Rabu, 04 Juni 2008

Tentang Nafs

Menuju pengendalian Nafs
Para syaikh thariqah sangat berhati hati terhadap sikap sikap yang mengindahkan nafs, memenuhi hasutannya dan mencari keinginan keinginan nafs nya, seseorang yang mengindahkan hasutan hasutan nafs akan cenderung bersikap mudah bangga.
Hazrat Maulana Syaikh Junaid al Baghdadi berkata, "Keingkaran didapatkan ketika mencari keinginan keinginan nafs. Karena nafs tidak pernah sesuai dengan sikap-sikap ketaatan (Islam), tidak mampu untuk berkonsentrasi pada ketaatan tersebut, dan akhirnya akan mengabaikan ketaatan itu; dan orang yang menolak ketaatan adalah seorang yang asing."
Dzun Nun al Misri berkata, "'Kegelapan yang paling pekat adalah tunduk terhadap nafs dan kepatuhan terhadap perintahnya. Apabila seseorang menyerah terhadap perintah nafs, maka dia telah menentang ketentuan Allah. Menentang Allah adalah dasar dasar dari semua kesesatan."
Dalam sebuah perjalanan di laut, Suhrawardi telah memberiku dua nasihat. Pertama, "Jangan curiga dengan orang lain, Yang lain, "Jangan tunduk terhadap nafs." (Sa'di as Syirazi)
Pengendalian Nafs
Para syaikh Sufi menganggap keberhasilan dalam thariqah berasal dari pengendalian nafs.
Menurut sebuah hadits, "orang yang kuat bukanlah mereka yang mampu menaklukkan orang lain, melainkan mereka yang berhasil menaklukkan nafs nya."
Dia yang dikendalikan oleh nafs, harus melayani nafs itu; dia yang mampu mengendalikan nafs, akan tunduk pada yang lain. Dia yang tidak menyadari nafs nya akan menjadi rendah.
Pembebasan dari Pengaruh Nafs
Pembebasan dari pengaruh nafs adalah pembebasan dari temperamen nafs, yaitu sikap-sikap: mudah marah, pemberang, sombong, tamak, serakah dan dengki. Jika orang senantiasa terjamin dari perangai perangai seperti itu, yang menjauhkan perangai perangai tersebut muncul di dalam dirinya, maka ia telah terbebas dari pengaruh nafs, dan terlihat tidak memiliki nafs sama sekali.
Abu Sa'id Kharraz berkata, "Mereka yang kembali kepada Tuhan akan menjadi dekat dengan Nya, berusaha dekat dengan Nya, dan melupakan nafs nya serta apa pun selain Allah." Jadi, jika orang lain bertanya siapa yang bersama dengannya, dia tidak akan menjawab selain mengatakan, "Allah," yang karena ketaatan kepada Allah dalam hatinya, menyebabkan dia tidak mengenal yang lainnya."
Menjauh dari Nafs
Apabila cahaya Allah Yang Maha Agung dan Maha Tinggi, serta realitas Ketuhanan dan kehambaan telah menundukkan seseorang, tetapi tidak memusnahkan nafs yang berada di dalamnya, dia akan menerima nafs nya sebagai jenis keingkaran yang paling buruk.Kaum Sufi berkata, "Apabila realitas Penya tuan terjadi, seseorang yang taat akan melihat nafs nya sebagai sesuatu yang tidak berharga dibanding nafs lain dan semua hal yang lain."
Perlawanan terhadap Nafs
Salah satu jalan untuk menundukkan nafs adalah melawan segala keinginannya. Namun, jika kita ingin melawannya, kita tahu bahwa kita tidak harus melawannya dengan memusuhi atau menekannya, karena. jika kita demikian, nafs akan timbul di tempat lain, dan akan mencari pemuasan terhadap semua keinginannya. Jadi, dapat dikatakan bahwa untuk melawan nafs melalui nafs adalah sebuah kesalahan.
Menundukkan Nafs
Menundukkan atau melawan nafs adalah dasar dari semua praktik spiritual dan kesempurnaan dari semua upaya spiritual. Hanya melalui perlawanan tersebut para murid akan menemukan jalan menuju Allah, karena menuruti nafs merupakan kerusakan bagi para murid, sedangkan perlawanan terhadapnya adalah jalan keselamatan. Allah telah memerintahkan kepada semua hambanya untuk melawan nafs, dan telah memuji mereka yang berjuang untuk melawannya dan menyalahkan mereka yang membiarkan dirinya memuaskan nafs.
Abu Sulaiman Darani berkata, "Yang paling baik dari semua kegiatan manusia adalah melawan nafs, karena nafs akan menghancurkan keyakinannya dan merupakan rintangan terhadap upaya upaya untuk mencari keridhaan Allah."
Abu Hafsh (Haddad) berkata, "Jika engkau tidak mengutuk, tidak melawan nafs setiap saat dan dalam setiap kesempatan, dan tidak menjauhkan dirimu sendiri dari hal yang berkaitan dengannya sekalipun merupakan hal yang dibolehkan, maka engkau akan senantiasa dibohongi oleh nafs tersebut. Jika engkau telah tunduk kepada nafs mu, engkau akan hancur; bagaimana mungkin seorang yang saleh akan tunduk dengannya?"Al Qur'an menceritakan tentang Yusuf ketika dia berkata, "Dan aku tidak membebaskan diriku. (dari kesalahan). Karena sesungguhnya nafs itu senantiasa menyuruh seseorang kepada kejahatan." (XII: 53).
Anekdot tentang menundukkan Nafs
Syaikh Junaid telah menyatakan, "Suatu malam aku tidak dapat tidur, sehingga aku bangun untuk melengkapi doa doaku. Aku merasa tidak ada keindahan yang terjadi malam ini. Mencoba tidur lagi, aku tak mampu. Mencoba duduk, aku merasa gelisah. Aku buka pintu dan berjalan jalan keluar. Di jalan aku. melihat seseorang terbungkus sebuah baju lebar seperti jubah menutupi badannya sendiri dan ketika dia melihatku dia berpaling kepadaku dan memanggilku, 'Wahai Abul Qasim, kemarilah!'
Aku bertanya untuk apa. Dia menjawab, 'Sesungguhnya, aku sedang memohon kepada Allah Sang Penggerak Hati untuk memindahkan hatimu untukku.'
Aku kemudian bertanya, 'Apa masalahmu?'
Dia menjawab, 'Bagaimana rasa sakit seseorang dapat menjadi obat penyembuh baginya?'
Aku berkata, 'Rasa sakit dapat menjadi obat penyembuh dengan cara melawan nafs.' Kemudian dia menunjuk pada badannya, sambil berkata, "Dengar badan, aku telah memberi jawaban padamu. tujuh kali dan engkau tidak menerimanya.
Sekarang, dengarkan Junaid!' Kemudian dia berpaling dan menghilang. Aku sama sekali tidak mengetahui siapa dia sebenarnya."
Ibrahim ibnu Syaiban dilaporkan pernah berkata, "Selama empat puluh tahun aku tidak pernah menghabiskan satu malam pun untuk menyendiri, atau menghabiskannya di tempat apa pun untuk mengasingkan diri. Suatu hari, aku sangat menginginkan buah lentil. Setelah memakannya, aku kemudian pergi keluar untuk berjalan jalan. Sewaktu berjalan aku melihat sebuah toko dengan botol botol yang tergantung untuk dipajang. Aku pikir botol botol tersebut terisi penuh dengan cuka, tetapi seseorang mengatakannya padaku bahwa botol botol itu terisi dengan anggur, dan di dalam toko itu juga ada beberapa tong anggur. Aku tiba-tiba dikalahkan oleh keinginan untuk masuk ke dalam toko itu serta mengosongkan botol-botol dan tong anggur tadi, yang kemudian aku lakukan. Sang pembuat anggur menganggap aku melakukan ini atas perintah raja. Namun, ketika dia menyadari bahwa aku melakukan hal ini atas kehendakku sendiri, dia lalu menangkapku dan menyeretku ke mesjid Ibnu Thulun, di sana dia memerintahkan agar aku dipukul dua ratus kali dan kemudian aku dimasukkan ke dalam penjara. Aku menginap beberapa lama di dalam penjara itu, sampai guruku, Abu 'Abdillah Maghribi, datang ke kota dan memohon pengampunan untukku. Sewaktu melihatku, beliau bertanya tentang apa yang telah kulakukan. Aku berkata padanya tentang keinginanku untuk memakan lentil dan bagaimana aku memakannya, serta bagaimana aku telah dihukum pukul dua ratus kali. Beliau kemudian berkata padaku bahwa aku sangat beruntung hanya mendapat hukuman ringan."
Ibrahim Khawwas berkata, "Pada suatu hari, dalam perjalanan menuju ke Gunung Lokam, aku menemukan sebuah pohon delima, tiba-tiba saja aku sangat menginginkan buah delima itu. Aku petik satu, membukanya dan mendapatkannya agak pahit. Aku buang dan kemudian melanjutkan perjalanan kembali. Di tengah perjalanan, aku melihat seseorang dalam posisi bertiarap dengan lebah mengerumuni seluruh bagian tubuhnya. Sewaktu aku memberi salam. padanya, dia menjawabnya dengan memanggil namaku.Aku bertanya padanya bagaimana dia tahu namaku, dan dia menjawab,'Tak ada yang tersembunyi dari orang yang sudah mengenal Allah! Untuk menanggapinya, aku berkata, 'Aku tahu bahwa engkau dekat dengan Allah. Jika engkau mau, Allah dapat melindungimu dari lebah lebah itu dan melepaskan engkau dari sengatnya.' Dia menjawab, 'Aku juga tahu bahwa engkau sangat dekat dengan Allah. Jika engkau memohon kepadaNya, Dia juga akan melepaskan dirimu dari keinginan untuk memakan buah delima, karena memakan buah delima menyebabkan siksaan di akhirat, sedangkan rasa sakit gigitan lebah hanya kualami di dunia ini.' Aku tinggalkan dia dan meneruskan perjalananku.
Ja'far Nasir telah berkata, "Guru kami, Maulana Syaikh Junaid memberiku satu dirham untuk membell buah ara. Aku beli buah tersebut dan membawanya untuk dia. Sewaktu berbuka puasa, dia mengambilnya satu buah dan memasukkannya ke dalam mulutnya, kemudian mengeluarkan buah tersebut seraya menangis, dan menyuruhku mengeluarkannya. Aku bertanya padanya mengapa, dan dia berkata bahwa sebuah bisikan suara telah datang kepada hatinya, yang mengatakan. 'Tidakkah engkau malu? Engkau mengambilnya untuk Ku, tetapi sekarang engkau menginginkannya kembali."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar