Minggu, 11 Mei 2008

Rabithah - Spiritual Connection

Rabithah – Hubungan Batin Dengan Syaikh
(Wejangan Maulana Syaikh Ghauts Hasan)
A’udzubillahi minasysyaithanirrajiim
Bismillahirrahmanirrahiim al Khairil asma
Allahumma shalli ala Muhammad wa Ahlulbaiti Thahiriina wat
Thayyibiina wa Ashabihil Akhyaar wa Auliaullahi wa al Ulama al
Haqq al warasatul Anbiya wa Ummati muslimin wal muslimat
wassalam.

Rabithah adalah suatu hubungan spiritual, suatu ikatan jiwa. Ketahuilah, bahwasanya awal dari keberhasilan seorang murid adalah terpeliharanya rabithah dengan syaikhnya, ini berarti dia selalu merasa dekat dengan syaikhnya walaupun antara dirinya dengan syaikh terpisahkan oleh jarak dan waktu, seorang murid yang memelihara rabithah dengan syaikh akan merasa bahwa dirinya selalu ada didalam pengawasan syaikhnya, dalam tahap yang lebih tinggi dia mampu melihat syaikh dengan mata hatinya kapan dan dimanapun, mampu berbicara dengan syaikh baik secara langsung ataupun melalui bahasa spiritual dengan melihat simbol-simbol dari segala sesuatu yang terjadi dimana hal ini merupakan sinyal yang dikirim oleh syaikh kepada muridnya.

Tahukah kalian apa isi dari kitab "Diwan?" Itu adalah kitab yang disusun oleh Syaikh Jalaluddin Rumi, didalamnya berisikan puisipuisi yang merupakan ekspresi kecintaan beliau kepada gurunya yakni Syaikh Syamsuddin at Tabrizi. Melalui kecintaan kepada seorang syaikh itulah Jalaluddin Rumi dianugerahi cinta Ilahi, karena kecintaan kepada seorang ulama harus diikuti dengan menjalankan setiap ajarannya, dan ajaran seorang ulama itu tidak lain adalah ajaran dari Rasulullah Saww. Maka jika engkau mencintai seorang syaikh, itu sama dengan engkau mencintai Rasul, karena Rasulullah Saww telah bersabda, "Para ulama adalah pewarisku." Dan jika engkau mencintai Rasulullah Saww, maka Allah Ta’ala akan menganugerahkan cinta Nya kepadamu.
Rabithah seorang syaikh kepada muridnya adalah ungkapan dari kasih sayangnya, oleh karenanya seorang murid juga diharapkan dapat mencintai syaikh sebagaimana dirinya telah dicintai. Adapun rabithah ini akan terputus, dan murid tidak akan memperoleh manfaat dari ilmu syaikh manakala terbersit suatu prasangka buruk dari murid kepada syaikhnya. Seorang syaikh juga manusia biasa yang tidak terlepas dari kekhilafan, akan tetapi didalam hati seorang murid tidak boleh terbersit suatu ingatan atas kekhilafan yang dilakukan syaikh, justru sang murid harus mendoakan supaya Allah Ta’ala mengampuni kekhilafan yang dilakukan syaikhnya. Karena adakalanya seorang syaikh menguji keteguhan hati muridnya dengan melakukan suatu perbuatan yang dianggap tidak pantas.

Terdapat seorang wanita pengikut ajaran Syaikh Abdul Qadir Jilani ra, yang tinggal didaerah "Ceylon" (sekarang Sri Lanka). Pada suatu waktu wanita tersebut diserang oleh seorang laki-laki yang hendak memperkosanya, kemudian dalam keadaan tidak berdaya wanita tersebut berteriak "Ya Allah aku memohon melalui Rasul dan wali Mu, Wahai Syaikhku, Abdul Qadir, dengan kekuatan yang dilimpahkan Allah.....selamatkan aku." Pada saat yang bersamaan Syaikh Abdul Qadir ra (di Baghdad) sedang mengambil wudhu, para murid melihat Syaikh tiba-tiba berhenti berwudhu, kemudian dengan marah Syaikh Abdul Qadir ra melempar sandal terompahnya ke arah langit, ternyata dengan ijin Allah Ta’ala terompah Syaikh Abdul Qadir al Jailani mendarat dan menghantam kepala laki-laki yang hendak memperkosa pengikutnya didaerah Ceylon tersebut, sehingga selamatlah wanita pengikut Syaikh Abdul Qadir al Jailani ra itu. Dan sampai dengan saat ini sandal terompah Syaikh Abdul Qadir al Jailani ra tersebut masih berada dan diabadikan disebuah museum di Sri Lanka.

Apabila seorang murid memiliki rabithah dengan syaikh, maka dirinya tidak akan mampu melakukan pelanggaran dan kemaksiatan, karena dia tahu bahwa syaikh selalu memperhatikan kondisinya. Jika dia menemui masalah maka dia tahu bahwa syaikh sedang menguji keimanannya, ketahuilah bahwa tahap ini akan mengantarkan seorang murid kepada ihsan, yakni engkau mampu untuk menyembah Allah dengan menyaksikan hakikat keberadaan Nya, dan jika engkau tidak melihatnya sesungguhnya Allah Ta’ala senantiasa mengawasimu.
Rabithah akan membawamu kepada tahap fana fi syaikh (murid melebur didalam keberadaan syaikh), yang selanjutnya membawamu kepada tahap fana fi Imam, tahap fana fi Rasul, dan kepada tujuan tertinggi setiap salik (penempuh jalan spiritual) yakni maqam fana fillah, seorang hamba yang melebur dan menyatu dalam hakikat keberadaan Allah Ta’ala. Dalam kondisi fana fillah, seorang hamba akan hilang egonya, dia akan melebur dalam hakikat keberadaan Allah, maka setiap pandangan, pendengaran, geraknya tubuh, tidak lain semuanya merupakan tajalli (manifestasi) dari sifat-sifat Allah Ta’ala. Sebagaimana Firman Nya didalam Hadits Qudsi :
"Melalui amalan-amalan nawafil hamba-hamba Ku menjadi sedemikian rupa dekatnya dengan Ku, sehingga Aku menjadi telinganya yang dengannya dia mendengar, Aku menjadi matanya yang dengannya dia melihat, aku menjadi tangannya yang dengannya dia memegang, dan aku menjadi kakinya yang dengannya dia berjalan."
(HR. Bukhari)


Wa minAllahu at taufik, wa salallahu ala Sayyidina Muhammad wa
alihi wasallam
Alhamdulillahirabbil alamin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar