Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Alloh, Alloh telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar? (Al-Ahzab 35)

1.) Dari Abu Hurairah r.a. dari Rasulullah s.a.w. beliau bersabda, "Barangsiapa yang membaca subhanallah setiap selesai shalat 33 x membaca alhamdulillah 33 x, membaca Allahu Akbar 33x hingga menjadi 99. beliau bersabda lalu disempurnakan menjadi seratus dengan Laa ilaha illallah wahdahu' laa syarikalah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ala kulli Syaiin qadir, diampuni dosanya sekalipun seperti buih lautan. (HR. Muslim).

2.) Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah s.a.w. bersabda, "Barangsiapa membaca: La ilaha lillallah wahdahu la syari?kalah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ala kulli Syaiin qadir, dalam sehari seratus kali, maka sama dengan memerdekakan sepuluh hamba sahaya, dituliskan baginya seratus kebaikan, dihapuskan darinya seratus kesalahan. Bacaan tersebut menjadi penghalang baginya dari syetan pada hari itu hingga sore hari. Tidak ada yang menghadirkan yang lebih utama daripada yang dia hadirkan kecuali orang yang lebih banyak membacanya daripadanya." (HR. Bukhari)

3.) Dari Abu Hurairah r.a. sesungguhnya Rasulullah bersabda, barangsiapa yang membaca subhanallah wabihamdihi pada satu hari seratus kali, dihapuskan kesalahannya sekalipun seperti buih lautan. (HR. Bukhari)

4.) Dari Utsman bin Affan r.a. dia berkata, Rasulullah s.a.w. bersabda, "Tidak ada seorang hamba pun yang membaca setiap pagi dan sore setiap malam: bismillah l? yadhurruhu ma'asmihi syaiun fil Ardhi wa l? fis sam?-I wahuwas sam?ul al?m. Tiga kali maka tidak akan ada yang memudhuaratkannya sesuatu pun." (HR. Tirmdzi).

5.) Busairoh RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda kepada kami: "Kalian wajib membaca tasbih, tahlil dan taqdis. Dan hitunglah menggunakan ruas jari tanganmu karena jari-jari tersebut akan ditanyai dan diajak bicara, dan janganlah kalian lalai maka kalian akan melupakan rahmat Allah" (HR Tirmidzi dan Abu Daud)

6.) Dan dalam hadits diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy'ari RA, beliau berkata: Orang-orang mengeraskan suarnya ketika berdo?a pada saat berpergian. Maka Nabi SAW bersabda kepada mereka: ?Wahai manusia sayangilah diri kalian, karena sesungguhnya kamu tida menmanggil dzat yang tuli dan tidak juga ghaib, sesungguhnya Dzat yang engkau seru adalah Maha Mendengar dan Maha Dekat lebih dekat kepada seseorang di antara kamu terhadap leher untanya? (HR Bukhori 4205 Muslim 2704)

7.) Dari Abu Hurairoh Ra. Dari Nabi SAW, beliau bersabda: ?Telah mendahului Para Mufarrid? Para sahabat bertanya: ?Siapakah para mufarrid tersebut wahai Rasulullah? Beliau menjawab: ?Mereka adalah laki-laki dan perempuan yang bayak menyebut (nama) Alloh? (HR Muslim 2676)

8.) Dari Abu Musa Al-Asy?ary dari Nabi SAW: ?Perumpamaan orang yang selalu berdzikir kepada Tuhannya dan yang tida pernah berdzikir kepada-Nya adalah sebagaimana halnya orang yang hidup dan orang mati? (HR Bukhori 6407)

9.) Dari Jabir bin Abdullah ra., "Rasulullah saw bersabda: Dzikir yang paling utama adalah Laa ilaaha illallaah dan doa yang paling utama adalah Alhamdulillah" (HR. Tirmidzi)

10.) Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi Muhammad saw, beliau bersabda: "Dua kalimat yang ringan diucapkan tapi berat timbangannya dan sangat disukai Allah adalah Subhaanallaahi wa bihamdih, subhaanallaahil 'azhiim" (HR Bukhari, Muslim)

11.) Dari Abu Dzar, bahwa Rasulullah saw pernah ditanya,"Wahai Rasulullah, ucapan apakah yang paling utama?" Beliau menjawab, "Ucapan yang telah dipilihkan Allah swt kepada malaikat dan hambanya, yaitu Subhaanallaahi wa bihamdih" (HR Muslim)

12.) Dari Abu Mas'ud ra, ia berkata,"Rasulullah saw bersabda, Barangsiapa membaca dua ayat terakhir surat Al-Baqarah pada malam hari, maka hal itu telah mencukupinya." (HR Bukhari)

13.) Dari Anas ra., Rasulullah SAW bersabda,
“Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan laa ilaaHa illallaH, padahal di hatinya hanya memiliki keimanan seberat sya’irah (biji gandum). Dan akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan laa ilaaHa illallaH padahal di hatinya hanya memiliki keimanan seberat burrah (sejenis biji gandum). Dan akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan laa ilaaHa illallaH padahal di hatinya hanya memiliki keimanan seberat dzarrah (debu, atom)” (HR. Bukhari no. 44 dan Muslim 1/125)

14.) Suatu kaum yang duduk berdzikir kepada Alloh ta'ala lalu mereka berdiri, niscaya akan dikatakan kepada mereka,berdirilah kalian sesungguhnya Alloh telah mengampuni dosa-dosa kalian dan kesalah kalian telah digantikan dengan kebaikan (Shahih-al jami)

15.)Sesungguhnya Aku berdasarkan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku,dan aku bersamanya saat dia mengingat-Ku, Jika dia mengingat-Ku dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku, dan jika dia mengingat-Ku dihadapan orang-orang maka Aku akan mengingatnya dihadapan mahkhluk-makhluk yang lebih baik dari mereka, jika mereka mendekati-Ku sejengkal maka Aku akan mendekatinya sehasta, jika mendekati-Ku sehasta maka Aku mendekatinya sedepa, dan barang siapa yang mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku mendatanginya dengan berlari (HR Muslim)

16. Menurut Abu Muslim al-Aghar, Abu Hurayrah dan Abu Said mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah suatu kaum duduk dalam majlis zikir, melainkan mereka dikelilingi oleh malaikat, diliputi oleh rahmat Allah, diberi ketenangan, serta disebut-sebut di hadapan para malaikat-Nya.” (HR Muslim dan al-Tirmidzi).

17.Dari Abu Hurairah r.a. dari Rasulullah s.a.w., katanya: "Barangsiapa yang duduk di suatu tempat duduk dan ia tidak berzikir kepada Allah Ta'ala dalam duduknya itu, maka atas orang itu ada kekurangan dari Allah dan barangsiapa yang berbaring di suatu tempat pembaringan dan ia tidak berzikir kepada Allah Ta'ala dalam berbaringnya itu, maka atas orang itu ada kekurangan dari Allah." Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad hasan.

Hadits Tentang Menuntut Ilmu

1.) Niscaya Alloh akan meninggikan beberapa derajat orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Qur'an Al mujadalah 11)

2.) Seseorang yang keluar dari rumahnya untuk menuntut ilmu niscaya Alloh akan mudahkan baginya jalan menuju Syurga (Shahih Al jami)

3.) Siapa yang keluar untuk menuntut ilmu maka dia berada di jalan Alloh sampai dia kembali(Shahih tirmidzi)

4.) Siapa yang Alloh kehendaki menjadi baik maka Alloh akan memberikannya pemahaman terhadap Agama (Sahih ibnu majah)

5.) Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Qur'an dan yang mengajarkannya (HR bukhari )

6.Siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah maka baginya satu kebaikan dan setiap kebaikan aka dilipat gandakan sepuluh, saya tidak mengatakan ,"Alif,lam,mim" satu huruf , tetapi alif satu huruf , lam satu huruf , dan mim satu huruf,(HR Bukhori)

7.)Dikatakan kepada orang yang suka membaca Al Qur'an :" Bacalah dan naik lah , bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membaca dengan tartil di dunia, karena sesungguhnya kedudukanmu ada pada akhir ayat yang engkau baca (HR Bukhori)

8.) Inginkah salah seorang di antara kalian yang kembali ke keluarganya membawa tiga ekor unta yang hamil dan gemuk-gemuk ? kami berkata "Ya, maka beliau bersabda "tiga ayat yang kalian baca dalam shalat kalian itu lebih baik dari unta yang hamil dan gemuk(HR Muslim)

9.) Tidak berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Alloh yang didalamnya mereka membaca Al Qur'an dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali akan diturunkan kepada mereka ketenangan, dicurahkan rahmat dan dikelilingi oleh para malaikat serta Alloh sebut-sebut mereka pada (makhluk) yang ada di Sisi-Nya (HR Muslim)

Beberapa Hadits Mengenai Ahlulbait Nabi (as)

1.) "Perumpamaan ahli bait-ku, seperti perahu Nabi Nuh. Barang siapa yang berada di atasnya ia akan selamat, dan yang meninggalkannya akan tenggelam." (H.R. Thabrani)

2.) "Aku meninggalkan kalian yang apabila kalian pegang teguh tidak akan tersesat. Kitab Allah, dan keturunanku."(H.R. Tirmidzi)

3.) "Umatku yang pertama kali aku beri pertolongan (Syafa'at) kelak di hari Kiamat, adalah yang mencintai Ahli bait-ku."(H.R. al-Dailami)

4.) "Didiklah anak-anak kalian atas tiga hal. Mencintai Nabi kalian. Mencintai Ahli bait- ku. Membaca al-Qur'an.(Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Mardaweih, dan at-Thabrani dalam kitab tafsir-nya)

5 Ketika turun ayat: "Katakanlah wahai Muhammad, Aku tidak meminta balasan apapun dari kalian kecuali mencintai kerabat." Kemudian Ibnu Abbas ra bertanya pada Rasulullah: Wahai Rasulullah, siapakah yang dimaksud dengan kerabat yang wajib kami cintai? Rasulullah SAW menjawab: Ali, Fatimah, dan anak keturunannya.

Demikian sebagian dalil-dalil dari Hadits Rasulullah SAW yang secara jelas menyatakan keutamaan Ahlu Bait. Bagaimana tidak, di dalam jasad mereka mengalir darah yang bersambung kepada makhluk yang paling utama, kekasih Allah, Rasulullah SAW.

Untuk lebih jelasnya lagi, saya persilahkan anda untuk membaca sendiri kitabnya al- Imam as- Suyuthi yang berjudul Ihya' al-Mayt fi Fadlo'il Ahli al-Bait, yg memuat 60 Hadits tentang keutamaan Ahlu Bait.

6.)Dari Yazid bin Hayan, katanya: "Saya berangkat bersama Hushain bin Sabrah dan Umar bin Muslim ke tempat Zaid bin Arqam r.a. Ketika kita sudah duduk-duduk di dekatnya, lalu Hushain berkata padanya: "Hai Zaid, engkau telah memperolehi kebaikan yang banyak sekali. Engkau dapat kesempatan melihat Rasulullah s.a.w., mendengarkan Hadisnya, berperang besertanya dan juga bersembahyang di belakangnya. Sungguh- sungguh engkau telah memperolehi kebaikan yang banyak sekali. Cubalah beritahukan kepada kita apa yang pernah engkau dengar dari Rasulullah s.a.w. Zaid lalu berkata: "Hai anak saudaraku, demi Allah, sungguh usiaku ini telah tua dan janji kematianku hampir tiba, juga saya sudah lupa akan sebahagian apa yang telah pernah saya ingat dari Rasulullah s.a.w. Maka dari itu, apa yang saya beritahukan kepadamu semua, maka terimalah itu, sedang apa yang tidak saya beritahukan, hendaklah engkau semua jangan memaksa-maksakan padaku untuk saya terangkan." Selanjutnya ia berkata: "Rasulullah s.a.w. pernah berdiri berkhutbah di suatu tempat berair yang disebut Khum, terletak antara Makkah dan Madinah. Beliau s.a.w. lalu bertahmid kepada Allah serta memujiNya, lalu menasihati dan memberikan peringatan, kemudian bersabda:
"Amma Ba'du, ingatlah wahai sekalian manusia, hanyasanya saya ini adalah seorang manusia, hampir sekali saya didatangi oleh utusan Tuhanku - yakni malaikatul-maut, kemudian saya harus mengabulkan kehendakNya - yakni diwafatkan. Saya meninggalkan untukmu semua dua benda berat - agung - iaitu pertama Kitabullah yang di dalamnya ada petunjuk dan cahaya. Maka ambillah amalkanlah - dengan berpedoman kepada Kitabullah itu dan peganglah ia erat-erat." Jadi Rasulullah s.a.w. memerintahkan untuk berpegang teguh serta mencintai benar-benar kepada kitabullah itu.
Selanjutnya beliau s.a.w. bersabda: "Dan juga ahli baitku. Saya memperingatkan kepadamu semua untuk bertaqwa kepada Allah dalam memuliakan ahli baitku, sekali lagi saya memperingatkan kepadamu semua untuk bertaqwa kepada Allah dalam memuliakan ahli baitku."
Hushain lalu berkata kepada Zaid: "Siapakah ahli baitnya itu, hai Zaid. Bukankah isteri- isterinya itu termasuk dari golongan ahli baitnya?" Zaid menjawab: "Ahli baitnya Rasulullah s.a.w. ialah Ahli keluarga keturunan - Ali, Alu Aqil, Alu Ja'far dan Alu Abbas." Hushain mengatakan: "Semua orang dari golongan mereka ini diharamkan menerima sedekah." Zaid berkata: "Ya, benar." (Riwayat Muslim)

Thariqah Qadiriyyah Hasan wa Husein


Kamis, 23 Oktober 2008

Thariqah Hasan wa Husein - Wallpaper

Kaligrafi 14 Ma'sumin

Kaligrafi Ahlul Kisa


Keutamaan shalawat


Allah swt memerintahkan kita agar bershawat kepada Rasulullah saw dan keluarganya (as): “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kamu kepada Nabi dan ucapkan salam kepadanya.” (Al-Ahzab: 56).

Rasulullah saw bersabda:“Sebagaimana orang bermimpi, aku pernah bermimpi pamanku Hamzah bin Abdullah dan saudaraku Ja’far Ath-Thayyar. Mereka memegang tempat makanan yang berisi buah pidara dan mereka makan sebentar, kemudian buah pidara itu berubah menjadi buah anggur. Kemudian mereka makan sebentar dan buah anggur itu berubah menjadi buah kurma yang masih segar. Kemudian mereka makan sebentar, lalu aku mendekati mereka dan bertanya kepada mereka: Demi ayahku jadi tebusan kalian, amal utama apakah yang kalian dapatkan? Mereka menjawab: Demi ayahku dan ibuku jadi tebusanmu, kami dapatkan amal yang paling utama adalah shalawat kepadamu, memberi minuman, dan cinta kepada Ali bin Abi Thalib (as).” (Ad-Da’awat Ar-Rawandi, halaman 90, bab 224, hadis ke 227)

Rasulullah saw bersabda:“Ketika aku diperjalankan di malam hari untuk mi’raj ke langit, aku melihat malaikat yang mempunyai seribu tangan, dan di setiap tangannya seribu jari-jemari. Ketika ia sedang menghitung dengan jari-jarinya, aku bertanya kepada Jibril: Siapakah malaikat itu dan apa yang sedang ia hitung? Jibril menjawab: ia adalah malaikat yang ditugaskan untuk menghitung setiap tetesan hujan, ia menghafal setiap tetesan hujan yang diturunkan dari langit ke bumi.Aku bertanya kepada malaikat itu: Apakah kamu mengetahui jumlah tetesan hujan yang diturunkan dari langit ke bumi sejak Allah menciptakan dunia? Ia menjawab: Ya Rasulallah, demi Allah yang mengutusmu membawa kebenaran kepada makhluk-Nya, aku tidak hanya mengetahui setiap tetesan hujan yang turun dari langit ke bumi, tetapi aku juga mengetahui secara rinci berapa jumlah tetesan hujan yang jatuh di lautan, di daratan, di bangunan, di perkebunan, di daratan yang bergaram, dan di pekuburan.Rasulullah saw bersabda: Aku kagum terhadap kemampuan hafalan dan ingatanmu dalam perhitungan. Ia berkata: Ya Rasulallah, ada yang tak sanggup aku menghafal dan mengingatnya dengan perhitungan tangan dan jari-jemariku.Rasulullah saw bertanya: Perhitungan apakah itu? Ia menjawab: Aku tidak sanggup menghitung pahala shalawat yang disampaikan oleh sekelompok ummatmu ketika namamu disebut di suatu majlis.” (Al-Mustadrah, Syeikh An-Nuri, 5: 355, hadis ke 72)

Rasulullah saw bersabda: “Pada hari kiamat nanti semua kaum muslimin akan melihatku kecuali orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, peminum khamer, dan orang yang tidak bershalawat kepadaku ketika namaku disebutkan.” (Jami'us Sa’adah 2: 263).

Imam Ja’far Ash-Shadiq (as) berkata:“Ketika nama Nabi saw disebutkan, maka perbanyaklah bershalawat kepadanya, sesungguhnya orang yang bershalawat kepada Nabi saw satu kali, Allah bershalawat kepadanya seribu kali bersama seribu barisan malaikat. Tidak ada satu pun makhluk Allah kecuali ia bershalawat kepada hamba-Nya karena Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepadanya. Barangsiapa yang tidak mencintai shalawat, ia adalah orang yang jahil dan ghurur (tertipu). Allah dan Rasul-Nya serta Ahlul baitnya berlepas diri darinya.” (Al-Kafi, jilid 2, halaman 492)

Ketika menjelaskan makna firman Allah swt: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi… Imam Ja’far Ash-Shadiq (as) berkata: “Shalawat dari Allah azza wa jalla adalah rahmat, shalawat dari malaikat adalah pensucian, dan shalawat dari manusia adalah doa.” (Ma’anil akhbar, halaman 368)

Shalawat dan Mizan amal
Rasulullah saw bersabda: “Pada hari kiamat nanti aku akan berada di dekat mizan amal. Barangsiapa yang amal buruknya lebih berat dari amal baiknya, aku akan datang bersama shalawat sehingga amal baiknya lebih berat berkat shalawat itu.” (Tsawabul A’mal, halaman 186)

Imam Muhammad Al-Baqir (as) berkata :”Tidak ada suatupun amal yang lebih berat dalam mizan amal daripada shalawat kepada Muhammad dan keluarganya. Ssesungguhnya akan ada seseorang yang ketika amalnya diletakkan di mizan amal, timbangan amalnya miring. Kemudian Nabi saw mengeluarkan shalawat untuknya dan meletakkan di mizan amalnya, maka beruntunglah ia berkat shalawat itu.” (Al-Kafi, jilid 2, halaman 494)

Shalawat dan Pengampunan dosa
Rasulullah saw bersabda:”Barangsiapa yang bershalawat kepadaku tiga kali setiap hari dan tiga kali setiap malam karena cinta dan rindu kepadaku, maka Allah azza wa jalla berhak mengampuni dosa-dosanya pada malam itu dan hari itu.” (Ad-Da’awat Ar-Rawandi, halaman 89, hadis ke 226)

Rasulullah saw bersabda:”Barangsiapa yang bershalawat kepadaku saat akan membaca Al-Qur’an, maka malaikat akan selalu memohonkan ampunan baginya selama namaku berada di dalam Al-Qur’an.” (Al-Biharul Anwar 94: 71)

Imam Ja’far Ash-Shadiq (as) berkata:”Barangsiapa yang tidak sanggup menutupi dosa-dosanya, maka perbanyaklah bershalawat kepada Rasulullah dan keluarganya, sesungguhnya shalawat itu benar-benar dapat menghancurkan dosa-dosa.” (Al-Amali Ash-Shaduq, halaman 68)

Pahala Shalawat
Imam Ja’far Ash-Shadiq (as) pernah ditanyai: Apakah pahala shalawat? Beliau menjawab: “Ia akan keluar dari dosa-dosanya seperti keadaan bayi yang baru lahir dari ibunya.” (Ma’anil akhbar, halaman 368)

Dalam suatu hadis tentang shalawat yang dianjurkan untuk dibaca setiap ba'da shalat Ashar dan hari Jum’at yaitu:

اللّهمّ صلّ على محمّد وآل محمّد الاوصياء المرضيين بأفضل صلواتك وبارك عليهم بأفضل بركاتك والسلام عليه وعليهم ورحمة الله وبركاته
“Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, para washi yang diridhai shalawat-Mu yang paling utama, berkahi mereka dengan keberkahan-Mu yang paling utama, semoga salam dan rahmat serta keberkahan Allah senantiasa tercurahkan kepadanya dan kepada mereka.”

Dalam hadis itu disebutkan: “Barangsiapa yang membaca shalawat ini (7 kali), Allah membalasnya setiap ibadah satu kebaikan, amalnya hari itu diterima, dan ia akan datang pada hari kiamat dengan cahaya di antara kedua matanya.” (Safinah Al-Bihar, jilid 5, halaman 170)

Dalam suatu hadis disebutkan: “Barangsiapa yang membaca shalawat berikut ini sesudah shalat Fajar dan sesudah shalat Zuhur, ia tidak akan mati sebelum berjumpa dengan Al-Qâim (Imam Mahdi) dari keluarga Nabi saw:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَعَجِّلْ فَرَجَهُمْ
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dan percepatlah kemenangan mereka .” (Biharul Anwar 86: 77)

Asma al Musthafa


Dosa yang Meruntuhkan Penjagaan



Penjagaan Manusia
Di antara bahaya dosa atas masyarakat adalah runtuhnya benteng yang menghalangi ruh hewani dalam diri manusia. Benteng-benteng penghalang itu disebutkan dengan berbagai ungkapan dalam hadis dan riwayat.Imam Ja`far Al-Shadiq (as) berkata: “Sesungguhnya Allah swt memiliki empat puluh macam perisai penjagaan yang diberikan kepada hamba-Nya yang mukmin. Jika hamba itu melakukan sebuah dosa besar, maka akan diangkatlah satu penjagaan dari dirinya.” (Al-Ikhtishash: 220)

Rasulullah saw bersabda: “Orang mukmin memiliki tujuh puluh dua tirai. Jika dia melakukan sebuah dosa maka akan runtuhlah satu tirai darinya …” (Al-Bihar 73: 362)

Dalam doa Kumail bin Ziyad dari Imam Ali bin Abi Thalib (as) disebutkan: “Ya Allah, ampuni dosa-dosaku yang meruntuhkan penjagaan.”

Ada beberapa naluri yang sama-sama dimiliki oleh manusia dan hewan, yang dianugerahkan oleh Allah swt. Bagi manusia, naluri itu mengandung suatu hikmah, begitu pula naluri yang sama yang dititipkan Allah pada binatang. Semua itu untuk mengantarkan hidupnya pada kesempurnaan yang dicarinya. Dan naluri yang ada dalam diri manusia itu merupakan salah satu kondisi jiwa manusia.Manusia dan binatang sama-sama dilengkapi naluri sejak dilahirkan. Di antara naluri itu ialah cinta pada diri sendiri, nafsu makan, nafsu seksual, marah, dan mempertahankan diri.Yang membedakan antara manusia dan binatang dalam hal ini adalah manusia dengan kesempurnaan akal dan pikirannya secara bertahap mampu menyelamatkan keliaran nalurinya agar tunduk pada akal pikirannya, serta menempatkan akal sebagai penguasa atas wujudnya. Adapun binatang, mereka hidup di bawah kekuasaan nalurinya sejak lahir sampai mati.

Hanya manusialah yang mampu menguasai naluri kebinatangan yang tumbuh dalam dirinya agar menjadi sifat-sifat insani. Dan jika sifat-sifat ini tidak tumbuh dalam dirinya, maka dia tidak lebih daripada binatang, bahkan lebih sesat ketimbang binatang.

Apa yang kita bicarakan ini contohnya sangat banyak. Untuk memperjelas konsep penjagaan (al-’isham) dan perisai (al-junnah) serta kata-kata lain yang semakna dengannya, yaitu sekat yang menghalangi kita agar tidak terjatuh ke dalam dosa, kami kemukakan di sini beberapa pengantar untuk itu.

Tubuh dan Ruh
Tubuh ialah bagian anggota yang tampak pada badan manusia, sedangkan ruh ialah kekuatan yang menggerakkan dan mengarahkan anggota-anggota tersebut. Dalam nash-nash Islam, ruh diungkapkan dalam berbagai kata, misalnya jiwa (al-nafs), dan kadangkala menggunakan kata hati (al-qalb). Sebagian ulama membagi wujud manusia menjadi tubuh Uism), ruh (ruh), dan jiwa (nafs). Tidak terlalu penting bagi kita untuk memperhatikan pembagian tersebut, karena kita mesti memfokuskan pembicaraan kita pada jiwa, baik yang disebut dengan istilah ruh atau yang lainnya.

Dalam dunia binatang, tidak dikenal makna keadilan dan persamaan, menghormati hak-hak yang lemah, formulasi saleh dan tidak saleh, dan konsep-konsep kemanusiaan yang dijunjung tinggi terhadap yang lain. Tujuan akhir hidup binatang ialah memuaskan nalurinya sendirinya walaupun untuk itu harus mengorbankan bangsanya sendiri.

Kita seringkali melihat seekor burung terbang berputar-putar cukup lama, berusaha dengan keras mencari makanannya. Ketika ia telah mendapatkan makanan itu, tiba-tiba ada burung lain yang mematuk kepalanya. Akhirnya, jatuhlah makanan dari paruh burung yang mencari makanan itu dan diambil oleh burung yang mematuknya.

Tidak jarang kita melihat seekor anjing yang dengan lahapnya menyantap daging bangkai keledai. la memakannya kekenyangan, dan makanan itu sampai ke tenggorokannya. Tetapi ia tidak memperbolehkan anjing-anjing yang lain untuk ikut menikmati bangkai itu.

Imam Ali bin Abi Thalib (as) mengatakan:“Sesungguhnya keinginan binatang itu adalah mengenyangkan perutnya, dan keinginan binatang buas itu adalah bermusuhan dengan yang lainnya….”

Dalam suratnya yang dikirimkan kepada pembantunya di Basrah, Utsman bin Hunayf, Imam Ali bin Abi Thalib (as) mengatakan:“Apakah aku harus puas terhadap diriku yang dikatakan sebagai amir al-mu’minin dan aku tidak ikut serta bersama mereka dalam merasakan pahitnya hidup ini, ataukah aku mesti menjadi contoh bagi mereka untuk menikmati hidup ini? Diriku tidaklah diciptakan untuk sibuk memakan yang enak-enak seperti binatang yang terikat yang keinginannya hanyalah mendapatkan rumput, atau binatang yang diumbar yang keinginannya menyikat habis rerumputan, dan bersenang-senang sesuai dengan keinginannya.” (Nahj Al-Balaghah, Syarh Muhammad Abduh, 4: 505)

Untuk menghadapi sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri manusia, dalam diri manusia telah dilengkapi dengan sifat-sifat kemanusiaan yang tinggi untuk membedakan antara dirinya dan binatang, dan untuk menjadikannya sebagai makhuk yang istimewa di atas nilai-nilai yang tidak ada pada kehidupan binatang. Ketika manusia melepaskan keliaran nafsu syahwatnya, maka syahwat itu akan menerjang dan mengoyakkan batas-batas kemanusiaannya. Pada gilirannya, manusia akan berubah menjadi binatang liar seperti binatang yang berkeliaran di hutan.

Allah swt hendak memuliakan anak-anak Adam. Oleh karena itu, Dia memberikan potensi agar dapat mengendalikan nafsunya dan mencegahnya untuk tidak terjerumus ke dalam dunia binatang. Potensi itulah yang membuahkan sifat “rasa malu”. Rasa malu merupakan sifat kemanusiaan yang mendorong manusia untuk mencapai kemuliaan dan menjauhkannya dari kejelekan.

Imam Ja`far Ash-Shadiq (as) berkata kepada muridnya:“Lihatlah olehmu wahai Mufadhdhal keistimewaan yang dimiliki oleh manusia yang tidak dimiliki oleh binatang. Penghormatannya sangat mulia, kehati-hatiannya sangat tinggi, yang saya maksudkan adalah rasa malunya. Kalaulah tidak ada sifat-sifat ini, niscaya tamu-tamu tidak dihormati, janji-janji tidak ditepati, keperluan-keperluan tidak dipenuhi, yang baik tidak dicari, dan yang jelek tidak dihindari. Bahkan sebagian besar kewajiban dikerjakan karena rasa malu itu. Jika tidak ada sifat rasa malu dalam diri manusia, niscaya dia tidak akan menghormati hak-hak kedua orangtuanya, tidak akan menyambungkan tali silaturahim dengan kerabatnya, tidak akan menunaikan amanat, dan tidak akan merasa malu mengerjakan kekejian.” (Bihar Al-Anwar 3:81)

Dari hadis-hadis sebelumnya dapatlah ditegaskan bahwa ada dosa dapat meruntuhkan penjagaan dan menghancurkann perisai yang menghalangi manusia dari dunia binatang.

Dosa Apakah yang Meruntuhkan Penjagaan?
Di sini kami hanya akan menyebutkan dosa yang terdapat dalam hadis Imam Ali Zainal Abidin (as) , kemudian kami akan menguraikan secara ringkas.

Imam Ali Zainal Abidin (as) berkata:“Dosa-dosa yang meruntuhkan penjagaan ialah: meminum khomer, bermain judi, melucu yang membuat manusia tertawa, menyebutkan aib orang lain, bergaul dengan orang-orang yang penuh keraguan.” (Ma’ani Al-Akhbar: 27)

Pertama: Minum Khomer
Inilah dosa pertama yang mendorong manusia agar terjerumus kepada kehinaan. Sebabnya sangat jelas. Minum khomer dapat merenggut daya kemauan yang mengendalikan syahwat manusia. Oleh sebab itu, runtuhlah salah satu perisai yang menjaga manusia yaitu rasa malu dan menanglah syahwatnya. Pada akhirnya manusia berada dibawah kekuasaan penuh syahwatnya, yang akan menggiringnya dan menjadikannya binatang yang sangat liar.

Imam Ali bin Musa Al-Ridha (as) mengatakan:“Sesungguhnya Allah swt mengharamkan khomer karena di dalamnya ada kerusakan dan menghilangkan akal, serta melenyapkan rasa malu dari wajahnya.” (Ma’ani Al-Akhbar: 27).

“..Allah mengharamkan khomer karena di dalamnya terdapat kerusakan dan perubahan akal peminumnya. Juga menyebabkan pengingkaran terhadap Allah swt, meragukan para Rasul-Nya, kerusakan, pembunuhan, menuduh orang lain, perzinaan, dan mudah melakukan hal-hal yang haram…” (Al-Mustadrak 3:137)

Rasulullah saw bersabda:“Seorang hamba akan tetap berada di bawah penjagaan Allah swt sampai dia minum khomer. Jika dia telah meminumnya, maka Allah akan menghanguskan perisainya. Dia akan dibimbing oleh setan dan teman-temannya adalah Iblis. Pendengaran, penglihatan, tangan, dan kakinya akan digiring kepada semua kejahatan, dan akan dibelokkan dari setiap kebaikan.”(Al-Wasail 3: 357)

Ketika syahwat telah menguasai manusia yang teracuni khomer, ia akan menggiringnya pada kehinaan dan melupakan kemanusiaan, kewarasan, kehormatan, dan rasa malunya. Oleh karena itu, Rasulullah saw bersabda tentang khomer ini: “Khomer adalah kejahatan.”(Ushul Al-Kafi, 4:35)

Imam Muhammad Al-Baqir (as) berkata:“Allah menciptakan gembok bagi kejahatan dan menjadikan kunci bagi gembok itu, yaitu minuman keras …” (Furu’ Al-Kafi,6: 403)

Memang, minuman khomer adalah kunci bagi setiap kehinaan dan kejahatan, karena:“Peminum khomer apabila sedang meminumnya akan melakukan perzinaan, pencurian, dan pembunuhan jiwa-jiwa yang diharamkan oleh Allah, serta meninggalkan shalat,” seperti hadis Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib (as).” (Al-Mustadrak, 3:139)

Kedua: Perjudian
Di antara faktor lain yang meruntuhkan penjagaan manusia ialah perjudian. Perjudian merupakan dasar bagi keuntungan dan kerugian yang tak teratur. Pada satu saat dia merupakan jalan bagi manusia untuk tiba-tiba menjadi kaya-raya, memiliki harta kekayaan yang melimpah tanpa usaha dan kerja. Kekayaan seperti itu membuat manu¬sia kehilangan sifat-sifat baiknya dan melenyapkan kemampuannya untuk menguasai diri atas harta kekayaan yang dia miliki. Sehingga dia sangat bernafsu untuk menghamburkan harta kekayaannya dalam hal-hal yang merusak dan mencelakakan, atau untuk bermain judi lagi.

Dengan jalan judi pula, manusia dapat kehilangan harta kekayaannya secara tiba-tiba. Pada gilirannya, akan tertanam di dalam hatinya rasa dendam dan marah kepada orang yang memperoleh keuntungan dari dirinya. Dan seringkali hal ini menimbulkan balas dendam dan pertengkaran berdarah.

Ketahuilah bahwa sesungguhnya perjudian dapat menanamkan sifat permusuhan di dalam hati dan juga membuatnya culas. Meja perjudian yang dikelilingi oleh orang-orang yang duduk di sampingnya mampu mengubah mereka menjadi beringas dan buas untuk menerkam satu sama lain. Masing-masing individu di antara mereka ingin menerkam yang lain, memakan dagingnya dan menghisap darahnya. Alangkah indahnya ungkapan yang disampaikan oleh Al-Quran Al-Karim dalam masalah ini:“Sesungguhnya setan bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khomer dan perjudian…” (Al-Maidah/5: 91).

Ketiga: Lawakan dan Lelucon
Dosa ketiga yang meruntuhkan penjagaan adalah lawakan yang sengaja dilakukan untuk membuat manusia tertawa. Sejauh mana kejatuhan orang yang melawak?

Rasulullah saw bersabda:“Sesungguhnya seseorang yang berbicara agar ditertawakan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya akan jatuh lebih jauh daripada sebuah biji yang diiatuhkan oleh tanamannya.” (Al-Mahajjah Al-Baydba’ 5: 232)

Agar kita memahami betul pengaruh lawakan dan lelucon dalam meruntuhkan perisai malu dan kehormatan manusia, ada baiknya kita kemukakan di sini beberapa hadis:
Rasulullah saw. bersabda:“Banyak Ganda dan melucu akan menghilangkan air wajah (kewibawaan).”(Bibar AI-Anwar 76:58)

Imam Al-Hasan Al-’Askari (as) berkata:“Janganlah kamu menghina karena hal itu akan menghilangkan kewibawaanmu, dan janganlah kamu bercanda karena hal itu membuat orang-orang akan berani kepadamu.”(Tubaf Al-’Uqul: 486)

Dari Hamran bin A’yun pernah menghadap kepada Imam Muhammad Al-Baqir (as) dan berkata: “Berilah wasiat kepadaku.” Al-Baqir menjawab “Kuwasiatkan kepadamu untuk bertakwa kepada Allah. Jauhilah canda-tawa karena hal itu akan menghilangkan wibawa dan air muka seseorang. (Bihar Al-Anwar, 76:60)

Imam Ali bin Abi Thalib (as) berkata:“Janganlah sekali-kali kamu mencandai saudaramu, karena dengan hal itu dia akan memusuhi kamu. Jika tidak menjadi musuh, dia akan menyakiti kamu. (Ghurar Al-Hikam: 726)

Beliau juga berkata:“Barangsiapa banyak bercanda, maka dia tidak pernah akan sepi dari orang yang menaruh dendam kepadanya atau meremehkannya.(Ghurar Al-Hikam: 726)

Di antara wasiat Imam Ali bin Abi Thalib (as) kepada putranya Al-Hasan (as) : “… Bercanda itu menimbulkan permusuhan.”(Ghurar Al-Hikam: 726)

Keempat: Mengikuti Perkembangan Aib Orang Lain
Dosa keempat yang meruntuhkan penjagaan dan prisai manusia adalah mengikuti perkembangan aib orang lain.

Patut disebutkan di sini bahwa menyebutkan aib orang lain adalah dosa yang berakibat sangat buruk bila dilakukan oleh pengumpat dan pencela yang jiwanya sakit. Adapun bila dilakukan oleh orang yang jiwanya bersih dan tidak pernah menyimpang dari aturan-aturan yang benar, bukan merupakan dosa, bahkan itu wajib dilakukan oleh orang muslim terhadap saudara muslimnya yang lain.

.Imam Ali bin Abi Thalib (as) mengatakan:“Barangsiapa yang melihatmu dan menjagamu tatkala kamu tidak ada, maka dia adalah sahabatmu yang perlu kamu jaga. Dan barangsiapa yang menutupi aibmu dan membukakan aibmu ketika kamu tidak ada, maka dia adalah musuhmu yang perlu kamu bersikap hati-hati kepadanya.”(Ghurar Al-Hikam: 679)

Dalam hadis yang lain, beliau mengatakan:“Kawanmu yang paling jelek adalah orang yang memuji dirimu berlebih-lebihan dan yang menutup aibmu.”(Ghurar Al-Hikam: 679)

“Barangsiapa yang menjelaskan kepadamu aib-aibmu maka dialah orang yang perlu kamu cintai, dan barangsiapa yang menutupi aibmu, maka dialah sebenarnya musuhmu.”(Ghurar Al-Hikam: 679)

Para Imam memberanikan para sahabat mereka untuk menunjukkan aib-aib mereka agar menjadi sunnah yang baik di kalangan kaum Mukmin.

Imam Ja’far Al-Shadiq (as) berkata:“Aku sangat senang kepada kawan-kawanku yang menunjukkan kepadaku aib-aibku. (Safinah Al-Bihar, 2:295)

Sunnah yang baik ini sama sekali tidak mungkin dijalankan kecuali dalam suasana keimanan yang dipenuhi rasa saling percaya antara semua individu, yang jauh dari rasa dendam dan permusuhan di antara mereka, serta dilandasi oleh ruh pendidikan yang meng¬antarkan manusia menuju kepada kesempurnaan. Dengan demikian akan hilanglah aib-aib yang ditunjukkan itu dari diri kita dan perilaku mulia itu akan semakin bertambah dalam jiwa kita.

Adapun yang dimaksud menyebutkan aib orang lain sebagai dosa yang menjatuhkan penjagaan adalah mengungkapan aib orang lain yang dasari oleh kebencian, permusuhan, dan dendam kesumat yang berupaya menjelekkan, menjatuhkan orang lain, dan menyebarkan aibnya di tengah masyarakat.

Tidak rahasia lagi, bahwa perilaku seperti itu adalah timbul karena hilangnya salah satu hijab saling menghormati antara satu individu dengan individu yang lain. Sehingga manusia lupa dengan aibnya sendiri ketika dia sibuk membicarakan aib orang lain. Dan boleh jadi, perilaku membukakan aib orang lain seperti itu juga timbul akibat hilangnya perisai penghalang aib yang ada dalam masyarakat pada tingkat tertentu.

Allah swt berfirman:“.. dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri…. (Al-Hujurat/49:11).

Rasulullah saw. bersabda:“Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya, dan hatinya belum ikhlas untuk beriman, janganlah kamu mencela kaum Muslimin dan membukakan aurat mereka. Karena sesungguhnya orang yang membukakan aurat mereka, maka Allah akan membukakan aibnya. Dan barangsiapa yang dibuka auratnya oleh Allah swt maka dia akan sangat terhina meskipun dia berada di rumahnya sendiri.” (Ushul All-Kafi 4: 57)

Imam Ali bin Abi Thalib (as) berkata:“Barangsiapa yang mengikuti rahasia aib orang lain, maka Allah akan mengharamkan baginya rasa cinta di dalam hatinya.”(Ghurar Al-Hikam: 683)

Imam Ali (as) juga berkata:“Berbahagialah orang-orang yang disibukkan oleh aibnya sendiri dan tidak sempat melihat aib orang lain.” (Safinah Al-Bihar 2: 295)

“Kebanyakan aib yang engkau limpahkan kepada orang lain adalah sebenarnya aib yang ada pada dirimu sendiri.” (Ghurar Al-Hikam: 194, 447)

“Orang yang paling jelek ialah orang yang mengikuti aib orang lain tetapi dia tidak mengetahui aib dirinya sendiri.” (Ghurar Al-Hikam: 194, 447)

Jika ada lidah seseorang yang mudah membukakan aib orang lain dalam suatu masyarakat, maka dia akan menjadi sumber bagi runtuhnya kepribadian dalam masyarakat tersebut serta menimbulkan keonaran di dalamnya. Biasanya, orang-orang seperti itu akan ditakuti di dalam masyarakat karena orang-orang takut terhadap sengatan lidahnya. Dan pada gilirannya akan timbul hubungan dan keterkaitan yang kurang wajar antara individu dalam masyarakat tersebut.

Rasulullah saw. bersabda:“Orang yang paling buruk pada hari kiamat nanti adalah orang-orang yang dihormati karena manusia takut akan sengatan lidahnya.” (Ushul Al-Kafi, 4:19)

Dalam wasiatnya kepada Imam Ali (as) Rasulullah saw bersabda:“Wahai Ali, maukah kau kuberitahukan tentang orang yang paling jelek? Aku berkata: ‘Ya, wahai Rasulullah.”‘ Rasulullah kemudian meneruskan: “Orang yang tidak memaafkan kesalahan orang lain, tidak memaafkan kekeliruan orang lain. Maukah kau kuberitahu tentang orang yang lebih buruk daripada itu?” Aku menjawab: “Ya, wahai Rasulullah.” Kemudian Rasulullah saw bersabda: “Orang yang tidak bisa dijamin keamanannya, dan tidak bisa diharapkan kebaikannya.” (Tuhaf Al-’Uqul: 13)

Imam Ja`far Al-Shadiq (as) berkata:“Barang¬siapa yang ditakuti lidahnya oleh orang lain, maka dia akan masuk neraka. (Ushul Al-Kafi, 19)

Kelima: Bergaul dengan Orang yang Diragukan
Dosa kelima yang meruntuhkan penjagaan manusia adalah bergaul dengan orang yang diragukan.

Tidak diragukan lagi mengenai pengaruh pergaulan dengan orang-orang yang rusak kepribadiannya, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk masyarakatnya. Secara internal seseorang akan dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya, dan dia akan meniru idolanya. Seseorang akan meniru lingkungannya yang rusak yang telah menghilangkan hijab rasa malu dalam dirinya. Secara eksternal nilai seseorang yang bergaul dengan orang-orang yang diragukan akan mencemari manusia yang lain, dan akan menjatuhkan martabat masyarakatnya. Akibatnya, runtuhlah prisai-prisai masyarakat dan putuslah ikatan-ikatan sosial yang sebenarnya dapat memacu kegiatan manusia dan mencegah mereka dari kehancuran.

Rasulullah saw. bersabda:“Orang yang pertama kali berhak dituduh adalah orang yang bergaul dengan orang yang menuduh.”(Al-Mustadrak 2: 65)

Imam Ja`far Al-Shadiq (as) berkata:“Barangsiapa yang bergaul dengan orang yang diragukan, maka dia perlu diragukan.” (Bihar Al-Anwar 74: 197)

Beliau juga berkata:“Janganlah engkau bersahabat dengan orang-orang yang suka membuat bid`ah, janganlah bersahabat dengan mereka karena orang-orang akan menganggap kamu satu kelompok dengan mereka.” (Ushul Al-Kafi 4: 83)

Imam Ali bin Abi Thalib (as) berkata:“Barangsiapa yang mendudukkan dirinya sebagai orang yang menuduh, maka janganlah dia mencela orang yang berprasangka buruk padanya.”(Bihar Al-Anwar 74: 186)

Surat Asy-Syura: 23



Ayat tentang Perintah Mencintai Ahlul Bait Nabi saw


Allah swt berfirman:


قُل لا أَسئَلُكمْ عَلَيْهِ أَجْراً إِلا الْمَوَدَّةَ فى الْقُرْبى

"Katakan hai Muhammad: ‘Aku tidak meminta upah kepada kalian dalam dakwah ini kecuali kecintaan kepada keluargaku’.” (Surat Asy-Syura: 23)

Dalam kitab Hilyatul Awliya’, jilid 3 halaman 201 disebutkan:Jabir Al-Anshari berkata: Pada suatu hari orang badui datang kepada Nabi saw, lalu ia berkata: Wahai Muhammad, jelaskan kepadaku tentang Islam! Lalu Rasulullah saw bersabda: “Bersaksilah kamu sesungguhnya tiada Tuhan kecuali Allah Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya.” Kemudian orang badui itu bertanya: Apakah dalam hal ini (dakwah ini) kamu meminta upah padaku? Rasulullah saw menjawab: “Tidak, kecuali kecintaan kepada keluargaku.” Selanjutnya orang badui itu berkata: Sekarang aku berbaiat kepadamu, dan semoga Allah melaknat orang yang tidak mencintaimu dan keluargamu. Rasulullah saw menjawab: “Amin.”

Dalam tafsir Ad-Durrul Mantsur oleh Jalaluddin As-Suyuthi, tentang ayat ini:As-Suyuthi mengutip hadis yang bersumber dari Ibnu Abbas, ia berkata: Ketika ayat ini (Asy-Syura: 23) turun, para sahabat bertanya: Ya Rasulallah, siapakah dari keluargamu yang wajib dicintai oleh kami? Rasulullah saw menjawab: “Ali, Fatimah, Hasan dan Husein.”

Ibnu Abbas berkata, ketika ayat ini turun Rasulullah saw bersabda: “Hendaknya kalian menjagaku dengan menjaga Ahlul baitku dan mencintai mereka.”

Hadis tersebut dan hadis-hadis yang semakna terdapat dalam:

1. Syawahidut Tanzil, oleh Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, jilid 2, halaman 130, hadis ke: 822, 823, 824, 825, 826, 827, 828, 832, 833, 834 dan 838.

2. Manaqib Ali bin Abi Thalib, oleh Ibnu Al-Maghazili Asy-Syafi’i, halaman 307, hadis ke 352.

3. Dzakhairul ‘Uqba, oleh Ath-Thabari Asy-Syafi’i, halaman 25 dan 138.

4. Ash-Shawa’iqul Muhriqah, oleh Ibnu Hajar Asy-Syafi’i, halaman 101, 135 dan 136, cet. Al-Maimaniyah, cet; halaman 168 dan 225, cet Al-Muhammadiyah, Mesir.

5. Kifayah Ath-thalib, oleh Al-Kanji Asy-Syafi’i, halaman 91, 93 dan 313, cet. Al-Haidariyah; halaman 31,32, 175,178, cet. Al-Ghira.

6. Al-Fushul Al-Muhimmah, oleh Ibnu Shabagh A-Maliki, halaman 11.

7. Maqtal Al-Husain, oleh Al-khawarizmi Al-Hanafi, jilid 1, halaman 1 dan 57.

8. Tafsir Ath-Thabari, jilid 25, halaman 25, cet. ke 2 Mushthafa Al-Halabi, Mesir; jilid 25, halaman 14 dan 15 cet. Al-Maimaniyah, Mesir.

9. Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 172.

10. Al-Ittihaf, oleh Asy-Syabrawi asy-Syafi’i, halaman 5 dan 13.

11. Ihyaul Mayt, oleh As-Suyuthi Asy-syafi’i (halaman pinggir) Al-Ittihaf, halaman 110.

12. Tafsir Al-Mushthafa Muhammad; jilid 4, halaman 220, cet. As-Sa’idiyah; halaman 106, cet. Al-’Ustmaniyah.

13. Tafsir Al-Kasysyaf, oleh Zamakhysyari, jilid 3, halaman 402, cet. Musththafa Muhammad; jilid 27, halaman 166, cet. Abdurrahman;jilid 4, halaman 405-406.

14. Tafsir Fakhrur Razi, jilid 27, halaman 166, cet. Abdurrahman Muhammad, Mesir, jilid 7, halaman 405-406.

15. Tafsir Al-Baidhawi, jilid 4, halaman 123, cet. Musththafa Muhammad, Mesir, jilid 5, halaman 53, cet. Darul Kutub; halaman 642, cet. Al-Ustmaniyah.

16. Tafsir Ibnu Katsir, jilid 4, halaman 112.

17. Majma’uz Zawaid, jilid 7, halaman 103; dan jilid 9, halaman 168.

18. Fathul Bayan fi Maqashidil Qur’an, oleh Shiddiq Hasan Khan, jilid 8, halaman 372.

19. Tafsir Al-Qurthubi, jilid 16, halaman 22.

20. Fathul Qadir, oleh Asy-Syaukani, jilid 4, halaman 537, cet ke2; jilid 4, halaman 22, cet. pertama, Mesir.

21. Ad-Durrul Manstur, oleh As-Suyuthi, jilid 6, halaman 7.

22. Yanabi’ul Mawaddah, oleh Al-Qundusi, halaman 106, 194, 261, cet. Istambul;halaman 123 229, 311, cet. Al-Haidariyah.

23. Tafsir An-Nasafi, jilid 4, halaman 105.

24. Hilyatul Awliya’, jilid 3, halaman 201.

25. Al-Ghadir, Al-Amini, jilid 2, halaman 306-311

26. Ihqaqul Haqq, oleh At-Tustari, jilid 3, halaman 2-22; jilid 9, halaman 92-101, cet. pertama, Teheran.

27. Fadhaitul Khamsah, jilid 2, halaman 259

28. Faraid As-Samthin jilid 1, halaman 20; jilid 2, halaman 13, hadis ke 35929. Abqatul Anwar bagian hadis Ats-Tsaqalayn, jilid 1, halaman 285.

Rabu, 22 Oktober 2008

Surat Al-Ahzab: 56


Perintah Bershalawat kepada Nabi saw dan Keluarganya

Allah swt berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَ مَلَئكتَهُ يُصلُّونَ عَلى النَّبىّ‏ِ يَأَيهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صلُّوا عَلَيْهِ وَ سلِّمُوا تَسلِيماً

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi; wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu kepadanya dan ucapkan salam kepadanya.” (Al-Ahzab/33: 56)
Ulama dari kalangan mazhab Ahlul bait (as) sepakat bahwa ayat ini diturunkan untuk menegaskan hak Rasulullah saw dan Ahlul baitnya (as), yaitu perintah bershalawat kepada mereka dan cara bershalawat. Ulama Ahlussunnah juga sepakat kecuali hanya beberapa penulis.

Cara bershalawat dalam shahih Bukhari, kitab doa, bab bershalawat kepada Nabi saw:
Abdurrahman bin Abi Layli berkata: Ka’b bin Ujrah menemui aku lalu berkata: Tidakkah kamu diberi hadiah? Nabi saw datang kepada kami, lalu kami berkata: Ya Rasulallah, engkau telah mengajari kami cara mengucapkan salam kepadamu, lalu bagaimana cara bershalawat kepadamu? Beliau menjawab: Kalian ucapkan:

اللهمّ صلِّ على محمّد وعلى آل محمّد، كما صلّيت على آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللّهمّ بارك على محمّد وعلى آل محمّد، كما باركت على إبراهيم إنك حميد مجيد

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Kau sampaikan shalawat kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia. Ya Allah, berkahi Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berkahi Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.

Dalam Shahih Bukhari, kitab tafsir, bab ayat ini : Abu Said Al-Khudri berkata, kami berkata: Ya Rasulallah, ini adalah cara mengucapkan salam kepadamu, lalu bagaimana cara bershalawat kepadamu? Beliau menjawab: kalian ucapkan:

اللّهمّ صلّ على محمّد عبدك ورسولك كما صلّيت على آل إبراهيم، وبارك على محمّد وعلى آل محمّد كما باركت على إبراهيم

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad hamba-Mu dan Rasul-Mu sebagaimana Engkau sampaikan shalawat kepada keluarga Ibrahim, dan berkahi Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berkahi Ibrahim.

Shahih Muslim, kitab shalawat kepada Nabi saw sesudah tasyahhud:
Abu Mas’ud Al-Anshari berkata: Rasulullah saw pernah mendatangi kami ketika kami berada di majlis Sa’d bin Ubadah. Kemudian Basyir bin Sa’d berkata kepadanya: Allah Azza wa Jalla memerintahkan pada kami agar bershalawat kepadamu ya Rasulallah, lalu bagaimana cara kami bershalawat kepadamu? Lalu beliau diam sepertinya beliau menghendaki kami tidak bertanya tentang hal itu. Kemudian beliau bersabda: Kalian ucapkan:

اللّهم صلّ على محمّد وعلى آل محمّد كما صليت على آل إبراهم، وبارك على محمّد وعلى آل محمّد كما باركت على آل إبراهيم في العالمين إنك حميدٌ مجيد

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Kau sampaikan shalawat kepada keluarga Ibrahim, dan berkahi Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berkahi keluarga Ibrahim di alam semesta, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.

Sunan An-Nasa’i 1/190, bab 52, hadis ke 1289:Musa bin Thalhah dari ayahnya, ia berkata: kami berkata, ya Rasulallah, bagaimana cara bershalawat kepadamu? Beliau menjawab: Kalian ucapkan:

اللّهمّ صلِّ على محمّد وعلى آل محمّد كما صلّيت على إبراهيم وآل إبراهيم إنك حميد مجيد ، وبارك على محمّد وعلى آل محمّد كما باركت على إبراهيم وآل إبراهيم إنك حميد مجيد

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Kau sampaikan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia; berkahi Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.

Sunan An-Nasa’i 1: 190, bab 52, hadis ke 1291:
Musa bin Thalhah berkata, aku bertanya kepada Zaid bin Kharijah, ia berkata, aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw. Kemudian beliau bersabda: Bershalawatlah kalian kepadaku dan bersungguh-sungguhlah kalian dalam berdoa, dan kalian ucapkan:

اللّهم صلِّ على محمّد وعلى آل محمّد

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.

Shahih Ibnu Majah 65, kitab shalat, bab shalawat kepada Nabi saw, hadis ke 906:
Abdullah bin Mas’ud berkata: Jika kalian bershalawat kepada Rasulullah saw, hendaknya kalian memperbaiki shalawat kepadanya, karena kalian tidak tahu kalau shalawat itu hukumnya wajib. Lalu dikatakan kepadanya: ajarkan kepada kami (tentang cara bershalawat). Ia berkata: kalian ucapkan:


اللهم اجعل صلاتك ورحمتك وبركاتك على سيد المرسلين. اللّهم صلّ على محمّد وعلى آل محمّد كما صلّيت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد ، اللهم بارك على محمّد وعلى آل محمّد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد

Ya Allah, curahkan shalawat-Mu, rahmat-Mu dan keberkahan-Mu kepada penghulu para Rasul. Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Kau sampaikan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia. Ya Allah, berkahi Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.

Fathul Bari 13: 441, kitab doa, bab 32, hadis ke 6358:
Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang shalawat ini, pada hari kiamat aku akan menjadi saksi baginya dan memberi syafaat padanya:

اللهم صل على محمّد وعلى آل محمّد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم ، وبارك على محمّد وعلى آل محمّد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم ، وترحم على محمّد وعلى آل محمّد كما ترحمت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Kau sampaikan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, berkahi Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sayangi Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau sayangi Ibrahim dan keluarga Ibrahim.

Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (Imam Syafi'i) meriwayatkan dalam Musnadnya:
Abu Hurairah bertanya kepada Rasulullah saw: Wahai Rasulullah, bagaimana cara kami bershalawat kepadamu? Nabi saw menjawab: kalian ucapkan:

اللّهم صل على محمد وآل محمد كما صليت على ابراهيم وبارك على محمد وآل محمد كما باركت على ابراهيم وآل ابراهيم، ثم تسلمون علي

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Kau sampaikan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, dan berkahi Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Kau berkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim; kemudian ucapkan salam kepadaku. (Musnad, jilid 2, halaman 97).

Ash-Shawa’iqul Muhriqah, hlm 144:
Ibnu Hajar meriwayatkan bahwa Ka’b bin Ujrah berkata: ketika ayat ini turun kami bertanya kepada Rasulullah saw: Ya Rasulallah, kami telah mengetahui cara mengucapkan salam kepadamu, tapi bagaimana cara bershalawat kepadamu. Nabi saw menjawab: kalian ucapkan:

اللّهم صل على محمد وآل محمد

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Kemudian beliau bersabda: Janganlah kalian bershalawat kepadaku dengan shalawat yang batra’ (puntung). Lalu para sahabat bertanya: Apa shalawat yang batra’ itu. Beliau menjawab: Kalian hanya mengucapkan:

اللّهم صل على محمد

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad. Tetapi, hendaknya kalian mengucapkan:

اللّهم صل على محمد وآل محمد

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.

Dalam tafsirnya Al-Qurthubi menyebutkan beberapa riwayat bahwa ayat ini adalah keharusan menyertakan Ahlul bait ketika bershalawat kepada Nabi saw. (Al-Jami’ li-Ahkamil Qur’an 14: 233 dan 234).

Ibnul Arabi Al-Andalusi Al-Maliki juga menyebutkan beberapa riwayat bahwa ayat ini diturunkan untuk menegaskan hak Nabi saw dan keluarganya yang suci (as). (Ahkamul Qur’an 2: 84).

Jabir (ra) berkata: Sekiranya kamu melakukan shalat dan tidak bershalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, maka aku tidak melihat shalatnya diterima. (Dzakhairul Uqba:19).

Al-Qadhi ‘Iyadh meriwayatkan dalam Asy-Syifa’, dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi saw bersabda: “Barangsiapa yang melakukan shalat dan dalam shalatnya tidak membaca shalawat kepadaku dan Ahlul baitku, maka shalatnya tidak diterima.” (Al-Ghadir 2: 303).

Ibnu Hajar mengatakatan: Ad-Daruquthni dan Al-Baihaqi meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda: “Barangsiapa yang melakukan shalat dan dalam shalatnya tidak membaca shalawat kepadaku dan Ahlul baitku, maka shalatnya tidak diterima.” (Ash-Shawaiqul Muhriqah: 139).

Ar-Razi mengatakan: Doa untuk keluarga Nabi saw menunjukkan keagungan kedudukan mereka, karena doa ini ditempatkan di akhir Tasyahhud dalam shalat, yaitu: Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa âli Muhammad, warham Muhammadan wa âla Muhammad (Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dan sayangi Muhammad dan keluarga Muhammad). Pengagungan ini tidak akan didapatkan pada selain keluarga Muhammad. Hal ini menunjukkan bahwa mencintai keluarga Muhammad adalah wajib. Keagungan kedudukan Ahlul bait Nabi saw terdapat dalam lima hal: Tasyahhud dalam shalat, salam, kesucian, diharamkannya sedekah bagi mereka, dan kewajiban mencintai mereka. (Tafsir Ar-Razi 7: 391).

Hadis-hadis tersebut dan yang semakna juga terdapat dalam:

1. Shahih Bukhari, jilid 6, halaman 12.

2. Asbabun Nuzul, Al-Wahidi, halaman 271.

3. Ma’alim At-Tanzil, Al-Baghawi, catatan pinggir Tafsir Al-Khazin, jilid 5, halaman 225.

4. Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 148.

5. Tafsir Fakhrur Razi, jilid 25, halaman 226.

6. Al-Hafizh Abu Na’im Al-Isfahani, Akhbar Isfahan, jilid 1, halaman 131.

7. Al-Hafizh Abu Bakar Al-Khathib, Tarikh Baghdad, jilid 6, halaman 216.

8. Ibnu Abd Al-Birr Al-Andalusi, Tajrid At-Tamhid, halaman 185.

9. Tafsir Ruh Al-Ma’ani, Al-Alusi, jilid 22, halaman 32.

10. Dzakhairul Uqba, Muhibuddin Ath-Thabari, halaman 19.

11. Riyadhush Shalihin, An-Nawawi, halaman 455.

12. Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3, halaman 506.

13. Tafsir Ath-Thabari, jilid 22, halaman 27.

14. Tafsir Al-Khazin, jilid 5, halaman 226.

15. Ad-Durrul Mantsur, As-Suyuthi, jilid 5, halaman 215.

16. Fathul Qadir, Asy-Syaukani, jilid 4, halaman 293.


Shalat tidak akan diterima tanpa shalawat, riwayat yang menerangkan ini terdapat dalam Sunan Al-Baihaqi 2: 379, kitab shalat, bab 471, hadis 3968, sebagai berikut : Abu Mas’ud berkata: Sekiranya aku melakukan shalat tanpa bershalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, niscaya aku memandang shalatku tidak sempurna.

Dalam Sunan Ad-Daruquthni 136, kitab shalat, bab kewajiban shalawat dalam tasyahhud, hadits ke 6: Ibnu Mas’ud berkata bahwa Rasululah saw bersabda:

من صلى صلاة لم يصل فيها عليّ ولا على أهل بيتي لم تقبل منه

“Barangsiapa yang melakukan shalat, dan di dalamnya tidak bershalawat kepada ku dan Ahlul baitku, maka shalatnya tidak diterima.”

Dalam Dzakhair Al-‘Uqba 19, bab Fadhail Ahlul bait (sa):Jabir berkata: Sekiranya aku melakukan shalat, dan di dalamnya aku tidak bershalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, niscaya aku memandang shalatku tidak diterima.

Dalam Syarah Al-Mawahib halaman 7, Imam Syafi’i berkata :

يا آل بيت رسول الله حبكم فرض من الله في القرآن أنزله
كفا كم من عظيم القدر انكم من لم يصل عليكم لا صلاة له

Wahai Ahlul bait Rasulullah,mencintaimu diwajibkan oleh Allah dalam Al-Qur’an yang diturunkanCukuplah keagungan kedudukanmuorang yang tidak bershalawat kepadamu (dalam shalatnya)shalatnya tidak sah.

Perkataan Imam Syafi’i tersebut juga terdapat dalam:1. Musnad Ahmad, jilid 6 halaman 323.2. Ash-Shawaiqul Muhriqah, Ibnu hajar, halaman 88.3. Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn Al-Abshar, Asy-Syablanji, halaman 104, bab 2 manaqib Al-Hasan dan Al-Husayn.

Doa tidak akan diijabah tanpa shalawatDalam Kanzul Ummal 1: 173, pasal 2 Adab Doa : Tidak ada suatupun doa kecuali ada hijab (penghalang) antara doa itu dan Allah sehingga dibacakan shalawat. Ketika shalawat dibacakan, maka robeklah hijab itu dan sampailah doa itu kepada Allah swt. Dan jika tidak dibacakan shalawat, maka kembalilah doa itu.Pernyataan ini diriwayatkan oleh Ad-daylami dari Ali bin Abi Thalib (as).

Dalam Ash-Shawaiq Al-Muhriqah haaman 88:Ad-Daylami meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda:

الدعاء محجوب حتى يُصلّى على محمّد وأهل بيته ، اللّهم صلِّ على محمّد وآله

“Doa itu akan terhijab sampai dibacakan shalawat kepada Muhammad dan Ahlul baitnya, yaitu: Sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya.”

Dalam Faydh Al-Qadhir 5: 19, hadis ke 6303:Ali bin Abi Thalib (as) berkata:

كل دعاء محجوب حتى يُصلّى على محمّد وآل محمّد

“Semua doa akan terhalangi sehingga dibacakan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.”

Al-Haitsami mengatakan: Tokoh-tokoh hadis tersebut dapat dipercaya.Al-Muttaqi Al-Hindi juga menyebutkan dalam kitabnya Kanzul Ummal 1/314, mengutip dari Ubaidillah bin Abi Hafsh Al-‘Aysyi. Abdul Qadir Ar-Rahawi menyebutkan dalam Al-Arbain, Ath-Thabrani dalam Al-Kabir, Al-Baihaqi dalam Syu’b Al-Iman.

Dalam Faydh Al-Qadir 3: 543: Abu Syaikh meriwayatkan bahwa Imam Ali bin Abi Thalib (as) berkata :

الدعاء محجوب عن الله حتى يصلّى على محمّد وأهل بيته

“Doa itu akan terhijabi dari Allah sehingga dibacakan shalawat kepada Muhammad dan Ahlul baitnya.”

Hadis ini juga diriwayatkan Al-Baihaqi dari Asy-Sya’b, At-Tirmidzi dari Ibnu Umar.

Dalam Kanzul Ummal 1: 181:Rasulullah saw bersabda kepada Ali bin Abi Thalib (sa): Jika disedihkan oleh suatu persoalan, maka bacalah:

اللّهم احرسني بعينك التي لا تنام، واكنفني بكنفك الذي لا يرام. أسألك أن تُصلّي على محمّد وعلى آل محمّد، وبك أدرأ في نحور الأعداء والجبابرة

“Ya Allah, jagalah daku dengan mata-Mu yang tak pernah tidur, dan jagalah daku dengan benteng-Mu yang tak pernah hancur. Aku bermohon pada-Mu sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dengan-Mu aku berlindung dari permusuhan musuh-musuhku dan orang-orang yang sombong.”

Ali, Fatimah, Hasan dan Husein (as) adalah keluarga Nabi sawDalam Musnad Ahmad 6: 324, hadis ke 26206:Ummu Salam berkata bahwa Rasulullah saw bersabda kepada Fatimah (as): “Bawalah kepadaku suamimu dan kedua anakmu.” Kemudian Fatimah (as) bersama mereka datang kepada Nabi saw. Lalu beliau memayungi mereka dengan kain kisa’ dan meletakkan tangannya pada mereka, lalu bersabda:

اللّهم إن هؤلاء آل محمّد ، فاجعل صلواتك وبركاتك على محمّد وعلى آل محمّد إنّك حميد مجيد

“Ya Allah, sesungguhnya mereka adalah keluarga Muhammad, curahkan shalawat-Mu dan keberkahan-Mu kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.”Ummu Salamah berkata: Kemudian aku mengangkat kain kisa’ itu untuk berkumpul bersama mereka, kemudian Nabi saw menarik kain kisa’ itu (melarang masuk ke dalam kain kisa’) dan bersabda: “Engkau adalah orang yang baik.”

Dalam Mustadrak Al-Hakim 3: 147, kitab ma’rifah Shahabah:Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib berkata: Ketika Rasulullah saw melihat rahmat Allah turun, beliau bersabda: “Datangkan padaku, datangkan padaku.” Shafiyah bertanya: Siapa yang Rasulallah? Beliau menjawab: “Ahlul baitku, yaitu Ali, Fatimah, Al-Hasan dan Al-Husayn.” Lalu mereka datang kepada Nabi saw, kemudian beliau memayungi mereka dengan kain kisa’, kemudian berdoa dengan mengangkat tangannya:

اللّهمّ هؤلاء آلي ، فصلِّ على محمّد وعلى آل محمّد

“Ya Allah, mereka adalah keluargaku, curahkan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.” Kemudian Allah Azza wa jalla menurunkan surat Al-Ahzab: 33.Al-Hakim mengatakan hadis ini shahih menurut persyaratan Bukhari dan Muslim.

Hadis ini dan yang semakna juga terdapat dalam :

1. Kanzul Ummal, Al-Muttaqi Al-Hindi, jilid 7 halaman 103, bab Fadhail Ahlul bait, hadis ke 37629.

2. Musykil Al-Atsar, Ath-Thahawi, jilid 1 halaman 334.

3. Tafsir Ad-Durrul Mantsur, tentang surat Al-Ahzab: 33.

4. Musnad Ahmad, jilid 6 halaman 296.

5. Majma’ Az-Zawaid, Al-Haitsami, jilid 9 halaman 167, bab keutamaan Ahlul bait (as).

Larangan shalawat batra’ (terputus)

Shalawat ba’tra’ adalah shalawat yang tidak menyertakan keluarga Nabi saw dalam bershalawat kepadanya. Dalam Ash-Shawaiq Al-Muhriqah 87, bab 11:Ibnu Hajar berkata bahwa Nabi saw bersabda: “Janganlah kalian bershalawat kepadaku dengan shalawat batra’.” Kemudian sahabat bertanya: Apakah shalawat batra’ itu? Nabi saw menjawab: Kalian hanya mengucapkan:

اللّهم صلِّ على محمّد

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad. Tetapi hendaknya kalian mengucapkan:

اللّهم صلّ على محمّد وعلى آل محمّد

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.

Disini terdapat hal yang mengherankan: Mengapa umumnya ummat Islam bershalawat kepada Nabi saw dengan shalawat batra’ yaitu Shallallahu ‘alayhi wa sallam (semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam kepada Muhammad). Padahal para ulama dan para imam ahli hadis dari Ahlussunnah telah meriwayatkan hadis-hadis bahwa doa itu tidak diijabah tanpa bershalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, shalat tidak diterima tanpa bershalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, cara bershalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dan hadis-hadis bahwa Nabi saw melarang bershalawat dengan shalawat batra’ (yang terputus).