Rabu, 04 Juni 2008

Berserah Diri Kepada Allah - Wejangan Spiritual Syaikh Abdul Wahab as Sya'rani

Di antara akhlak kaum sufi adalah banyak menyerahkan segala sesuatu kepada Allah dalam urusan diri mereka, anak anak mereka dan sahabat sahabat mereka. Mereka tidak menyerahkan urusan hidayah selain hanya kepada Nya; tidak meminta sesuatu apa pun tanpa bersandar kepada Allah.
Anak saya, Abdur Rahman tidak mempunyai ghirah dan motivasi untuk menuntut ilmu. Sementara saya dalam keadaan sangat berat dan sulit lalu saya mendapat ilham dari Allah ta'ala agar menyerahkan segala urusan kepadaNya. Lalu aku pun melakukannya. Maka sejak malam itu anakku belajar sendiri tanpa saya perintah dan berhasil menikmati manisnya ilmu, pemahamannya lebih kuat dari orang yang bertahun-tahun lebih dulu menekuni ilmu. Dengan demikian Allah membuat saya lega dengan berpasrah kepada Nya dari susah payah yang dulu saya alami. Semoga Allah menjadikan anak saya ulama yang berkarya. Amin.
Saya mendengar syaikh Ali al-Khawwash (almarhum) mengatakan: "Tidak ada di sana yang lebih bermanfaat bagi anak-anak ulama dan orang orang shalih dari pada doa untuk mereka dengan sepenuh hati dengan memasrahkan segala urusan kepada Allah SWT. Sebab mereka tumbuh di bawah bimbingan ayahnya di bantu ibunya. Cukup penghormatan orang kepada anak-anak ulama dan orang-orang shalih dengan mengikuti ayahnya. Maka biasanya tidak terdapat dalam diri mereka dorongan untuk memperoleh kemuliaan. Mereka berkata dalam diri mereka bahwa bersusah payah memperoleh pangkat dan penghormatan dengan menekuni ilmu dan latihan telah dapat diperoleh melalui ayah mereka. Berbeda dengan anak-anak orang awam, khususnya petani, mereka membuka mata pada kekerasaan, penindasan, pelecehan, penjara dan penghinaan dari para penguasa, dan pembantunya menarik pajak dengan paksa. Maka yang demikian membuat mereka berpikir melakukan cara membebaskan diri dari itu semua. Lalu Allah menunjukkan agar menekuni ilmu dan al Qur'an. Setiap kali meningkat kebesaran orang semakin tambah kemauannya pada ilmu, dan usaha yang keras hingga menjadi syaikh Islam (pemuka Islam) atau syaikh thariqat.
Sayyidi Syaikh Ahmad Zahid memerintahkan khalwat kepada anaknya secara penuh selama empat puluh hari tanpa membuka ruangan di mana anaknya berkhalwat, lalu berkata: "Anakku, seandainya urusan ini ada di tanganku maka aku tidak mendatangkan seseorang kepadamu untuk mengajarkan thariqat."
(Saya berkata) Kaidah ini tidak berlaku pada sebagian anak ulama dan orang shalih seperti anak-anak syaikh Sirajuddin al-Bulqini. Anak-anak mereka itu amat sempurna. Begitu juga dengan sebagian anak ulama dan orang orang faqir (sufi) masa sekarang. Seperti Sayyidi Muhammad ar-Ramli, Sayyidi Muhammad bin asy-Syanawi, Sayyidi Ali bin Syaikh Muhammad al-Munir, Sayyidi Muhammad bin Syaikh Abu Hasan al-Ghamari dan sejumlah tokoh lain yang kami sebutkan dalam Thabaqat al-Ulama wa ash-Shufiyah yang kami yang kami namakan Lawaqih al-Anwar fi Thabaqat al-Akhyar. Semoga Allah SWT. memperbanyak orang seperti mereka dan memberi manfaat dengan jasa-jasa mereka.
Tulus Ikhlas Dalam Ilmu dan Amal - Takut Pada Riya’
Kami tuangkan hal ini di sini karena begitu dibutuhkan oleh orang. Maka sebagaimana terdapat dalam hadits hadits shahih bahwa Rasulullahh SAW bersabda: Ketika Allah SWT menciptakan surga Aden. Dia menciptakan di dalamnya apa-apa yang mata tidak melihat, telinga tidak mendengar dan tidak pula terlintas di hati manusia. Dia (Allah SWT) berkata kepada surga Aden: “Bicaralah.” Lalu ia (Aden) berkata: “Sungguh bahagia orang orang mukmin (3x). Kemudian berkata lagi: Aku (Aden) haram bagi setiap orang yang bakhil (kikir) dan suka pamer (riya)."
Wahab bin Munabbih berkata: "Barang siapa mencari dunia dengan amal perbuatan akhirat. Allah SWT menjungkir hatinya dan mencatat namanya dalam daftar ahli neraka." Hasan Basri berkata: "
Ibuku mengatakan kepadaku: 'Anakku, jangan mempelajari ilmu kecuali jika kamu berniat mengamalkannya. Jika tidak demikan maka ilmu itu menjadi bencana bagimu pada hari kiamat'." Ia adalah orang banyak mengecam diri sendiri dengan mengatakan: "Kamu berbicara dengan kata-kata orang shalih, rendah hati dan ahli ibadah sementara kamu melakukan perbuatan orang orang fasik, munafik dan memamerkan diri. Demi Allah (SWT), yang demikian bukanlah sifat sifat orang yang tulus ikhlas."
Al Fudhail bin Iyadh berkata: "Barang siapa perbuatannya lebih cerdik dari pada pesulap maka ia berada pada riya’ (pamer)."
Dikatakan kepada Dzun Nun al Misri: "Kapan seorang hamba mengetahui bahwa dirinya adalah orang yang ikhlas'?" Ia menjawab: "Apabila ia berusaha keras melakukan ketaatan. Senang derajatnya turun di mata manusia. "
Sedangkan Muhammad bin Al Munkadir berkata : "Saudara seagama yang paling aku cinta adalah yang muncul dengan gerak gerik amal yang baik di malam hari. Sebab ini lebih mulia dan pada di siang hari yang mana orang melihatnya. Sedangkan di waktu malam gerak gerik itu untuk Tuhan semesta alam."
Suatu kali dikatakan kepada Yunus bin Ubaid: "Apakah Anda melihat orang yang melakukan amal perbuatan yang dilakukan oleh Hasan Basri?." Ia menjawab: "Demi Allah (SWT), aku tidak melihat orang yang mengucapkan dengan kata-katanya, bagaimana mungkin Aku melihat orang yang mengamalkan amal perbuatannya, sementara nasihat-nasihatnya membuat hati menangis dan nasihat-nasihat orang lain tidak membuat mata mencucurkan air mata?."
Dikatakan kepada Yahya bin Muadz: "Kapan seorang hamba menjadi manusia yang ikhlas? Ia menjawab: "Apablia perilakunya seperti bayi, tidak peduli apakah dipuji atau dicela.”
Dalam riwayat lain dikatakan "Apabila orang yang suka pamer meminta pahala di hari kiamat maka dijawab: "Ambillah pahala amal perbuatanmu dari orang yang kamu pameri.” Lalu dijawab lagi: "Tidakkah orang-orang memberi kekuasaan di majelis-majelis karena anakmu dan ilmumu? Tidakkah kamu menjadi pemimpin di duniamu? Tidakkah orang memberi keringanan dalam jual belimu? Tidakkah mereka menghormati kamu? Tidakkah… Tidakkah…. Tidakkah…. dan seterusnya.”
Fudhail bin Iyadh berkata: "Selama seseorang hamba bergaul dengan sesama manusia maka, ia tidak lepas dan riya."Al Anthaki berkata: "Orang orang yang berhias itu ada tiga: berhias dengan ilmu, berhias dengan amal, berhias dengan meninggalkan hiasan dan inilah yang paling parah dan paling dicintai oleh setan."
Iyas bin Muawiyah, saudara Ibrahim at Taimi, masing masing tidak memberi pujian kepada yang lain dari belakang dan berkata "Pujian bagian dari pahala. Saya tidak suka pahala saudara saya berkurang, karena pujian kepadanya di kalangan manusia."Abu Abdullah al Anthaki berkata: "Barang siapa mencari ikhlas dalam amal-amal lahiriah dan ia memperhatikan manusia dengan hatinya maka ia telah mengharap kemustahilan karena ikhlas adalah air hati yang menjadi penghidupnya, sedangkan riya' mematikannya." Yusuf bin Asbat berkata: "Setiap kali aku menghitung hitung diri, yang tampak padaku adalah bahwa aku orang yang pamer belaka."
Hasan Basri berkata: "Barang siapa mencela dirinya di hadapan orang maka sebenarnya ia telah memuji diri dan yang demikian adalah bagian dan tanda riya'."
Ibnu as Sammak berkata, "Seandainya orang yang pamer ilmu dan perbuatannya memberitahukan kepada orang orang tentang apa yang ada dalam hatinya tentu mereka mengecamnya dan membodoh bodohkan akalnya."
Ibrahim bin Adham berkata: "Jangan menanyakan saudaramu tentang puasanya. Sebab jika ia menjawab "saya puasa", jiwanya senang dengan itu dan jika menjawab, 'saya tidak puasa jiwanva sedih dan keduanya bagian dari tanda riya'. Yang demikian merupakan pembeberan rahasia bagi yang ditanya dan mencari aib riya’ dari yang bertanya."
Abdullah bin Mubarak berkata bahwa orang laki-laki sedang berthawaf mengelilingi Ka'bah dan ia pamer kepada orang orang Khurasan. Lalu dikatakan kepadanya: "Bagaimana?" Ia menjawab: "Dia ingin orang-orang Khurasan berkata bahwa si Fulan orang dekat dengan Makkah biasa melakukan thawaf dan sa'i lalu ia senang."
Fudhail bin Iyadh berkata: "Kamu dulu menemukan orang memamerkan apa yang mereka lakukan lalu sekarang memamerkan apa yang mereka tidak lakukan." Apablia Fadhil membaca Firman Allah (SWT):"Dan kami menguji berita kamu," (Muhammad: 31) ia berkata ya Allah , sesungguhnya jika Engkau menguji, Engkau membeberkan kami dan menyingkap penutup rahasia kami dan Engkau Maha Pemurah."
Ayub as Sakhtayam berkata bahwa "memamerkan yang tidak kamu lakukan membuat kamu banyak berbicara dengan menggunakan kata-kata orang yang kamu ingat dan pembicaraannya tentang pengetahuan. Sebab yang kamu bicarakan itu bukanlah perbuatanmu dan bukan pula yang kamu simpulkan."
Ibrahim bin Adham berkata: "Allah tidak mensucikan orang yang senang kebaikannya diingat orang dan tidak pula Allah memberi keselamatan kepadanya."
Ikrimah berkata : "Banyakkanlah niat yang baik, sebab riya' tidak masuk ke dalam niat."
Abdullah bin Abbas (ra) berkata: "Sesuatu dari cabang Islam tidak membutuhkan niat setelah pemilikiiya memilih masuk Islam."
Abu Sulaiman ad-Darani berkata: "Setiap amal perbuatan yang dilakukan oleh orang beriman dari amal-amal Islam yang tidak menghadirkan niat maka niat Islam mencukupinya." (Saya katakan) yang demikian menguatkan pendapat madzhab Hanafi.
Na'im bin Hammad berkata: "Cambukan di atas punggung dengan cemeti bagi kami lebih ringan dari pada niat yang baik. Lalu Allah (SWT) mengkaruniakan kami niat yang baik."
Mansur bin al Mu'tamir dan Tsabit al Banani berkata: "Kami mencari ilmu dan kami tidak ada niat di dalamnya. Lalu Allah (SWT) mengkaruniai kami niat yang baik setelah itu, karena ilmu melahirkan keikhlasan bagi pemiliknya lalu ia menuntutnya hingga memperolehnya."
Hasan Basri berkata: "Masuknya ahli surga ke surga atau ahli neraka ke neraka adalah dengan amal, sedangkan kekebalannya di sana adalah dengan niat."
Abu Daud ath Thayalisi berkata: "Selayaknya bagi orang berilmu apabila menulis kitab agar memasang niat untuk membela agama bukan agar memperoleh pujian di antara teman teman atas tulisannya yang baik."
Dalam kitab Taurat dikatakan: "Semua amal yang Kami terima itu banyak meskipun sedikit dan semua amal yang Kami tolak itu sedikit meskipun banyak."
Fudhail bin Iyadh berkata: "Orang-orang yang berlaku benar ditanyakan tentang kebenarannya seperti Ismail dan Isa maka bagaimanakah dengan orang orang pendusta seperti kita?"
Daud ath-Tha'i suatu kali mengenakan pakaian terbalik. Lalu orang orang bertanya: "Tidakkah kamu ubah?" Ia menjawab: "Sesungguhnya aku memakainya semata karena Allah (SWT), maka tidak akan aku ubah."
Amirul Mu'minin Sayyidina Ali (ra) berkata: "Orang yang suka pamer mempunyai tiga tanda, yaitu malas bilamana sendirian, sholat nafilah dengan duduk, giat bilamana bersama orang-orang, dan menambah amal bilamana mendapat pujian dan mengurangi bilamana mendapat celaan."
Sufyan ats-Tsauri berkata: "Semua amal perbuatan yang aku tampakkan maka tidak aku anggap sama sekali karena kelemahan orang sepertiku berbuat ikhlas bilamana dilihat orang."
Ibrahim al-Taimi memakai pakaian anak muda. Lalu tidak seorang pun mengetahui bahwa ia adalah ulama selain kawan-kawannya. Ia berkata: "Orang yang ikhlas adalah yang menyembunyikan kebaikan kebaikannya seperti halnya menyembunyikan keburukan-keburukannya."
Sufyan ats-Tsauri berkata: "Sedikit orang alim yang halaqah pengajiannya berkembang besar lalu tidak kagum pada diri sendiri."
Suatu saat Hasan Basri lewat di depan Thawus sedang mengajar hadits di Masjidil Haram, dalam khalayak besar. Lalu ia mendekatinya dan berbisik di telinganya: "Jika dirimu bangga maka pergilah dari majelis ini." Lalu Thawus pun bangkit langsung pergi.
Suatu kali Ibrahim bin Adham lewat di halaqah Basyar al-Hafi lalu ia memberi kecaman karena begitu besarnya halaqah pengajiannya dan berkata: "Seandainya halaqah ini adalah halaqah salah seorang sahabat Nabi sekali pun, maka tidak akan bebas dari rasa bangga pada dirinya."
Sufyan ats-Tsauri tidak membiarkan majelis pengajiannya melebihi tiga orang. Suatu hari ia lengah lalu yang ia lihat pada halaqahnya menjadi besar. Maka ia pun terkejut dan bangkit seraya berkata: "Kami tergoda, demi Allah SWT, kami tidak sadar. Seandainya Amirul Mu'min Umar bin Khatab mengalami seperti saya dan ia duduk di mejelis ini tentu aku akan membangunkannya." Ia bilamana duduk untuk mengajarkan hadits tampak takut dan cemas. Sementara awan berjalan di atasnya lalu ia pun terdiam hingga awan itu berlalu. Ia berkata: “Aku takut awan itu ada batu batu yang akan dilemparkan kepada kami."Seseorang tampak tertawa di halaqah al-A'masy lalu ia membentaknya dan memintanya berdiri sera berkata: "Kamu mencari ilmu yang dibebankan oleh Allah swt. kepadamu dan kamu tertawa?". Kemudian ia tidak diperkenankan mengikuti pengajiannya selama dua bulan.
Abu Hurairah berkata: "Seandainya bukan karena adanya suatu ayat dalam kitab Allah SWT tentu tidak aku ceritakan bahwa: "Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjukmu setelah Kami terangkan untuk manusia dalam alkitab, mereka itu dilaknati Allah (SWT) dan dilaknati pula oleh semua makhluk yang dapat melaknati.” (al Baqarah: 159)"
Ketika Sufyan ats-Tsauri membiarkan tidak menjelaskan orang-orang berkata kepadanya tentang ayat ini, ia lalu berkata: "Demi Allah, seandainya aku tahu bahwa seseorang di antara mereka meminta ilmu karena Allah semata maka aku akan pergi ke rumahnya dan aku tidak akan menyusahkannya."
Suatu kali Sufyan bin Uyainah ditanya: "Tidakkah Anda duduk lalu menceramahi kami?" Ia menjawab: "Aku tidak melihat kalian layak jika aku memberi ceramah kepada kalian dan aku tidak melihat diri layak jika kalian mendengarkan dari aku. Antara aku dan kalian tidak lain ibarat kata orang: Kenalilah kekurangan yang ada lalu perbalkilah."
Abdullah bin Abbas ra. dengan kedudukan tingginya di bidang ilmu apabila selesai memberi pengajian tafsir Al Qur'an berkata: "Tutuplah majelis kita dengan istighfar."
Syidad bin Hakim berkata: "Di majelis hendaknya duduk untuk mengajar orang, jika tidak maka hendaknya melakukan tiga hal: mengingatkan mereka akan nikmat-nikmat Allah SWT untuk mereka syukuri, mengingatkan akan dosa-dosa mereka agar bertaubat, mengingatkan akan musuh mereka yaitu iblis agar mereka berhati-hati."
Ibnu Wahab berkata bahwa ia bertanya Imam Malik siapa sebenarnya orang yang ilmunya mendalam. Ia menjawab: "Mereka ialah orang-orang yang mengamalkan ilmu dan tidak ada sesuatu yang lebih mulia daripada ilmu karena pemiliknya mengendalikan para, penguasa dengan ilmunya itu."
Ibnu Mubarak ditanya: "siapa menurut anda manusia yang sebenarnya?" Ia menjawab: "Orang orang yang zuhud di dunia." Ditanya tentang siapa orang orang rendah, ia menjawab: "Orang-orang yang memakan dunia dengan ilmu mereka, perbuatan mereka dan agama mereka."
Hasan Basri berkata: "Para ulama adalah pelita zaman dan seorang yang berilmu adalah lampu zaman yang menerangi orang orang sezamannya. Seandainya tidak ada ulama maka manusia tentu seperti binatang."
Sufyan as Tsauri berkata: "Hidupnya ilmu adalah dengan bertanya tentang ilmu dan mengamalkannya. Sedang kekuatan ilmu adalah dengan meninggalkannya."
Ikrimah berkata: "Janganlah mengajarkan ilmu kecuali kepada orang yang memberi harganya." Ditanya tentang apa harganya itu, ia menjawab: "Yaitu orang berilmu meletakkan ilmunya pada orang yang mengamalkannya."
Salim bin Abu Ja'd berkata: "Tuanku membeliku (sebagai budak) seharga tiga ratus dirham. Lalu aku menekuni ilmu. Belum setahun berselang Khalifah datang berkunjung menemuiku tetapi aku tidak membukakan pintu untuknya."
Asy Sya'bi berkata: "Di antara adab ulama adalah apabila mengetahui ilmu mereka mengamalkan. Apabila mengamalkan mereka menekuni. Apabila menekuni mereka kehilangan. Apabila kehilangan mereka mencari. Dan apabila mencari mereka lari takut pada agama mereka dari fitnah." Dalam hadits disebutkan bahwa orang yang paling keras mendapatkan siksa pada hari kiamat adalah orang yang berilmu yang ilmunya tidak bermanfaat. Dalam hadits juga dikatakan bahwa akan datang suatu zaman dimana ahli ibadah mereka adalah orang orang bodoh dan ulama mereka orang orang fasik.
Abdullah bin Mas'ud berkata: "Barang siapa memberi fatwa atas persoalan-persoalan tanpa pengamatan dan renungan maka, ia telah menempatkan diri masuk neraka." Pada, kesempatan lain ia juga berkata: "Barang siapa memberi fatwa atas semua pertanyaan maka dia orang gila."
Hasan Basri berkata: "Janganlah menjadi orang yang menghimpun ilmu ulama, tetapi berjalan di dalamnya jalan orang orang bodoh."
Dikisahkan bahwa Isa (as) berkata: "Betapa banyak ilmu tetapi tidak semua bermanfaat dan betapa banyak ulama tetapi tidak semua mereka membimbing."
Ibrahim bin Utbah berkata: "Orang yang paling panjang penyesalannya pada hari kiamat adalah orang berilmu yang menyombongkan diri dengan ilmunya terhadap orang."
Amirul Mu'minin Umar bin Khatab berkata: "Yang paling aku khawatirkan atas umat ini adalah adanya orang alim lisannya tapi bodoh hatinya."
Sufyan ats-Tsauri berkata: "Ilmu dipanggil dengan amal bila menjawabnya, tetapi jika tidak maka ilmu itu pergi."
Abdullah bin Mubarak berkata: "Orang tetap alim selama ia meyakini bahwa di negerinya ada yang lebih alim. Tetapi jika, ia merasa bahwa dia yang paling alim maka sebenarnya ia bodoh."
Fudhail bin Iyadh berkata: "Sungguh aku menangis jika melihat orang alim dimainkan oleh dunia. Seandainya ahli al Qur'an dan hadits mempunyai kesabaran dalam zuhud di dunia maka orang tidak merendahkannya. Betapa buruk jika dikatakan bahwa si Fulan yang alim atau ahli ibadah telah datang berhaji atas biaya saudagar Fulan."
Yahya bin Mu'adz berkata: "Apabila orang alim mencari dunia maka cahaya keanggunannya sima."
Hasan Basri berkata: "Hukuman bagi ulama adalah dengan kematian hati sanubarinya. Kematian hatinya adalah dengan mencari dunia dengan amal akhirat. Lalu dengan demikian ulama itu mendekat pada hamba hamba dunia."
Said bin al Musayyab berkata: "Apabila kamu melihat orang alim masuk pintu para pejabat maka ia adalah pencuri."
Al-Auza'i berkata: "Tidak ada sesuatu yang lebih dibenci Allah (SWT) dari pada orang alim yang mengunjungi pejabat."
Makhul berkata: "Barang siapa mempelajari al-Qur'an dan mendalami agama kemudian berjalan ke rumah penguasa bukan untuk keperluan mendesak maka ia telah masuk neraka jahanam dengan sejumlah kesalahan."
Malik bin Dinar berkata: "Aku membaca beberapa kitab yang diturunkan (kitab suci) bahwa perbuatan yang paling sederhana terhadap orang alim yang mengejar dunia adalah tidak diberi kenikmatan munajat."
Amirul Mu'minin Umar bin Khattab berkata: "Apabila kamu melihat orang alim yang mencintai dunia maka ragukanlah agamanya sebab setiap pecinta senantiasa masuk ke dalam sesuatu yang ia cintai."
Hasan Basri berkata: "Sungguh aneh mulut yang berbicara, hati yang menyadari tetapi amal perbuatannya menentang."
Hatim al-Ashamm berkata: "Sesungguhnya manusia yang paling sengsara pada hari kiamat adalah orang alim yang ilmunya diamalkan orang tetapi ia sendiri tidak mengamalkannya,"
Ibrahim at-Taimi berkata: "Aku tidak menampilkan perkataanku pada perbuatanku maka aku temukan perbuatanku mendustakan perkataanku."
Ibrahim bin Adham berkata: "Kami telah mengungkapkan kata kata dengan baik, tidak terpeleset, keterpelesetan kita ada dalam perbuatan, tidak mengungkapkan dengan baik dalam perbuatan."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar