Selasa, 20 Mei 2008

Kisah Imam Ali - Sang Ahli Matematika

Dua orang sehabat melakukan perjalanan bersama. Disuatu tempat, mereka berhenti untuk makan siang. Sambil duduk, mulailah masing-masing membuka bekalnya. Orang yang pertama membawa tiga potong roti, sedang orang yang kedua membawa lima potong roti.
Ketika keduanya telah siap untuk makan, tiba-tiba datang seorang musafir yang baru datang ini pun duduk bersama mereka.
“Mari, silakan, kita sedang bersiap-siap untuk makan siang,”kita salah seorang dari dua orang tadi.
“Aduh…saya tidak membawa bekal,” jawab musafir itu.
Maka mulailah mereka bertiga menyantap roti bersama-sama. Selesai makan, musafir tadi meletakkan uang delapan dirham di hadapan dua orang tersebut seraya berkata: “Biarkan uang ini sebagai pengganti roti yang aku makan tadi.” Belum lagi mendapat jawaban dari pemilik roti itu, si musafir telah minta diri untuk melanjutkan perjalanannya lebih dahulu.
Sepeninggal si musafir, dua orang sahabat itu pun mulai akan membagi uang yang diberikan.
“Baiklah, uang ini kita bagi saja,” kata si empunya lima roti.
“Aku setuju,”jawab sahabatnya.
“Karena aku membawa lima roti, maka aku mendapat lima dirham, sedang bagianmu adalah tiga dirham.
“Ah, mana bisa begitu. Karena dia tidak meninggalkan pesan apa-apa, maka kita bagi sama, masing-masing empat dirham.”
“Itu tidak adil. Aku membawa roti lebih banyak, maka aku mendapat bagian lebih banyak”
“Jangan begitu dong…”
Alhasil, kedua orang itu saling berbantah. Mereka tidak berhasil mencapai kesepakatan tentang pembagian tersebut. Maka, mereka bermaksud menghadap Imam Ali bin Abi Thalib r.a. untuk meminta pendapat.
Di hadapan Imam Ali, keduanya bercerita tentang masalah yang mereka hadapi. Imam Ali mendengarkannya dengan seksama. Setelah orang itu selesai berbicara, Imam Ali kemudian berkata kepada orang yang mempunyai tiga roti: “Terima sajalah pemberian sahabatmu yang tiga dirham itu!”
“Tidak! Aku tak mau menerimanya. Aku ingin mendapat penyelesaian yang seadil-adilnya, “Jawab orang itu.
“Kalau engkau bermaksud membaginya secara benar, maka bagianmu hanya satu dirham!” kata Imam Ali lagi.
“Hah…? Bagaimana engkau ini, kiranya.
Sahabatku ini akan memberikan tiga dirham dan aku menolaknya. Tetapi kini engkau berkata bahwa hak-ku hanya satu dirham?”
“Bukankah engkau menginginkan penyelesaian yang adil dan benar?”
“Ya”
“Kalau begitu, bagianmu adalah satu dirham!”
“Bagaimana bisa begitu?” Orang itu bertanya.
Imam Ali menggeser duduknya. Sejenak kemudian ia berkata:”Mari kita lihat. Engkau membawa tiga potong roti dan sahabatmu ini membawa lima potong roti.”
“Benar.”jawab keduanya.
“Kalian makan roti bertiga, dengan si musafir.”
‘Benar”
“Adakah kalian tahu, siapa yang makan lebih banyak?”
“Tidak.”
“Kalau begitu, kita anggap bahwa setiap orang makan dalam jumlah yang sama banyak.”
“Setuju, “jawab keduanya serempak.
“Roti kalian yang delapan potong itu, masing-masingnya kita bagi menjadi tiga bagian. Dengan demikian, kita mempunyai dua puluh empat potong roti, bukan?” tanya Imam Ali.
“Benar,”jawab keduanya.
“Masing-masing dari kalian makan sama banyak, sehingga setiap orang berarti telah makan sebanyak delapan potong, karena kalian bertiga.”
“Benar.”
“Nah…orang yang membawa lima roti, telah dipotong menjadi tiga bagian mempunyai lima belas potong roti, sedang yang membawa tiga roti berarti mempunyai sembilan potong setelah dibagi menjadi tiga bagian, bukankah begitu?”
“Benar, jawab keduanya, lagi-lagi dengan serempak.
“si empunya lima belas potong roti makan untuk dirinya delapan roti, sehingga ia mempunyai sisa tujuh potong lagi dan itu dimakan oleh musafir yang belakangan. Sedang si empunya sembilan potong roti, maka delapan potong untuk dirinya, sedang yang satu potong di makan oleh musafir tersebut. Dengan begitu, si musafir pun tepat makan delapan potong roti sebagaimana kalian berdua, bukan?”
Kedua orang yang dari tadi menyimak keterangan Imam Ali, tampak sedang mencerna ucapan Imam Ali tersebut. Sejenak kemudian mereka berkata:”Benar, kami mengerti.”
“Nah, uang yang diberikan oleh di musafir adalah delapan dirham, berarti tujuh dirham untuk si empunya lima roti sebab si musafir makan tujuh potong roti miliknya, dan satu dirham untuk si empunya tiga roti, sebab si musafir hanya makan satu potong roti dari milik orang itu”
“Alhamdulillah…Allahu Akbar,” kedua orang itu berucap hampir bersamaan. Mereka sangat mengagumi cara Imam Ali menyelesaikan masalah tersebut, sekaligus mengagumi dan mengakui keluasan ilmunya.
“Demi Allah, kini aku puas dan rela. Aku tidak akan mengambil lebih dari hak-ku, yakni satu dirham,” kata orang yang mengadukan hal tersebut, yakni si empunya tiga roti.
Kedua orang yang mengadu itu pun sama-sama merasa puas. Mereka berbahagia, karena mereka berhasil mendapatkan pemecahan secara benar, dan mendapat tambahan ilmu yang sangat berharga dari Imam Ali bin Abi Thalib as.

6 komentar:

  1. assalamu 'alaikum
    Apakah anda seorang penganut ajaran syi'ah?
    sudah banyak bukti seperti itu,salah satunya anda juluki 'alaihissalam",padahal julukan itu hanya dimiliki oleh para nabi,sedangkan julukan para sahabat pada umumnya adalah radhiyallahu 'anhu...bukankah begitu?
    Anda juga mengatakan kalau 'Ali sebagai seorang Pemimpin Para Shiddiqin,padahal seperti yang anda ketahui,bahwa Abu Bakar lah pemilik bendera Ash Shidiq,dan dialah yang akan memimpin para shiddiqin,bukan 'Ali.

    wassalam

    BalasHapus
  2. Dan janganlah anda terlalu mengkultuskan 'Ali,karena bisa dapat menjadi Syirik Asghar

    BalasHapus
  3. Sebelumnya perkenankan kami mengucapkan
    salam yang selayaknya diucapkan seorang
    muslim ketika bertemu dengan saudaranya
    sesama muslim

    Assalamualaikum. Wr. Wb

    Alhamdulillah, terima kasih sudah mengingatkan
    agar kami tidak terjerumus kepada syirik ashgar.
    Semoga Allah senantiasa merahmati antum
    wahai saudaraku.

    BalasHapus
  4. Dan untuk pertanyaan sebelumnya, saya hanya ingin mengutip ucapan Imam Syafi'i Rahimahullah
    "Kalau memang mencintai Ahlulbait itu disebut zindiq, maka saksikanlah bahwa aku adalah orang yang zindiq"

    Inti dari semua ini adalah kecintaan kepada Ahlulbait yang pada masa sekarang ini hampir tidak ada di hati umat muslim.

    Ahlulbait sama sekali bukan milik satu golongan tertentu, apakah itu syi'ah ataupun ahlusunnah. Lebih dari itu Ahlulbait adalah milik seluruh ummat. Ahlulbait adalah pewaris
    dari sifat rahmatan lil 'alamin.

    Abdullah bin Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah Saww bersabda :

    “Bintang-bintang adalah sebagai media pengaman bagi penduduk bumi dari ketenggelaman. Dan Ahlulbaitku adalah sebagai media pengaman bagi umatku dari perpecahan. Apabila suatu golongan menentangnya (Ahlulbait) maka mereka akan terpecah dan tercerai-berai, sehingga mereka menjadi pengikut iblis.”
    (HR. al Hakim dalam Mustadrak al Shahihain ; Jalaluddin al Suyuthi didalam Jam al Jawami, 1/451)

    Diriwayatkan oleh Abu Dzar al Ghifari (juga oleh Abu Said al Khudri, Abdullah bin Abbas, Abdullah ibn Zubair, dll) bahwa Rasulullah Saww bersabda :

    “Perumpamaan Ahlulbaitku adalah seperti bahtera Nabi Nuh as ditengah-tengah kaumnya. Barangsiapa yang menumpanginya akan selamat, dan barangsiapa yang meninggalkannya akan tenggelam. Perumpamaan Ahlulbaitku juga seperti Pintu Bani Israil, barangsiapa yang memasukinya akan diampuni.”
    (HR. at Thabrani dalam al Awsath ; al Hakim didalam Mustadrak al Shahihain ; al Haitsami dalam Majma az Jawa’id, 9/168 ; Jalaluddin al Suyuthi dalam Jami ash Shagir hadits ke 8162 dan Jami al Kabir hadits ke 780 ; Abu Nu’aym didalam Hilyatul Auliya ; al Manawi dalam Fayd al Qadir)

    BalasHapus
  5. Adapun mengenai gelar Alaihisalam, kami mencoba membahasnya sebatas kemampuan kami yang jahil ini, silakan dirujuk kepada para
    ulama mengenai kebenarannya.

    Allah Ta'ala Berfirman :
    “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”
    (Qur’an surah al Ahzab ayat 56)

    Rasulullah Saww mengharuskan apabila seseorang mendengar nama Muhammad Saww disebutkan, hendaknya orang tersebut bershalawat kepada Rasulullah Saww dan keluarganya dengan mengucapkan :

    “Sal Allahu alaihi wa Alihi wassalam” (Saww)
    (Pernahkah antum mendengar Ustadz Arifin Ilham
    kalau selalu mengucapkan kalimat diatas)

    Syaikhul Hadits Ibnu Hajar al Haitami meriwayatkan mengenai hadits Rasulullah Saww dibawah ini :

    “Janganlah kalian bershalawat kepadaku dengan shalawat yang buntung.” Para sahabat bertanya. “Bagaimana shalawat yang buntung itu ?” Kemudian Rasulullah Saww menjawab. “Engkau mengucapkan Allahumma shalli ala Muhammad, kemudian engkau diam. Akan tetapi ucapkanlah, “Allahumma shalli ala Muhammad wa ala Alihi Muhammad.”
    (Ibnu Hajar al Haitami, al Shawa’iq al Muhriqah, hal. 87 ; Allamah al Qanduzi, Yanabi al Mawaddah, hal. 6 ; Jawahir al Uqdayn)

    Dalam pandangan para guru kami ketika diharuskan bershalawat itu kepada Rasul Saww dan keluarganya, ini berarti antara Rasul Saww dan keluarganya merupakan suatu kesatuan.
    Sehingga jika disebut nama salah seorang keluarga Rasulullah Saww maka ucapkanlah salam (Alaihi Salam). Darimana antum memperoleh hukum bahwa ucapan Alaihi Salam hanya untuk para Nabi? Tidakkah antum tahu bahwa dalam Qur'an sendiri Allah menyampaikan salamnya kepada Sayyidina Imran, bukankah Imran tidak termasuk Nabi.

    Mengenai Gelar Imam Ali sebagai pemimpin para Shadiqin itu adalah gelar yang diberikan oleh Rasulullah Saww sendiri. Jadi bukan kami sebenarnya yang memberikan gelar tersebut. Apakah antum tidak membaca riwayat itu secara lengkap? ataukah antum malas membacanya karena sudah menuduh kami sebagai syi'ah?
    Baiklah berikut kami kutipkan lagi haditsnya,
    Mengenai hal ini Rasulullah Saww bersabda :

    “Orang yang termasuk penghulu shiddiqin ada tiga. Pertama adalah Habib an Najjar, salah seorang keluarga Yasin yang beriman, yang mengatakan,”Wahai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu.” Yang kedua adalah Hizqil, salah seorang budak Fir’aun yang beriman yang mengatakan (Kepada Fir’aun), “Apakah engkau akan membunuh seseorang karena dia menyatakan Tuhanku adalah Allah?” Shiddiqin yang ketiga adalah Ali bin Abi Thalib, dia adalah yang terunggul diantara mereka semua.”
    (HR. Ibnu Asakir ; Diriwayatkan juga oleh Abu Nu’aim dalam kitab “Al Marifah” dari Abu Laila, dengan tingkatan hadits hasan menurut persyaratan Bukhari dan Muslim ; Hadits ini diriwayatkan juga oleh Ibn an Najjar dari Abdullah bin Abbas)

    Di zaman sekarang ini, ketika Islam sudah dipandang jelek oleh masyarakat dunia, karena berbagai macam kasus terorisme, bom, dsb.
    Mengapa kita masih harus bertengkar sesama
    umat muslim karena perbedaan pandangan?

    Bukankah akan lebih baik kalau kita sesama umat Islam saling bersatu padu membuktikan bahwa Islam adalah ajaran Rahmatan lil Alamin.

    Allahumma Shalli 'ala Muhammad wa 'ala Aali Muhammad wa Ashabihil Akhyar.

    BalasHapus
  6. Allahumma Shalli 'ala Muhammad wa 'ala Aali Muhammad wa Ashabihil Akhyar.

    BalasHapus