Selasa, 20 Mei 2008

Sayyidah Nafisa - Bunga Dari Taman Ahlulbait

Sejarah Islam hanya mencatat sedikit saja nama ulama perempuan. Umat lebih mengenal nama ulama lelaki daripada perempuan. Umat Islam di Indonesia lebih mengenal Syafii, Hanafi, Hanbali, Maliki, dan banyak lagi. Tapi tak pernah mendengar dari siapa mereka belajar.
Popularitas ulama perempuan tenggelam di balik kharisma mereka yang belajar darinya. Padahal tak ada hilir jika tak ada hulu. Tak kenal maka tak sayang. Kita memang tak tahu mereka. Bagaimana kita menyayanginya?

Tersebutlah sebuah nama, Sayyida Nafisa. Darinya Syafii memperoleh pengajaran ilmu fiqh, Quran dan hadis. Pendiri salah satu dari empat madzhab, bahkan madzhab terbesar yang diikuti umat Islam Indonesia ini, sengaja datang dari Baghdad. Ia menyusul cucu Imam Hasan as, lima tahun setelah perempuan itu berada di Kairo Mesir. Tapi nama Sayyida Nafisa seolah tak dikenal umat Islam Indonesia. Mereka hanya tahu Syafii, pendiri madzhab Syafii.
Sayyida Nafisa lahir di Madinah pada tahun 145 Hijriah. Ia keturunan langsung Nabi Muhammad SAWW melalui cucu beliau Imam Hasan as. Putera pasangan Imam Ali as dan Sayyida Fatimah as itu memiliki seorang anak bernama Zaid, dan selanjutnya Zaid mempunyai anak bernama Hasan Al Anwar, ayah Nafisa. Jadi, Hasan Al Anwar adalah cucu Imam Hasan as.
Karena itu wajar jika Sayyida Nafisa juga mewarisi kecerdasan sekaligus kefasihan berbicara. Dari keluarganya, ia memperoleh pengetahuan tentang Islam. Pendeknya jalur kekeluargaan serta kehidupan keseharian yang ia jalankan membuat wawasannya tentang Alquran dan hadis Nabi sangat luas.

Nafisa kecil selalu dibawa ayahnya ke Masjid Nabawi untuk shalat dan bermunajat. Hasan Al Anwar yang sempat menjadi gubernur Madinah biasa berlama-lama di makam datuknya Muhammad SAWW. Nafisa kecil mendampingi tiap kali ayahnya ke Al Haram. Kala itu usianya masih balita. Ia masih dituntun menuju makam Rasul sampai usianya enam tahun.
Hasan Al Anwar kerap memperkenalkan anaknya pada Rasulullah. ''Ya Rasulullah, ini aku datang bersama putriku Nafisa.'' Kunjungan itu ia lakukan terus sampai satu kali ia bermimpi berjumpa kakeknya yang mengatakan senang berjumpa Nafisa. Rasulullah dalam mimpi Hasan mengaku senang pada Nafisa karena Allah juga menyukainya.
Kebiasaan semasa kecil terbawa terus. Nafisa menjadi perempuan yang rajin belajar dan terus-menerus beribadah di masjid. Karena itu tak heran jika sejak kecil ia telah menghafal Alquran dan mengerti hukum Islam sejak belia. Melanjutkan tradisi keluarga Rasul, ia juga terbiasa bermunajat di makam Rasul.

Kefasihan bicara, penguasaan ilmu yang baik serta kekhusyukannya beribadah menjadikan Nafisa rujukan penduduk Madinah yang hendak bertanya. Perempuan yang sangat zuhud dan alim ini segera disukai penduduk Madinah.
Ia kemudian punya beberapa gelar antara lain Nafisat Al Ilm wal Ma'rifat, Nafisat Tahira (wanita suci), Nafisat Al Abida (Nafisa ahli ibadah), Nafisat Al Darayn, Sayyidat Ahlul Fatwa, Sayyidat Al Karamat dan Umm Al Awaajiz. Kesemuanya itu merujuk pada kehidupan dan keulamaannya.

Diusia 16 tahun, Nafisa menikah. Ia disunting Ishaq Mu'taman, keturunan langsung Imam Husain as, saudara Imam Hasan as putra Imam Ali as dan Sayyida Fatimah as. Dari pernikahan ini, Nafisa memiliki dua anak Al Qasim dan Ummu Kaltsum.
Menikah, tak menjadikan perempuan ini menarik diri dari kegiatan belajar dan mengajar. Karena memang itu pesan yang disampaikan datuknya Muhammad SAWW. Ia juga berangkat ke Makkah untuk ibadah haji. Dan ia memilih jalan kaki sementara yang lain berkendaraan unta. ''Aku malu pada kakekku Muhammad bila pergi ke Makkah berkendaraan.'' Begitu dia memberi alasan.

Saat berusia 44 tahun, Sayyida Nafisa hijrah ke Mesir. Tak ada penjelasan mengapa ia pindah ke negeri di seberang benua itu. Namun sebelum ia tiba, simpati masyarakat telah diperolehnya. Masyarakat Mesir sangat menghormati ulama perempuan keturunan Rasulullah SAWW. Saat datang, Sayyida Nafisa disambut bak putri. Ia diarak dengan lagu-lagu shalawat.
Putri Hasan Al Anwar ini lantas tinggal di kediaman Jamaluddin Abdullah Al Jassas, rekannya yang orang Mesir. Tiap saat rumah ini selalu dikerumuni orang. Mereka datang untuk belajar, meminta doa, ber-tabarruk, atau ikut beribadah.

Merasa tak enak hati dengan pemilik rumah, Sayyida Nafisa pindah ke rumah temannya Ummu Hani yang sekarang berada di distrik al Hasaniyya. Namun kepindahan tak membawa perubahan. Umat Islam Mesir dari berbagai pelosok masih mengunjunginya.
Pada akhirnya, Sayyida Nafisa merasa tak lagi bisa khusyuk dalam berdoa. Rumahnya selalu ramai. Sementara tak mungkin menolak permintaan masyarakat yang datang meminta doa, ia merasa kehilangan waktu untuk berdua saja dengan Sang Pencipta, atau saat ia hendak berbicara dengan kakeknya Rasulullah SAWW.

Perempuan ini menyerah. Ia memutuskan untuk kembali ke Madinah Al Munawwarah. Namun, keputusannya mengecewakan rakyat Mesir. Melalui gubernur Mesir, mereka memohon salah satu keturunan Nabi itu tak meninggalkannya. Umat Islam Mesir butuh bimbingannya. Mereka merasa kehadiran Sayyida Nafisa membawa berkah.

Lagi-lagi ia tak dapat mengelak. Sayyida Nafisa mengalah. Ia tak mungkin meninggalkan masyarakat yang begitu mencintainya. Ia memutuskan untuk tinggal. Tentu masyarakat Mesir bersuka cita.

Sebagai rasa terima kasih, gubernur Mesir kala itu Sirri bin Hakam menghadiahkan sebuah rumah di tempat lain. Rumah itu berada di lahan yang lebih besar. Dengan begitu kerumunan dapat tertampung. Ia juga bisa mengatur waktu untuk bermunajat, mengajar dan menerima kunjungan. Pada akhirnya ia menerima masyarakat pada hari tertentu. Selebihnya adalah waktu pribadi untuk ibadah dan mengajar.

Di rumah baru itu kemudian Sayyida Nafisa menerima murid. Ia khusus mengajar hukum Islam, Alquran dan hadis. Salah satu muridnya yang kemudian sangat terkenal adalah Syafii. Syafii datang lima tahun setelah Nafisa tiba di Kairo. Murid lain yang juga menjadi besar adalah Utsman bin Said Al Misri, Dzun Nun Al Misri, dan Masri Al Samarkandi.
Syafii dan Sayyida Nafisa lantas berkolaborasi. Mereka mengelola majelis pembelajaran itu bersama. Di tempat Sayyida Nafisa, Syafii bisa tinggal enam jam dalam sehari. Ia mengajar ilmu kalam, figh dan tafsir.

Syafii juga memimpin shalat di markas Sayyida Nafisa. Gurunya itu akan menjadi makmum dan berdiri di belakang. Sampai saat sakitnya, Syafii masih berkunjung ke rumah Sayyida Nafisa. Ia meminta doa. Dan saat tak mampu lagi berjalan, ia mengirim muridnya untuk duduk di majelis yang dipimpin Sayyida Nafisa. Si murid lantas menyampaikan salam Syafii. ''Saudara sepupumu ini tengah terbaring sakit. Doakan aku agar segera sembuh.'' Begitu pesan yang dititipkan Syafii buat guru Sayyida Nafisa. Sampai satu saat, Sayyida Nafisa mengatakan kepada orang yang dititipi pesan kata-kata 'Mudah-mudahan Allah akan bertemu dengannya. Sebuah pertemuan yang teramat baik.'

Pesan tersebut dimaknai Syafii sebagai pertanda bahwa saat kematiannya telah dekat. Ia lantas mengirimkan lagi utusan yang menyampaikan permohonan terakhir agar Sayyida Nafisa berkenan menshalatkan jenazahnya setelah ia meninggal.

Sayyida Nafisa menshalatkan Syafii di rumahnya, tempat mereka biasa mengaji bersama. Jenazah Syafii dibawa ke rumah Sayyida Nafisa untuk dishalatkan.
Ulama yang satu ini hidup sebagai seorang sufi. Diriwayatkan ia hanya makan sekali tiap tiga hari. Ia bahkan menyalurkan lagi hadiah yang diberikan gubernur Mesir berupa uang kepada orang miskin di sekitarnya. Apapun yang dihadiahkan kepadanya akan ia sebar lagi kepada mereka yang membutuhkan. Ia memilih hidup sangat miskin meski dengan kepintaran yang sangat kaya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar