Rabu, 04 Juni 2008

Bahaya Menggunjing - Wejangan Spiritual Syaikh Abul Qasim al Qusyairi

Allah swt. berfirman:
"Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik saudaranya kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Menerima tobat lagi Maha penyayang."
(Q.s. Al Hujurat: 12).
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa ada seseorang laki-laki yang ikut duduk bersama Rasulullah saw, kemudian ia pergi. Salah seorang yang hadir berkata, "Alangkah lemahnya orang itu." Rasulullah saw. bersabda, "Engkau telah memakan daging saudaramu ketika engkau menggunjingnya."
Allah swt. mewahyukan kepada Musa as, "Barangsiapa meninggal dengan bertobat dari menggunjing, akan menjadi orang terakhir Yang masuk surga, dan barangsiapa meninggal dengan berterus-terusan melakukan pergunjingan itu, akan menjadi orang yang pertama masuk neraka."
Auf menuturkan, "Aku datang kepada Ibnu Sirin, aku menggunjing al Hajaj. Ibnu Sirin berkata, 'Sesungguhnya Allah swt. adalah hakim yang paling adil, maka sebanyak yang diambilnya dari al Hajaj, sebanyak itu Pula yang diberikan Nya kepadanya. Ketika engkau berjumpa dengan Allah swt. di akhirat nanti, dosa sekecil apa pun yang telah dilakukan Hajaj akan menjadi lebih besar bagimu daripada dosa terbesar yang telah dilakukan al Hajjaj'."
Diriwayatkan bahwa Ibrahim bin Adham diundang ke sebuah pesta, dan ia pun bersedia menghadirinya. Ketika orang orang membicarakan seseorang yang tidak hadir, mereka mengatakan "Ia seorang yang kurus kering dan tidak menarik." Ibrahim berkata "Inilah yang dilakukan nafsuku terhadap diriku: Kutemukan diriku dalam perkumpulan di mana pergunjingan dilakukan." Ia lalu Pergi begitu saia, setelah itu ia tidak makan selama tiga hari.
Dikatakan dikalangan sufi, "Barangsiapa menggunjing orang lain adalah seperti orang yang menyiapkan ketepil. Ia menembak amal-amal baiknya sendiri dengan perbuatannya itu ke Barat dan ke Timur. Ia menggunjing seseorang dari Khurasan, seorang lagi dari Hijaz, seorang lagi dari Turki, ia mencerai beraikan amal amal baiknya sendiri, dan ketika berdiri, tak satu pun amal baiknya."
Dikatakan dikalangan sufi, "Seorang hamba akan diberi catatan amalnya pada hari Kiamat, tetapi ia tidak melihat satu pun amal baik di dalamnya. la akan bertanya, 'Di mana shalat, puasa dan amal amal ibadatku yang lain?' Dikatakan kepadanya, 'Semua amalmu telah hilang karena engkau terlibat dalam pergunjingan'."
Dikatakan dalam riwayat Imam Ja'far as Shadiq, "Barangsiapa digunjing, Allah mengampuni separo dosanya."
Sufyan ibnul Husain mengabarkan, "Aku sedang duduk duduk dengan Iyas bin Mu'awiyah, dan menggunjing seseorang. Iyas bertanya kepadaku, Apakah engkau telah menyerang orang orang Romawi atau Turki tahun ini?' Aku menjawab, 'Tidak.' Iyas berkata, 'Orang orang Turki dan Romawi telah selamat dari seranganmu, sementara saudaramu sendiri yang Muslim tidak'!"
Dikatakan, "Seorang manusia akan diberi catatan amalnya di hari Kiamat, dan ia menemukan di dalamnya amal amal baik yang tidak pernah diperbuatnya. Dikatakan kepadanya, 'Ini adalah imbalan bagi gunjingan orang terhadapmu, yang tidak kamu ketahui'.
Sufyan ats Tsaury ditanya tentang sabda Nabi saw, "Sesungguhnya Allah membenci keluarga pemakan daging manusia." (H.r. Baihaqi). Sufyan mengomentari, "Yang dimaksud di sini adalah orang orang yang menggunjing; mereka memakan daging manusia."
Ketika menggunjing ditanyakan di hadapan Abdullah Ibnul Mubarak, ia berkata, "Jika aku mengunjing seseorang, niscaya aku akan menggunjing kedua orangtuaku, sebab merekalah yang paling berhak atas amal amal baikku."
Yahya bin Mu'adz berkata, "Jadikanlah keuntungan seorang Muslim terhadap dirimu berupa tiga hal ini: jika engkau tidak bisa membantunya, maka janganlah engkau mengganggunya; Jika engkau tidak bisa memberinya kegembiraan, maka janganlah engkau rnembuatnya sedih; Jika engkau tidak bisa memujinya, maka janganlah engkau mencari cari kesalahannya."
Dikatakan kepada Hasan al Bashry, "Si Fulan telah menggunjing Anda." Maka al Hasan lalu. mengirimkan kue kue kepada orang yang rnenggunjingnya, dengan pesan, 'Aku mendengar bahwa engkau telah melimpahkan amal baikmu kepadaku. Aku ingin membalas kebaikanmu."Diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah saw. Telah bersabda, "Jika orang melepaskan tabir rasa malu dari wajahnya, niscaya tidak akan ada masalah pergunjingan baginya." (H.r. Ibnu Addi dan Abu asy Syeikh)
Syaikh Junaid al Baghdadi menuturkan, "Aku sedang duduk duduk di masjid asy Syuniziyah, menunggui jenazah agar aku bisa ikut melaksanakan shalat jenazah. Orang orang Baghdad dengan berbagai kelasnya duduk menunggu iringan tersebut. Lalu aku melihat seorang miskin yang kelihatan bekas ibadatnya mengemis dari orang banyak. Aku berkata kepada diriku sendiri, 'Jika orang ini mau bekerja untuk memperoleh rezekinya, Itu akan lebih baik baginya.' Ketika aku kembali ke rumah, maka seperti biasanya, aku mulai melakukan wirid di malam hari, rnenangis dan shalat, serta amalan amalan lainnya. Tetapi semua wiridku itu terasa memberatkan jiwaku, maka aku lalu tidak dapat tidur, dan hanya duduk duduk saja. Ketika aku terjaga, kantuk datang kepadaku, aku melihat si pengemis itu. Kulihat orang orang sedang meletakkan tubuhnya di atas sehamparan kain yang lebar, dan mereka memerintahkan kepadaku, 'Makanlah daging orang ini, karena engkau telah menggunjingnya.' Keadaan orang itu diungkapkan kepadaku, dan aku memprotes, Aku tidak menggunjingnya! Aku hanya mengatakan sesuatu kepada diriku sendiri.' Lalu dikatakan kepadaku, 'Perbuatan seperti itu pun tidak layak. Pergilah kepada orang itu dan meminta maaflah!' Paginya aku terus mencari orang itu, sampai aku menemukannya sedang mengumpulkan dedaunan yang tersisa dalam air yang digunakan untuk mencuci sayur mayur. Ketika aku memberi salam kepadanya, ia bertanya, 'Wahai Abul Qasim, apakah engkau datang ke sini lagi?' Aku menjawab,'Tidak" Ia berkata, 'Semoga Allah mengampuni dosa kami dan dosamu'."
Syaikh Abu Ja'far al Balkhy berkata, "Seorang pemuda dari kalangan warga Balkh sedang berada di antara kami, ia bermujahadah dan mengabdikan dirinya untuk melayani Allah. Hanya saja ia terus menerus terlibat dalam gunjingan. Ia suka mengatakan, 'Si Fulan dan si Fulan itu demikian.' Pada suatu hari aku melihatnya sedang mengunjungi beberapa tukang memandikan jenazah yang disebut orang sebagai 'orang orang banci'. Ketika pemuda itu meninggalkan mereka, aku bertanya kepadanya, 'Wahai Fulan, apa yang telah terjadi padamu?' Ia menjawab, 'Beginilah akibatnya atas perbuatan menggunjing. Hal itu telah mencampakkanku dalam kehinaan ini. Aku telah tergila gila kepada salah seorang banci dan aku melayani mereka atas namanya. Semua amal ibadatku sebelumnya telah musnah. Maka doakan agar Allah swt. mengasihiku'

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar