Rabu, 04 Juni 2008

Adab Bersama Syaikh Spiritual - Wejangan Spiritual Syaikh Ibnu Ajibah al Hasani

Adab Dzahir :
Menjalankan perintah syaikh (walaupun bertentangan dengan keinginannya), menjauhi larangannya, walau pun tampaknya (secara lahiriyah) keliru.
Harus tenang , sopan dalam kharisma Syaikh ketika berada di hadapan Syaikh.
Tidak tertawa juga tidak mengeraskan suaranya, tidak pula memulai pembicaraan sebelum ditanya. Atau memahami bahasa isyaratnya, dengan pemahaman jiwa.
Tidak makan bersamanya (kecuali diajak), tidak makan di depannya, juga tidak tidur bersamanya, atau dekat dengannya.
Bergegas untuk berkhidmat padanya secara material maupun jiwanya menurut kemampuannya. Khidmat ini bisa menjadi penentu Wushul kepada Allah.
Mengikuti majlisnya, atau minimal sering bertemu. Karena pertemuan ini bisa mempercepat wushul kepada Allah.
Adab Bathin :
Meyakini keparipurnaannya, dan meyakini kemursyidannya, karena Syaikh telah menyatu dalam syariat dan hakikat, jadzab dan suluk secara paripurna. Dan Syaikh senantiasa berada pada jejak-jejak Rasulullah SAW.
Mengagungkan dan menghormatinya baik secara ghaib maupun hadir, dengan tetap mencintai di hatinya sebagai bukti pembenaran jiwanya.
Melepaskan logika nalar yang bersumber dari prasangka diri, prestasi dan pristis serta kapasitas ilmiah dan amaliyahnya, kecuali yang tumbuh dari hadapan Syaikhnya. Sebagaimana dilakukan oleh Syeaih Abul Hasan as-Syadzili ketika bertemu Syaikhnya. Siapa pun yang hendak menemui syaikhnya, hendaknya ia memandikan ilmu dan amalnya sebelum ia bertemu dengan syaikhnya, agar mendapatkan minuman yang murni dari lautan ilmunya yang mulia.
Tidak boleh pindah dari satu Syaikh ke Syaikh lain. Karena perpindahan ini sangat tercela menurut ahli thariqah. Namun, diperkenankan pindah dari Syaikh Ilmu Dzahir (syariat) ke Syaikh syariat lainnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar