Rabu, 04 Juni 2008

Antara Maqam Khidmah & Maqam Mahabbah - Wejangan Spiritual Syaikh Ahmad ibn Atha'ilah as Sakandari

“Ada kalangan yang diposisikan Allah untuk berkhidmah (bakti) kepadaNya, dan ada kalangan yang oleh Allah dikhususkan mencintaiNya. "Kesemuanya Kami anugerahi mereka, dan mereka itu mendapatkan anugerah dari Tuhanmu, dan anugerah Tuhanmu tidaklah terhalang”.
"Para hamba Allah ada yang masih dalam tahap sebagai hamba yang penuh berikhtiar untuk melakukan perjuangan dan pengabdian. Mereka ini adalah para Muridin, yaitu para hamba yang terus berharap agar bisa wushul kepada Allah Ta'ala.Mereka ini terdiri dari tiga golongan:
Kaum 'Ubbad, yaitu ahli ibadah

A-Zuhad, yaitu para ahli zuhud, yang disebut sebagai para Zahid. Kaum yang berusaha menepiskan dunia dari hatinya.

Kaum ahli Taat dan ahli kebajikan.
Kaum 'Ubbad adalah mereka yang selama ini tekun beribadah dengan tujuan agar menghasilkan suatu balasan dari Allah atas ibadahnya.
Sedangkan kaum Zahid adalah mereka yang lari dari kepentingan duniawi, membuang hasrat duniawi, demi konsentrasi jiwa pada Allah, agar kelak jiwanya bersih dari dunia, dan dunia hanya ada dalam akal, pikiran dan indera fisiknya belaka. Mereka terus menekuni dzikrullah pagi hingga sore hari, sore hingga pagi hari.
Ahli Ta'at adalah mereka yang berusaha menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi larangannya, terus menerus berbuat kebajikan agar apa yang dilakukan benar-benar selaras dengan perintah dan kehendakNya. Mereka terus berbuat ketaatan, karena mereka akan merasa tersiksa manakala terlempar dari kepatuhan pada Allah Ta'ala.Ketiga kalangan di atas menempuh jalur maqomat ubudiyah.
Sementara para hamba yang diposisikan secara istemewa melalui jalan Cinta, juga terdiri dari tiga golongan:

Al-Muhibbun (para pecinta Allah). Seorang pecinta, tandanya akan senantiasa memprioritaskan yang dicintai, di atas segalanya. Seorang pecinta diliputi kerinduan yang dahsyat untuk memadu kasih denganNya, agar ia sendiri merasa siap memanggil dan bermunajat denganNya, dengan panggilan Wahai Kekasihku…. Dan kelak ketika ia menemukan Sang Kekasih Yang Hakiki, ia meraih tahap yang disebut dengan Al-Mahbubin, yang dicintaiNya. Tahap agung tiada tara.

Al-'Arifun (para ahli ma'rifat). Seorang hamba yang ma'rifat kepada Allah Ta'ala, akan senantiasa menyaksikan Allah dimana-mana, dalam segala yang ada, di atas yang ada, di bawah yang ada, sesudah dan sebelum yang ada semesta ini.Kaum 'Arifun senantiasa Musyahadah (menyaksikan Allah) dalam apa pun, dan punck musyahadah itulah ma'rifat yang sesungguhnya. Musyahadah itu ada dalam jiwa, bukan dalam wacana dan akademika. Karena itu jika seseorang merasa ma'rifat tetapi tidak ada musyahadah, maka ma'rifatnya bisa fatamorgana.Banyak juga yang mengklaim atau diklaim telah ma'rifat hanya karena seseorang mengetahui apa yang ghaib dan tersembunyi. Klaim itu tidak benar sama sekali, karena orang yang ma'rifat tidak punya kepentingan dengan yang tersembunyi, rahasia sesuatu, kecuali yang disaksikan hanya Allah belaka.

Al-Washilun (orang-orang yang sudah sampai kepada Allah). Pertemuan Allah dengan hamba bukanlah pertemuan dzat dengan Dzat. Bukan pula pertemuan dua hal yang berbeda seperti imajinasi kita. Pertemuan itu tidak memberikan peluang kepada apa pun, karena "apa pun" itu tidak pernah ada, kecuali yang Ada hanya Allah Ta'ala. Ia tidak butuh apa pun. Al-Washilun adalah kaum teristemewa dari sebelumnya. (lihat asy-Syuura, 13)Allah menganugerahi derajat ruhani menurut kehendakNya tanpa ada yang menghalangi, mencegah sesuatu menurut kehendakNya tanpa didahului sebab akibat. Semua dariNya dan kembali kepadaNya.Oleh sebab itu kita semua harus belajar memandang semuanya sebagai anugerah, keutamaan dan rahmatNya.

---(ooo)---

2 komentar:

  1. 'apalah arti sebuah nama dan julukan.. zadid,abid..mahbub de..el...ell...
    tak lagi penting..
    diatas segalanya 'ENGKAU SATU' MAHA DAYA CINTA..
    YG DI CINTA OLEH SELURUH JAGAT RAYA...'CINTAMU'.. CINTAKU... ADAKAH BERBALAS OLEHMU.. DARIMU...???.

    BalasHapus
  2. Abu muhajir ilallah20 Oktober 2011 19.36

    Bagaimana aku MENCINTAIMU...begitulah kamu mencintaiku

    BalasHapus