Senin, 26 Mei 2008

Syahidnya Penghulu Pemuda di Surga

Maqtal Imam Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib
Syahid Agung Karbala

Bagian I

Shallallahu ‘alaika ya Aba ‘Abdillah Shallallahu ‘alaika ya Mazlum bi Karbala
Shallallahu ‘alaika ya Syahid bi Karbala Salam sejahtera bagimu ya Aba ‘Abdillah al-Husain bin ‘Ali (as.)

Salam Sejahtera bagimu wahai putra Rasulullah (saw.) Salam sejahtera bagimu wahai putra Fatimah az-Zahra’ (as.)

Salam kepada yang terputus kepala sucinya. Salam kepada darah Fatimah yang tertumpah. Salam kepada yang dicincang tubuh sucinya. Salam kepada belahan jiwa Rasul. Salam kepada cahaya Ali. Kepada salam adik Al-Hasan. Salam kepada Abu Abdillah. Salam kepada Al-Husain yang teraniaya.

Segala puja dan puji bagi Allah yang menampakkan diri-Nya kepada para hamba-Nya di dalam lubuk hati mereka. Yang menyampaikan kehendak-Nya dalam bentuk Sunnah dan Al-Kitab (Al-Qur’an). Yang menyucikan para kekasih-Nya dari gemerlap dunia yang penuh tipuan dan rayuan, lalu membawa mereka menuju cahaya kebahagiaan. Allah mengutamakan mereka atas semua makhluk karena kemuliaan dan keutamaan yang mereka miliki. Dialah yang menunjukkan kepada mereka sebaik-baiknya jalan.

Demi kemuliaan tersebut, jiwa para syuhada Karbala melayang jauh tinggi, mereka berebut untuk menyongsong maut, dan akhirnya kawanan tombak dan sayatan pedang mencabik-cabik badan mereka.

Jika tidak ada perintah Al-Qur’an dan sunnah untuk bersedih dan berduka, atas gugurnya panji kebenaran dan terpuruknya fondasi kesesatan, sebagai perwujudan rasa sedih akan hilangnya kesempatan mendapatkan karunia tersebut dan rasa perih menyaksikan pembantaian seperti ini, kita akan senantiasa menyambut kenikmatan agung Ilahi ini dengan kegembiraan.

Ketika rasa sedih dan duka merupakan ridha Allah, Sang Raja pada hari kebangkitan, dan kecintaan para hamba saleh, karenanya kita mengenakan busana duka dengan berlinang air mata, seraya berkata pada mata kita “Deraskan cucuran air matamu dalam tangisan yang panjang.” Dan kepada hati, kita katakan “Lakukanlah sesuatu yang biasa dilakukan para wanita ketika ditimpa musibah”.

Karena pusaka peninggalan Nabi Saww telah disia-siakan di hari Asyura’. Wasiat beliau pun mengenai keluarga dan keturunannya dikoyak-koyak oleh tangan umat dan musuh-musuhnya.
Sungguh betapa besar musibah yang menyayat hati ini, tragedi yang melahirkan kesedihan mendalam, bencana yang mengecilkan segala cobaan, tragedi yang mencabik-cabik simbol ketakwaan, anak-anak panah yang menumpahkan darah risalah Ilahi, tangan-tangan yang menggiring tawanan kebesaran, bencana yang menundukkan kepala setiap insan mulia, cobaan yang mengorbankan jiwa sebaik-baiknya keluarga, pesta para musuh yang mengguncang hati para jawara, tragedi yang menyedihkan bagi Jibril, dan kejahatan besar di sisi Tuhan Yang Maha Agung dan Jalil.

Bagaimana tidak, bukankah darah daging Rasulullah Saww terkapar di padang pasir. Darahnya yang suci tertumpah oleh pedang-pedang kesesatan. Wajah putri-putri beliau ditatap oleh mata para musuh Tuhan. Mereka menjadi tontonan khalayak ramai. Jasad para syuhada yang agung terlucuti dari pakaiannya. Raga mereka yang kudus tersungkur di atas tanah. Sungguh musibah besar yang menyayat hati Nabi dengan anak panah yang menancap pada kalbu hidayah.

Ketika orang yang bersedih bosan dengan kesedihan, para pembawa kabar datang dengan kesusahan dan duka.

Oh, andaikan saja Fatimah a.s. dan ayahnya menyaksikan putra dan putri mereka yang terampas, terluka, diseret dan disembelih. Para putri Nabi pun memukul2 tubuh mereka karena kebingungan ditinggal oleh orang-orang yang mereka cintai. Kerudung kepala mereka terbuka. Mereka memukuli pipi sendiri. Tak ada yang dapat mereka lakukan lagi, selain berlomba menguras tangisan dan jeritan, karena berpisah dari para penjaga dan pembela kehormatan mereka.

Wahai insan yang berbudi luhur, wahai pribadi dengan akal dan pikiran jernih, ceritakanlah pada diri kalian tragedi yang menimpa keluarga ini. Tangisilah mereka demi keridhaan Tuhan. Bantulah mereka dengan cinta dan air mata. Bersedihlah karena tidak dapat menolong mereka.

Mereka adalah pusaka peninggalan penghulu umat manusia, buah hati Rasulullah Saww, cahaya mata Fatimah Az-Zahra’. Lisan suci Rasulullah Saww telah banyak menyebutkan kemuliaan mereka. Ayah dan ibu mereka lebih beliau utamakan dari seluruh umatnya

Sungguh mengherankan, bagaimana para durjana itu sampai hati membalas kebaikan kakeknya Saww dengan kekufuran, padahal zaman belum jauh berselang. Mereka telah mengeruhkan kehidupan beliau dengan menyiksa buah hatinya, dan meremehkan beliau dengan menumpahkan darah putra kesayangannya.

Mana bukti kesetiaan mereka pada wasiat beliau untuk memelihara keluarganya? Jawaban apakah gerangan yang hendak mereka berikan kala berjumpa dengan beliau kelak? Padahal mereka telah menghancurkan bangunan yang beliau dirikan, dan Islam meneriakkan jeritan duka?!

Bagaimana hati tidak akan hancur kala mengingat tragedi ini? Sungguh mengherankan bagaimana umat melupakannya! Apa yang akan dijadikan alasan oleh mereka yang mengaku beragama Islam dan beriman padahal lalai akan tragedi menyayat hati yang menimpa agama?!
Bukankah mereka tahu bahwa Muhammad adalah keluarga korban pembantaian ini? Bukankah putra kesayangan beliau dibantai dan dicampakkan di padang sahara? Bukankah para malaikat datang mengucapkan bela sungkawa kepada beliau atas musibah besar yang beliau alami? Bukankah para Nabi bersama beliau dalam duka dan nestapa?

“Apakah jawaban kamu, jika Nabi kamu menanyakan kepadamu,
Apa yang sudah kamu perbuat, Wahai umatku yang hidup sepeninggalku,
Kamu apakah kaum keluargaku setelah aku tiada, Ada yang menjadi tawanan, ada yang berlumuran darah? Inikah yang kamu berikan kepadaku, Setelah aku menunjuki kamu agar kamu selamat, Kamu membalas dengan perlakuan yang buruk kepada keluargaku?”

“Wahai orang yang membunuh “Husain” tanpa berpikir, Bergembiralah engkau menerima siksa dan kutukan. Semua penghuni langit mendoakan agar kamu binasa, Baik nabi, atau malaikat ataupun umat, Kamu sudah dikutuk dengan ucapan Nabi Daud, Dan juga Nabi Musa, dan Nabi Isa membawa Injil “.

“ Aku berjalan perumahan keluarga Nabi Muhammad Saw
Aku tidak melihat penghuninya lagi,
Seperti ramainya dahulu pada waktu dibangun....!
Ya, semogalah Allah tidak menjauhkan rumah dan penghuninya,
Walaupun kini penghuninya sudah sepi!
Sungguh, keturunan Hasyim yang syahid di padang Karbala itu,
Menyebabkan kehinaan menimpa kaum muslim,
Dahulu mereka merupakan perempuan harapan,
Tetapi kini sudah menjadi bencana yang menimpa kemanusiaan!
Ya, sungguh bencana itu sangat besar dan agung......!”

“ Jenazah, yang ditangisi oleh Fatimah, Serta ayahnya, dan juga Ali yang mempunyai ketinggian,
Andaikan Rasulullah saw masih hidup, Tentu beliau sudah duduk menerima ucapan belasungkawa, Mereka membawa kepala Husain ke mana-mana. Kepala cucu yang mereka membaca salawat kepada kakeknya, Entah dengan ikhlas, ataupun dengan terpaksa!

Ya Rasulullah, andaikan Rasulullah melihat cucu-cucunya, Ada yang terbunuh , dan ada yang tertawan, Tentulah Rasulullah menyaksikan pemandangan, Yang menyebabkan hati terharu dan air mata berlinang, Sungguh, perbuatan seperti itu tidak pantas dilakukan, Sebagai membalas jasa kepada Rasulullah saw!

Oh umat yang durhaka, diktator yang melanggar , yang menyembelih cucu-cucu Rasulullah saw,
Seperti menyembelih kurban pada hari ‘Idul Adha, Kemudian menggiring kaum – wanitanya seperti tawanan, Sepanjang jalan mereka menjerit dan meraung, Memanggil Rasulullah saw berulang kali, Disela-sela letihnya berjalan dan beratnya langkah !”

Wahai para insan yang setia kepada Rasulullah, mengapa kalian tidak menyertai beliau dengan cucuran air mata?

Demi Allah, wahai pencinta putra Fatimah, iringilah beliau dalam meratapi jasad-jasad pembantaian ini! Berusahalah untuk mencucurkan air mata beriringan. Tangisilah kepergian pemimpin Islam ini, agar anda mendapatkan pahala orang yang bersedih atas musibah yang menimpa mereka dan meraih kebahagiaan di hari perhitungan awal kelak!

Diriwayatkan dari junjungan kita Imam Baqir a.s., bahwa beliau bersabda : “Imam Ali Zainal Abidin a.s. mengatakan:
“Seorang mukmin bila ia menangisi pembantaian Imam Husain a.s. hingga air mata membasahi pipinya, kelak Allah akan memberinya kamar-kamar di surga yang akan dia tempati selama-lamanya. Bila seorang mukmin menangisi gangguan dan penganiayaan yang dilakukan para musuh terhadap kita, kelak Allah akan menempatkannya di tempat para siddiqin. Dan jika seorang mukmin merasa resah dan tersiksa karena gangguan yang kita derita, maka Allah akan menjauhkan segala gangguan darinya dan akan menjauhkannya dari kemurkaan api neraka di hari kiamat”.

Diriwayatkan bahwa Imam Ja’far ash Shadiq a.s berkata:
“Barang siapa yang mendengar musibah yang menimpa kita lalu menitikkan air mata walaupun sekecil sayap lalat, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.”

Imam Ja'far Shadiq as. berkata:
Setelah peristiwa Karbala, Ali Ibnu Husain as. terus menangis untuk Imam Husain as. selama dua puluh tahun. Dan setiap kali disediakan hidangan di hadapannya, segera itu pula beliau mulai menangis.

Imam Ali Ridha as. berkata:
Ketika datang bulan Muharam, ayahku Imam Musa Kazhim as. tak pernah terlihat tertawa. Kedukaan dan kesedihan terus meliputinya pada sepuluh hari pertama Muharam. Dan di hari kesepuluh, di mana saat itulah hari tragedi, beliau sangat dirundung duka cita mendalam dan tangisan yang memilukan.

Imam Muhammad Baqir as. berkata:
Amirul Mu’minin Ali as. bersama dua pengikutnya sekali waktu pernah melintas di padang Karbala. Saat itu, Beliau pun meneteskan air mata dan berucap: “Inilah tempat peristirahatan hewan-hewan mereka, di sini pula tempat barang-barang mereka diletakkan, dan di tanah ini pula darah mereka mengalir. Berkah bagimu wahai bumi, di mana darah para kekasih tertumpah di permukaanmu.”

Imam Ja'far Shadiq as., saat duduk di atas sajadah berdoa bagi mereka yang berduka dan pergi berziarah untuk Ahlulbait as. Doa beliau:
Ilahi, ampunilah mata-mata mereka yang meneteskan air mata kedukaan untuk kami dan hati-hati mereka yang telah tertahan dan terbakar pedih untuk kami. Juga ampunilah mereka atas ratap tangis mereka yang dipersembahkan untuk kami.

Rasulullah Saww berkata kepada Sayyidah Fatimah as.:
Pada hari kiamat, engkau akan memberi syafa’at bagi kaum perempuan, dan aku akan memberi syafa’at bagi kaum laki-laki. Dan bagi setiap orang yang menangis atas tragedi Al Husain, kami akan meraih tangannya dan membimbingnya ke surga.

Imam Ali as. berkata kepada Ibnu Abbas:
Pada suatu waktu, Beliau melewati padang Karbala, Nabi Isa as. duduk dan mulai menangis. Para pengikutnya yang melihat Isa menangis, turut pula menangis, tapi mereka tidak mengetahui alasan mereka menangis. Mereka pun bertanya: “Wahai Ruhullah! Apa gerangan yang membuat engkau menangis?” Isa as. berkata: “ Tidakkah kalian tahu tanah apa ini?” Para pengikutnya menjawab: “Tidak.” Lalu Beliau berkata: “Ini adalah tanah tempat putra Muhammad Saww akan terbunuh.”

Imam Ja’far as berkata;
“Kami, Para Ahlulbayt, Rasul, Imam Ali, dan nenekku Fatimah as akan menghadiri setiap majlis yang diadakan utk alhusain as.”

Imam Sajjad as berkata:
“ Sesungguhnya untuk pamanku Abu Fadhl Abbas akan mendapat satu kedudukan di hari kiamat yang membuat iri semua syuhada.”

Ketika Zainab dilahirkan, Rasul menggendongnya dan mencium telapak tangan mungilnya sambil mencucurkan airmata seraya Bersabda: “barangsiapa yang menangisi bayi ini, maka Allah akan menenangkan hatinya dihari kiamat nanti.”

Pada suatu hari Imam Ali as memangku Zainab ketika masih berumur 4 tahun dan waktu itu fatimah sudah wafat. Imam berkata: “Wahai putriku, aku akan ceritakan padamu apa yang akan menimpamu suatu hari nanti” Zinab menjawab: “Aku sudah mengetahuinya abah.” Imam bertanya:”darimana kau tahu?” Zainab menjawab “Dari ibuku Fatimah.”

Pada suatu hari, Imam Sajjad as dengan langkah lunglai memeriksa hewan2 yang akan dikorbankan di hari idul adha, diiringi dengan linangan airmata, beliau berkata:”Berilah minum ternak2 kalian sebelum di sembelih. Sungguh ayahku disembelih dalam keadaan kehausan.”

Suasana mencekam di kota Madinatur Rasul karena ancaman Yazid atas nyawa Husain menyebabkan Husain berpikir untuk pergi ke kota Makkah. Sebelum pergi, Husain as. berkunjung ke pusara datuknya di tengah malam gulita, sambil berkata:

Assalamu ‘alika ya Rasulullah! Anal Husain ibnu Fathimah.
Salam Sejahtera kepadamu wahai Rasulullah Aku adalah Husain putranya Fatimah. Aku adalah anakmu dan anak dari putrimu. Aku adalah cucumu yang kautinggalkan kepada umatmu. Saksikanlah wahai Nabi Allah bahwa mereka telah menghinaku dan mengabaikan hak-hakku serta tidak memeliharaku. Inilah keluhanku kepadamu hingga kelak aku berjumpa denganmu...”
Kemudian Husain berdiri shalat, ruku’ dan sujud sepanjang malamnya di samping pusara kekasihnya Rasulullah saw. Usai shalat Husain berdoa:

Allahumma! Inna hadza qabru nabiyyika Muhammad... Ya Allah! Ini adalah pusara Nabi-Mu Muhammad, sementara aku adalah putra dari putrinya Muhammad. Engkau maha tahu derita yang apa kini datang kepadaku. Allahumma ya Allah! Sungguh aku cinta pada yang ma’ruf dan benci pada yang munkar. Aku bermohon kepada-Mu ya Dzal Jalali wal Ikram, demi pusaran ini dan demi penghuninya, agar Kau pilihan untukku sesuatu yang di dalamnya Kau ridha padaku.””
Menjelang subuh, Husain kemudian meletakkan kepalanya ke pusara datuknya. Di sana kemudian ia sejenak tertidur. Dalam tidur ia melihat datuknya datang dengan serombongan malaikat kepadanya. Dipeluknya Husain erat-erat ke dadanya. Diciumnya antara kedua matanya. Kemudian Nabi berkata, “Wahai putraku Husain! Sepertinya sebentar lagi kau akan terbunuh dan tersembelih di sebuah tempat dan bumi karbun wa bala’. Di sana kau dikepung oleh sekumpulan orang dari umatku, dalam keadaan kau haus dan tidak diberi air minum. Tapi mereka masih mengharapkan syafaatku di hari kiamat. Demi Allah, kelak aku tidak akan memberi mereka syafaat di hari kiamat...”

Setelah kunjungan terakhir ke pusara Rasulullah saw., Husain kemudian berangkat ke kota Makkah bersama seluruh anggota keluarganya. Syekh Mufid meriwayatkan, di saat Husain meninggalkan kota Madinah. Husain tiba di kota Makkah pada tanggal 3 Sya’ban tahun 60 H. Di sana beliau dan keluarganya menetap sepanjang bulan Sya’ban, Ramadhan, Syawal dan Dzulkaidah.



Bagian II

KARBALA seperti kata sebuah riwayat adalah rangkaian dari dua kata “ karbun” dan “bala” , yang artinya adalah kesedihan dan derita .

Karbala adalah syiar jihad keluarga Nabi yang mulia di dalam menegakkan kalimat al haq.
Karbala adalah simbol perjuangan Ahlulbait Nabi dan para pengikutnya di dalam upaya memisahkan antara Islam Muhammad dan Islam Umawi.

Keagungan peristiwa Karbala dengan jelas terbukti melalui kehadiran Imam Husain as beserta sejumlah keluarga dan sahabatnya di sana dalam rangka menegakkan kebenaran dan menumbangkan kebatilan.


Al-Husain Tiba di Karbala
Telapak kaki Al-Husain dan karavannya kembali memahat padang ilalang menghadang badai gurun dan menangkal sinar surya. Al-Hurr dan pasukannya mengikuti dari belakang. Bukit-bukit pasir pun menjadi rata, sementara waktu terus bergulir. Tiba-tiba kuda Al-Husain berhenti, enggan melanjutkan jalannya. Al-Husain mencoba kuda kedua hingga ketujuh, namun tak juga berhasil.
“Apa nama daerah ini?” tanya cucu Rasulullah itu.
“Al-Ghadiriyah,” jawab mereka serentak.
“Apa nama kedua bagi daerah ini?” tanyanya lagi sembari menatap ke tanah.
“Nainawa,” sahut mereka.
“Adakah namanya yang ketiga?” tanya Al-Husain seakan tak percaya.
“Syathil’ul-Furat,” jawab sebagian mereka.
Mata Al-Husain menyapu padang luas itu dari atas kudanya
“Adakah nama lagi selain itu semua?” tanyanya lagi penasaran.
“Karbala,” jawab salah seorang dari mereka.

Al-Husain menghela nafasnya dalam-dalam.”Inilah karb (duka) dan bala (bencana)!Di bumi tandus inilah tangisan dan erangan gadis-gadis ‘Ali disambut tawa! Di sinilah jerit parau putri-putri Muhammad akan membumbung menembus dinding angkasa! Di sinilah kemah-kemah keluargaku akan hangus! Di sinilah kebenaran dan para pendambanya akan tersungkur di bawah kaki para pemerkosa nurani! Di sinilah cawan-cawan madu merah surgawi akan dibagi-bagikan! Di sinilah aku bersua dengan Muhammad! Benar ucapan kakekku yang telah menjanjikan kematian indah untuk di sini! Di sinilah aku akan dikunjungi! Turunlah dan dirikan tenda!” pekik Al-Husain berapi-api.

Esok pagi, Al-Husain keluar dan mengendap kemah pasukan ‘Umar bin Sa’d seraya berteriak:
“Hai, dengarkan! Luangkan sedikit waktu untuk mendengar sejenak ucapanku. Puji atas Allah dan shalawat atas Nabi serta keluarganya. Telusurilah garis keturunanku lalu renungkanlah siapa diri kalian, dan renungkanlah adakah sedikit alasan di benak kalian untuk mengalirkan darahku di bumi ini? Aku adalah anak putri Nabi kalian; aku adalah putra pendamping pilihan Rasulullah dan Mukmin pertama. Bukankah Hamzah sang syahid besar adalah pamanku? Bukankah Ja’far sang merpati surga adalah pamanku? Tidakkah kalian pernah mendengar sabda kakekku bahwa Al-Hasan dan aku adalah penghulu para pemuda surga dan bahwa telah aku tinggalkan untuk kalian dua pusaka yang sangat berharga: Alquran dan ‘itrah Ahli Baitku? Jika kalian membenarkannya, maka itulah kebenaran yang mesti diterima. Jika tidak, tanyalah pada Jabir bin al-Anshari, Abu Sa’id al-Khudri, Sahl bin Sa’idi, Zaid bin Arqam, dan Malik bin Anas yang telah menyaksikan dan mendengarnya dari kakekku Rasulullah!” Suara Al-Husain terdengar cukup keras hingga tak seorang pun yang tidak mendengarnya.


Peringatan Terakhir Al-Husain

Sepuluh Muharam, fajar menyingsing. Usai melaksanakan shalat Subuh, Al-Husain mengenakan pakaian perang dan sorban kakeknya. Pedang Dzulfiqar di genggamannya. Ia bangkit dan menghadap pasukan musuh yang sebagian besar terdiri dari warga Kufah.

“Hai kalian semua, ketahuilah, usia dunia sangatlah singkat, dan seluruh isinya akan berakhir dengan kemusnahan tahap demi tahap. Kalian telah memahami hukum Islam, membaca Alquran, dan mengakui bahwa Muhammad adalah duta Tuhan Yang Maha ada, namun kalian sungguh berani membantai putranya secara keji dan aniaya. Hai, tidakkah kalian lihat sungai Efrat menggeliat laksana ular, dan airnya mengalir deras diminum oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, bahkan anjing dan babi. Sementara keluarga Rasul sekarat dan mati dijerat dahaga!” kecam cucunda Nabi itu.

Suara Al-Husain membahana menghunjam dada pasukan musuh.

Suhu ketegangan di medan tandus itu kian meningkat. Dengus nafas para pengikut Al-Husain mengumpulkan para pengikutnya. Setelah memanjatkan puji atas Allah dan shalawat atas Rasul dan keluarganya, Al-Husain berkata:
Wahai kaum Mukminin, aku sangat bangga mempunyai pengikut setia seperti kalian. Tidak ada pengikut setia seperti kalian. Aku sangat bangga mempunyai keluarga setia seperti kalian. Tidak ada keluarga sesetia dan semulia kalian. Semoga Allah membalas jasa baik kalian dengan ganjaran yang sangat besar. Firasatku membisikkan bahwa inilah hari terakhir dalam hidupku. Kalian telah membuktikan kesetiaan dengan mendukung dan menyertai perjalananku hingga di bumi ini. Aku tidak menuntut kalian untuk tetap bersamaku di sini hari ini. Pagi hari ini, sebelum pertempuran meletus, adalah kesempatan terakhir bagi kalian untuk meninggalkanku di sini demi keselamatan kalian. Semoga Allah membuka jalan yang dapat menghindarkan kalian dari bahaya. Ketahuilah, mereka hanya mengincarku, bukan kalian!

Angin gurun menyapu permukaan bumi dan suara Al-Husain yang memilukan beriringan menusuk pori-pori dan hati sanubari. Mata para pengikut Al-Husain tergenang dalam air hangat membilas pipi dan cambang mereka.

Keluarga Al-Husain, terutama kemenakan-kemenakannya dan putra-putra Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib serta budak-budaknya, menolak tawaran beliau.
“Kami tidak akan membiarkan Anda menghadapi musibah sendirian,” sahut mereka.
Kepada putra-putra Muslim bin Aqil bin Abi Thalib, Al-Husain berkata dengan nada haru: “Cukuplah pengorbanan kalian dengan kematian Muslim yang sangat mengenaskan itu!” ujar Al-Husain di hadapan para putra Muslim.

“Apa yang akan dibicarakan oleh orang-orang apabila kami biarkan Anda sebatang kara menjadi mangsa binatang-binatang berwajah manusia itu? Jiwa dan raga kami sangatlah murah dibanding kebenaran yang Anda perjuangkan. Apa arti hidup di dunia setelah kematianmu!’ balas mereka.

Bola mata Al-Husain menitikkan butir-butir hangat mendengar jawaban kemenakan-kemenakannya itu.

Kini giliran Muslim bin Awsijah maju menghampiri cucu Rasulullah itu.
“Dengan bahasa apa kita akan meminta maaf kepada kakek, ibu dan ayahmu, andai kami biarkan Engkau mati tercabik-cabik oleh hujan pedang seorang diri. Demi Allah, akan kutebas leher-leher mereka hingga pedangku ini patah. Bila pedangku patah dan terlepas, aku akan memerangi mereka dengan batu, agar Allah tahu bahwa aku membela cucu Nabi-Nya. Wahai cucu Rasulullah! Andaikan aku terbunuh dan dihidupkan kembali, maka aku tetap berperang hingga terbunuh. Andaikan aku dihidupkan kembali dan terbunuh hingga tujuh kali, maka aku tak akan meninggalkanmu, apalagi hanya sekali dan setelah itu kemuliaan akan menjadi bagianku!” ucapnya berapi-api.

Muslim kembali duduk. Al-Husain mengangguk-anggukkan kepalanya mengagumi sikap sahabatnya itu.

Zuhair bin al-Qa’in menyusul. “Wahai cucu Rasulullah, andaikan aku terbunuh lalu di hidupkan kembali sampai seribu kali, maka aku akan tetap di sampingmu melawan mereka.”
Satu demi satu pengikut Al-Husain tampil menyatakan tekadnya membela Al-Husain. Al-Husain menangis terharu. Janggutnya basah dan dadanya bergemuruh bahagia.


Pesta Perburuan Mulai

Hentak-hentak kaki kuda dan derap langkah pasukan Umar bin Sa’d terdengar dari barisan Al-Husain. Sang komandan, Umar bin Sa’d bin Abi Waqqash, berdiri sambil berkacak pinggang. Setelah menoleh ke kanan dan ke kiri, ia menunjuk Asy-Syimr bin Dzil-Jausyan sebagai panglima pasukan sayap kanan yang berjumlah dua puluh ribu penunggang kuda dan Khuli bin Yazid al-Ashbahi sebagai panglima pasukan sayap kiri yang berjumlah dua puluh ribu penunggang kuda, sedangkan pasukan inti (bagian tengah) dipimpin oleh Umar bin Sa’d sendiri.
Daur surya terasa kian panas dan siap menggoreng setiap kepala. Al-Husain mengatur dan membagi para pendukungnya menjadi tiga pasukan kecil. Barisan kanan yang berjumlah dua puluh penunggang kuda dipimpin oleh Zuhair bin al-Qa’in. Sedangkan dua puluh tentara lagi diletakkan pada posisi kiri di bawah pimpinan Hilal bin Nafi al-Bajli. Adapun sisa pasukan mengisi lapangan tengah di bawah komando Al-Husain bin Ali sendiri. Putra-putra dan kemenakan-kemenakannya bergabung dengan pasukan tengah.

Gaung takbir Allahu Akbar dan ringkikkan kuda Al-Husain dan pasukannya menyambut teriakan pasukan Ibnu Sa’d. Drama pertempuran mahadasyat sepanjang sejarah itu pun dimulai.

Kuda-kuda berlarian ke arah yang berlawanan. Denting pedang dan jeritan wanita bersautan bak irama konser. Debu-debu beterbangan menyelimuti permukaan medan. Korban tewas dan luka berguguran ditinggalkan kuda-kuda yang bersimbah darah. Hujan tombak dan panah telah mengurangi jumlah pengikut Al-Husain. Dua pasukan itu pun kembali lagi ke kubunya masing-masing. Tiba-tiba Abu Tamamah ash-Shaidawi menyeruak dari barisan dan menghadap sang komandan.

“Wahai Tuanku, Abu Abdillah! Kita pasti mati terbunuh di sini. Waktu shalat telah datang. Ini adalah shalat kita yang terakhir. Maka pimpinlah shalat, agar kita bersua dengan Tuhan tanpa setitik tanggungan. Al-Husain mengulas senyum gembira sambil mengelus pundak penciptanya. Permintaan tersebut dikabulkan. Pasukan Al-Husain bersiaga untuk shalat.
Usai memperdengarkan suara azan, Al-Husain menegur ‘Umar bin Sa’d.
“Beri kami sedikit waktu untuk melaksanakan perintah Allah!” pintanya.
“Umar tidak menyahut suara cucu Rasulullah itu. Suara ibnu Namir menghentikan langkah Al-Husain.
“Shalatlah sesukamu, meski Tuhan tak menerima shalatmu!” ujarnya menghina.
Al-Husain Berkata:. “Hai Habib! Kini lengkaplah alasanmu untuk maju menyongsong tantangannya dan menghentikan omong kosongnya!” Habib turun dari kudanya lalu menghadap komandannya.
“Wahai cucu Rasulullah! Aku akan melaksanakan shalatku di sana, dan aku sampaikan salam darimu, kepada kakek, ayah dan saudara Anda,” ucap Habib sebelum mencium tangan dan kepala Al-Husain.
Kini Habib bin Muzhahir telah beranjak meninggalkan Al-Husain dan barisannya menuju arena tanding.

Terjadilah duel seru antara keduanya. Habib menghantamkan perisai besinya ke arah wajah lawannya yang sibuk menari-narikan pedangnya itu. Luka di pundak dan darah yang mengucur telah mengurangi kekuatan Ibnu Namir. Habib merajang tubuh Ibnu Namir menjadi tiga bagian.Tiba-tiba dari barisan lawan segerombolan tentara datang menuju ke arah Habib. Serbuan pedang dan tombak secara serempak telah menghentikan gerak lincah Habib. Habib mengerang kesakitan saat pedang beracun menusuk rongga lehernya. Ia seketika tersungkur dan gugur sebagai syahid dalam tragedi Karbala. Inna lillah wa inna ilaihi raji’un.

Kematian Habib bin Muzhahir menambah rasa keterasingan dan luka di lubuk sanubari Al-Husain. Ia tertunduk lalu menghembuskan nafasnya.
“Semoga Allah membalas jasa pengorbananmu, Habib!” ucap Al-Husain di hadapan jasad pahlawan yang berlumur darah dan tanah itu.


Bunga-bunga Berguguran
Irama syahadah kian keras terdengar mengiringi tari-tarian sekelompok rajawali di cakrawala.
Sesaat kemudian Zuhair bin al-Qain tampil lalu menghadap komandannya yang sedih itu. “Tuanku, gerangan apa yang membuat paras Anda nampak kecewa? Bukankah kita pihak yang benar?” tanya Zuhair sopan.
“Oh, tentu. Kita adalah pihak yang benar,” tandas Al-Husain sambil mengelus kepala pencintanya itu.
“Jika begitu, maka kita tidak akan pernah peduli dan terus menuju surga,” sela Zuhair bersemangat.
Tak lama kemudian Zuhair meminta izin Al-Husain untuk maju bertanding. Setelah diizinkan, Zuhair meninggalkan barisannya. Ia menari-narikan pedangnya yang tipis dan panjang. Zuhair menerjang barisan lawan dengan gerakan pedang dan kudanya yang lincah hingga berhasil merobohkan lima belas tentara berkuda. Ketika teringat akan waktu shalat, ia segera menarik kudanya dan kembali ke barisannya. Ia sempat melaksanakan shalat Zuhur di belakang Al-Husain.

Usai shalat, Al-Husain berdiri menghadap barisannya dan berkata:
Kini pintu-pintu surga telah dibuka. Sungai-sungainya telah mengalir. Istana-istananya telah dihias. Bidadari dan bidadara telah berbaris siap menyambut. Rasulullah dan para Syuhada yang gugur dan berjuang bersama beliau, bersama ayahku dan ibuku sedang menanti kedatangan kalian semua dengan cemas dan segenap rindu. Maka pertahankanlah agama kalian dan cucu Nabi kalian. Allah akan menilai ketaatan kalian dengan kami. Kalian adalah sebaik-baiknya pencinta kakekku. Semoga Allah membalas kebaikan kalian semua.

Suara tangis dan jeritan pilu pasukan dan para wanita menyambut ceramah Al-Husain. Mereka serentak menyatakan tekad yang bulat untuk berjuang membela Al-Husain dan keluarganya hingga tetesan darah yang terakhir.

Zuhair bin al-Qa’in kembali menerjang barisan lawan dengan semangat menyala sambil menyatakan kecintaannya kepada Rasul, Ali dan seluruh anggota Ahlulbait dalam puisi yang berapi-api. Ia dengan gesit menebas setiap kepala yang muncul menghadangnya hingga berhasil mencabut tujuh belas nyawa pasukan lawan. Zuhair tersungkur bersimbah darah dan menghembuskan nafasnya yang mulia setelah dikeroyok dari berbagai arah dengan pedang dan tombak. Inna lillah wa inna ilaihi raji’un.

Jumlah pasukan Al-Husain kini berkurang. Kepergian Zuhair telah menambah beban kesedihan di hati Al-Husain. Bayang-bayang keteraniayaan wanita-wanita Muhammad mulai tergambar di benak Al-Husain.

Mantan budak Abu Dzarr, Jun, menghadap Al-Husain dan berkata: “Wahai Imam, izinkanlah aku membelamu setelah selama ini engkau selalu membelaku. Aku ini mantan budak yang hina, dari jalur keturunan yang hina juga, Kulitku hitam, badanku berbau busuk. Wahai Cucu Nabi, izinkanlah darahku bercampur dengan darah suci engkauagar nanti di surga kulitku menjadi putih dan badanku menjadi harum”. Jaun segera meninggalkan barisan rekan-rekannya menuju arena. Ia sesumbar dengan gagahnya di hadapan lawan dengan puisi:
Saksikan persembahan seorang berkulit hitam
Saksikan keberanian seorang Afrika di arena
Aku akan membela Al-Husain dan tak akan diam
Kematian di pihak Al-Husain adalah jalan surga

Ia bertempur dengan gigih mengayunkan pedang dan menghantamkan perisai bajanya ke setiap wajah yang muncul di hadapannya. Budak hitam berhati bening itu berhasil membersihkan tujuh puluh lawan dari para penunggangnya. Ketika Jaun syahid, Imam menempelkan pipi suci beliau ke pipi jaun dan berdoa: “ Ya Allah, Putihkanlah wajahnya dan bangkitkanlah dia bersama Kakekku, Muhammad saaw!

Hampir setiap sahabat dan keluarga Husain terluka karena peperangan itu, seorang wanita tua, istri Abdullah bin Umair berkata kepada suaminya Abdullah,
“Ya Abdallah, bi abi anta wa ummi, qatil dunat tayyibin dzuriyyata Muhammad saw…” “Wahai Abdallah, demi ayah dan ibuku. Berperanglah demi mempertahankan anak zuriat Muhammad saw…”
Tak lama setelah ia keluar, terdengar lantunan salam, “Alaika minis salam ya Aba Abdillah. “Abdullah bin Umair gugur. Kepalanya dilemparkan ke kemah Husain. Ummu Umair menyambut kepala sang suami dengan senyum penuh keimanan. Dibersihkannya pipinya yang tak berleher dari pasir-pasir Karbala. Suaranya lirih, “Hanian laka bil jannah…” “Selamat… selamat atas keberhasilanmu wahai suamiku tercinta. Surgalah balasan bagimu dari Allah …”
Suara lirih istri sejati ini terdengar oleh Syimir. Dengan geram ia perintahkan kepala Ummu Umair juga dipenggal. Jadilah ia wanita pertama yang syahid di Karbala.

Amir bin Qarthah al-Anshari juga adalah sahabat Husain yang sangat setia. Ia tidak ingin sedikit pun luka mengenai putra Fathimah az Zahra ini. Setiap kali anak panah ditujukan kepada Husain, ia pasang badan untuk melindunginya. Ia berjuang mati-matian untuk menjaga putra Nabi dengan segala daya, hingga badannya ditancap-tancap puluhan anak panah. Amir tidak lagi merasakan sakitnya tusukan tombak dan panah. Cintanya kepada Husain mengobati seluruh deritanya di Karbala. Dengan tubuh yang bersimbah darah seperti itu ia menghadap.
“A wafaitu ya Husain…” “Apakah aku telah tunaikan kesetiaanku untukmu ya Husain?”
“Na’am. Anta amami fil jannah. Faqra’ Rasulallah annis salam…” Ya. Engkau akan berada di hadapanku kelak di surga. Dan sampaikan salamku kepada Rasulullah…”

Bahkan anak-anak remaja Karbala tak mau ketinggalan dalam membela Husain as. Putra Wahab tiba-tiba keluar dari kemahnya sesaat setelah melihat ayahnya jatuh ditebas musuh. Husain sempat menghalanginya.
“Wahai anakku! Engkau masih belum wajib berjihad.” Kata Husain. “Ayahmu baru saja terbunuh. Ibumu tentu tidak ingin kehilanganmu setelah ayahmu syahid?”

Anak remaja ini kemudian datang memeluk kaki Al-Husain sambil berkata, “Demi jiwaku yang ada di tangan Allah. Ibukulah yang memakaikanku pakai perang ini, Ya Imam, ibuku bangga denganku apabila aku bisa terbunuh dalam membelamu. Perkenankan aku keluar membelamu, ya Husain…” Remaja ini kemudian gugur menyusul sang ayah.

Demikian juga dengan putra Muslim bin Ausjah. Ayahnya gugur. Kepalanya dipenggal. Sang ibu memintanya untuk membela Husain. Sang ibu tidak rela anaknya hidup sementara Husain dan anak-anak Nabi yang lain disakiti. Ia perintahkan putranya keluar. Tak lama berselang kepala putra Ausjah tercinta di lemparkan ke kemah sang ibu yang mulia ini. Bukan jeritan tangis yang diraungkannya. Bukan suara sesal yang dikumandangkannya. Bukan rasa iba yang dipintanya. Ia berkata dengan suara yang didengar oleh isi alam semesta: “Ahsanta ya bunayya…” “Engkau telah berbuat baik dan telah berbakti kepadaku wahai putraku dan penyejuk hatiku…Engkau telah senangkan hati Fatimah az Zahra. Engkau telah bahagiakan jiwa Rasulullah…Engkau telah mengabdi kepada Husain bin Ali. Setelah itu sang ibu, melemparkan kembali kepala anaknya ke medan pertempuran seraya berteriak: “ Apa yang telah di berikan di jalan Allah, tidak bisa di kembalikan lagi.”

Seorang lelaki tua bernama Jabir bin ‘Urwah al-Ghifari maju meninggalkan barisannya. Al-Husain menatap sahabat Nabi yang pernah menjadi tentara di Badr dan Uhud itu sambil berkata: “Wahai Syekh, cukuplah pengorbananmu dengan membela kakekku semasa beliau hidup. Engkau tidak wajib untuk membelaku sekarang. semoga Allah membalas pengorbananmu!”
Lelaki tua itu mengulas senyum bangga. “Wahai Imam, apa yang hendak aku katakan di depan kakekmu kelak jika aku tidak membelamu di saat engkau dalam keadaan susah? Bagaimana aku dapat menatap wajahnya kelak? Kalau tidak di sini, mungkin besok atau lusa aku mati di ranjang. ” ujarnya.

Meski tua, ia masih sanggup melawan ratusan tentara dan memenggal sejumlah kepala musuh. Tiba-tiba sebuah tebasan kilat telah memisahkan tubuh orang tua pemberani itu dari batang lehernya. Ia gugur sebagai syahid tertua di Karbala. Inna lillah wa inna ilaihi raji’un.

Satu demi satu pahlawan Karbala tampil: Jun, Anas al-Kahili, Al-Hijjaj al-Ja’fi, Suwaid bin ‘Amr, Siwar bin Abi Humair, dan lainnya, hingga lenyaplah semua pengikut Al-Husain.


Bagian III
Al-Hurr dan putranya Membelot
Dua penunggang kuda itu tiba-tiba menyeruak dari barisan tentara Ibnu Ziyad. Pasukan Umar bin Sa’d mengira kedua orang itu akan menantang atau menyerbu barisan Al-Husain. Al-Hurr yang bertutup muka dan putranya berhenti tepat di hadapan Al-Husain dan pasukannya.
“Hai orang tua, angkat kepalamu dan singkaplah penutup mukamu itu! Siapakah Kau? Apa tujuan kedatanganmu?” tanya Al-Husain mantap.

Akulah orang yang telah memaksamu menuju Kufah. Tuanku, aku datang bersama putraku untuk bergabung dengan pasukanmu sebagai ganti dari tindakanku! Sudikah Anda menerima permintaan maafku?” kata Al-Hurr dengan nada bergetar.

“Allah menerima, jika Kau benar-benar bertobat,” jawab Al-Husain.
Al-Hurr menepuk pundak putranya dan berkata: “Majulah putraku dan hadapi manusia-manusia Zalim itu!”

Pemuda berbadan tegap itu melesat bak anak panah mengobrak-abrik barisan lawan dengan ayunan pedangnya hingga berjaya menyumbangkan tujuh puluh kepala tentara Ibnu Ziyad. Ia menghembuskan nafasnya setelah dicabik-cabik oleh puluhan pedang yang mengepungnya. Al-Hurr menyambut kematian putranya dengan senyum kegembiraan berbaur tangis keharuan.
“Puji atas Allah Yang telah menganugerahkanmu syahadah, putraku,” gumamnya sambil menyeka air mata.

Al-Hurr menghampiri Al-Husain. “Tuanku, izinkanlah hamba maju!” pinta bekas perwira tinggi pasukan Umar bin Sa’d itu kemudian.

“Majulah!” jawab Al-Husain sembari merangkulnya penuh haru.

Putra-putri Ali menggigit bibir menahan luapan keharuan menyaksikan adegan itu.
Al-Hurr menarik kendali kudanya dan secepat meteor meninggalkan Al-Husain. Ia kini berada di hadapan barisan tentara yang beberapa saat lalu adalah anak buahnya itu.

Al-Hurr menerjang barisan lawan dan mengecat persada Karbala dengan darah seratus serdadu Ibnu Ziyad yang menghadangnya. Ia segera mundur dan bergabung dengan barisannya sejenak untuk meredakan nafas dan melucuti lelahnya.seraya berteriak: “Hai orang-orang Kufah, contoh kebusukan dan lambang pengkhianatan, bangkai-bangkai berbusana yang meringis dan menari-nari bak kera di atas kehinaan, pemerkosa fitrah, mengapa kalian begitu tega mengundang Al-Husain lalu mengepung dan membantainya? Di pasar mana kalian menjual hati nurani! Dengan bahasa apa aku harus menyadarkan kalian? Manusia jenis apakah kalian sebenarnya, yang kuasa hati untuk mengeringkan rongga leher putra-putri Muhammad dari air Efrat yang menggeliat sedangkan kalian membiarkan orang-orang Nasrani dan Yahudi, bahkan babi dan anjing menjilat-jilat permukaannya. Semoga Allah membiarkan kalian dicekik dahaga kelak!”

Detik-detik selanjutnya terjadilah pertempuran sengit. Bagai singa lapar, Al-Hurr menerkam dan mencabut pedangnya ke kanan dan kiri hingga lenyaplah nyawa lebih dari delapan puluh tentara Ibnu Ziyad.

Umar, yang sangat dirugikan oleh kepiawaian Al-Hurr, tiba-tiba berteriak dan memerintahkan agar pasukannya menyerbu dan menghujani pembela Al-Husain itu dengan puluhan panah dan tombak. Tubuh Al-Hurr kini laksana seekor landak menangkal serbuan panah dari semua arah. Sekonyong-konyong seorang musuh dari arah belakang mengayunkan pedangnya ke leher Al-Hurr. Al-Hurr terjatuh sambil mengerang menahan pedih lalu menghembuskan nafasnya yang terakhir. Inna lillah wa inna ilaihi raji’un.

Pasukan Umar bin Sa’d bin Abi Waqqash menyeret tubuh Al-Hurr lalu melemparkannya ke hadapan Al-Husain. Dengan hati yang sarat dan bibir bergetar Al-Husain merangkulnya seraya berkata: sungguh tepat nama yang diberikan kepadamu wahai Al-Hurr. Engkau kini merdeka. Kau bebas di dunia dan bahagia di akhirat..,” hibur Al-Husain penuh haru.

Dada Al-Husain terasa sesak, matanya mengucurkan air hangat dan bibirnya bergetar ketika menoleh ke kanan dan ke kiri. Kini yang tersisa hanyalah kemenakan-kemenakan dan putra-putranya yang masih belia.

Drama Karbala memasaki babak paling menegangkan. Sementara itu pasukan Ibnu Ziyad di bawah komando Umar bin Sa’d kian ganas. Mereka meneriakkan yel-yel dan menari-narikan pedang. Kemurtadan telah merasuki jiwa mereka. Kini mereka menjadi buta,bisu, tuli dan mati rasa. Gema tawa dan ejekan pasukan Syimr dan rekan-rekannya berbentur dengan pekik tangis wanita-wanita Ahlulbait.

Di tengah tubuh-tubuh para pengikutnya yang berserakan, Al-Husain memekikkan suaranya parau :
“Oh, adakah yang membela kami? Adakah yang mendambakan surga dengan mendukung kami? Masih adakah secuil hati nurani yang menyahuti suara kami?”
Al-Husain mengakhiri jeritannya dengan puisi indah :

Akulah putra Ali dari Bani Hasyim yang suci
Cukuplah itu sebagai citra kebanggaan abadi
Fathimah ibundaku dan kakekku adalah Nabi
Ja’far sang merpati bebas adalah paman kami
Kamilah lentera kebenaran di atas muka bumi
Kamilah pemberi minum telaga Kautsar nanti
manusia-manusia terbaik adalah pencinta Ali
dan yang paling celaka adalah yang membenci
Beruntunglah orang yang mempunyai sanubari
untuk datang berziarah setelah kami mati
Balasan mereka adalah Firdaus dan bidadari
yang berenang di sungai jernih dan menari

Para wanita Ahlulbait meledakkan jerit parau ketika Al-Husain di tengah jasad-jasad para pengikutnya berteriak: “Oh, betapa asing! Sungguh amat sedikit yang menolong kami! Masih adakah hati nurani yang menyahuti jeritan kami demi menjaga kehormatan Rasulullah?”


Giliran Remaja-remaja Ahlulbait Tiba
Al-Husain terperangah ketika melihat dua remaja berparas cahaya bak purnama menyeruak dari barisan lalu menghampirinya. Mereka Ahmad dan Al-Qasim putra Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib.

“Kami datang menyambut panggilanmu, Paman. Perintahlah kami untuk maju mengurangi jumlah mereka sebanyak mungkin!” ucap mereka bersemangat di atas punggung kuda masing-masing.

Sejenak Al-Husain mengamati wajah suci kedua keponakannya itu dengan perasaan haru biru.
“Majulah dan sumbangkan jiwa demi kehormatan kakek kalian Rasulullah!” balas Al-Husain sesaat kemudian sembari menyeka butir-butir hangat yang membasahi pipi dan jenggotnya.
Al-Qasim, remaja berusia empat belas tahun, melarikan kudanya dengan kencang laksana bayang-bayang lalu menerjang barisan lawan dengan ayunan pedangnya yang berkilau dan kaki kudanya yang menghentak-hentak. Ia berjaya melemparkan ke bumi puluhan tubuh pasukan Ibnu Ziyad, sebelum terjatuh dalam perangkap. Pemuda lajang berparas sangat tampan itu meneguk cawan madu surgawi syahadah setelah sepucuk tombak melubangi wajah dan lehernya. Inna lillah wa inna ilaihi raji’un.

Kemudian tampil kakaknya, yaitu Ahmad bin Hasan bin Ali. Ia menerjang barisan pasukan Umar bin Sa’d dan memindahkan pedangnya dengan lincah dan cepat dari satu tubuh ke tubuh yang lain hingga berhasil menewaskan delapan belas tentara berkuda. Ia tiba-tiba mundur dan kembali ke barisan Al-Husain.

“Paman, adalah sedikit air yang dapat bertahan lebih lama menghadapi musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya itu?” tanya pemuda itu sesampainya di hadapan Al-Husain. Lidah pemuda gagah itu sedikit menjulur keluar menahan dahaga.

“Keponakanku, bersabarlah sejenak! Tidak lama lagi Kau akan bertemu dengan kakekmu Rasulullah yang akan memberimu minuman yang akan melenyapkan dahagamu selamanya,” jawab Al-Husain menghibur kemenakannya.

Ahmad menerobos barisan lawan dengan pedang terhunus. Pasukan Umar menghadapi serangannya. Lima puluh tentara Ibnu Ziyad telah menyerahkan nyawanya di ujung pedangnya. Ia gugur sebagai syahid setelah hujan panah diarahkan ke tubuhnya. Inna lillah wa inna ilaihi raji’un..

Kini yang tampil adalah Ali al-Akbar bin Husain, kakak tertua Ali Zainal Abidin. Melihat putranya ini Husain terisak menangis. Dipeluknya erat-erat putra kesayangannya ini, sambil mengangkat janggutnya yang telah memutih, Husain berdoa, “Ya Allah, betapa tega dan kejamnya kaum ini, muncul di hadapan mereka seorang yang mempunyai wajah, sifat dan kata-kata yang mirip dengan rasul-Mu Muhammad, bahkan ketika kami rindu kepada Rasul-Mu kami memandangi wajah anak ini. “Ya Allah haramkan bagi mereka keberkahan perut bumi ini. Porak-porandakan mereka. Mereka telah mengundang kami dan berjanji untuk membela kami, tiba-tiba mereka jugalah yang memusuhi kami dan memerangi kami.” Usai memohon izin kepada ayahnya, Ali Akbar maju ke medan perang dengan sangat tangkas sehingga mengingatkan orang akan keperkasaan datuknya Ali bin Abi Thalib as. Riwayat berkata setelah lebih dari seratus orang tewas di tangannya, Ali kembali ke kemah ayahnya dengan luka-luka yang cukup banyak. Dia berkata “Ya Abatah, (wahai ayahanda yang mulia) haus, haus. Rasa haus benar-benar telah mencekikku sehingga terasa benar beratnya besi ini. Adakah sedikit air yang bisa memberiku sedikit tenaga?

Husain memeluk erat putra kesayangannya ini. Sebentar kemudian dia julurkan lidahnya yang suci ke mulut anaknya yang suci.”Demi Allah lidah Husain sendiri lebih kering dari ranting-ranting yang kering yang ada di Padang Karbala..”Husain berkata “sebentar lagi kau akan berjumpa dengan datukmu Muhammad yang tengah menunggumu dengan segelas air di telaga al Kautsar. Bersabarlah wahai putraku, bersabarlah......’’

Ketika Akbar telah hilang dari pandangannya, Al Husain menengadahkan kepala ke langit, dan dengan tangan terangkat ia berdoa:
Ya Allah, Engkau adalah Saksiku bahwa hari ini aku telah mengorbankan salah seorang yang paling kucintai dan kusayangi, untuk membela keadilan dan kebenaran.
Ia duduk di atas tanah sambil coba mendengarkan dengan penuh harap seruan dari medan tempur.Tak lama berselang , anak yang masih muda ini ditikam oleh musuh-musuhnya dari berbagai arah. Ada yang memukul kepalanya,menusuk dadanya,menikam perutnya,bahkan ada yang melemparkan anak panahnya sehingga jatuh persis ke lehernya. Ali al-Akbar sempat berteriak-teriak memanggil-manggil ayahnya, ”Ya Abatah (duhai ayah) ‘alaika minnis salam. Kini kusaksikan datukku Rasulullah saww. Mengucapkan salam kepadamu dan memintamu agar segara datang menemuinya . Aku telah jatuh dengan luka mematikan di dada. Ayah, datanglah kepadaku karena ajalku tengah menjelang. Jika engkau tak dapat menjangkauku, kusampaikan salam terakhirku kepadamu dan kepada orang-orang yang kukasihi.”

Walaupun Al Husain telah memperkirakan seruan semacam itu, betapa dahsyat dampak seruan itu terhadapnya! Ia bangkit dari tanah dan jatuh; ia bangkit lagi dan kembali terjatuh. Dengan satu tangan di dada, ia berjuang untuk bangkit. Air mata bercucuran membanjiri kedua matanya. Dengan cepat ia berlari ke arah datangnya seruan tersebut. Tampak bahwa kekuatan Al Husain terkuras habis karena mendengar pekik penghabisan sang anak tercinta, ia selalu terjatuh tiap beberapa langkah. Sambil terisak ia berkata:
Ali, memekiklah kembali agar aku dapat mengetahui di mana engkau berada. Ali, penglihatanku hilang karena guncangan yang kurasakan, dan tak ada seorang pun yang dapat membimbingku ke tempat engkau berbaring.

Serta-merta Abbas berlari untuk membantu tuannya, memegang tangannya dan membimbingnya ke arah datangnya pekikan Ali Akbar.

Kini Al Husain berjalan terhuyung-huyung dengan kedua tangan di bahu Abbas. Jarak seakan tak berujung, namun akhirnya Al Husain dan Abbas tiba juga di tempat Akbar terbaring, di genangan darahnya sendiri. Ah, betapa tragis! Mungkin tak ada ayah yang pernah melihat anaknya dalam keadaan seperti itu. Dengan satu tangan di dada menutupi lukanya yang dalam dan mengeluarkan banyak darah, dengan wajah tampak menahan sakit, Ali Akbar terbaring di tanah, tak berdaya dan tak sadarkan diri. Dengan rasa sakit akibat lukanya dan rasa haus yang ia derita, sebagian kakinya menyeruak ke dalam tanah.

Anakku, katakan di mana sakitmu; katakan padaku siapa yang melukaimu di dada. Mengapa engkau diam saja?Ali anakku, aku telah datang menyambut seruanmu. Katakanlah sesuatu padaku.

Melihat Ali Akbar terbaring di sana tanpa menanggapi permohonannya, Al Husain berpaling ke Abbas dan berkata:
Abbas, mintalah Akbar untuk mengatakan sesuatu kepadaku. Anakku yang patuh, yang biasanya berdiri menyambut kala melihatku, kini terbaring di tanah terhimpit tangan kematian.
Sekali lagi Al Husain merapatkan tubuhnya ke tubuh Ali Akbar. Napasnya kini semakin berat, suara berdeguk keluar dari tenggorokannya. Tampak olehnya sang anak tengah terlibat pertarungan tak seimbang dengan kematian.

Al Husain mendekap kepala Ali Akbar di dadanya. Lalu ia mengangkat kepala Ali Akbar dan menempelkan pipinya ke pipi Akbar. Kemudian ia meratap:
Anakku, untuk sekali ini bukalah matamu dan tersenyumlah, sebagaimana engkau biasanya selalu tersenyum untuk menyenangkan hatiku.

Walaupun Ali Akbar tak membuka matanya, senyum tipis tampak tersungging di bibirnya, seakan ia mendengar permohonan ayahnya. Dengan senyum manis masih melekat di bibir, Ali Akbar menghela napas dan bersamaan dengan itu jiwanya mengangkasa. Pipi sang ayah masih menempel di pipi sang anak, dalam kematian, sebagaimana biasanya dalam kehidupan.

Melihat anaknya, anaknya tercinta, menghembuskan napas terakhir dalam pelukannya, keadaan Al Husain benar-benar tak terkatakan. Selama beberapa saat ia berdiam di sana, menangis. Menangis layaknya seorang ayah tua yang kehilangan anaknya dengan tragis, di puncak masa mudanya. Abbas terduduk di sana, di sampingnya, sambil mencucurkan air mata. Kalimat belasungkawa apa yang dapat ia ucapkan atas tragedi yang begitu dahsyat ini? Segala ucapan pelipur lara dan kata-kata menghibur niscaya akan terdengar hambar dan sia-sia kala seorang ayah, seorang ayah yang telah termakan usia, tengah meluapkan emosinya. Setelah beberapa saat, Abbas dengan takzim menyentuh bahu Al Husain dan mengingatkannya bahwa karena ia tadi bergegas meninggalkan tenda, Zainab dan para wanita anggota keluarganya yang lain tengah menantinya, tersiksa kegelisahan, tertekan memikirkan tragedi yang telah menimpa mereka. Kata-kata Abbas ini sudah cukup bagi Al Husain. Ia sadar, bahwa sebagai kepala keluarga, adalah kewajibannya untuk berkumpul berdampingan dengan ibu yang berduka, adiknya yang berduka Zainab, dan anak-anak yang merasakan kehilangan ini sebagai suatu malapetaka besar.

Perlahan Al Husain bangkit dari tanah dan coba menggendong jasad Ali Akbar, namun tubuhnya sendiri pun tak mampu ditopangnya. Ia terjatuh ke tanah. Melihat hal ini, Abbas membungkuk ke arahnya dan berkata:
Tuanku, Abbas masih hidup di sisimu. Bagaimana bisa aku membiarkanmu membawa jasad Akbar sementara aku sendiri hanya diam menjadi penonton bisu? Biarkanlah aku membawa jasadnya ke tenda.

Tidak, Abbas, jawab Al Husain, biarkan aku melakukannya sebagai kenangan terakhir dari cintaku. Merengkuhnya di dadaku, bahkan dalam kematiannya, membuatku terhibur, satu-satunya hiburan yang masih tersisa bagiku.

Setelah berkata demikian, ia mengerahkan segenap tenaga dan dengan dibantu Abbas ia mengangkat tubuh Ali Akbar. Sambil mendekap tubuh Ali Akbar erat-erat di dada, ia mulai menempuh perjalanan panjang ke tenda. Bagaimana ia bisa sampai, hal itu sulit dijelaskan. Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa kakeknya Muhammad, ayahnya Ali, kakaknya Hasan, dan mungkin ibundanya Fathimah turun dari surga demi membantunya menyelesaikan tugas ini.

Al Husain tiba di tenda dan membaringkan jasad Akbar di tanah. Ia memanggil Ummu Laila, Zainab, Kultsum, Sakinah, Ruqayyah, Fidhdhah, dan para wanita anggota keluarganya yang lain guna memandang wajah Ali Akbar untuk terakhir kalinya. Sang ibu yang penuh cinta datang, para bibi yang sarat kasih tiba, anak-anak menghampiri, dan mengelilingi tubuh Ali Akbar. Mereka memandang wajah Ali Akbar, lalu wajah Al Husain. Mereka sadar bahwa tangisan mereka hanya akan menambah kepedihan Al Husain yang sudah meluap. Ibunda Ali Akbar menghampiri suaminya, dan dengan tangis tertahan serta wajah tertunduk, ia berkata kepadanya:
Tuanku, aku bangga pada Ali Akbar karena ia telah meraih kesyahidan yang begitu mulia. Ia telah menyerahkan jiwanya demi alasan yang mulia, dan hal ini akan terus membuatku tegar dalam menjalani sisa hidupku. Kumohon padamu, berdoalah untukku, berdoalah untuk kami semua, agar Allah Yang Mahakuasa menganugerahkan kita kesabaran dan pelipur lara.

Setelah berkata demikian, sang ibu berpaling ke jasad anaknya yang terbaring di tanah, lalu menempelkan wajahnya ke wajah sang anak. Zainab, Kultsum, Sakinah, dan Ruqayyah telah lebih dulu merebahkan tubuh-tubuh mereka di atas tubuh Ali Akbar. Air mata yang mengalir dari mata mereka cukup untuk membersihkan darah beku dari luka-luka Akbar.

Al Husain terduduk selama beberapa menit di dekat jasad anaknya; anak yang telah meninggalkannya dalam keadaan tragis; anak yang meninggal dunia kala mengharap setetes air demi melepas dahaganya. Ia tak sadarkan diri dalam kesedihan.


Bagian IV
Al-Abbas Meraih Syahadah
Suhu panas yang sangat tinggi telah menambah rasa dahaga adik-adik Zainab dan kemenakan-kemenakannya sejak sungai Efrat dikuasai oleh pasukan ‘Umar bin Sa’d.
“Abbas, galilah tanah untuk mencari air!” perintah Al-Husain dengan nafas terengah-engah.
Al-Abbas segera melaksanakan perintah tersebut. Berapa tempat telah digali namun tak satu pun yang memberikan sedikit harapan. Al-Husain tak mampu menutupi rasa sedihnya melihat kerumunan wanita yang meronta-ronta karena rasa lapar dan haus yang berkepanjangan.
“Abbas, pergilah ke sungai Efrat, dan berilah adik-adikmu itu sedikit air untuk diminum!” perintah Al-Husain sesaat kemudian. Tanpa mengulur-ulur waktu, saudara seayah Al-Husain itu memacu kudanya menuju sungai Efrat. Al- Abbas dicegat oleh segerombolan pasukan ‘Umar bin Sa’d.
“Apa maksud kedatanganmu?” tanya salah seorang dari mereka dengan nada sinis.
“Aku datang untuk mengambil sedikit air untuk diminum oleh para wanita yang sangat kehausan,” jawab Al-Abbas dari atas punggung kudanya.
“Oh, itu tidak akan kami izinkan,” tukas pemimpin mereka sambil menghunuskan pedangnya. Tiba-tiba mereka menyerbu. Al-Abbas menyongsong serbuan itu dengan pedangnya.
Pertempuran seru pun meletus. Al-Abbas berhasil mengurangi jumlah mereka dan mendekati bibir sungai Efrat. Al-Abbas meningkatkan perlawanannya dan mengusir gerombolan itu sesaat. Ia segara turun dari kudanya dan merapat ke permukaan sungai. Usai mengisi qirbah, Al-Abbas berniat menciduk air yang mengalir di hadapan matanya itu dengan kedua tangannya. Tiba-tiba bayangan penderitaan Ahlulbait dan Al-Husain tergambar di benaknya. Al-Abbas buru-buru mengibaskan kedua tangannya dan bergegas naik ke kudanya kembali.

Ketika hendak kembali, sebuah barikade pasukan telah siap menghadangnya. Al-Abbas mengikat qirbah-nya lebih kencang, lalu mencabut pedangnya ke atas Al-Abbas menepis setiap panah yang diarahkan ke tubuhnya. Satu demi satu tentara bayaran Ibnu Ziyad terpelanting mengumpat perih luka. Sekonyong-konyong dari arah belakang seorang binatang bernama Abrash bin Syiban mengayunkan pedangnya ke lengan kanan putra ‘Ali bin Abi Thalib itu. Tangan kanan itu terpental meninggalkan tubuh Al-Abbas. Darah segar memancar di sekujur tubuhnya yang mirip seekor landak dari kejauhan itu. Al-Abbas mengadakan perlawanan dengan tangan kirinya sambil bersyair membuktikan kebulatannya untuk membela Al-Husain.

Demi Tuhan, meski mereka ambil tangan kananku
Akan kubela Al-Husain dengan tangan kiriku
Apa arti sepotong tangan untuk agama kakekku
Akan kuhadiahkan nyawa dan semangat keberanianku

Al-Abbas terus bertempur di tengah derasnya anak-anak panah. Tak satu pun tarian pedang Al-Abbas yang sia-sia. Kuda-kuda berlarian melemparkan setiap penunggangnya. Tiba-tiba dari arah belakang sebuah ayunan kencang menepis tangan kiri Al-Abbas. Ia mengerang. Pria berwajah tampan itu kini kehilangan kegesitannya. Al-Abbas tetap berada di atas punggung kudanya dengan kedua tangan terputus dan bertekad untuk menerjang barisan musuh demi menyerahkan qirbah yang melingkari dada dan punggungnya kepada Al-Husain dan keluarganya.

“Hai, keparat kalian! Hentikan geraknya dengan panah-panah dan tombak kalian!” teriak pemimpin mereka.

Al-Abbas berusaha menepis hujan panah dengan pedangnya. Tiba-tiba dari arah belakang ‘Abdullah bin Yazid asy-Syibani mengayunkan pedangnya secepat kilat dan menceraikan tangan kiri Al-Abbas dari tubuhnya. Pedangnya terpelanting dan jubah putihnya kini telah berubah menjadi merah. Dengan sisa kekuatannya, Al-Abbas berusaha menerobos kepungan lawan. Bangkai-bangkai lawan yang berserakan telah mengganggu gerak kudanya. Dalam suasana panik itulah sekonyong-konyong benda tumpul membentur wajah Al-Abbas. Seketika kepalanya merekah dan menyemburkan darah. Ia terhuyung dan jatuh di antara kaki-kaki kuda. Kalung qirbah itu kini telah putus dan hasrat putra ‘Ali itu telah kandas di tengah belantara kemunafikan yang ganas. Al-Abbas mengerang dalam keputusasaan. Ia mencengkeram pasir panas sambil merasakan sakit yang menyiksa. Ia merasa hidupnya surut dengan cepat, namun harapannya untuk melihat tuannya belum terwujud. Dengan satu usaha terakhir, dengan segenap tenaga yang tersisa padanya, ia berteriak:
Wahai Tuanku, datanglah padaku sebelum ajal menjemputku.

Doanya seperti terjawab ketika ia merasakan adanya langkah-langkah kaki di dekatnya, instingnya mengatakan bahwa itu adalah tuannya. Satu matanya telah buta karena tertancap anak panah, dan satunya lagi dibanjiri darah sehingga ia tidak dapat melihat. Tapi ia dapat merasakan tuannya berlutut di sampingnya, mengangkat dan memangku kepalanya. Hanya keheningan yang ada selama beberapa saat karena mereka berdua tercekik emosi. Akhirnya ia mendengar suara Al Husain, setengah tersedu, setengah terisak:
Abbas, Saudaraku, apa yang telah mereka lakukan kepadamu?

Jikapun Abbas dapat melihat, akankah ia masih bisa mengenali tuannya? Dengan punggung bungkuk serta janggut yang memutih dan beruban, mendengar tangis perpisahan saudaranya tercinta, penderitaan Al Husain begitu hebatnya sampai-sampai tak seorang pun dapat mengenalinya—sampai sebegitu jauh perubahannya. Kini Abbas merasakan sentuhan kasih tangan tuannya. Dengan susah payah ia berucap:
Akhirnya engkau datang, Tuanku. Tadinya kupikir aku tak ditakdirkan untuk bisa mengucapkan salam perpisahan untuk terakhir kalinya kepadamu. Namun, alhamdulillah, engkau di sini sekarang.

Setelah berucap demikian ia merebahkan kepalanya di atas pasir. Dengan lembut Al Husain mengangkat kepala Abbas dan kembali menaruhnya di pangkuan. Al Husain bertanya mengapa Abbas menarik kepalanya dari pangkuannya.

Tuanku, jawab Abbas, aku membayangkan saat ajal menjemputmu, tak akan ada seorang pun yang memangku kepalamu dan menghiburmu. Ini membuatku merasa bahwa akan lebih baik jika kepalaku rebah di atas pasir saat ajalku tiba, sama seperti keadaanmu saat ajalmu tiba. Lagipula, aku adalah hambamu dan engkau adalah tuanku. Tidak pantas bagiku merebahkan kepala di pangkuanmu.

Air mata Al Husain mengalir deras. Memandang saudaranya—yang namanya menjadi simbol bagi penghambaan dan keteguhan iman—meregang nyawa dalam pelukannya, benar-benar mengoyak-ngoyak hatinya.

Abbas terdengar berbisik lemah:
Tuanku, aku ingin menyampaikan keinginan-keinginan terakhirku. Saat aku dilahirkan, wajahmulah yang pertama kupandang. Dan aku ingin, ketika aku mati, wajahmu jua yang kupandang. Namun satu mataku tertusuk anak panah, dan yang satunya lagi dibanjiri darah. Kumohon bersihkanlah darah dari mataku ini, sehingga aku dapat memandangmu dan memenuhi keinginan terakhirku. Yang kedua, aku ingin setelah aku mati, engkau tidak mebawa tubuhku ke tenda. Aku telah bejanji untuk membawakan air kepada Sakinah. Namun karena aku gagal membawakannya air, aku malu menemuinya sekalipun aku telah mati. Lagipula, aku tahu telah banyak serangan yang engkau terima sejak pagi tadi, walaupun tak ada yang bisa melumpuhkanmu. Membawa tubuhku ke tenda hanya akan memilukan hatimu. Dan keinginanku yang ketiga, janganlah engkau bawa Sakinah ke sini dan membiarkannya melihat keadaanku. Aku memahami cinta dan kasih sayangnya padaku. Ia akan mati jika sampai melihat jasadku terbaring di sini.

Dengan terisak-isak Al Husain berjanji akan memenuhi keinginan-keinginan terakhirnya. Kemudian Al Husain menambahkan:
Wahai Abbas, aku juga punya satu keinginan. Sejak kanak-kanak engkau selalu memanggilku tuan. Setidaknya untuk sekali ini, pangillah aku kakak dengan napas terakhirmu.

Al Husain telah membersihkan darah dari mata Abbas, kedua saudara itu saling pandang dengan pandangan lekat penuh kerinduan. Abbas terdengar berbisik:
Kakakku, Kakakku!
Setelah berkata demikian, ia menyerahkan jiwanya kepada Sang Pencipta. Al Husain tersungkur tak sadarkan diri di atas jasad Abbas dengan jeritan:
Oh Abbas, siapa yang tersisa untuk menjagaku dan Sakinah setelah kepergianmu?
Air Sungai Furat pun berubah menjadi kelam seperti musim dingin dan mengeluarkan desiran aneh seakan sungai itu protes atas pembunuhan sang pembawa air yang kehausan di tepinya.
Sepeninggal Abbas, Husain berkata, “Kini tulang punggungku patah sudah. Kini saatnya aku menghadap Tuhanku…”

Debu-debu beterbangan. Bau anyir darah menyebar, sementara jeritan histeris terus membahana. Pentas Karbala kian membara. Al-Husain menoleh ke kanan dan ke kiri. Jumlah pasukannya kini hanya terdiri dari beberapa penunggang kuda, termasuk kemenakan-kemenakan dan putra-putranya. Ada sebongkah duka menyumbat rongga nafasnya. Angin kesepian meranggas menari-narikan ujung kain sorbannya. Irama syahadah terngiang-ngiang di sudut sanubari Al-Husain dan pasukannya


Puncak Kebiadaban
Adegan demi adegan ketegangan nyaris mencapai puncaknya. Angin semilir berhembus mengibar-ngibarkan ujung jubah lusuh Al-Husain. Sepi di sini, hiruk-pikuk pesta penyamun di seberang sana. Tak lama kemudian Al-Husain menoleh ke arah putra bungsunya yang terbaring di pangkuan Ummu Kultsum.

“Jagalah dengan baik anakku yang paling kecil ini, karena usianya baru enam bulan!” pesan Al-Husain kepada adik Zainab itu.
Abangku, tiga hari telah dilalui anak bungsumu ini tanpa setetes air pun membasahi tenggorokannya,” ujar Ummu Kultsum sambil mengelus-elusnya dengan lembut.
Al-Husain menggendong anak kecil itu lalu membawanya ke hadapan pasukan musuh sambil berteriak:
“Hai orang-orang! Kalian telah membunuh saudaraku, anak-anakku, kemenakanku dan para pengikutku. Kini semuanya telah tiada kecuali anak kecil ini yang tersisa. Berilah anak ini sedikit minum agar…”

Ucapan Al-Husain yang belum selesai itu dipotong oleh anak panah yang melesat dengan cepat dan menembus kepala mungil itu. Al-Husain tersentak, sementara darah segar membasahi bibir bayi yang sejak tiga hari lalu kering mengering. Bayi itu menggelepar-gelepar di tangan ayahnya yang sejenak tertegun menyaksikan peristiwa itu. Al-Husain mengangkat tangannya ke atas dan menengadahkan wajahnya seraya berdoa: “Ya Allah, saksikanlah bahwa mereka bertekad untuk membumihanguskan dan melenyapkan seluruh cucu Nabi-Mu.” Ia membopong bayi yang kini memerah itu menuju kemah Zainab.

Ummu Kultsum berlari menubruk Al-Husain dan mendekap bayi yang tak bernyawa itu dengan meronta-ronta pilu.

Desir sahara bertalu-talu mengelus pucuk-pucuk tenda melantunkan simfoni duka nestapa. Semua persediaan air untuk minum dan menangis, sejak lama telah habis! Al-Husain kini berada di puncak kekecewaannya.

“Kemarilah Zainab, Ummu Kultsum, Sukainah, Ruqayah, Atikah, Shafiyyah dan istri-istriku! Salam dariku, abangmu, pamanmu dan suamimu untuk kalian semua! Inilah pertemuan terakhir kita. Inilah detik-detik terakhir dari masa kebersamaan kita. Sedangkan pesta tangis dan duka akan segera dimulai. Bersiap-siaplah untuk memasukinya!” seru cucunda Rasul itu sembari menyeka mata dan hidungnya yang merona dan basah, Seketika Sukainah menjerit dan meronta-ronta dalam tangisan panjang. Al-Husain menghampirinya lalu merangkul dan mengecup matanya yang sembab sambil bertutur dalam puisi sendu:

Adikku, seruling duka akan ditiup
Semerbak surga abadi akan kuhirup
Genderang perang segera ditabuh
Perahu cinta akan segera berlabuh
Pesta kepala putra Ahmad dimulai
Surga hanya dengan syahadah dicapai
Jalan terjal dan jauh di depanmu
Jangan sesali diri atau membisu
Jangan menangis sebelum aku mati
Andai aku mati kau selalu di hati

Al-Husain memacu kudanya menuju medan tanding seraya berteriak: “ Apa yang membuat kalian bersemangat memerangiku? Adakah sebuah kewajiban yang aku tinggalkan? Atau Sunnah Nabi yang aku ubah?”

“Tidak! Karena dendam dan kebencian di hati kami padamu dan seluruh keluargamu sejak Badr dan Hunain!’ balas mereka lantang.

Al-Husain membiarkan air hangat mengaliri jenggotnya ketika mendengar jawaban mereka. Ia mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri. Tak seorang pun di sekitarnya.
“Ke manakah semua yang membantu kami! Siapa yang akan melindungi wanita-wanita Muhammad dari niat jahat mereka! Mana Muslim bin Aqil, Hanibin Urwah, Zuhair, Habib, Al-Hurr dan rekan-rekannya? Mana bukti cinta kalian? Kini kami datang untuk menyusul kepergian kalian semua! Inna lillah wa inna ilaihi raji’un.”

Ia menerjang dan mengobrak-abrik pasukan musuh dengan gigih hingga berhasil membersihkan seribu lima ratus kuda dari penunggang-penunggangnya. Al-Husain melesat menghunjam barisan lawan. Putra Fathimah itu memetik setiap kepala yang muncul di sekitarnya. Pasukan musuh bubar.

Detik-detik perpisahan terasa menyesakkan dada Zainab dan adik-adiknya. Tak lama lagi pelindung mereka akan pergi meninggalkan mereka. Episode terdahsyat akan segera ditayangkan oleh sejarah, disaksikan bumi dan manusia-manusia bisu, tuli dan berhati batu!
Deru angin terdengar kencang menggoyang atap tenda putri-putri Rasul. Sementara itu Al-Husain kelihatan sibuk mengencangkan ikatan kuda dan busananya. Para wanita hanya meronta-ronta bak kesurupan menyaksikan Al-Husain dari jauh. Zainab agak kewalahan menahan adik-adiknya yang berusaha mengejar Al-Husain.


Bagian V
Karbala, 10 Muharam, petang. Al-Husain menembus barisan musuh. Gerak lincah pedangnya disambut jeritan nyaring tentara-tentara ‘Umar yang sekarat dan kesakitan. Korban tewas dan luka parah berjatuhan memadati arena. Pasukan lawan kalang kabut tak mampu menahan serangan Al-Husain. Syimir segera menghampiri ‘Umar, sang komandan tertinggi.

“Hai ‘Umar, orang ini (Al-Husain, maksudnya) dengan mudah akan melenyapkan kita semua,” ujarnya memperingatkan.

“Lalu, apa yang bisa kita lakukan?” tanya ‘Umar bingung.

“Bagilah pasukan menjadi tiga! Pasukan pertama terdiri dari tentara panah. Pasukan kedua terdiri dari tentara pedang. Sedangkan pasukan ketiga terdiri dari tentara api dan batu. Lalu perintahkan semuanya melakukan penyerbuan serempak ke arahnya!” sahut Syimir sambil menyaksikan dari jauh kepiawaian putra kedua ‘Ali itu melibas musuh-musuhnya.
“Dengan cara inilah kematian Al-Husain bisa dipercepat dan jumlah korban di pihak kita bisa dikurangi,” sambungnya.

Usulan Syimir diterima. ‘Umar memanggil mundur pasukannya kemudian membaginya menjadi tiga pasukan.

Tak lama kemudian ratusan tombak, panah, batu, dan api dibidikkan ke arah Al-Husain. Putra ‘Ali ini tak kuasa menghindar. Luka di sekujur tubuh manusia suci itu pun kian bertambah. Al-Husain tetap mengadakan perlawanan sekuat sisa tenaganya. Sebuah anak panah beracun yang ditembakkan Khuli bin Yazid mengenai dada cucunda Nabi termulia itu. Ia terhuyung kehilangan keseimbangan tubuhnya dan tak lama kemudian terjatuh dari kudanya. Lubang di dadanya merekah dan darah menyiram badannya. Al-Husain mencoba menahan pedih luka-lukanya sambil berusaha untuk bangkit. Sayang, sebuah anak panah lagi dari arah samping yang dihujamkan Abu Qudamah al-Amiri menancap di dada kanannya. Al-Husain roboh, urung bangkit. Ia mengerang kesakitan di tengah lingkaran pasukan berkuda ‘Umar bin Sa’d.

Dengan sisa kekuatannya, Al-Husain mencabut panah yang masih menancap di dada kanannya sekuat tenaga seraya menggigit bibirnya yang pucat kemuning. Darah segar menyembur dari luka di dadanya. Tangannya mengusap darah di permukaan jenggotnya seraya berucap parau:
“Demikiankah kalian mengucapkan terima kasih kalian kepada kakekku! Dengan tubuh dan wajah yang berdarah inilah aku akan menghadap kakekku, agar beliau tahu betapa kalian sangat membenci kebenaran dan agamanya.

Usai mengutarakan keluhannya, Al-Husain jatuh pingsan sesaat. Pasukan musuh membiarkan tubuh itu tergeletak begitu saja sambil menanti Al-Husain siuman. Pasukan musuh mulai panik tidak tahu apakah Al-Husain telah gugur ataukah masih hidup. Setelah berjalan beberapa saat, sementara jasad Al-Husain tak juga bergerak, tiba-tiba Zur’ah al-Kindi melompat dari kudanya dan menduduki jasad putra Fathimah yang lunglai itu. Pukulan pertama Zur’ah bin Syarik mengenai bahu kiri Al-Husain. Sasaran kedua adalah leher cucu Nabi itu. Zur’ah merasa perlu melengkapi keganasannya dengan menancapkan ujung pedangnya di wajah tampan jawara bani Hasyim itu. Al-Husain tersadarkan dari pingsannya oleh pukulan itu. Ia kini tak mampu menjerit.

“Semoga Allah meletakkan kau kelak pada tempatmu yang layak, neraka, bersama manusia-manusia durjana lainnya.” Pedang Al-Husain dirampas. Kini pemimpin pemuda-pemuda surga itu duduk di atas tanah tanpa senjata membiarkan darah tetap membasahi tubuhnya di tengah lingkaran pasukan berkuda yang berputar-putar.

Teriakan-teriakan pasukan ‘Umar mengalahkan pekikan dan erangan tangis Zainab dan adik-adiknya yang meronta-ronta sedih di seberang.

“Hai, apa yang membuat kalian diam? Cepat selesaikan!” seru ‘Umar dari belakang.
Al-Husain tergeletak selama beberapa menit. Perlawanan telah berakhir. Sekonyong-konyong Syabts bin Ruba’i menyeruak dari barisan dan bergegas menuju Al-Husain yang kehilangan tenaganya. Namun secara tak terduga lelaki yang dikenal beringas itu kembali ke barisannya.
“Hai, mengapa Kau kini menjadi penakut? Mengapa Kaubatalkan niat membunuh Al-Husain?” tegur Sinan bin Anas mengejek.

“Hai keparat, tahukah Kau, ketika ia tiba-tiba membuka matanya dan seketika kulihat wajah Muhammad kakeknya,” bantah Syabts mengutarakan alasannya.

“Kau memang penakut!” sambar Sinan sambil memisahkan diri dari barisannya menuju jasad Al-Husain.

Ketika hendak mengayunkan pedangnya ke arah leher Al-Husain, Sinan tiba-tiba melepaskan pedangnya dan lari meninggalkan tubuh tak berdaya itu sendirian. “Hai Kau, mengapa Kau lari terbirit-birit seperti burung unta dikejar harimau?” Sergah Syimir mengejek.

“Sungguh wajahnya adalah wajah Muhammad,” Jawab Sinan sambil menundukkan wajahnya.
“Dasar keturunan pengecut!” kecam Syimir.

Syimir menghampiri tubuh yang tergeletak itu. Manusia berwajah sangat buruk itu kini sedang duduk di atas dada Al-Husain.

“Hai, jangan samakan aku dengan dua orang yang tadi mendatangimu!” ejeknya sementara tangan kirinya mempermainkan jenggot adik Al-Hasan al-Mujtaba itu.

“Siapa Kau? Apa yang membuatmu begitu biadab?” tanya Al-Husain dengan suara terputus.
“Syimir dzil-jausan,” jawabnya singkat sambil menghunuskan pedangnya.

“Tahukah Kau siapa orang yang sedang Kaududuki?” Siapakah aku?” tanya Al-Husain.

“Ya, aku tahu Kau adalah Al-Husain putra ‘Ali dan Fathimah binti Muhammad, binti Khadijah,” jawabnya datar.

“Lalu, mengapa Kau masih berniat membunuhku?” protes Al-Husain yang mulai merasakan sesak di dadanya.

“Aku mengharapkan imbalan dari Yazid,” sahutnya sambil meringis.

“Tidakkah Kau mengharapkan syafaat dari kakekku Rasulullah?” tanya Al-Husain kemudian.
“Hai, sedikit dari imbalan Yazid lebih aku sukai ketimbang ayah, kakek dan nenek moyangmu,” bantah Syimir sombong disusul tawa keras.

“Kalau Memang Kau harus membunuhku, maka berilah sedikit air minum lebih dulu!” pinta Al-Husain.

“Oh, itu mustahil. Sekali lagi, permintaanmu mustahil kami penuhi! Kau akan mati dicekik haus sesaat demi sesaat! Sedikit air akan memperpanjang pertempuran. Bersabarlah sedikit! Tak lama lagi Kau akan diberi minum air telaga oleh kakekmu! Bukankah Begitu?” ujarnya menghina disusul tawa keras.

Mendadak Syimir terdiam dan setelah itu Al-Husain berkata: “Bukalah kain penutup wajahmu!”
Syimr memperlihatkan wajahnya lalu menutupnya kembali.
“Benar ucapan kakekku,” ujar Al-Husain.
“Hai, apa ucapan kakekmu itu?” tanyanya penasaran.
“Kakekku pernah memberi tahu aku bahwa pembunuhku adalah lelaki berwajah menakutkan. Tubuhnya penuh bulu kasar hingga tampak tidak lebih memikat daripada babi hutan,” timpal Al-Husain seraya memalingkan wajahnya.
“Bedebah! Terkutuklah Kau dan kakekmu yang menyamakan aku dengan babi dan anjing. Akan kusembelih Kau perlahan-lahan sebagai balasan atas ucapan kakekmu itu!” sungut Syimr dengan nada benci.

Drama Karbala memasuki adegan paling menyayat hati. Syimr mulai melepas setiap anggota badan Al-Husain perlahan-lahan. Al-Husain hanya menjerit parau: ”Wa Muhamadah! Wa Aliyah! Wa Hasanah! Wa Ja’farah! Wa Hamzatah! Wa Aqilah! Wa Abbasah! Wa Qatilah! Setiap kali pedih luka dirasakannya.

Ketika tak satu pun anggota badan Al-Husain yang lolos dari sayatan pedang, Syimr memindahkan pedangnya yang amat tajam dan panjang itu ke leher Al-Husain. Syimr hendak menyembelih leher Imam dari depan namun gagal, karena leher itu dulu sering diciumi rasulullaaaaaaaaaah! Syimr memindahkan pedangnya ke leher belakang Imam husain. Kepala cucunda kesayangan Nabi itu kini digerakkan perlahan-lahan ke kanan dan ke kiri oleh manusia terlaknat itu.

Gema tangis dan raungan wanita-wanita keluarga Abdul Qasim yang membumbung ke angkasa mengawali adegan pemisahan leher Al-Husain dari tubuhnya. Tubuh penuh luka itu menggelepar-gelepar tatkala pedang itu membuka dan membuka dengan tenang permukaan kulit leher Al-Husain.

Mereka merebut pakaian Al-Husain ,panah dan busur Al-Husain, melucuti pakaian Al-Husain yang telah tergeletak, melepas sorban yang melilit kepalanya, mengambil paksa sepasang sepatunya. Jadal “terpaksa” memotong jari Al-Husain karena kesulitan melepas cincinnya.
“Hai, siapakah yang berani menginjak-injak tubuh Al-Husain dengan kaki kudanya?” teriak Ibnu Sa’d mengumumkan sayembara.

“Kami,” sahut sepuluh penunggang kuda, termasuk Ishaq bin Hauyah al-Hadhrami dan Akhnas bin Mirtsad al-Hadhrami. “Pesta Iblis” pun dipersembahkan demi menyempurnakan kejahatan Yazid dan anak buahnya. Tubuh pemimpin para pemuda surga itu terkoyak-koyak, terlempar dan terbanting di antara ratusan kaki kuda.Sekelompok Manusia berjiwa iblis mulai menendang2 kepala alhusain kesana kemari. Mereka menyentuh KEPALA SUCI YANG SERING DICIUM RASUL ITU DENGAN KAKI MEREKA! Bahkan Mereka menendangnya! Mereka bermain2 dengan Kepala Kekasih ALLAH! Sementara ‘Umar dan pasukannya terus menenggak khamar merayakan kemenangan.

Di seberang, takbir bergabung dan jerit tangis wanita bergema tatkala melihat kuda jantan berwarna putih itu datang ke arah kemah tanpa penunggang.

Zainab dan para wanita Ahlulbait berhamburan memeluk kuda penuh luka itu seraya berteriak parau: “Wa Husainah! Wa Husainah! Wa Husainah!

Karbala, 10 Muharam, petang, Pedang Syimr telah berlumuran darah suci Nabi saww. Kepala suci Pemimpin para syuhada telah terpisah dari tubuhnya. Serombongan malaikat turun ke bumi untuk menjemput Ruh Suci Al-Husain, kemudian terbang dengan seulas senyum. Ruh itu kini telah bergabung bersama para kekasihnya: Sang Nabi, Ali, Fatimah dan Hasan. Terdengarlah suara menggelegar Jibril: “Wahai Jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai.........

Merpati-merpati di emperan masjid Madinah dan halaman Ka’bah serentak terbang. Tanah dalam botol di bilik Ummu Salamah seketika mencair merah. Langit bergemuruh dan awan gulita bergulung di angkasa. Kejahatan terbesar sepanjang sejarah dunia telah terjadi.

Inna lillah wa inna ilaihi raji’un.
Inna lillah wa inna ilaihi raji’un.
Inna lillah wa inna ilaihi raji’un.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar