Senin, 12 Mei 2008

Makna 165 Bilangan Dzikir

Wejangan Spiritual Maulana Syaikh Ghauts Hasan




A’udzubillahi minasysyaithanirrajiim
Bismillahirrahmanirrahiim
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala Alihi Muhammad wa Ashabihil Akhyaar.


Pengikut thariqah Hasan wa Husein berdzikir jahar sebanyak 165 kali, karena terdapat 165 ruas didalam tubuh manusia, sehingga diharapkan dzikir itu dapat mengisi seluruh ruas tubuh dan mengalir bersama darah, dzikir itu akan membentengi setiap ruas atau sekat kosong didalam diri manusia dari datangnya pengaruh iblis laknatullah. Dalam keadaan inilah terjadinya hubungan yang harmonis antara jiwa dengan jasad, dalam keadaan inilah setiap kegiatan apapun yang dilakukan oleh jasad didasari oleh kesadaran fitrah yang agung. Keadaan inilah yang menjadi makna Firman Allah :

“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar.”
(Qur’an surah al Anfal ayat 17)


Makna lebih mendalam dari bilangan 165 ini adalah bahwa angka satu itu melambangkan tauhid, angka 6 itu melambangkan rukun iman, dan angka 5 itu melambangkan rukun islam. Yang artinya bahwa seorang muslim pengikut thariqah ini harus mengamalkan tauhid yang diyakini oleh hatinya melalui 6 aspek rukun keimanan, dan dijabarkan oleh amal perbuatannya melalui 5 aspek rukun islam. Adapun angka 165 itu apabila dijumlahkan menjadi angka 12 yang merupakan jumlah huruf-huruf dalam kalimah “Laa Ilaha illa Allah”, hal ini menjelaskan bahwa seorang manusia harus senantiasa berdzikir kepada Allah 12 jam pada pagi dan siang hari serta 12 jam pada sore dan malam hari , dan angka 12 itu apabila dijumlahkan menjadi tiga. Artinya bahwa tauhid, rukun iman , dan rukun islam itu harus diaplikasikan melalui tiga perkara yaitu hati, lisan, dan perbuatan. Adapun angka 12 itu adalah jumlah dari huruf-huruf yang ada didalam kalimah “Laa Ilaha illa Allah”. Dimana kata “Imam” (Pemimpin) ada duabelas kali disebutkan didalam al Qur’an, kata “Khalifah” (Pemimpin) disebutkan duabelas kali didalam al Qur’an, kata “washi” (pewaris/penerima amanat) disebutkan duabelas kali didalam al Qur’an, kata “al Asyhad” (Orang-orang yang bersaksi) disebutkan duabelas kali didalam al Qur’an, kata “hum al muflihun” (orang-orang yang beruntung) disebutkan duabelas kali didalam al Qur’an, kata “Ashab al Jannah” (Penghuni surga) disebutkan duabelas kali didalam al Qur’an, kata “al Musthafun” (Orang-orang pilihan) disebutkan duabelas kali didalam al Qur’an, kata “al Ya’shimu” (Yang memelihara kesucian) disebutkan duabelas kali didalam al Qur’an, kata “ali” (Keluarga yang disandarkan kepada orang-orang terpuji) disebutkan duabelas kali didalam al Qur’an, kata “malik” (Penguasa) disebutkan duabelas kali didalam al Qur’an, kata “amil” (Pelaksana pemerintahan) disebutkan duabelas kali didalam al Qur’an, kata “al Mujtabun” (yang diijabah do’anya) disebutkan duabelas kali didalam al Qur’an, dan kata “al abrar” (Kebaikan / Orang yang baik) disebutkan duabelas kali didalam al Qur’an. Ketahuilah semua itu mempunyai arti bahwa makna dari angka 12 itu adalah mengisyaratkan mengenai keberadaan duabelas Imam yang menjadi pewaris dan penerus Rasulullah Saww. Hal ini tersirat dalam Firman Allah Ta’ala dalam Qur’an suci dan hadits-hadits Rasulullah Saww :


“Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat diantara mereka 12 orang pemimpin.”
(Qur’an surah al Maidah ayat 12)

Mengenai ayat tersebut diatas Imam Ahmad dan al Hakim meriwayatkan dari Masruq bahwa dia (Masruq) berkata :

“Kami sedang duduk suatu malam dirumah Abdullah (Ibnu Mas’ud) yang membacakan kepada kami al Qur’an. Kemudian seorang lelaki mengajukan pertanyaan, “Wahai ayah dari Abdurrahman, apakah engkau pernah bertanya kepada Rasulullah Saww berapa khalifah dari umat (Islam) ini ?” Maka Abdullah menjawab, “Tiada seorangpun bertanya mengenai masalah ini sebelum anda.” Sesungguhnya kami (Ibnu Mas’ud) telah menanyakannya kepada Rasulullah Saww, dan beliau bersabda. “Khalifah umat ini ada duabelas, seperti duabelas jumlah pemimpin (nuqaba’) bani Isra’il.”
(Musnad Ahmad bin Hambal jilid 1hal. 398 & 406 ; al Hakim – al Mustadrak – jilid 4, hal. 501 ; Fath al Bari jilid 16 hal. 339 ; Majma az Zawa’id jilid 5, hal. 190 ; Ibnu Hajar – Shawa’iq al Muhriqah – hal. 12 ; Tarikh al Khulafa – Jalaluddin al Suyuthi, hal. 10 ; al Jami al Shagir – Jalaluddin al Suyuthi, jilid 1, hal. 75 ; Muttaqi al Hindi – Kanzul Umal – jilid 13, hal. 27, dll)

Allah Ta’ala Berfirman :


“Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas kaum yang masing-masingnya berjumlah besar dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya: "Pukullah batu itu dengan tongkatmu!." Maka memancarlah dari padanya duabelas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap kaum mengetahui tempat minum masing-masing.”
(Qur’an surah al Araaf ayat 160)

“Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: "Pukullah batu itu dengan tongkatmu." Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap kaum telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.”
(Qur’an surah al Baqarah ayat 60)

Rasulullah Saww Bersabda :

“Agama Islam akan selalu tegak kukuh sampai tiba saatnya, atau sampai berlalu dua belas khalifah, yang semuanya dari Bani Hasyim.”
(HR. Muslim dari Jabir bin Samurah, Shahih Muslim jilid 6, hal. 3-4 ; Shahih Bukhari, jilid 4, hal. 165 ; Shahih Tirmidzi Bab Apa yang terjadi pada Khalifah melalui pintu fitnah ; Sunan Abu Daud jilid 3, hal. 106 ; Musnad Ahmad bin Hambal jilid 5 hal.86-90, 92-101, dan 106-108 ; Kanzul Umal jilid 13 halaman 26-27)

Diriwayatkan oleh Bukhari dari Jabir yang berkata :

“Aku pernah mendengar Rasulullah Saww bersabda akan ada duabelas Amir (pemimpin) dan kemudian beliau bersabda dengan kalimat yang tidak aku pahami. Dan ayahku berkata semuanya dari Bani Hasyim.”
(Fathul Bari jilid 16, hal. 338 ; Mustadrak al Shahihain jilid 3 hal.617)

Sehingga kesimpulan yang menjadi makna dari bilangan 165 itu adalah bahwa seorang muslim harus menguasai, mengamalkan dan menghayati tauhid (melambangkan angka 1), rukun iman (melambangkan angka 6), rukun Islam (melambangkan angka 5), dengan diaplikasikan melalui hati, ucapan, dan perilaku atau perbuatannya (melambangkan angka 3) dengan mengikuti tuntunan dari 12 Imam yang menjadi pewaris Rasulullah Saww. Dan ketahuilah bahwa mata air hakikat untuk umat Islam saat ini adalah Maulana Shahibuz Zaman Imam Abul Qasim Muhammad al Mahdi as.



Wa minAllahu at taufik, wa salallahu ala Sayyidina Muhammad wa alihi wasallam
Alhamdulillahirabbil alamin.

(Dikutip dari kitab Irsyad 'ala Salikin - Bimbingan Bagi Penempuh Jalan Ruhani)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar