Kamis, 05 Juni 2008

Banyak Diam dan Berbicara Secara Bijak - Wejangan Spiritual Syaikh Abdul Wahab as Sya'rani

Di antara akhlak kaum sufi, adalah lebih banyak diam dan berbicara hanya apabila membawa manfaat dan hikmah, sebagaimana, sabda Nabi (SAW): "Aku diberi karunia perkataan yang menghimpun (penuh makna) dan perkataan yang singkat."
Abu Hasan al-Harawi berkata: "Perolehan hikmah adalah dari empat perkara yaitu; menyesali dosa, siap menghadapi kematian, perut yang kosong, dan bergaul dengan alih zuhud di dunia."
Sufyan at-Tsauri berkata: "Muhammad bin Yusuf sibuk dengan beribadah lalu ia mewarisi hikmah. Sedangkan kami sibuk menulis ilmu, lalu kami mewarisi pertengkaran (yakni perdebatan)."
Yahya bin Muadz berkata: "Hikmah melayang terbang dari langit dan tidak turun ke hati orang yang di dalamnya terdapat perkara ini: takluk pada pesona dunia, terbawa angan angan esok hari, dengki dan iri terhadap sesama dan suka kehormatan atas manusia. Barang siapa yang dalam dirinya terdapat salah satu sifat ini maka hikmah tidak akan masuk ke dalam hatinya."
Di antara kata-kata hikmah yang diucapkan oleh mereka (ahli sufi) adalah kata-kata Hatim al-Ashamm: "Lihatlah apa yang dikatakan dan jangan melihat siapa yang mengatakan, dan ambilah hikmah dimana pun kamu bisa temukan. Sebab hikmah adalah pusaka orang beriman yang hilang. Jika kamu temukan maka ikatlah ia dan carilah yang lain lagi."
Imam Abu Hanifah (ra) berkata: "Barang siapa menerima dengan ikhlas apa yang ia dapatkan, maka Allah mengangkatnya di atas harapannya." Dan beliau juga berkata, "Anda hendaknya setiantiasa dengan hikmah, sebab dengan itu anda di kalangan miskin diperlakukan seperti raja."
Aktsam bin Sharif berkata, "Menjauhi pergaulan dari masyarakat menimbulkan permusuhan dari mereka, sedangkan bergaul dengan siapa saja menjadi perangan ke dalam teman yang tidak baik. Maka jadilah orang di tengah-tengah diantara yang menjauhi dan bergaul dengan siapa saja."
Imam Syafi'i berkata: "Orang yang paling sedikit ketentramannya adalah yang paling banyak iri dan dengkinya".
Seseorang berkata kepada Ahnaf bin Qais: "Sesungguhnya aku melihatmu, hai Ahnaf, sebuah cacat. Maka dengan cara apakah engkau menilai kaum mu?" Ia menjawab: "Karena aku hanya memperhatikan apa yang penting bagiku seperti perhatianmu pada hal-hal yang tidak penting bagimu (maka aku tidak perlu melakukan demikian)."Jika dikatakan apa ukuran kata-kata yang tidak perlu dijawab maka jawabannya adalah segala sesuatu yang tidak diperlukan menurut kebutuhan agama maupun kebutuhan duniawiyah. Wallahu a'alam.
Yahya bin Muadz pernah ditanya: "Ilmu, kearifan, dan hikmah hilang dari hamba?" Ia menjawab: "Jika dengan hal itu ia mencari dunia." Ia juga berkata: "Apabila hamba dunia mencela atau memuji anda maka ubahlah itu menjadi khalayan sebab mereka adalah orang orang yang bermata hati tumpul dan ketahuilah bahwa orang yang mencari penghidupan dunia dan ia merindukan zuhud lebih baik dari pada orang zuhud tetapi merindukan kehidupan dunia." Ia juga pernah berkata:: "Khalwah (menyendiri) orang yang sedang menempuh jalan sufi (murid) merupakan kegalauan bagi setan dan penglihatan orang merupakan dorongan bagi yang suka pamer." Ia Juga berkata: "Orang yang menutupi dosa-dosa Anda dan tidak membeberkan keburukan Anda maka ia adalah orang lebih mulia dari pada Anda. Sebab Anda melakukan seribu dosa antara Anda dan Allah, lalu menutupinya untuk Anda. Seandainya orang orang mengetahui aib anda satu saja, tentu mereka membeberkan keburukan anda itu di kalangan luas."
Abu Muhammad ar Radzamari berkata: "Apabila Anda mengumpulkan harta, maka Anda adalah seorang wakil dan apabila Anda memberi harta maka Anda adalah seorang rasul. Sebab wakil tidak berkhianat dan rasul tidak memberi."(Saya katakan) tidak berkhianatnya wakil adalah tidak menolak seseorang oleh karena kikir melainkan membelanjakannya sebagaimana yang diperintah oleh Allah dan tidak memberi karena suatu sikap bijaksana sebagaimana Allah melarang. Sedang tidak diberinya rasul adalah karena melihat kemurahan sebagai milik yang mengutus (Allah) dan tidak melihat dirinya mempunyai kemurahan atas apa yang ia berikan, kecuali sebagai syukur kepada Allah. Wallahu a'lam.
Abu Muawiyah al Aswad berkata: "Barang siapa mencari kebaikahn yang banyak dari Allah maka hendaklah ia tidak tidur malam hari atau tidak pula tidur siang". Ia juga berkata: "Barang siapa mencari kehormatan dari orang hina maka ia tidak mengejek selain kepada dirinya sendiri apabila ia dihina".
Imam Syafi'i (ra) berkata: "Orang yang paling zalim terhadap dirinya sendiri adalah orang yang merendah kepada orang yang tidak menghormatinya, menginginkan cinta kasih dari orang yang tidak mernberi manfaat kepadanya dan mau menerima pujian orang yang tidak ia kenal." Ia juga berkata: "Orang yang mengadu domba kamu kepada orang lain adalah orang yang menceritakan keburukan orang lain kepadamu karena ia juga akan menceritakan keburukanmu kepada orang lain, dan orang yang kamu buat senang akan mengatakan sesuatu tentang kamu yang tidak ada padamu. Begitu pula orang yang kamu buat marah akan mengatakan sesuatu tentang kamu yang tidak ada padamu." Ia juga berkata: "Barang siapa menikah maka ia telah naik bahtera dan apabila ia mempunyai seorang anak maka pecahlah perahu itu karenanya." Ia juga berkata: "Mencari rehat tidak mungkin bisa bagi orang yang mempunyai kebesaran jiwa. Sebab ia tetap lelah dengan kesibukan setiap waktu." Ia juga berkata: "Apabila saudaramu menduduki jabatan maka terimalah dari dia (dengan puas) sepersepuluh cinta kasih dari yang sebelumnya diberikan kepadamu."
Abu Umamah berkata: "Barang siapa menyakiti orang tak berdaya maka bersiaplah menerima pelecehan." Ia juga berkata: "Barang siapa bersabar diperlakukan buruk maka ia telah membukakan tempat untuk kebaikan." Ia juga berkata: "Barang siapa dalam hidupnya belum pernah mengantarmu pada kebaikan maka janganlah dibiarkan kedua matamu menangisi kematiannya." Ia juga berkata: "Apabila penggembala mau menerima perbuatan srigala maka anjing penjaga tidak menggonggong terhadap orang asing." Ia juga berkata: "Pengakuan menghancurkan penghasilan dan orang bangsawan (karena keturunan) terus tetap diberi ujian dengan adanya orang orang mulia (karena amal perbuatan)."
Abdullah bin Mas'ud (ra) berkata: "Ya Allah, lapangkanlah dunia untuk hamba tetapi jadikanlah hamba berzuhud di dalamnya, janganlah Engkau sempitkan dunia untuk hamba tetapi hamba beminat padanya". Ia juga berkata: "Ya Allah, jadikanlah hamba hari ini sibuk dengan kegiatan yang akan hamba pertanggungjawabkan esok." Ia juga berkata: "Sikap merendah mengangkat yang rendah dan sikap tinggi hati merendahkan yang tinggi. Barang siapa mencari kekuasaan maka kekuasaan itu membuat ia tak berdaya dan barang siapa lari dari kekuasaan maka kekuasaan itu mengikutinya." Ia juga berkata: "Jangan gembira dengan banyaknya keluarga sebab yang demikian adalah ulat pemakan harta dan amat memalukan."Fadhil bin Iyadh berkata: "Barang siapa banyak mencela maka sedikit sahabatnya. Barang siapa membantu pelaku dosa maka ia telah membantu perbuatan dosanya. Barang siapa meminta orang hina maka ia telah menghiha dirinya sendiri. Barang siapa mencari ilmu dari orang yang tidak mengamalkannya maka ia bertambah bodoh. Barang siapa mengajar orang dungu maka ia telah menyia nyiakan waktu tanpa arti. Barang siapa berbuat kebaikan bersama kekufuran maka la telah menyia-nyiakan nikmat."
Yahya bin Muadz berkata: "Menahan terhadap hal hal yang diharamkan menjadi keridhaan Allah; pada saat saat turunnya cobaan tampaklah sabar yang sebenarnya, pada lamanya perpisahan jauh tampaklah kesetiaan saudara, dengan adab ilmu dipahami, dengan meninggalkan kerakusan persaudaraan menjadi erat, dan dengan ketulusan niat pergaulan dengan orang orang pilihan menjadi langgeng." Ia juga berkata: "Barang siapa al Quran adalah pengikatnya maka pemisahnya hanyalah kematian. Barang siapa disembelih ibadah maka ia dihidupkan oleh keberuntungan akhirat. Barang siapa meninggalkan hasrat pada pesona dunia maka Allah menggantinya dengan hasrat pada pesona dzikir kepada Nya." Ia juga berkata: "Orang yang bersikap arif teman temanya menjadi segan padanya, dan barang siapa dikuasai oleh emosinya maka ia tenggelam dalam samudra kehinaan." Ia juga berkata: "Kekeruhan berkumpul lebih baik dari pada kejernihan perpisahan. Apabila orang dekat adalah musuh maka ia sebenarnya jauh dan apabila yang jauh penuh kasih sayang maka ia sebenarnya dekat."
Bisyr al Hafi berkata: "Apabila hal-hal yang sunnah berbenturan dengan yang wajib maka tinggalkanlah yang sunnah." Ia juga berkata: "Barang siapa tidak memandang baik terhadap sesuatu yang baik maka tidak akan memandang buruk keburukan." Ia juga berkata: "Bersama berselisihan tidak ada persatupaduan." Ia juga berkata: "Kita memberi bukan karena kemurahan melainkan karena sedikit bersyukur atas nikmat Allah. Kita memberi bukan karena sedikit amal (agar menjadi banyak) melainkan karena sedikit ketulusan. Kita memberi bukan karena banyak dosa (agar berkurang) melainkan karena sedikitnya malu (agar dikatakan dermawan). Kita memberi bukan karena sedikit istighfar melainkan karena sedikit menunaikan kewajiban dan cepatnya kembali pada dosa dosa tanpa hukuman langsung. Seandainya hukuman diberikan segera tentu kita segera berhenti dari semua maksiat".Pahamilah itu semua, saudaraku, dan bersihkan batinmu dari kecintaan berlebihan pada dunia dan pesonanya. Bilamana batinmu telah suci maka di sana Allah memberimu kearifan, hikmah dan Anda menjadi orang bijak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar