Rabu, 04 Juni 2008

Berprasangka Baik Kepada Allah - Wejangan Spiritual Syaikh Abdul Wahab as Sya'rani

Di antara akhlak kaum sufi adalah tidak merisaukan masalah rizki dan tetap berbesar hati meskipun tidak memiliki uang sepeser pun. Mereka tidak suka menyimpan makanan untuk hari esok. Apabila ada di antara mereka menyimpan makanan untuk besok, atau satu minggu, atau satu bulan atau sesuatu yang lain maka yang demikian itu atas nama keluarga bukan atas nama diri sendiri untuk menenangkan kegundahan yang barangkali terdapat didalam hati salah satu keluarga.
Akan tetapi, sebagaimana yang pernah aku dengar bahwa Ali al-Khawwash berkata: "Di antara kesempurnaan ahli ma'rifah adalah apabila ia mengetahui segala sesuatu tentang rizkinya maka hendaknya ia tidak menyimpannya melainkan bersabar hingga datang kepadanya pada waktu yang telah ditetapkan oleh Allah (SWT) untuk mendahulukan kekosongan tangan dari urusan duniawiah dari pada memegangnya, karena tidak ada manfaat untuk menyimpannya.
Aku pernah mendengar syaikh Ali an Nabtiti berkata: "Di antara syarat seseorang di antara para wali yang berkumpul dengan Nabi Khidir a.s adalah tidak menyimpan makanan untuk esok. Barang siapa menyembunyikan makanan untuk esok maka mereka tidak akan berkumpul dengannya meskipun ia melakukan ibadah jin dan manusia. Biasanya Khidir a.s mendatangi para ahli ma'rifah dalam keadaan jaga. Sedangkan di saat tidur. Khidir datang untuk mengajarkan adab yang tidak ia ketahui.
Abu Abdullah al-Yasri pernah ditemui khidir dalam keadaan jaga dan berbincang bincang lama kemudian terputus perbincangan itu dan kemudian ditemui di saat tidur. Ia menanyakan kepadanya mengapa terputus saat berjaga? Ia menjawab: "Kami tidak menemani orang yang menyembunyikan rizki untuk besok, dan kamu pernah mengatakan kepada istrimu pada waktu tertentu. "Ambilah dirham ini dan simpanlah hingga besok."Abu Abdullah lalu berkata: "Benar demikian, akan tetapi aku telah bertobat kepada Allah dari menyimpan sesuatu untuk esok hari." Setelah itu Khidir tidak mendatanginya lagi hingga meninggal dunia, sebagaimana dikisahkan ketika sakit sebelum menghembuskan nafas terakhir,
Uwais al Qarni berkata: "Allah tidak menerima amal hamba Nya yang risau dengan urusan rizkinya, sebab orang yang merisaukan urusan rizkinya sama halnya dengan curiga kepada Allah ta'ala dan orang yang mencurigai Tuhannya maka amalnya tidak diangkat." (Saya katakan) Kadang hamba merisaukan rizkinya dan berusaha mencarinya karena peduli pada perintah Allah agar bekerja, bukan karena mengeluh bahwa Dia menyianyiakannya. Sebaliknya perkataan Uwais tersebut tidak dimaksudkan untuk menentang yang demikian.
Al Busthami pernah ditanya: "Dari mana kamu makan dan minum?" Ia menjawab: "Dari mana saja sebagaimana lalat dan nyamuk diberi makan oleh Allah. Apakah Anda lihat bagaimana Dia memberi makan dan melupakan Abu Yazid (Al Busthami)?" Suatu saat ia shalat di belakang seorang imam, lalu imam itu suatu hari bertanya kepadanya: "Sesungguhnya aku lihat kamu tidak mempunyai pekerjaan, maka dari mana kamu makan?" Ia menjawab: "Biarkan aku mengulangi shalat yang sudah aku lakukan di belakangmu, kemudian aku akan menjawab pertanyaanmu, sebab Anda tidak mengenal Allah dan orang yang tidak mengenal Nya shalatnya tidak sah." (Saya katakan) Yang demikian itu tidak bertentangan dengan hadits: "Shalatlah di belakang orang (imam) yang baik,". Sedangkan imam shalat bagi kaum sufi berkaitan dengan kedudukan sempurna.
Patut diketahui bahwa dalil kaum sufi mengenai tidak menyimpan rizki adalah riwayat bahwa seseorang memberi hadiah kepada Rasulullah saw. tiga ekor unggas, lalu satu ekor diberikan untuk makan pelayannya. Keesokan harinya ia menyajikan daging unggas yang masih disimpan. Lalu beliau berkata: "Bukankah aku sudah melarangmu menyimpan sesuatu untuk esok sebab Allah pasti memberi rizki setiap esok." Demikianlah, patut kita menguji diri dengan tidak menyimpan sesuatu untuk esok.
Sabar terhadap Cobaan
Diantara akhlak kaum sufi adalah memilih kesengsaraan dan cobaan daripada kesenangan dan kenikmatan duniawiah, karena dengan kesenangan dan kenikmatan duniawiah mereka takut terpedaya olehnya tetapi jika dengan cobaan mereka tetap menghadap kepada Allah. Barang siapa mencintai Allah maka ia mencintai apa yang Dia tetapkan untuknya dan mengingat Nya dengan ketetapan itu.
Wahab bin Munabbih berkata: "Barang siapa yang tidak menganggap bencana adalah kenikmatan dan kesenangan adalah kesengsaran, maka dia bukanlah seorang faqih (yang mendalami agama)."
Pernah suatu ketika kelompok orang datang menemui Malik bin Dinar dan ia sedang duduk di rumah gelap dan di tangannya tepung adonan. Mereka berkata kepadanya: "Hai Malik, apakah tidak ada lampu? Apakah tidak ada sesuatu untuk membakar adonan itu di atasnya?" Ia menjawab: "Biarkan aku, sungguh demi Allah aku menyesal atas segala yang telah berlalu.."
Hasan Basri berkata: "Barang siapa di lapangkan oleh Allah di dunia dan tidak takut yang demikian itu dapat memperdayakannya, maka ia telah terpedaya."
Amirul Mu'minin Umar bin Khattab r.a. berkata: "Barang siapa setiap malam mempunyai sepotong roti kering (saja) yang ia makan maka ia bukanlah orang fakir, sebab orang fakir hanyalah yang tidak mendapatkan sesuatu."
Rabi' bin Anas pernah berkata: "Sesungguhnya nyamuk hidup tidak lapar, bilamana kenyang menjadi gemuk dan bilamana gemukmati." Begitujuga dengan anak Adam, bilamana kekenyangan dengan (kesenangan) dunia ia mati hatinya."
Hafsh bin Hamid berkata: "Para ulama, fuqaha', ahli hikmah dan para penyair sepakat bahwa kesempurnaan nikmat di akhirat tidak diperoleh kecuali dengan mengurangi kenikmatan di dunia."
Ketahuilah bahwa dalil yang digunakan oleh kaum sufi itu mengenai akhlak ini adalah riwayat bahwa Rasulullah saw. berkata: "Bagaimana aku menikmati (kesenangan duniawi) sementara malaikat juru terompet telah bersiap (memberi tanda kiamat) dan aku mendengar dengan pendengarannya bahkan dengan dahinya menantikan kapan diperintahkan lalu meniup sangkakala."
Maka dimaklumi jika orang orang sempurna melihat kedahsyatan hari kiamat dari dunia ini. Inilah yang membuat mereka menahan diri dari makan, minum, berhubungan suami istri dan lain sebagainya.
Menolak Pesona Dunia
Dan di antara akhlak kaum sufi adalah berlapang dada bilamana Allah menyingkirkan dunia dari hati mereka. Sebab hati mereka mencintai Allah dan RasulNya, maka dengan sendirinya membenci dunia. Urusan urusan duniawiah menghalangi kesempurnaan ibadah.
Oleh sebab itu. di antara akhlak tertinggi mereka adalah keberpalingan hati dari pesona duniawiah. Renungkan saudaraku, karena para sahabat r.a. adalah manusia yang paling banyak mencintai Rasulullah saw. maka bagaimanakah mereka itu hidup mencontoh beliau dalam menjalani hidup tanpa pesona dunia!Rasulullah pernah mendoakan untuk keluarganya karena begitu besar cinta mereka kepada beliau dan cinta beliau kepada mereka: "Ya Allah, jadikanlah rizki keluarga Muhammad sesuap makan!" Yang demikian itu agar hamba menyambut diri sepenuhnya kepada Allah tanpa rintangan, apalagi jika ia memiliki kesabaran dari rasa lapar umpamanya, maka ia akan sepenuhnya menyambut diri kepada Allah siang dan malam tanpa putus.
Abdullah bin Mubarak berkata: "Dunia adalah penjara orang mukmin dan amalnya yang paling agung di dalamnya adalah sabar dan menahan marah. Bagi orang mukmin, di dunia tidak mempunyai negeri, sebab negerinya yang hakiki hanyalah di akhirat kelak."
Abdullah bin Mas'ud r.a. berkata: "Akan datang kepada manusia suatu zaman dimana orang beriman lebih hina dari pada budak perempuan tua, lalu ia hidup sepertl ulat tanah dalam tanah."
Abdullah bin Abbas r.a. berkata: "Barang siapa yang dikungkung dari dunia oleh Allah selama tiga hari dan ia ridha dengan itu maka ia berhak mendapat surga."
Abdullah bin Bakar al Mazni berkata: "Sesungguhnya Allah benar benar memberi kepahitan di dunia kepada Hamba Nya yang beriman karena cinta kepadanya, seperti halnya wanita mencekoki anaknya dengan obat agar ia sembuh dari sakit." Yang demikian itu diambilkan dari riwayat yang mengatakan bahwa seorang laki laki berkata kepada Rasulullah saw.: "Sesungguhnya aku mencintai engkau, wahai Rasulullah." Lalu beliau bersabda: "Jika kamu benar benar mencintai maka bersiap siaplah untuk miskin (dengan menghabiskan harta yang ada untuk kebaikan). Sebab kemiskinan lebih cepat kepada orang yang mencintaiku daripada aliran air ke hilirnya."
Aisyah r.a. berkata: "Dunia bagi kami sulit dan suram hingga Nabi saw. wafat, lalu dunia tertuang kepada kami." Yakni karena keberkahan Nabi saw. kami dalam lindungan dari dunia. Tetapi ketika beliau wafat perlindungan itu tidak ada lagi dan kekurangan masuk kepada kami."

---(ooo)---

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar