Rabu, 04 Juni 2008

Tidak Melampaui Batas Yang Halal - Wejangan Spiritual Syaikh Abdul Wahab as Sya'rani

Di antara akhlak kaum sufi adalah tidak melampaui batas hal-hal halal bilamana mereka mendapatkannya. Sebab yang halal itu asing pada setiap masa sesuai dengan jenjang maqam masing-masing orang. Maka bisa jadi sesuatu halal bagi suatu kaum tetapi tidak halal bagi kaum lainnya. Kaum salaf mengutamakan yang halal pada semua tugas mereka karena mereka adalah ahli akhirat dengan keyakinan, dan perbuatan akhirat tidak terjadi pada diri orang yang makan sesuatu yang haram atau syubhat.
Orang yang makan sesuatu yang haram keluar akan melahirkan perbuatan yang haram, dan orang yang makan sesuatu yang syubhat dirinya akan melakukan perbuatan yang syubhat pula. Sehingga seandainya orang yang makan makanan yang haram hendak mentaati Allah tentu ia tidak dapat melakukannya.
Yunus bin Abid berkata: "Zaman sekarang sulit mendapatkan uang yang halal meskipun hanya satu dirham." Seandainya kita mendapatkannya maka itu cukup untuk menyembuhkan orang orang yang sakit di antara kita."
Sufyan ats-Tsauri berkata: "Agama seseorang erat hubungannya dengan kehalalan makanan yang ia makan, dan jika ada keluarga yang makannya terdapat makanan yang halal (memperolehnya) tentu mereka itu asing di zaman kita sekarang."
Abdullah bin Abbas (ra) berkata: "Mendapatkan sesuatu dengan cara halal bagi orang beriman lebih berat dari pada memindahkan satu gunung ke gunung lain."
Wahib bin al-Ward berkata: "Jika hamba tidak melihat yang halal pada zamannya maka itu ibarat bangkai bagi orang yang berada dalam keadaan darurat. Jika tidak ia lakukan maka akan binasa."
Imam Hasan bin Ali (as) pernah mendengar seseorang mengucapkan: "Ya Allah, berilah hamba rizki yang halal dan suci." Lalu ia menegurnya seraya berkata: "Mengapa itu yang kau ucapkan?" Mohonlah kepada Tuhanmu rizki yang mana Allah tidak mengadzabmu karenanya. Sebab yang halal lagi suci itu hanyalah rizki para nabi."
Ibrahim bin Adham biasanya bekerja hingga akhir siang lalu bilamana diberi upah ia memandanginya dan berkata kepada sahabat-sahabatnya: "Sesungguhnya aku takut belum bekerja sekuat tenaga seperti yang diminta oleh pemilik lahan pertanian." Kemudian upah itu ia biarkan dan ia tidur tanpa makan malam itu. Ia berkeyakinan bahwa kehadiran bersama Allah (SWT) merupakan syarat kehalalan dalam bekerja mencari nafkah. Apa pun pekerjaan itu tanpa meyakini kehadiran Allah (SWT), ia tidak mau mengambilnya."
Sa'ad bin Kaddam berkata: "Pada zaman sekarang aku tidak tahu yang halal masih ada selain sesuatu yang diminum orang dari sungai Tigris dan Nil dengan kedua telapak tangannya, seseorang juga mencari yang halal lalu tidak menemukan selain tumbuh tumbuhan di tepi sungai." Ia pun makan tumbuh-tumbuhan itu hingga kulitnya pucat selama tiga puluh tahun. Lalu tiba tiba ada suara memanggil dan mengatakan kepadanya: "Sekarang telah suci bagimu memakan makanan yang halal dan bebas dari yang haram." Sebagian mereka juga tidak mau makan makanan yang diolah tangan manusia, kemudian pergi ke ladang liar untuk makan tumbuh-tumbuhan yang ada di sana. Lalu ada suara memanggil pelan: "Anggaplah kamu hidup wara' mulai hari ini, maka yang kamu lakukan dengan tenaga yang kamu peroleh hingga kamu berjalan ke sini, lihatlah dari mana kamu peroleh?"Ibrahim bin Adham berkata: "Aku melihat seseorang sedang bergegas untuk shalat dengan berat, lalu aku mengamatinya, ternyata ia bukanlah orang yang bersih makanannya. Seandainya ia makan makanan yang halal tentu ia tidak mengalami beban berat seperti itu."
Sufyan ats-Tsauri bilamana pergi menghadiri walimah, ia membawa roti kering untuk dimakan. Jika orang yang mempunyai hajat walimah itu mempersilahkan agar makan roti yang disediakan maka ia menjawab: "Sesungguhnya Anda tahu roti Anda darimana Anda peroleh dan aku pun tahu rotiku darimana aku peroleh. Maka masing masing makan makanan yang ia ketahui."(Saya katakan) Di antara orang aku jumpai yang mempunyai maqam ini adalah syaikh Muhammad bin Annan. Bilamana mendapat undangan walimah ia membawa roti kering untuk makan.
Sufyan ats-Tsauri pernah ditanya tentang keutamaan shaf pertama, lalu menjawab: "Lihatlah roti makananmu dari mana didapatkan maka makanlah dan shalatlah di shaf mana pun yang kamu inginkan tidak masalah."
Abdullah bin Abbas (ra) berkata: "Allah (SWT) tidak menerima shalat hamba yang dalam perutnya terdapat sesuatu yang haram."
Wahab bin Ward berkata: "Seandainya berpuasa dan shalat hingga menjadi kurus kering seperti ini maka ia tidak berguna bagi Anda kecuali setelah Anda melihat apa yang masuk ke dalam perut Anda." Ketahuilah bahwa dalil kaum sufi tentang perilaku ini adalah Firman Allah (SWT): "Makanlah makanan yang baik baik dan lakukanlah amal shalih." (al-Mu'minun: 51)Ini adalah firman untuk para rasul dan dalam hadits ditegaskan bahwa Allah (SWT) memerintahkan orang-orang mukmin sama dengan perintah kepada para rasul.
Rasulullah juga pernah bersabda: "Seorang hamba mendapatkan suatu kekayaan dari yang haram, maka ia tidak diberkahi, ia bersedekah dengan yang haram itu maka ia pun tidak diberi pahala, dan ia mewariskannya kepada anak cucu maka itu hanya malah mendorongnya ke neraka. Sesungguhnya Allah (SWT) tidak menghapus keburukan dengan keburukan, melainkan menghapus keburukan dengan kebaikan."
Jadi sepatutnya kita melihat makanan kita di zaman ini. Sepatutnya pula membiasakan lapar dan mejauhi makanan pejabat atau hakim, di samping makanan orang-orang zalim tanpa mengecek terlebih dahulu. Sebab itu akan merusak agama kita, meskipun kita berpenampilan sufi.

---(ooo)---

2 komentar:

  1. Appreciating the time and energy you put into your site and detailed information you provide.
    It's nice to come across a blog every once in a while that isn't the same out of date rehashed information.
    Excellent read! I've bookmarked your site and I'm including your RSS feeds to my Google
    account.

    Also visit my website ... garcinia cambogia extract

    BalasHapus
  2. Marvelous, what a webpage it is! This webpage presents
    useful data to us, keep it up.

    Also visit my web site: backup software

    BalasHapus