Selasa, 03 Juni 2008

Syaikh Habib al Ajami - Sufi Lugu Yang Penuh Hikmah

Habib ibnu Muhammad al‘Ajami al-Bashri, seorang Persia yang tinggat di Bashrah; adalah se­orang perawi terkemuka yang meriwayatkan dari Hasan Bashri, Ibnu Sirin, dan yang lainnya. Ke­berpalinganya dari kesenangan hidup dan dari memperturutkan hawa nafsu, dipicu oleh kefasihan Hasan al Bashri; Habib sering menghadiri ceramah-ce­ramahnya, (dan akhirnya menjadi salah satu murid ­terdekatnya).
Awalnya, Habib adalah seorang laki-laki yang kaya raya dan juga seorang lintah darat. Ia tinggal di Bashrah. Setiap hari ia berkeliling kota menagih orang-orang yang berutang padanya. Bila tak ada uang, ia akan meminta pembayaran dengan kulit domba untuk bahan sepatunya. Begitulah mata pencariannya. Suatu hari, ia pergi untuk menemui seseorang yang berutang padanya. Namun orang itu tidak ada di rumah. Karena gagal menemui orang itu, ia pun meminta pembayaran dengan kulit domba.“Suamiku tak ada di rumah,” tutur istri si peng­utang itu padanya. “Aku sendiri tak punya apa-apa. Kami telah menyembelih seekor domba, tapi, kini tinggal lehernya yang tersisa. Bila kau mau, aku akan memberikan padamu.”
“Boleh juga,” ujar Habib, ia berpikir bahwa setidaknya bisa ia membawa pulang leher domba itu. “Panaskan panci!”
“Aku tidak punya roti ataupun bahan bakar,” kata wanita itu.“Baiklah,” kata Habib. “Aku akan pergi meng­ambil roti dan bahan bakar, dan semuanya akan kuperhitungkan dengan kulit domba.”Habib pun pergi dan mengambil roti serta bahan bakar. Wanita-itu menyiapkan panci. Masakan itu pun matang, dan si wanita hendak menuangkannya ke dalam sebuah mangkuk. Saat itu, seorang pengemis mengetuk pintu.“Jika kami memberimu apa yang kami miliki,” teriak Habib, “kau tak akan menjadi kaya, sementara kami sendiri akan menjadi miskin!”Pengemis itu dengan putus asa, meminta wanita itu untuk menuangkan sesuatu ke mangkuknya. Wanita itu mengangkat tutup panci dan melihat bahwa seluruh isinya telah berubah menjadi darah. Wanita itu menjadi pucat, ia bergegas menemui Habib dan menarik tangannya, membawanya mendekati panci itu. “Lihatlah apa yang telah terjadi akibat praktik riba terkutukkmu itu, dan akibat caci-makimu kepada. pengemis itu!” pekik wanita itu. “Apa yang akan menimpa kita sekarang di dunia ini, belum lagi di akhirat kelak?”Melihat hal ini, Habib merasa seakan-akan kobaran api di dalam tubuhnya yang tak akan pernah surut. “Wahai wanita,” ujarnya; “aku menyesali segala, yang pernah kulakukan.”
Esok harinya Habib kembali pergi menemui orang-orang yang berutang padanya untuk menagih. Hari itu hari Jumat, anak-anak terlihat bermain di jalan. Ketika mereka melihat Habib, mereka berteriak, “Jangan dekat-dekat, agar debunya tidak menempel pada tubuh kita dan membuat kita terkutuk seperti dirinya.”Kata-kata itu sangat menyakiti Habib, Ia kemudian menuju gedung pertemuan, di sana Hasan Bashri sedang berceramah. Kebetulan, ada kata-kata Hasan Bashri yang benar-benar- menghenyakkan hati Habib, hingga membuatnya jatuh pingsan. Ia pun bertobat. menyadari apa yang telah terjadi, Hasan Bashri memegang tangan Habib dan menenang­kanya. Sepulangnya dari gedung pertemuan., Habib terlihat oleh seseorang yang berutang padanya, orang itu pun hendak melarikan diri. “Jangan lari!,” kata Habib padanya, “Mulai sekarang, akulah yang harus melarikan diri darimu.” Habib pun berlari. Anak-anak masih saja bermain di jalan. Ketika mereka melihat Habib, mereka kembali berteriak, “Lihat, itu Habib sang petobat. Jangan dekat-dekat, agar debu kita tidak menempel di tubuhnya, karena kita adalah para pendosa.”“Ya Allah, ya Tuhan,” tangis Habib. “Karena satu hari ini, di mana aku bertobat, Engkau telah menabuh genderang di hati manusia untukku, dan membuat namaku masyhur karena kebajikan.” Lalu ia pun mengeluarkan pernyataan, “Siapa saja yang menginginkan apa pun dari Habib, datanglah ke­padaku dan ambil apa pun yang kalian mau!”, Orang-orang pun berkumpul di rumahnya, dan ia memberikan segala yang dimilikinya hingga ia tak punya uang sepeser pun. Kemudian, seorang pria datang meminta sesuatu, Karena tak memiliki apa-apa lagi, Habib pun memberi pria itu kain istrinya. Kepada seseorang yang datang kemudian, Habib memberikan bajunya, sendiri, ia pun jadi telanjang dada.Habib lalu menyepi di tepi Sungai Eufrat dan di sana ia menyerahkan diri sepenuhnya untuk ibadah.
Setiap hari, siang dan malam, ia. belajar di bawah bimbingan Hasan, tapi ia tidak bisa mempelajari Al-Qur’an, karenanya, ia juluki Barbar. Waktu pun berlalu, dan Habib benar-benar menjadi orang yang sangat, miskin. Istrinya me­mintanya untuk memberi nafkah sehari-hari, Habib pun keluar rumah menuju tepi Sungai Eufrat untuk beribadah. Ketika malam tiba, ia kembali ke rumah. “Suamiku, di mana engkau bekerja, kok tidak membawa pulang apa-apa?,” tanya istrinya. “Aku bekerja pada. seseorang yang sangat dermawan,” jawab Habib, “Saking dermawannya ia, aku sampai malu untuk meminta kepadanya. Bila telah tiba waktu yang tepat, ia akan memberi. Setiap sepuluh hari aku membayar upah,” kata Bosku.Begitulah, setiap hari Habib pergi ke tepi sungai dan beribadah di sana, hingga sepuluh hari. Pada hari kesepuluh, di waktu dzuhur, di benaknya berkata; “Apa yang aku bawa pulang malam ini, dan apa yang aku katakan pada isteriku?”Habib merenungkan hal ini dalam-dalam. Seketika, Allah Yang Mahakuasa mengutus bebe­rapa orang kuli ke rumah Habib dengan membawa tepung, daging domba, minyak, madu, rempah rempah, dan bumbu dapur. Kuli-kuli itu menaruh barang berat tersebut di dapur rumah Habib. Seorang anak muda yang tampan menyertai mereka dengan membawa uang sebanyak tiga ratus dirham. Anak muda itu mengetuk pintu rumah Habib.“Apa keperluan Anda?” tanya istri Habib sambil membuka pintu. “Tuanku telah mengirim semua ini” jawab anak muda itu. “Bilang pada Habib, ‘Bila kau tingkatkan hasilmu, niscaya kami akan tingkatkan upahmu.” Setelah mengatakan hal itu, ia pun pergi.Di kegelapan malam, Habib melangkah pulang, malu dan sedih. Ketika ia semakin mendekati rumah­nya, ia mencium aroma roti dan masakan. Istrinya berlari menyambutnya, membersihkan wajahnya, dan berlaku sangat lembut padanya: “Suamiku,” kata istrinya, “tuanmu itu sangat haik, dermawan, serta; penuh cinta dan kebaikan. lihatlah apa yang telah ia kirimkan melalui seorang anak muda yang tam­pan! Dan anak muda itu berkata, ‘Jika Habib pulang, katakan padanya, ‘Bila kau tingkatkan hasilmu, niscaya kami akan tingkatkan upahmu.”Habib merasa takjub. “Menakjubkan!” katanya. “Aku baru bekerja, selama sepuluh hari, dan ia telah memberikan aku-segala kebaikan ini. Jika aku bekerja lebih keras, siapa yang tahu apa yang akan diperbuat­nya?” Habib pun memalingkan wajahnya sepenuhnya dari duniawi dan mengabdikan diri untuk ber­ibadah kepada-Nya.
Keajaiban Habib
Suatu hari, seorang wanita tua menemui Habib dan tersungkur di hadapannya meratap. Aku mempunyai seorang anak laki-laki. Kami sudah ter­pisah sekian lama. Aku tak dapat lagi menahan derita terpisah darinya. Berdoalah kepada Tuhan,” pintanya kepada Habib. “Mungkin doamu kepada-Nya akan membawa anakku pulang kembali.”“Apakah Anda punya uang?” tanya Habib. “Ya, dua dirham,” jawabnya.“Berikanlah uang itu kepada fakir miskin.” Habib pun berdoa, lalu berkata kepada wanita tua itu, “Pulanglah, anakmu telah kembali padamu.”Sesampainya dirumahnya, wanita itu melihat anak laki-lakinya: “Oh, anakku!” teriaknya gembira, dan ia pun membawa anaknya itu menemui Habib.“Apa yang terjadi?” Habib bertanya. “Aku berada di Kirman” jawab si anak. “Guruku menyuruhku membeli daging. Aku membelinya dan hendak kembali kepadanya. Namun aku terhalang oleh kerasnya hembusan angin. Aku mendengar suara yang mengatakan, ‘Wahai angin, bawalah dia ke rumahnya, dengan berkah doa’ Habib dan dua dirham yang disedekahkan.”Di suatu hari 8 Dzul Hijjah Habib terlihat ada di Basrah. Namun esok hari tanggal 9 Zulhijah, ia terlihat ada, di Arafah.
Suatu waktu, kelaparan mewabah di Bashrah. Habib membeli banyak bahan makanan dengan cara kredit dan menyedekahkannya semua. Habib menaruh dompetnya yang kosong di bawah bantal. Ketika para pedagang bahan makanan menagih utangnya, Habib mengeluarkau dompetnya, yang secana ajaib telah penuh berisi dirham.Habib memiliki sebuah sebuah rumah di persimpangan jalan. Ia juga memiliki selimut mantel hidup yang ia kenakan kala musim panas dan juga musim dingin. Suatu kali, ketika hendak wudlu, ia letakkan mantelnya di atas tanah. Waktu itu, Hasan Bashri lewat. dan melihat mantel Habib tergeletak di jalan. “Si Barbar ini (Habib) pastilah tak tahu nilai mantelnya,” komentar Hasan. “Mantel bulu ini mestinya tidak digeletalkan begitu saja di sini. Bisa hilang nanti.” Maka Hasan pun berdiri di sana sambil mengawasi mantel itu. Kemudian, Habib pun kembali. “Imam Kaum Muslim,” katanya menyambut Hasan, “mengapa Anda berdiri di sana?”“Tidakkah kau tahu,” jawab Hasan, “mantel ini mestinya tidak ditinggal begitu saja di sini? Bisa hilang. Katakan, kau titipkan kepada siapa mantel ini sementara kau pergi?”“Kepada Allah yang telah me­nunjukmu untuk menjaganya.” jawab-HabibSuatu hari, Hasan datang mengunjungi Habib. Habib menyuguhkan dua potong roti gandum dan sedikit garam pada Hasan. Ketika mulai hendak makan. Tiba-tiba, seorang pengemis datang, dan Habib memberikan dua potong roti dan sedikit garam itu kepadanya. “Habib,” tegur Hasan yang terlihat bingung, “Kau, orang yang baik. Alangkah lebih baiknya jika kau juga berpengetahuan. Kau mengambil roti di bawah hidung, tamumu dan memberikannya semua kepada pengemis. Mestinya kau berikan sebagian untuk pengemis, dan sebagian lagi untuk-tamumu.” Habib diam saja. Tak lama berselang, seorang budak datang membawa sebuah baki berisi daging panggang, manisan, roti yang lezat, dan uang lima ratus dirham. Budak itu menyerahkan semuanya kepada Habib. Habib menyedekahkan uang lima ratus, dirham itu kepada fakir miskin, dan menyuguhkan makanan-makanan lezat itu kepada Hasan.“Guru,” katanya ketika Hasan tengah makan, “Anda orang yang baik? Alangkah lebih baiknya jika Anda juga memiliki sedikit keyakinan. Pengetahuan harus diiringi dengan iman.”
Suatu hari, sejumlah aparat Al Hajjaj mencari-cari Hasan. Ia bersembunyi di tempat Habib biasa berkhalwat.“Apa kau melihat Hasan hari ini?” tanya para aparat itu kepada Habib.“Ya aku melihatnya, “ jawab Habib“Dimana dia?”“Di dalam situ.”Aparat itu menggeledah dan tak menemukan Hasan. (“Tujuh kali mereka menyentuhku tapi mereka tak dapat melihatku.”) kata Hasan.“Habib,” tegur Hasan setelah aparat itu pergi, “kau tidak memenuhi kewajibanmu, kau membocorkan persem-bunyianku…”“Guru,” ujar Habib, “ karena aku berkata jujur maka anda bisa bebas. Jika tadi aku berbohong kita berdua pasti ditangkap.”“Apa yang kau baca sehingga mereka tidak melihatku?”“Aku baca ayat Kursi sepuluh kali. Sepuluh kali aku membaca “Rasul percaya” dan sepuluh kali Qulhuwallaahu Ahad, lalu aku berdoa, “Ya Allah aku telah mempercayakan Hasan kepada-Mu. Jagalah dia…”
Suatu hari Hasan berniat untuk pergi ke suatu tempat, melewati sungai Tigris sembari merenung ketika Habib di tempat itu.“Guru, mengapa Anda berdiri di sini?” tanya Habib“Aku ingin pergi ke suatu tempat, namun perahu­nya terlambat,” jawab Hasan.“Guru, apa yang telah terjadi padamu?” tanya Habib. “Semua yang kutahu, kupelajari darimu. Hilangkan kedengkian dalam.hatimu. Tutuplah hatimu dari keduniawian, Ketahuilah bahwa pen­deritaan adalah hadiah yang amat berharga, dan semua urusan adalah dari Tuhan. Kemudian, taruh­lah kaki di atas air dan berjalanlah.”Selesai berkata demikian, Habib melangkah di atas air dan meninggalkan tempat itu. Melihatnya, Hasan pun jatuh pingsan. Ketika, ia siuman, orang orang bertanya kepadanya, “Wahai Imam Kaum Muslim, apa yang terjadi padamu?”“Muridku, Habib, baru saja menegurku,” jawab Hasan. “Kemudian ia melangkah di atas air dan pergi meninggalkan tempat ini, sementara aku tetap tak berdaya. Jika kelak aku diperintahkan, ‘Seberangi jembatan itu dan aku tetap tak berdaya seperti ini, apa yang dapat aku lakukan?”Dalam kesempatan lain, Hasan bertanya, “Habib, bagaimana kau dapat memperoleh kekuatan itti?” “Aku memutihkan hatiku, sementara Anda menghitamkan kertas,” jawab Habib.“Pengajaranku menguntungkan orang lain, bukan diriku sendiri,” komentar Hasan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar