Kamis, 05 Juni 2008

Siapakah Seorang Faqih Itu?

Diriwayatkan dari Nabi saw., bahwa beliau bersabda :
"Barangsiapa dikehendaki Allah untuk menjadi baik, maka Dia akan memberikan kepahaman (faqih) tentang agama."
(H.r. Bukhari Muslim, Ahmad, Ibnu Majah, Tirmidzi, al-Bazzar, ath Thabrani).
Saya pernah mendengar dari Hasan al Bashri, bahwa pernah dikatakan padanya, "Si Fulan itu seorang faqih." Mendengar pernyataan itu ia lalu bertanya, "Apakah engkau pernah melihat orang yang benar-benar faqih? Sesungguhnya seorang yang benar-benar faqih adalah orang yang zuhud dalam hal dunia, rindu akan akhirat dan arif terhadap masalah keagamaannya." Firman Allah swt., "... untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama." (Q.s. at Taubah: 122).
Maka agama adalah sebuah nama yang mencakup seluruh aspek hukum, baik lahir maupun batin. Sementara itu, memperdalam (tafaqquh) hukum-hukum yang berkaitan dengan berbagai hal (kondisi spiritual) dan makna macam-macam maqam (kedudukan spiritual) sebagaimana yang saya sebutkan tidaklah kecil manfaatnya daripada memperdalam tentang berbagai hukum yang berkaitan dengan hukum talak, pembebasan budak, zhihar, qishash, sumpah dan hukum pidana (hudud). Sebab hukum-hukum tersebut, bisa saja dalam seumur hidup tidak pernah ada kejadian yang membutuhkan pada llmu yang berkaitan dengannya. Kalaupun misalnya ada sebuah peristiwa, maka orang yang bertanya akan gampang mengikuti (taklid) dan mengambil pendapat sebagian para ahli fiqih. Dan akhirnya gugurlah kewajiban itu hingga terjadi sebuah peristiwa yang lainnya terjadi.
Sedangkan berbagai kondisi spiritual, kedudukan spiritual (maqamat) dan perjuangan spiritual (mujahadat) dimana kaum Sufi berusaha mendalami dan memahaminya, serta membicarakan tentang hakikatnya maka setiap mukmim selalu membutuhkannya setiap waktu dan wajib mengetahuinya. Tak ada waktu tertentu yang bersifat kondisional atau kasuistik, sehingga di waktu lain tidak diperlukan. Kondisi dan kedudukan spiritual, seperti kejujuran (ash shidq), Ikhlas, dzikir, menghindari kelalaian untuk berdzikir dan lain-lain, adalah tidak membutuhkan waktu tertentu. Akan tetapi wajib bagi semua hamba dalam setiap detik dan geraknya untuk mengetahui apa tujuan, kemauan dan yang terbersit dalam benaknya. Jika itu merupakan hak dan tanggung jawab, maka ia wajib melakukannya, dan jika berupa hal yang dilarang maka wajib menjauhinya.
Allah berfirman pada Nabi Nya:“Dan Janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan untuk mengingat Kami, serta mengikuti hawa nafsunya, dan sementara keadaannya telah melewati batas." (Q s. al Kahfi: 28).
Orang yang meninggalkan salah satu dari berbagai kondisi spiritual sebagaimana yang telah disebutkan, hanyalah karena faktor kelalaian yang telah menyelimuti hatinya. Perlu Anda ketahui, bahwa hasil pemikiran kaum Sufi dalam memahami makna-makna ilmu ini dan mengetahui tentang selukbeluk dan hakikatnya, seharusnya lebih luas daripada hasil pemikiran para ahli fiqih dalam memahami makna-makna hukum zhahir (syariat). Sebab ilmu itu (tasawuf, red) tidak memiliki batas tertentu, karena merupakan isyarat, bersitan pada hati, kata hati, pemberian dan karunia yang direguk oleh para ahlinya dari lautan karunia Tuhan.
Sementara ilmu-ilmu yang lain memiliki batas tertentu. Dan juga semua ilmu akan bermuara pada tasawuf, sedangkan ilmu tasawuf hanya akan tetap bermuara pada ilmu tasawuf sendiri, yang tak memiliki batas tertentu, karena Dzat Yang dituju memang tidak memiliki batas. Ilmu ini (tasawuf, red) adalah ilmu futuh (yang Allah bukakan pada hati para wali Nya) dalam memahami firman-Nya dan mengambil kesimpulan dari isyarat seruan-Nya. Dia bukakan pintu-pintu ilmu itu menurut kehendak-Nya. Allah berfirman, "Katakanlah (wahai Muhammad): Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum (ditulis) kalimat kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)." (Q.s. al Kahfi: 109). Allah swt juga berfirman, “Andaikan kalian bersyukur maka akan Aku tambah (rahmat Ku)." (Q.s. Ibrahim: 7). Sementara tambahan dari Allah itu tentu tak ada batasnya. Sedangkan syukur adalah nikmat yang juga harus disyukuri, sehingga mengakibatkan adanya tambahan nikmat yang tak terbatas. Dan semoga Allah memberi taufik kepada kita.
(Diambil dari kitab "Al Luma" karya Syaikh Abu Nashr as Sarraj)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar