Kamis, 29 Mei 2008

Filosofi Adzan & Iqamah

Hujjatul Islam, Al-Ghazali, mengatakan, “Ketika anda mendengar panggilan sholat oleh muadzin, maka berusahalah membayangkan hingar bingarnya teriakan di hari kiamat. Persiapkan diri lahir batin untuk menjawabnya. Mereka yang segera menjawab ajakan tersebut, niscaya akan menjadikan dirinya orang yang mendapat perlakuan lemah lembut di hari Pembalasan nanti.”Adzan dan Iqomah adalah wujud “peringatan Ilahi” bagi para hamba-hambaNya untuk melakukan sholat. Sampai Nabi SAW mewajibkan ummat untuk menjawab panggilan itu, dengan menirukan kalimat Adzan tersebut, bahkan jedah waktu antara adzan dan iqomah, kita disunnahkan sholat sunnah dua rokaat.
Mengapa ada adzan dan iqomah sebelum sholat fardlu dimulai? Karena dalam Al-Qur’an sendiri disebutkan tiga kategori pelaku sholat:Pertama, para hamba yang diperintahkan sholat, dengan kata perintah “Aqimish-sholat” (Qs. Yunus, 105, Huud, 114, Al-Isra’,78, Thoha, 14, Luqman 17, al-Ahzaab, 33). Kemudian pada surat-surat lain seperti dalam surat Al-Baqarah, An-Nisaa’, al-An’aam Al-A’raaf, Yunus, Hajj, an-Nuur, Ar-Ruum, asy-Syura, Ar-Rahman, al-Mujadilah, al-Muzammil, menggunakan kata perintah dengan bentuk Jama’, yakni “Aqiimush-Sholat”.Masing-masing perintah baik dengan sasaran orang tunggal atau pun Jama’, memiliki impressi yang berbeda, dengan etika dan adab yang secara keseluruhan menekankan bahwa adab sholat haruslah berhubungan dengan keikhlasan beribadah (sholat). Ada perintah menegakkan sholat yang berhubungan dengan:
1. Waktu,
2. Adab mengingat Allah,
3. Menegakkan tauhidnya sholat agar tidak terjerumus dalam kemusyrikan.
4. Perintah lain seperti menunaikan zakat dan sikap berbegang teguh pada Allah,
5. Tata cara sholat, dengan mengikuti tata cara Rasulullah saw,
6. Hubungan sholat dengan amar ma’ruf nahi mungkar
7. Informasi hikmah sholat yang mencegah fakhsya’ (perilaku buruk) dan kemungkaran.
Banyak hikmah dibalik perintah-perintah tersebut, sehingga diperlukannya Adzan dan Iqomah untuk mengingatkan kesadaran vertikal kita kepada Allah SWT.Kata Iqomah sendiri, juga berhubungan dengan kata penegakan sholat. Selain kata perintah, juga ada kategori informasi berikut yang:Kedua, Qa’im, (Ali Imran, 39) yang identik dengan predikat “Muqiimush-Sholat”, orang yang menegakkan sholat (Ibrahim, 40 dan Al-Hajj, 35). Yaitu orang-orang yang benar-benar menegakkan sholatnya sebagaimana doa-doa Nabiyullah Ibrahim agar anak cucunya dan keluarganya bisa menjadi Muqiimush-Sholah, yaitu mereka yang mendirikan sholat dengan khusyu’, ikhlas, Lillahi Ta’ala.Ketiga, Iqomush-Sholat, (Al-Ambiya’, 73, An-Nuur, 37) yang lebih memberikan gambaran para pelaku Sholat sebagai ahli ibadah yang mencapai maqom ‘abudah, yaitu ketika hamba sholat, hanya Allah yang dipandang (Musyahadah).
KALIMAT ADZAN DAN IQOMAH
Karena itu, jika kita renungi makna yang terkandung dalam kalimat Adzan dan Iqomah bisa kita urai sebagai berikut:Allahu Akbar Allahu Akbar x2Takbir adalah perjalanan terkahir dari kehambaan manusia kepada Allah Ta’ala, pengakuan, amaliyah, dan maqomat serta nuansa terdalam dari ruhaniyah manusia. Tetapi juga sekaligus juga awal kita menghadap Allah. Sehingga setiap sholat pun kita membaca Takbirotul Ihram sebagai pernyataan iman kita kepada Allah, bahkan setiap perubahan dari gerak gerik sholat kita.Asyhadu Allaa Ilaaha Illallah x2 Asyhadu Anna Muhammadarrasuulullaah x2Syahadatain adalah kepasrahan dan keislaman kita, atas wujud keimanan kita. Dengan Syhadatain itulah kita memperbaharui iman kita setiap lima waktu sehari. Lalu segala bentuk kemakhlukan di semesta jagad lahir dan batin kita, haruslah terhapuskan agar tidak menjadi berhala ketika kita menghadap Allah Ta’ala.Seluruh pengakuan iman kita ada dalam Syahadatain, yang harus segera kita wujudkan dalam praktek ibadah utama kita, sholat.
Jika mengingat Allah melalui Musyahadah (dan karena itu bunyi syahadat adalah Asyhadu, aku bersaksi) segalanya tiada, yang Ada hanya Yang Maha Ada, Allah Ta’ala. Sedangkan Syahadah kepada Nabi Muhammad sebagai Rasul Allah SWT merupakan sikap keimanan kita kepada Nubuwwah dan RisalahNya melalui Inti Cahaya Kenabian dan Risalah, Muhammad SAW. Karena melalui Cahaya Nabi kita mengenal Allah dan Musyahadah kepadaNya, dan melalui Cahaya Nabi, Allah memantulkan seluruh Fadlal dan Rahmatya kepada kita.Hayya ‘Alash-Sholaah x 2Lalu kita menghadap Allah dengan diawali Takbirorul Ihrom dan diakhiri dengan Salam. Marilah kita sholat, marilah kita sholat. Allah memanggil dengan CintaNya, Kasih dan KaruniaNya. Sebab jika kita tidak memenuhi panggilanNya, kita akan kehilangan Cinta dan FadlalNya.Hayya ‘Alal Falaah x 2Mari meraih kemenangan. Tidak ada kemangan kecuali memenangkan sebuah pertarungan melawan hiruk pikuk makhluk (selain Allah) dalam jiwa kita, karena kemenangan sesungguhnya adalah kebersamaan kita dengan Allah. Karena dalam kebersamaan itu terjadi penyatuan diri kita dalam Musyahadah kepada Allah. Dari Allah, (minaLlah) kepada Allah (ilaLlah), Bersama Allah, (ma’aLlah) di Dalam Allah, (fiLlah) hanya bagi Allah, (liLlah) dan menyandar total kepada Allah (‘alaLlah).Allahu Akbar x2 Takbir diulang kembali, menjelang akhir dari sebuah panggilan, untuk memasuki kalimat Tauhid. Laailaaha IllallaahTiada Tuhan selain Allah.Jika adzan kita hayati, kita akan memasuki Iqomatus-Sholah melalui panggilan Iqomah untuk masuk sholat, jelas, jiwa kita sudah lebur dalam Ilahi.


---(ooo)---
M. Luqman Hakim

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar