Senin, 26 Mei 2008

Kondisi Para Wali Allah

Wejangan Spiritual Maulana Syaikh Junaid al Baghdadi




Aku bertanya, "Betapa menakjubkan berita yang engkau berikan kepadaku, betapa kalangan yang dinisbatkan dengan sifat yang luhur itu berlaku aturan? Bagaimana itu terjadi, sampai aku mengetahuinya?"
Ia menjawab, "Pahamilah, Ketika mereka mencari-Nya dalam kehendak-Nya, dan diri mereka terhalang, lantas mereka mencari-Nya dalam pelimpahan-Nya tehadap mereka, pada harapan bencana yang ada pada sifat-sifat mereka. Karena kelezatannya ada pada mereka, dimana mereka menutupi mereka agar melaksanakan dengan kejatiandirinya dan berkerja dengan indra mereka serta menikmati kelezatan dengan diri mereka dalam tempat-tempat kebanggaan, hasil-hasil dzikir dan pelimpahan paksa.

Bagaimana engkau mengetahui hal itu, padahal tidak ada yang mengetahuinya kecuali ahlinya, tidak bisa menemukan selain mereka dan tidak ada yang kuat selain mereka pula. Bagaimana engkau tahu, kenapa mereka mencari-Nya namun juga menghalangi-Nya, lantas mereka berperantara dengan sesuatu dari-Nya sebagai keharusan kepada-Nya, dan mereka pun memohon pertolongan dalam keperantaraan itu melalui hakikat-hakikat yang ada pada-Nya? Karena sebenarnya Dia telah mempertemukan mereka dengan Wujud-nya untuk mereka. Lalu Dia menetapkan ghaibnya rahasia-rahasia-Nya dalam diri mereka dan kepada mereka, yang sampai kepada-Nya. Maka terhapuslah makhluk-makhluk dan terputuslah berbagai kebutuhan, sehingga hubungan menjadi melimpah, derajat menjadi luhur, melalui kesirnan indra dan kefana'an diri.

Kemudian mereka dihadirkan oleh fana' dalam kefana'an mereka, dan mereka dipersaksikan Wujud dalam wujud mereka. Sesuatu yang menghadirkan dan mempersaksikan mereka dari diri mereka, adalah tirai yang samar dan hijad yang lembut, dimana mereka menemukan tirai pada sekat kesirnaan dan kepayahan yang berat, untuk menutupi segala yang tidak selaras, berupa sebab-sebab langsung, dengan menghadirkan berbagai sebab yang layak, dan layak pula sifatnya bagi makhluk. Maka mereka pun mencari sesuatu itu di tempat-tempat pencarian mereka, namun mereka tidak mengetahuinya dari dalam diri mereka. Karena mereka menempati tempat kekuatan, dan mereka meraih hakikat-hakikat kehormatan, maka pada mereka ditempatkan sesuatu yang menyibukkan mereka. Maka muncullah sepenuhnya yang ada dan yang tidak ada pada sifat. Walaupun sikat cobaan bertambah.''

Aku meminta, "Uraikan ragam cobaan mereka kepadaku di tempai-tempat mereka yang menakjubkan dan kedudukan mereka yang dekat!''
Ia menjawab, "Mereka merasa sudah cukup dengan apa yang ada, lalu mereka keluar dari segala hajat kebutuhan, meninggalkan telaah, menggunakan kemenangan dengan mengerahkan kemampuan, dan dengan sergapan kebanggaan. Dengan begitu mereka memandang kepada segala sesuatu melalui apa yang ada pada mereka, tanpa menaiki tahap yang ada pada-Nya, sehingga mereka menegakkan keterpisahan dan keterputusan. Maka ketika mereka melihat dan menemukan dengan dua matanya, dan terlimpahi dua perkara, tiba-tiba tampak lembah AI-Haq di hadapan mereka, yang datang dari-Nya untuk mereka, berupa sesuatu yang diperuntukkan bagi mereka, untuk berkonsentrasi kepada-Nya sepenuh kemampuannya. Maka keluarlah mereka dari hal tersebut tanpa ada keraguan kepada-Nya, memprioritaskan terhadap kemandirian sukacita mereka, yang menunjukkan kepada-Nya dan meyakinkan dengan penuh kelapangan dada. Mereka tidak ingin kembali atas apa yang ada pada diri mereka dan tidak ingin pula mencari tempat yang menuju kepada mereka. Bila keadaannya demikian, mereka diliputi oleh cobaan, sementara mereka tidak tahu.''
Aku berkata, "Engkau telah membuat aneh akalku dan menambah ketololanku. Karena itu dekatkan pada pemahamanku.''

Ia menjawab, "Para pemilik cobaan (ahlul bala') ketika sedang bertemu dengan Sang Pembicara Yang Benar pada diri mareka, dan hikmah-hikmah-Nya berlaku pada mereka, maka rahasia-rahasia mereka jadi asing, arwah-arwah mereka lebur sepanjang umur, hingga tidak menghinggapi wilayah-wilayah dan tidak pula menenterami. Ia menjadi mesra dengan Sang Pengujinya, dan manja dengan kefana'an pemanja yang lunglai. Ia benar-benar digelisahkan oleh kesirnaannya, sedang kehinaannya adalah kerinduannya, dimana ia didahagakan dan dilaparkan di hadapan-Nya, digelorakan rindu kepada-Nya, yang diikuti oleh dahaga demi dahaga akan bertumbuhan. Ia di paksa oleh ma'rifatnya, dan tergilas oleh kesirnaannya. Kedahagaan kepada-Nya agar terus menuju paripurna, sementara setiap tutup yang terbuka adalah ilmu baginya, yang dirasakan melalui rasa fakir, yang dibaharui dengan memandang kemungkinan jerih payah, yang dibebani oleh pengaruh bahan makanan (jiwa), rindunya sampai membelah gelisahnya, yang senantiasa mecari obatnya.

Ia senantiasa menggantungkan jejak-jejak Sang Kekasih: segala yang jauh di mata, amatlah dekat. Ia ditirai dengan persembunyian karena sirna tirainya yang harus dipakai di hadapan-Nya. Ia merasa lapang dada dengan kemusnahannya melalui cobaan yang ditimpakan kepadanya. Ia sudah tak peduli dengan dirinya sendiri, cukup dengan cintanya, dan ketergantungan dalam tempat taqarrubya. Ia melihat batas-batas kejapan-kejapan dalam kecepatan bangunnya. Kebinasaannya tenggelam, lalu mengalir pada dirinya dalam kelanggengan abadi, dan pemedihan cobaan, bahkan sampai cobaan itu sendiri lekat nikmat dengannya, dan merasa masra dengan cobaan itu demi keabadiannya. Ketika ia melihat-Nya begitu dekat, ia mencegah dirinya dengan mendatangi sengantanya. Ia tak pernah merasa lelah memikulnya, tidak diletihkan oleh kebosanannya. Mereka adalah orang-orang gagah dalam menghadapi cobaan, karena adanya kegembiraan bagi mereka. Mereka berdiri dalam keperkasaan-Nya, menunggu perintah-Nya, agar Allah melakukan suatu perintah untuk dilaksanakan.

Kalangan ahlul bala' ini terbagi menjadi dua golongan: Di antara mereka ada yang menyenangi pada cobaan-Nya, maka lalu ia tenteram pada kehendak-Nya, ia tak memedulikan kesenangan untuk memuaskan dirinya terhadap segala sesuatu. Kesenangannya dengan wujud rasanya, hingga ia terkalahkan dan termakar dengannya, yang membuatnya cerai-berai. Namun ia bersiap diri untuk menyambut cobaan-Nya sebagai kehormatan, dan ia memandang bahwa penyebab keluar dari cobaan adalah faktor yang menyebabkan kekurangan dan kelemahan ..

3 komentar:

  1. Assalamu 'alaikum Wr.Wb.
    Menarik sekali menyimak wejangan dari sufi besar ini.
    Namun apakah beliau juga ada mendirikan suatu Thoriqoh tersendiri ? Seperti Syekh Abdul Qodir al-Jilani dengan Thoriqoh Qadiriahnya dan lain sebagainya.
    Mohon informasinya jika memang ada thoriqoh beliau dan ada di daerah mana thoriqoh tersebut banyak berkembang.

    Sebelumnya saya ucapkan terima kasih.

    Wassalamu 'alaikum Wr. Wb.

    Hormat Saya,

    Abu Akmal

    BalasHapus
  2. Alaikumsalam.Wr.Wb
    Bismillahirrahmanirrahiim
    Allahumma Shalli 'ala Muhammad wa 'ala Aalihi

    Akhi Abu Akmal, Hadhrat Maulana Syaikh Abul Qasim Junaid al Baghdadi adalah guru kami, beliau merupakan Syaikh ke-11 dalam mata rantai silsilah thariqah Hasan wa Husein.

    Selain tercantum dalam silsilah masyaikh thariqah Qadiriyyah, Syaikh Junaid al Baghdadi
    juga tercantum dalam thariqah Ni'matullah, dll.

    kalau antum ingin menjadi murid beliau, maka masukilah thariqah yang dalam silsilahnya terdapat nama beliau.


    Wassalam.

    BalasHapus
  3. Assalamu 'alaikum Wr.Wb.

    Syukron katsir.... atas tanggapannya.
    Saya memang masih belajar banyak tentang thoriqoh.
    Semoga kita senantiasa dalam bimbingan-Nya dan mendapat syafa'at Rasulullah SAW. Amin ...

    BalasHapus