Selasa, 20 Mei 2008

Hikmah Kisah Sayyidina Uwais al Qarni - Kecintaan Kepada Para Kekasih Allah

Wejangan Spiritual Maulana Syaikh Ghauts Hasan

Diambil dari kitab "Irsyad 'ala Salikin - Bimbingan Bagi Penempuh Jalan Ruhani"

A’udzubillahi minasysyaithanirrajiim

Bismillahirrahmanirrahiim

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala Alihi Muhammad wa Ashabihil Akhyaar.

Rasulullah Saww bersabda :

"Sesungguhnya orang yang paling baik daripada kalangan Tabi‘in ialah seorang lelaki yang dipanggil Uwais, dia mempunyai seorang ibu, dan dengannya ada tanda keputihan (sopak), maka hendaklah kalian meminta kepadanya (Uwais) untuk memintakan ampun bagi kalian semua."

Dalam riwayat yang lain disebutkan :

"Uwais mempunyai seorang ibu yang dia (Uwais) berbuat baik kepadanya, jika dia bersumpah (memohon) kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya. Oleh karena itu jika engkau berupaya (untuk menemui Uwais) untuk memohonkan ampun bagimu, maka lakukanlah hal itu."
(HR. Muslim)

Sayyidina Uwais al Qarni adalah orang yang tidak pernah sekalipun bertemu dengan Rasulullah Saww secara fisik. Selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun beliau memendam hasrat kerinduan kepada manusia paling agung itu, namun hasrat hati itu terhalang oleh kondisi harus merawat ibu kandungnya yang telah tua renta.

Dalam kurun waktu yang lama, Uwais selalu memikirkan dan mencari cara agar dapat bertemu dengan Rasulullah Saww. Siang dan malam beliau merenung dan bermunajat dengan penuh pengharapan kepada Allah Azza wa Jalla agar dapat bertemu dengan Rasulullah Saww, serta agar dapat dikelompokkan kedalam golongan para pengikutnya. Sampai akhirnya doa dan tangisan Uwais dijawab oleh Allah Ta’ala, sehingga Allah memberikan wahyu Nya kepada baginda Rasulullah Saww, mengenai keberadaan orang yang sangat mencintai beliau. Karena itulah kita mengenal sabda Rasul Saww, “Akan datang Nafas Sang Maha Pengasih dari arah Yaman.”

Kemudian dengan izin Allah Ta’ala, Rasulullah Saww menemui Uwais dalam alam spiritual, pada pertemuan itu Rasulullah Saww bersabda kepada Uwais, agar jangan meninggalkan ibundanya, sebagai tanda bakti kepada orang tua dan kepatuhan terhadap sunah, dan Rasulullah Saww menyebutkan bahwa Uwais telah termasuk kedalam kelompok pengikut beliau Saww, namun ketika itu Uwais menghendaki hal yang lebih dari itu yakni dia ingin menjadi murid Rasul. Maka Rasulullah Saww akhirnya bersabda bahwa untuk menjadi murid, Uwais harus tetap memelihara rabithah (hubungan batin) dengan Rasulullah Saww itu melalui ketaatan kepada syariat dan sunah serta kecintaan kepada Ahlulbait, bila rabithah itu tetap terjaga, kelak Uwais akan menjadi murid spiritual dan berbai’at kepada penerus beliau Saww yang akan datang mengunjungi Uwais dikemudian hari (Dapat dipahami mungkin inilah dasar dari hadits Rasulullah Saww yang memerintahkan kepada Imam Ali kw dan Sayyidina Umar untuk mengunjungi Uwais al Qarni).

Setelah peristiwa itu, Uwais merasakan kebahagiaan yang sangat tak terbendungkan, bahkan kadang-kadang ditengah jalan beliau menyenandungkan syair-syair memuja Rasulullah Saww, dan terkadang masyarakat melihat Uwais (dalam kondisi tafakur) seperti berbicara seorang diri sambil menangis tersedu-sedu. Bahkan karena kecintaan yang mendalam terhadap diri Baginda Rasul Saww, ketika mendengar bahwa dalam perang Uhud beliau terluka sehingga giginya patah, maka Sayyidina Uwais memukul giginya sampai patah dan berdarah, agar beliau turut merasakan sakit yang dialami oleh Rasul. Maka karena berbagai perilakunya yang dipandang aneh itu, masyarakat menganggap Uwais sebagai orang yang kurang waras atau hilang ingatan. Namun walau bagaimanapun juga beliau tetap memelihara ketaatan kepada syariat dan sunah sebagaimana diwasiatkan oleh Rasulullah Saww.

Sampai kemudian tibalah waktunya Imam Ali kw dan Sayyidina Umar mengunjungi Sayyidina Uwais al Qarni. Ketika mereka mencari dan menanyakan kepada masyarakat, tidak seorangpun mengenalnya, hingga disebutkanlah ciri-ciri Uwais al Qarni yang memiliki tanda sopak, barulah masyarakat menunjukkan dan menyebut Sayyidina Uwais sebagai orang aneh dan tidak waras yang selalu menyendiri.

Ketika bertemu dengan Imam Ali kw, Sayyidina Uwais al Qarni mencium tangan Imam dan memohon bai’at kepada beliau. Uwais pun berkata, selamat datang wahai maula (Junjungan), wahai penerus Rasul, engkaulah orang yang selama ini aku tunggu dan aku rindukan, engkaulah yang aku harapkan menjadi “Jalan untuk memperoleh doa Rasul.” (Qur’an surah at Taubah ayat 99). Kemudian Imam Ali kw membai’at Sayyidina Uwais al Qarni didalam suluk.

Beberapa saat setelah peristiwa itu, Sayyidina Umar bertanya kepada Sayyidina Uwais al Qarni, “Bagaimana mungkin engkau yang tidak pernah bertemu dengan Rasulullah Saww dapat memperoleh kedekatan dengan beliau, dan memiliki kedudukan khusus disisi Allah Ta’ala?” Mendengar itu, Sayyidina Uwais al Qarni balik bertanya kepada Sayyidina Umar, “Apa yang engkau ketahui tentang Rasulullah Saww?” Kemudian Sayyidina Umar menyebutkan ciri-ciri fisik Rasulullah Saww, Sayyidina Uwais al Qarni menjawab,”Itu hanyalah fisik dari Sayyidina Muhammad Saww, sungguh rugi jika engkau yang selalu bersama Rasulullah Saww hanya mengenal beliau dari sisi itu, sedangkan aku yang berada jauh, mengetahui wujud cahaya beliau Saww yang sempurna.”

Semenjak kejadian itu, sayyidina Umar bin Khattab seringkali menyesali dirinya yang tidak maksimal dalam mengambil berkah manfaat dari kehadiran Rasulullah Saww, barangkali karena hal inilah sehingga kita temukan didalam riwayat :

“Pada suatu kali Umar mendatangi tempat Mu’adz ibnu Jabal ra, kebetulan ia sedang menangis, maka Umar berkata: “Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai Mu’adz?” Kata Mu’adz: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Para Wali Allah adalah orang-orang yang paling dicintai Allah, yakni mereka yang bertakwa yang suka menyembunyikan diri, jika mereka tidak ada, maka tidak ada yang mencarinya, dan jika mereka hadir, maka mereka tidak dikenal. Mereka adalah para imam pemberi petunjuk dan para pelita ilmu. Umar pun kemudian menangis mendengar hal itu.”
(Hadis riwayat an Nasa’i, Al Bazzar dan Abu Nu’aim di dalam Al Hilya jilid I hal. 6)

Sayyidina Uwais al Qarni tidak memperoleh ilmu dari Rasulullah Saww melalui penglihatan dan pendengaran panca inderanya, namun beliau memperolehnya secara ruhani melalui ketaatan dan kecintaan kepada Rasulullah Saww. Sayyidina Uwais al Qarni membentuk dan memelihara rabithah (Ikatan batin) dengan Rasulullah Saww, karena itulah beliau diangkat kepada kedudukannya yang tinggi.

Hikmah dari kisah tersebut diatas menjelaskan bahwa seorang pencari jalan ketika belum menemukan pembimbing yang mampu menuntun untuk menempuh perjalanan spiritual, hendaknya terus menerus memohon kepada Allah dengan tulus, dan dengan disertai ketaatan kepada segala perintah Nya. Apabila seseorang melakukan hal ini, niscaya Allah akan mempertemukannya dengan seorang mursyid haq yang merupakan pewaris dari Rasulullah Saww, sebagaimana Sayyidina Uwais akhirnya dipertemukan dengan Imam Ali kw.

Kemudian hikmahnya bagi para pengikut thariqah, belum tentu seseorang yang selalu bersama dengan syaikh secara fisik dapat mencapai derajat kedekatan dengan syaikh. Namun tentunya lebih utama lagi apabila orang yang secara fisik selalu berdekatan dengan syaikh, memelihara silaturahmi, serta mengambil manfaat dari ilmunya lahir dan batin. Kedekatan derajat dengan Syaikh ditentukan oleh kepatuhan dalam mengamalkan setiap ajarannya, demikian pula halnya mengenai kedekatan dengan Rasulullah Saww dan Ahlulbaitnya.

Keberkahan dan keselamatan akan senantiasa tercurah manakala didalam hati seseorang telah tertanam rasa cinta kepada pembimbingnya, karena sang pembimbing yang sah adalah jalan untuk memperoleh cinta dan doa Rasulullah Saww. Sebagaimana terdapat dalam kisah Sayyidina Uwais al Qarni, dengan kecintaan kepada pembimbing spiritualnya, beliau rela mengorbankan jiwa dan raga mengikuti peperangan membela sang Mursyid Imam Ali kw melawan Muawiyyah di perang Shiffin. Tentunya rasa cinta itu harus dibuktikan dengan melalui perilaku yang nyata, dengan melalui pelaksanaan adab! Sayyidina Uwais al Qarni sangat memelihara adab, sehingga beliau senantiasa merasakan kehadiran Rasulullah Saww kapanpun dan dimanapun, beliau merasa seolah-olah dirinya secara fisik dan ruhani senantiasa disertai dan diawasi oleh Rasulullah Saww, inilah yang disebut dengan ihsan dalam tahapan thariqah.

Apabila kita membuka kitab hadits, maka yang disebut ihsan adalah suatu kondisi dan perbuatan dimana kita beribadah, kita merasa seolah-olah melihat Allah, atau kita merasa seperti diawasi oleh Allah. Sesungguhnya inti dari ihsan adalah adab, sehingga kami katakan bahwa ihsan itu adalah engkau melakukan suatu amal dengan disertai pelaksaan adab. Ketika engkau sedang dimonitor oleh atasan dalam pekerjaan misalnya, maka tentunya engkau akan berusaha agar terlihat bekerja dengan baik dan bersungguh-sungguh, ini adalah demi munculnya perhatian dan penilaian yang baik dari atasan kepada dirimu. Lalu bagaimana pula dengan amaliah ibadah kita kepada Allah? Mengapa kita dalam melaksanakan ibadah itu seenaknya, malas-malasan, dan tidak menggunakan sopan santun dalam beribadah? Seringkali kita temukan orang yang shalat dengan memakai pakaian yang sudah kumal, padahal dia memiliki pakaian yang bagus, bagaimana pendapatmu tentang hal ini? Sedangkan ketika menghadap raja misalnya, seseorang akan berusaha agar terlihat rapi dan bersih, lalu dimanakah adab kita terhadap Rajanya alam semesta, Allah Azza wa Jalla?

Memang kenyataannya bagi kebanyakan manusia, ihsan adalah hal yang sangat sulit dilakukan, karena mereka tidak mengenal siapa Allah, mereka tidak mengenal Keagungan dan Kebesaran Nya. Kebanyakan manusia telah sedemikian terikatnya dengan alam materi, sehingga segala sesuatu selalu saja dikaitkan dengan hal-hal yang berbau materi, itulah sebabnya Allah Ta’ala kemudian mengutus Sayyidina al Musthafa Muhammad Saww. Allah mengutus Rasul dan Anbiya Alaihimu Shalatu wa Salam dari kalangan manusia, hal ini sebagai wujud Kemurahan Nya, karena Allah menghendaki kemudahan bagi umat manusia agar dapat berada pada jalan yang benar. Firman Nya :

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”
(Qur’an surah al Baqarah ayat 185).

Dengan diutusnya Rasulullah Saww, Allah Menghendaki agar aturan-aturan dan pesan-pesan Ilahiyyah kepada umat manusia menjadi jelas, sehingga manusia dapat mengikuti jejak langkah Rasulullah Saww dalam rangka mengikuti aturan-aturan Nya, guna memperoleh keselamatan dan kebahagiaan yang hakiki.

Allah Ta’ala Berfirman :

“Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(Qur’an surah Ali Imran ayat 31)

Ayat tersebut diatas menjelaskan bahwa manusia yang mengharapkan cinta Allah, hendaknya mengikuti Rasulullah Saww dengan penuh kecintaan kepada beliau Saww. Dalam ayat itu Allah tidak menyebutkan “Jika kamu benar-benar mencintai Allah, cintailah Muhammad.” Namun lebih lengkap dari hal itu, dijelaskan bahwa bukti dari kecintaan itu adalah dengan mengikuti, yakni dengan mencontoh segala ahlak dan perilaku yang diperbuat oleh Rasulullah Saww. Tanpa adanya ittiba (mengikuti), cinta hanyalah omong kosong belaka, cinta harus dibuktikan dengan perbuatan yang nyata.

Orang yang mencintai Allah harus mencintai Rasulullah Saww, orang yang mentaati Allah harus taat kepada Rasulullah Saww. Demikian pula halnya dengan ihsan, seseorang yang betul-betul ihsan didalam ibadahnya kepada Allah, maka dia harus senantiasa merasakan bahwa dia sedang bersama-sama dengan Rasulullah Saww, dan senantiasa diawasi serta diperhatikan oleh beliau Saww. Seperti itulah Sayyidina Uwais al Qarni, sehingga beliau mendapatkan gelar Nafas ar Rahman, dan selanjutnya beliau memperoleh peningkatan maqam dengan menghubungkan diri dan menjadi murid dari Imam Ali kw, inilah syarat dari suatu hubungan dengan Allah, yakni engkau harus berhubungan dengan orang-orang yang dicintai oleh Nya. Kalian harus memohon hal itu sebagaimana Rasulullah Saww sendiri memohon :

“Yaa Allah anugerahkanlah kepadaku kecintaan kepada Mu, kecintaan kepada orang yang mencintai Mu, dan amalan yang akan menyampaikanku kepada mencintai Mu. Jadikanlah kecintaanku terhadap Mu lebih aku cintai daripada kecintaan terhadap istri dan anak-anakku serta lebih dari cintanya seorang yang kehausan kepada air yang dingin.”
(HR. Tirmidzi)

Lihatlah, betapa Rasulullah Saww memohon agar dapat mengetahui dan mencintai orang-orang yang mencintai Allah, karena beliau mengetahui bahwa setiap orang akan dikelompokkan berdasarkan golongannya masing-masing, inilah sebabnya beliau Saww mampu mengetahui orang yang mencintai Allah dimanapun orang tersebut berada, seperti pada kisah Sayyidina Uwais al Qarni diatas. Bahkan saat ini pun, meski jasad Rasulullah Saww terbaring di kuburannya yang suci, namun beliau akan mengetahui, dan beliau akan mencintai kepada seluruh manusia yang didalam hatinya terdapat kecintaan kepada Allah Ta’ala. Karena beliau Saww tidaklah meninggal, beliau tetap hidup, sebagaimana Allah Berfirman :

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.”
(Qur’an surah Ali Imran ayat 169)

Didalam doa Rasulullah Saww tersebut menjelaskan bahwa kecintaan kepada Allah harus diikuti juga dengan kecintaan terhadap orang-orang yang mencintai Nya. Orang yang mencintai Allah harus mencintai juga kepada segala sesuatu yang dicintai Nya, juga harus membenci segala sesuatu yang dibenci Nya. Oleh karena itu, mencintai para waliyullah dan orang-orang shaleh adalah suatu keharusan dalam syariat Islam, ini adalah syarat mutlak apabila kita ingin memperoleh cinta Allah. Dan membenci para waliyullah adalah suatu kesesatan dan kejahilan, sebagaimana Rasulullah Saww bersabda,

“Allah Ta’ala Berfirman : “Barangsiapa memusuhi wali Ku, maka Aku mengumumkan perang terhadapnya.”
(HR. Bukhari)

Semua orang yang terhubung dengan Allah menjadi representasi Nya diatas permukaan bumi ini, para Ahlullah (waliyullah) adalah mereka yang jika dilihat, maka orang yang melihatnya akan mengingat Allah, mereka adalah kaki, tangan, mulut, mata, dan telinga Allah, mereka adalah af’al Allah Ta’ala. Sebagaimana Rasulullah Saww bersabda bahwa Allah Ta’ala Berfirman :

”Melalui amalan-amalan nawafil hamba-hamba Ku menjadi sedemikian rupa dekatnya dengan Ku, sehingga Aku menjadi telinganya yang dengannya dia mendengar, Aku menjadi matanya yang dengannya dia melihat, aku menjadi tangannya yang dengannya dia memegang, dan aku menjadi kakinya yang dengannya dia berjalan.”
(HR. Bukhari)

Seperti itulah para Ahlullah, mereka adalah para waliyullah yang menjadi kekasih Nya, mereka adalah para pewaris ilmu kenabian. Semua orang yang terhubung dengan Allah, terhubung pula dengan Rasulullah Saww, sebagaimana Allah telah memerintahkan seluruh manusia untuk menghubungkan diri (bershalawat) kepada Rasulullah Saww.

Allah Ta’ala Berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
(Qur’an surah an Nisa ayat 59)

Ulil amri didalam ayat tersebut secara khusus merujuk kepada para Ahlulbait Rasulullah Saww, sedangkan secara umum merujuk kepada para waliyullah dan para pemimpin yang shaleh dan taat, serta setiap orang yang terhubung kepada Rasulullah Saww. Oleh karena itu menghubungkan diri dengan para waliyullah dan orang-orang shaleh merupakan suatu keharusan bagi seorang muslim.

Kalian harus mencintai para waliyullah, kalian harus mencintai orang-orang yang shaleh, harus berusaha untuk bergaul dan bersilaturahmi dengan mereka. Karena ketika kalian bertemu dengan para waliyullah serta orang yang shaleh, cahaya dan energi-energi kebaikan mereka memancar kesekelilingnya, apabila kalian datang dengan hati yang tulus, maka kalian akan mampu untuk menyerap pancaran cahaya dan energi itu, engkau akan merasakan semangat baru didalam menjalankan ibadah, engkau akan merasakan kesegaran. Betapa besar manfaat pertemuan dengan mereka, namun tidak cukup dengan pertemuan secara fisik, engkau harus berusaha menghubungkan diri secara ruhani dengan mereka, mengikuti ahlak dan perbuatannya, karena dengan menghubungkan diri kepada mereka, berarti engkau menghubungkan dirimu dengan Allah dan Rasulullah Saww.

Pada masa sekarang ini, secara fisik Rasulullah Saww tidak lagi bersama kita, hanya orang-orang tertentu yang dapat berhubungan dengan beliau Saww secara langsung, namun diantara umat terdapat para pewaris beliau, mereka adalah para waliyullah yang telah dianugerahi tugas “al Irsyad”, yakni tugas-tugas untuk membimbing umat manusia. Sehingga setiap orang yang menghendaki untuk terhubung kepada Rasulullah Saww hendaknya menghubungkan diri dengan mereka. Inilah yang dimaksud dengan “Jalan untuk memperoleh doa Rasul” didalam surah at Taubah ayat 99.

Oleh karenanya ihsan berarti juga senantiasa terhubung dengan kebaikan dan para pelakunya, inilah yang dimaksud didalam hadits Rasulullah Saww, “Sesungguhnya seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya.” Dan secara khusus bagi para pengikut thariqah, ihsan adalah kalian beribadah dengan perasaan sebagaimana layaknya kalian bersama-sama dengan syaikh, dan selalu merasa diawasi oleh syaikhmu, hanya dengan cara inilah engkau dapat mengambil manfaat lahir dan batin dari keberadaan seorang syaikh. Inilah adab yang sesungguhnya didalam thariqah, manakala seorang salik selalu merasa bersama-sama dengan syaikhnya, maka dia akan masuk kepada tahapan fana fi syaikh, ini adalah tahap awal untuk sampai kepada tahap fana fillah penyatuan dengan Sang Kekasih, yakni Allah Azza wa Jalla. Hanya dengan cara inilah seorang salik dapat menapaki tangga demi tangga perjalanan spiritual sehingga mencapai suatu maqam kedekatan dengan Allah Ta’ala.

Wa minAllahu at taufik, wa salallahu ala Sayyidina Muhammad wa alihi wasallam

Alhamdulillahirabbil alamin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar