Kamis, 05 Juni 2008

Hakikat Hati - Wejangan Syaikh Javad Nurbakhsy (Mursyid thariqah Ni'matullah)

Jadilah manusia hati,- atau paling tidak menjadi muridnya.
Jika tidak, engkau hanya berjalan di tempat,
bagaikan keledai terperangkap lumpur.
Jika tak punya hati, manusia tak punya guna;
Dalam kesengsaraan, ia akan dikenal dunia.
Apabila nafs telah mencapai tingkat kesempurnaan, dia akan sampai pada tingkat perkembangan hati. Pada kenyataannya, nafs yang tenang adalah hati yang paling dalam, yang oleh para filosof di sebut sebagai nafsu rasional (nafis al natiqa). Namun demikian, sebagian besar manusia masih berada pada maqam sifat sifat kebendaan (tab'), tingkat nafsu, dan belum memiliki hati.Hati adalah sebuah tempat antara wilayah Kesatuan (ruh) dan daerah keanekaragaman (nafsu).
Jika hati mampu melepaskan selubung nafs yang melekat padanya dia akan berada di bawah pengaruh ruh; itulah yang dikatakan telah menjadi hati dalam makna yang sebenarnya, telah bersih dari segala kotoran keanekaragarnan. Sebaliknya, jika hati dikuasai oleh nafsu, dia menjadi keruh oleh kotoran keanekaragaman nafsu.
Ruh adalah sumber semua kebaikan, dan nafsu adalah sumber semua kejahatan. Cinta menjadi tentara ruh, dan hasrat membentuk tentara nafsu. Ruh mewakili keberhasilan melalui Allah, sedangkan nafsu mewakili kegagalan melalui Allah juga. Hati terletak antara keduanya, dan pemenang dari keduanya akan mengendalikan hati.
Bila cinta memanggil hati untuk datang kepadanya,
Hati akan terbang lepasdari semua makhluk ciptaan.
(Rumi)
Hati adalah tempat dari semua pengetahuan dan kesempurnaan ruh serta tempat terlihatnya penyingkapan Perwujudan Ketuhanan melalui tingkat Esensi yang berbeda beda. Inilah aspek yang memberinya istilah Arab qalb, yang menunjukkan kedudukan tengah antara nafsu dan ruh. Hati membentuk jembatan antara keduanya, yang mewujudkan kesempurnaan dari kedua tingkat yang mengapitnya, yang mendapatkan karunia dari ruh dan menyebarkannya kepada nafsu. Cangkir yang menggambarkan duniaa dalah hati dari orang yang sempurna. Cermin yang merefleksikan Allah pada kenyataannya adalah hati yang dalam.
(SGR3)
Tanah asal Adam diciptakan terolah dengan embun kasih sayang; akibatnya, ratusan kesengsaraan dan kekacauan terlihat di dunia.Pisau cintamenusuk pembuluh ruh. Setetes yang jatuh,lahirlah hati
(Majdud Din Baghdad)
Dalam komentarnya tentang Fushush al Hikam, jami' menulis:"Hati adalah haqiqat yang meliputi haqiqat-haqiqat kejasmaniahan serta indera indera pembentuk fisik di satu sisi, dan haqiqat spiritualitas serta karakter karakter nafsu, di sisi yang lain."Dalam terminologi Sufi, hati menggambarkan substansi spiritual yang terletak antara ruh dan nafsu, yaitu suatu substansi yang merupakan tempat terwujudnya sifat-sifat kemanusiaan. Para filosof menyebut substansi tersebut dengan nafsu rasional, dan menganggapnya sebagai pelengkap nafsu hewani.
(KF 1170)
Dalam wilayah ini,hati adalah raja; Pada jalan menuju langit tertinggi,hati adalah pintunya.Badan bukanlah apa apa,esensi seseorang adalah hati; Penghuni "antara dua jari"Allah adalah Hati. Dia mampu berperansebagai agama ataupun keingkaran; Dia dapat berputar dari kebajikan dan keburukan. Engkau pernah mendengar cerita tentang piala Jamsyid yang sering diceritakan kembali, Dan dalam cerita itu engkau mendengar sumur yang penuh, sebagai barang yang berharga sekaligus sia sia. Sadarlah bahwa cangkir Jamsyid itu adalah hatimu sendiri, Hatimu itulah yang telah membentuk sandaran maupun kesedihan.Jika engkau mempunyai keinginan untuk melihat dunia, Engkau bahkan akan mampu melihat semua hal di dalam hatimu. Semak semak bunga mawar telah ditanam dengan harapan tumbuhnya tunas tunas bunga mawar hati.Ketika belukar mawar menghasilkan kuncup-kuncup bunga segar mawar hati, terselubung dalam tunas itu kelopak kelopak yang penuh daya cipta, baik partikular ataupun universal. Indahnya keindahan adalah tanda karunia Nya; Alam kehidupan ruang dan waktu adalah catatan keanekaragaman Nya.Alam dan apa yang di dalamnya,Apa saja yang disebut hikmah yang membentuk dunia NyaAkan hilang dalam hati, Semuanya kecuali yang setetes dalam hati, Laut Merah.
Bagaimana engkau dapat mengukur apa yang berada di dalam Allah? Hati yang terletak di dalam selubung badan yang utama bagi kehidupan dan kematian. Perwujudan rahasia-rahasia ketuhanan dan refleksi cahaya cahayanya,Terletak tidak di dalam hati jasmani tapi dalam hati yang sesungguhnya. Andai hati hanyalah sebuah benda dari tanah, maka tak ada perbedaanAntara hati ini dan hati keledai. Berapa lama engkau akan merasa bangga dengan benda yang terbuat dari tanah ini? Keledai juga memiliki bagian tubuh seperti ini. Siapa saja, yang mirip seekor keledai, bangga dengan bagian tubuh ini, telah mengganti sebuah mutiara yang berharga untuk sebuah manik dari tanah.
Engkau harus tunduk, kepada seseorang yang berhati seperti lautan andai engkau ingin menemukan hati bagaikan mutiara. Engkau harus mencari naungan di sisi sang guru, andai engkau ingin mendapatkan sebuah hati darinya.Hatimu adalah telurdari seekor burung kecil;Tak ditemukan jejak jejak perpindahan,dari penerbangan yang berasal dari dalamnya.Untuk mendorongnya, membuatnya bisa terbang,Berikanlah telur itu kepada sang guru, yang akan menetaskannya.
Hati yang dimaksud oleh para Sufi bukanlah organ jasmani dengan nama itu. Jantung jasmani adalah sepotong daging yang terletak di sebelah kiri tubuh di bawah tulang rusuk. Alasan pemakaian istilah hati untuk menggambarkan jantung spiritual adalah karena hubungannya dengan jantung jasmani. Jantung jasmani berada dalam kondisi perubahan yang tetap, yang mengatur perubahan perubahan antara darah arteri atau darah yang bersih dan darah vena atau darah yang kotor. Hati spiritual juga berada dalam kondisi perubahan yang tetap, yang mengatur arus bolak balik antara pengaruh ruh yang bersih dan pengaruh nafsu yang kotor. Inilah tempat hati mendapatkan nama Arabnya, qalb, dari akar kata q-l-b, yang berarti memutar atau mengganti.
Jantung jasmani memberikan darah kepada pembuluh pembuluh arteri dan menerima darah kotor dari pembuluh vena; ini sangat penting untuk proses pemurnian tubuh manusia. Demikian juga, hati spiritual menerima perangai perangai yang kotor dari nafsu dan membersihkannya dengan bantuan ruh, yang akan mengubahnya menjadi perangai perangai karakter spiritual, untuk memelihara kehalusan jiwa seseorang. Pada dasarnya, hati merupakan titik tengah antara realita jiwa yang bersih dan karakter nafsu yang kotor. Sebagaimana kehidupan jasmani dari setiap orang berhubungan dengan jantung jasmani, sehingga jika jantung itu rusak maka orang tersebut akan sakit, atau jika jantung itu berhenti bekerja maka orang tersebut akan mati, demikian juga kehidupan spiritual setiap individu berhubungan erat dengan hati spiritual, sehingga jika hati ini menjadi sakit karena pengaruh karakter karakter nafsu, orang menjadi bersikap buruk, dan jika hati ini menjadi dikendalikan sepenuhnya oleh nafsu, maka kehidupan spiritual dari individu akan berhenti.
Jantung jasmani merupakan sebuah tempat pertukaran antara pembuluh vena yang membawa darah kotor dan pembuluh arteri yang membawa darah bersih yang kaya dengan oksigen, yang merupakan udara bersih paru paru, pernapasan. Hati spiritual juga demikian, merupakan sebuah tempat pertukaran antara kekuatan kekuatan nafsu yang kotor dan kekuatan-kekuatan ruh yang bersih, pernapasan spiritual. Jantung jasmani disebut demikian karena lokasinya yang relatif terpusat dalam tubuh. Dengan cara yang sama, hati spiritual disebut demikian karena dalam proses penyempurnaan jiwa individu dia memainkan peranan pada titik tengah antara nafsu dan ruh. Seperti jantung jasmani mempertahankan fungsi tubuh yang senantiasa berlangsung terus menerus melalui kerjanya yang terus menerus dan secara spontan, hati spiritual secara terus menerus mengatur temperamen dan perbuatan perbuatan psikologis. Jantung jasmani mengatur tubuh jasmani, sedangkan hati spiritual mengatur jiwa.
Hati spiritual disebut qalb karena peralihannya melalui tahap tahap dari beberapa keadaan dalam proses perkembangan menuju ke arah kesempurnaan. Keadaan keadaan yang dimaksud itu merupakan anugerah dan hal-hal yang dianugerahkan oleh Allah tidaklah terbatas jumlahnya, perubahan dan perkembangan yang dilakukan seseorang dalam jalannya menuju kepadaNya, dengan semua permutasi Yang Maha Indah dan Yang Maha Berkehendak, bervariasi secara tidak terbatas.
(MH 97)
Hati disebut qalb karena merupakan bagian perwujudan dari aspek aspek Allah yang berbeda beda, yang menggambarkan suatu aspek yang berbeda pada setiap saat, yang beralih (munqalib) dari Sifat ke Sifat. Hati ini juga beralih antara aspek hati yang berhubungan dengan Allah dan aspek hati yang berhubungan dengan makhluk. Yaitu, dia menerima anugerah dari Allah dan menyampaikannya kepada makhluk.
(SGR 4)
Hati adalah tempat Perwujudan Tuhan; Bagaimana orang dapat menyebutsebuah hati sebagai rumah setan?Pergi dan buanglahbenda benda jasmani itu yang kausebut sebagai hatikepada anjing-anjing!
(Nurud Din Isfarayini-KAM 137)
Tidak Semua Orang Memiliki Hati
Perlu dicatat bahwa di antara semua makhluk yang diciptakan, hanya manusia yang memiliki hati spiritual.Namun demikian, dari sudut pandang perkembangan jiwa, sebagian besar manusia mengalami perkembangan tidak lebih dari maqam dari sifat materi (tab') atau nafsu. Hanya segelintir manusia yang telah mencapai tingkat perkembangan hati yang dapat dikatakan bahwa mereka memiliki sebuah hati.
Menurut Al Qur'an: "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar benar terdapat peringatan bagi orang orang yang mempunyai hati." (L: 37).
Wahai hati, duduklah dengan orang yang mengenal hatinya; Pergilah ke bawah pohon yang memiliki bunga bunga segar. Hati yang sebenarnya sedemikian rupa sehingga bahkan dalam keadaan malapetaka sekalipun Engkau benar benar tidak akan menemukan apa apa di dalamnya selain Allah.
(Rumi)
Hati Yang Hidup dan Hati Yang Mati
Hati adalah sebuah medan peperangan antara tentara ruh atau karakter karakter spiritual serta berbagai temperamen yang terpuji, di satu sisi, dan tentara nafsu atau karakter karakter nafsu dan berbagai temperamen tercela, di sisi yang lain. Jika hati jatuh ke dalam pengendalian nafsu dan sifat sifatnya, maka hati menjadi mati, sedangkan jika hati terisi dengan sifat sifat spiritual dan kemanusiaan, hati akan hidup, dan seseorang yang memiliki hati demikian disebut shahib al qalb (yang memiliki hati) dan dikenal sebagai orang yang berhati (ahl al qalb).Kebanyakan hati manusia berada dalam keadaan fluktuasi antara hati yang mati dan hati yang hidup, walaupun sebagian besar lebih cenderung ke arah hati yang mati, sementara hanya sedikit jumlahnya yang cenderung ke arah hati yang hidup.
Ketika seseorang bertanya kepada Syaikh Junaid bilamana hati benar benar berisi, dia menjawab, "Apabila hatinya itu adalah hati yang sebenarnya."
(TA 428)
Orang awam cenderung mengacaukan hati dengan nafs. Ketika seseorang berkata, "Ini keinginan hatiku untuk...", bukanlah hati yang memiliki keinginan; segala keinginan berasal dari nafs. Ketika seseorang berkata, "Permohonan ini" atau "jangan memohon kepada hatiku," itu bukanlah hati melainkan nafs yang menerima dan menolak hal itu; hati sudah berada di luar penerimaan ataupun penolakan.Ketika seseorang berkata, " Hatiku mengatakan bahwa sesuatu akan terjadi" ini menunjukkan bahwa hati dipengaruhi oleh nafs. Hati yang sempurna mampu melihat sesuatu yang akan terjadi ataupun yang telah terjadi; dia tidak perlu ramalan atau kekuatan karamah.Hati seorang yang memiliki hati tidaklah mempunyai keinginan. Ini diperlihatkan dalam cerita seorang pertapa ketika ditanya tentang apa yang diinginkan hatinya. Dia menjawab, "Hatiku sudah tidak memiliki keinginan lagi."
Dalam sebuah doa dari ibadah ibadahnya sehari hari (shalat), Bayazid mengemukakan, "Tuhan, Engkau tahu apa yang kuinginkan." Ini hati yang Rasulullah mengatakan, "Hati dari orang yang beriman. tertambat di antara dua jari kemurahan hati; Dia mengubahnya sebagaimana yang Dia kehendaki."Ketidaksadaran, Kesadaran Diri Dan Kesadaran HatiManusia dapat digolongkan ke dalam tiga kategori berkenaan dengan sifat kebendaan, nafs dan hatinya:Kategori pertama adalah manusia yang tidak sadar, yang hidup pada maqam sifat sifat kebendaan dan hanya memikirkan makan, tidur dan aktivitas seksual. Inilah jenis yang disebut sebagai manusia primitif atau manusia yang tidak memiliki peradaban.Kategori kedua adalah manusia dengan kesadaran diri, yaitu mereka yang hidup pada maqam nafs dan menikmati semua karakter di atas, makan, tidur dan aktivitas seksual, disertai dengan ambisi, sikap yang mementingkan diri sendiri dan keinginan untuk mencari kekuasaan, yang semuanya berasal dari cinta diri sendiri dan keakuan diri. Inilah jenis yang disebut sebagai manusia yang memiliki peradaban.Kategori ketiga adalah manusia dengan kesadaran hati, yaitu mereka yang berada pada tingkat perkembangan hati, yang telah terbebas dari egonya. Mereka adalah orang-orang pilihan, memiliki hati, dan telah lewat dari kesadaran akal sampai ke pandangan hakikat benda benda.Bila berbicara tentang sejarahnya, orang bisa saja menyamakan ketiga kategori ini menjadi zaman kehidupan manusia yang berurutan. Dalam hal ini, zaman sekarang dapat digambarkan sebagai zaman kesadaran diri. Akan membutuhkan beberapa abad lamanya bagi manusia untuk memasuki zaman kesadaran hati dan membangun surga yang dijanjikan di dunia ini. Walaupun anggapan seperti ini tidak lebih dari sekadar harapan, namun harus tetap kita pikirkan pengendalian yang konstan dari jiwa manusia yang berkembang ke arah kesempurnaan.
Hati Yang Mati
Ketika Hasan Basri ditanya mengapa kata-katanya tidak mampu membangkitkan hati para muridnya yang sedang tidur, dia menjawab, "Jika memang hati mereka tertidur, akan bangun ketika dibangunkan, namun hati mereka adalah hati yang mati! Bagaimanapun seseorang mengguncang guncangkannya, hati mereka tetap tidak akan bangkit!" (TA 33).Malik bin Dinar berkata, "Aku bertanya pada Hasan apa akibat yang akan terjadi dari keterlibatan dengan dunia, dan dia menjawab, 'Kematian hati.' Kemudian aku menanyakan apa 'kematian hati itu', dan dia menjawab, 'Cinta pada dunia'."
(TA 37)
Al Kharaqani berkata, "Hati yang mengandung apa pun selain Allah - sekalipun itu ibadah - adalah hati yang mati."
(TA 697)
Hati yang dibangkitkan
Rabi'ah berkata, "Wahai anak Adam, tak ada jalan antara mata dan Allah, tak ada jalan masuk kepada-Nya dengan lidah; pendengaran orang-orang yang mau mendengar akan menegang, dan tangan serta kaki hanyalah kemudi dari kebingungan. Tugas itu adalah untuk hati sendiri. Berjuanglah untuk mendapatkan yang bangkit, karena apabila hati bangkit, seseorang tidak perlu lagi dicintai, karena hati yang bangkit adalah hati yang lebur di dalam Allah, dan siapa saja yang sedemikian lebur tidak perlu lagi dicintai. Inilah kefanaan diri dalam Allah." (TA 81)
Pendapat Syeikh Sufi Tentang Hati
Bayazid berkata, "Pengerutan hati terjadi dengan adanya pengembangan nafs, dan demikian juga sebaliknya." (TA 196)
Fudhail 'Iyadh berkata, "Ada dua karakter yang dapat memburukkan hati: yaitu terlalu banyak tidur dan makan." (TA 99)
Ibrahim bin A'dham berkata, "Pintu tertutup bagi hati yang tidak pernah hadir dalam tiga kegiatan berikut: membaca Al Qur'an, mengerjakan dzikir, dan shalat." (TA112)
Dzun Nun al-Misri berkata, "Ada empat gejala dari hati yang tidak sehat, yaitu: tidak mendapatkan kenyamanan dalam beribadah, tidak takut kepada Allah, tidak pernah memperhatikan nasihat, dan tidak memahanmi pengetahuan yang diajarkan kepadanya." (TA 152)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar