Rabu, 04 Juni 2008

Saling Memberikan Pesan & Nasihat

Di antara akhlak kaum sufi adalah banyak berpesan satu sama lain dan menerima nasihat dengan lapang hati serta berterima kasih kepada pemberi nasihat. Bagi mereka memberi nasihat tidak dengan sendirinya memandang bahwa mereka telah melakukan kewajiban. Sebab urusan urusan akhirat tidak dapat dinilai dengan urusan pesona duniawiah.
Pernah seorang laki-laki bertanya kepada Hasan Basri: "Berilah aku nasihat." Ia menjawab: "Junjunglah tinggi tinggi perintah Allah (SWT), dimana pun kamu berada maka Allah akan memuliakan kamu dimana pun kaum berada."
Seseorang berkata, kepada Umar bin Abdul Aziz: "Nasihatilah aku" Ia pun berkata: "Hati-hatilah menjadi orang yang bergaul dengan orang-orang salih kecuali dengan meniru kesalihan mereka, atau mencela para pelaku dosa tetapi tidak menjauhi perbuatan dosa, atau orang yang menampakkan diri musuh setan di depan orang tetapi mengikuti ajakannya secara diam diam."
Seorang laki-laki berkata kepada Muhammad bin Wasi': "Berilah aku nasihat." Ia menjawab: "Jadilah raja di dunia dan di akhirat." Ia bertanya: "Bagaimana itu, dapat terjadi?" Ia menjawab: "Berzuhudlah dalam hidup di dunia." Laki laki itu meminta: "Tambahlah nasihat Anda." Ia berkata: "Jadilah dirimu ekor dan duduklah dengan manusia dan janganlah menjadikan dirimu kepala dan meminta mereka duduk bersamamu."
Umar bin Abdul Aziz pernah datang menemui seorang ahli ibadah lalu berkata: "Aku datang menemui mu untuk meminta nasihat." Ia lalu menjawab: "Seandainya aku tahu bahwa engkau adalah orang yang takut kepada, Allah (SWT) tentu aku menasihatimu." Kata katanya ini membuat umar jatuh pingsan. Umar juga pernah mengatakan bahwa ia melihat Abu Abbas Khidhir (as) dalam mimpi lalu meminta nasihat kepadanya. Ia pun berkata: "Hai Umar, janganlah kamu menjadi wali Allah secara lahiriah tetapi menjadi musuhNya secara diam-diam."
Seorang, laki-laki berkata kepada Isa (as): "Nasihatilah aku, wahai Ruh Allah (SWT)." Ia menjawab: "Hingga berapa kali seseorang di antara kamu dinasihati, tetapi tidak sadar juga? Kalian membuat para pemberi nasihat capai dan susah! "
Seorang laki-laki berkata kepada Hasan Basri: "Berilah aku nasihat." Ia menjawab: "Jangan melakukan dosa lalu kamu mencampakkan diri ke dalam neraka, padahal jika kamu melihat seseorang mencampakkan udang kecil ke dalam api tentu kamu mengecamnya. Sementara kamu mencampakkan diri ke dalam api neraka berkali kali setiap hari tetapi kamu tidak mengecam diri kamu sendiri." Seorang laki-laki berkata kepada Abdullah bin Mubarak: "Berilah aku nasihat". Ia menjawab, "Tinggalkanlah pandangan mata yang tidak perlu maka kamu memperoleh kekhusyukan, tinggalkanlah kata-kata yang tidak penting maka kamu mendapatkan hikmah kearifan, tinggalkanlah kelebihan makanan maka kamu memperoleh taufik beribadah, tinggalkanlah mencari-cari keburukan orang lain maka kamu akan menyadari keburukan keburukan diri kamu sendiri, dan tinggalkanlah membicarakan tentang dzat Allah (SWT) maka kamu terpelihara dari kemunafikan dan keragu raguan."
Seorang laki-laki berkata, "Ibnu Sirin Nasihatilah aku." Ia menjawab: "Janganlah iri pada seseorang, sebab jika ia adalah ahli neraka maka bagaimana kamu iri padanya hanya karena pesona dunia yang fana yang akan mengantarkannya ke neraka. Jika ia adalah ahli surga maka ikutilah amal perbuatannya dan irilah pada kebaikannya. Sebab yang demikian itu lebih utama dari pada irimu padanya dalam urusan duniawiah."
Seseorang laki-laki bertanya kepada Hasan Basri: "Nasihatilah aku." Ia menjawab: "Mengherankan benar lisan yang menjelaskan, hati yang memahami dan perbuatan yang bertolak belakang!"
Seorang laki-laki bertanya kepada Sufyan bin Uyainah: "Nasihatilah aku." Ia menjawab: "Janganlah kamu takabur atau makan sesuatu dari harta orang lain tanpa dengan cara yang benar. Sebab orang yang menyombongkan diri pasti menjadi hina dan orang yang mengambil harta orang pasti merasa kurang."
Suatu kali Hasan Basri mendengar seorang laki-laki berkata: "Orang mengikuti siapa yang ia cintai." Lalu Hasan Basri menyela seraya berkata: "Janganlah terpedaya saudaraku oleh kata-kata itu. Sebab kamu tidak akan menemukan orang-orang baik kecuali jika kamu berbuat seperti perbuatan mereka. Orang-orang Yahudi dan Nasrani mencintai nabi nabi mereka tetapi mereka bukanlah ahli surga karena perbuatan mereka itu bertentangan dengan perbuatan para nabi mereka."Kemudian ia berkata lagi: "Sungguh mengherankan, suatu kaum yang mengajak mencari bekal dan menyerukan pergi ke akhirat, sementara mereka hanya duduk-duduk sambil tertawa-tawa. Sedangkan pergantian siang dan malam hakikatnya kendaraan yang sedang mengantar mereka ke sana tanpa disadari."
Syaqiq al-Balkhi mengajak sahabat-sahabatnya mempersiapkan diri menghadapi maut dan berkata: "Mungkin salah seorang di antara kita mempersiapkan diri untuk kematian selama lima puluh tahun tetapi ia tidak siap menghadapinya. Kesiapan yang sebenarnya adalah zuhud di dunia seperti Umar bin Khattab (ra), yang mana ia mengatakan kepada maut setiap hari pagi dan sore: 'Hai. Malaikat maut, ambillah aku kapan pun engkau mau'."Di antara dalil yang dipegang oleh mereka tentang perilaku ini adalah sabda Nabi (SAW): "Gunakanlah lima perkara sebelum (datangnya) lima perkara lainnya, masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum sakitmu, masa kayamu sebelum kemiskinanmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu dan masa hidup sebelum kematianmu."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar