Senin, 12 Mei 2008

Maqam Ri'ayah (Memelihara Diri)

Wejangan Spiritual Imam Ja'far as Shadiq



Barangsiapa yang menjaga hatinya dari kelalaian dalam berdzikir, melindungi dirinya dari jerat syahwat, serta menjaga akalnya dari penyimpangan, dia akan dikelompokkan kedalam golongan mereka yang hidup hatinya. Kemudian bagi mereka yang menjaga diri dari memanfaatkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya untuk kepentingan pribadi, yang memelihara keimanannya dari bid’ah-bid’ah yang merusak, serta memelihara hartanya dari sesuatu yang haram, maka dirinya akan dikelompokkan kedalam golongan orang-orang yang shaleh.

Rasulullah (semoga kedamaian tercurah atas diri beliau dan keluarganya) bersabda, “Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap laki-laki dan perempuan yang beriman.” Ketahuilah bahwa ilmu yang dimaksud dalam hadits itu yang paling utama adalah ma’rifat an nafs (ilmu pengetahuan tentang hakikat diri manusia), ilmu yang membawa manusia agar dapat bersyukur kepada Allah Ta’ala. Oleh karena itu sangatlah penting bagi semua manusia, agar dalam setiap kondisi hidupnya senantiasa memanjatkan puji syukur ke Hadhirat Ilahi dan memohon ampunan dari kelalaiannya dalam bersyukur.

Dan ketahuilah jika Allah menerima syukur seorang hamba maka itu berarti Dia berkenan melimpahkan karunia-Nya kepada sang hamba. Namun jika syukur seorang hamba ditolak, maka hal itu berarti Allah berkehendak untuk menampakkan sifat Maha Adil (agar sang hamba berusaha lebih keras lagi untuk dapat bersyukur). Setiap orang harus menyadari pentingnya bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ibadah dan mengungkapkan rasa syukur, serta bersungguh-sungguh dalam menjaga diri dari melakukan dosa, serta menjauhi penyebab-penyebab kemaksiatan.

Untuk mencapai kondisi seperti itu, dasarnya adalah engkau harus menyadari kemudian mengungkapkan kebutuhan serta kebergantunganmu secara total kepada Allah Ta’ala, bahwa engkau membutuhkan perhatian Allah, dan bahwa ketaatan kepada Allah adalah kebutuhanmu.
Dan kunci dari semuanya itu adalah pemasrahan dirimu kepada Allah, menghapuskan angan-angan dan khayalanmu dengan banyak mengingat kematian, serta menumbuhkan kesadaran bahwa dalam setiap saat sesungguhnya engkau sedang berdiri dihadapan Yang Maha Perkasa. Dengan melakukan hal ini engkau akan terbebaskan dari jerat-jerat syahwatmu, engkau akan terselamatkan dari musuh-musuhmu, dan jiwamu akan dianugerahi kedamaian. Hakikat dari ketulusan dalam beribadah adalah suatu harmoni yang selaras (antara hati, ucapan, dan perilaku), dan tangga menuju kemerdekaan spiritual adalah engkau mensikapi hidupmu seakan-akan ini adalah hari terakhir yang engkau jalani.

Rasulullah (semoga kedamaian tercurah atas diri beliau dan keluarganya) bersabda, “Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah sesaat. Maka jalanilah hidupmu dengan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Gerbang kepada kebebasan spiritual ini adalah senantiasa berkhalwat menjauhkan diri dari keduniawian, serta bertafakur secara terus-menerus melakukan perenungan mengenai kesementaraan dunia ini. Adapun inti dari khalwat adalah merasa cukup dengan apa yang telah engkau terima, dan meninggalkan hal-hal yang tidak memiliki manfaat bagi jiwamu. Sedangkan hakikat dari tafakur adalah mengosongkan diri dari hasrat dan keinginan rendahmu, yang merupakan tiang dari kezuhudan. Sempurnanya zuhud adalah ketaqwaan, dan gerbang dari ketaqwaan adalah rasa takut kepada Allah, yang dibuktikan dengan banyak mengagungkan Allah Ta’ala, istiqamah menaati-Nya dengan tulus, serta merasa takut dan waspada agar tidak melakukan hal-hal yang dilarang.

Ketahuilah semua maqam spiritual ini hanya dapat dilalui jika dirimu dibimbing oleh ilmu (memiliki seorang pembimbing spiritual), Allah Yang Maha Besar Berfirman,
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah mereka yang berilmu.”
(Qur’an surah Fathir ayat 28)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar