Selasa, 13 Mei 2008

Adab Kepada Syaikh Mursyid

Di antara akhlak mereka adalah adab sopan santun yang mereka lakukan terhadap orang yang pernah mengajar mereka surah Al Qur'an atau ayat. Mereka tetap menghormati orang yang pernah mengajari surah Al Qur'an atau ayat atau pengetahuan tertentu, sampai mereka tidak mau lewat di depannya dengan menaiki kendaraan, meskipun mereka sudah menjadi tokoh besar Islam atau tokoh sufi.

Di antara adab yang mereka pelihara kepada guru adalah kebisaaan mereka memberi hadiah dan pakaian kepada mereka dan keluarga sebagai penghormatan kepada mereka. Begitu pula mereka tidak kikir kepada guru agama yang mengajari anak-anak mereka Al Qur'an tanpa mengharapkan balasan atas pemberian yang mereka lakukan.

Dikisahkan tentang Ibnu Abi Zaid al Qalrawani, penulis besar ar-Risalah, bahwasanya ia memberi guru agama anaknya ketika ia mengajar satu hizib Al Qur'an sebesar seratus dinar. Lalu guru agama itu berkata: "Aku, wahai sayyidi, tidak melakukan sesuatu yang patut diberi ini semua!" Lalu Syaikh guru agama itu mengalihkan anak didiknya itu kepada guru agama yang lain dan berkata: "Ini seorang laki-laki yang merendahkan Al-Qur'an." (saya mengatakan) Aku pernah melakukan demikian, alhamdulillah, dengan guru agamaku, Syaikh Hambali al-Halabi memberinya pakaian dan juga anak-anaknya hingga ia meninggal dunia. Saya tidak memandang bahwa saya telah melakukan suatu kewajiban atas haknya.
Suatu hari saya lewat bersama Syaikh Syamsuddin ad Dimyathi pada tahun 918 H. Lalu Syaikh Syamsuddin bertemu dengan seorang laki-laki buta dituntun putrinya. Ia kemudian turun dari kudanya dan meraih tangannya seraya menuntun jalan hingga jauh.

Ketika kembali saya bertanya siapa orang itu? ia menjawab bahwa ia adalah laki-laki yang pernah mengajarinya Al Qur'an pada masa anak-anak. Maka ia tidak berkenan lewat dengan menunggang kuda. Padahal Syaikh Syamsuddin telah memperoleh pangkat, kepercayaan, ilmu dan dekat dengan para raja dan ia sangat istimewa. Belum pernah kami melihat seseorang yang memperoleh karunia seperti dia di antara teman-teman sejawatnya sehingga saya pernah melihatnya sedang berada di antara dua istana pada suatu hari dikerumuni orang banyak berebut untuk mencium tangannya, dia yang tidak dapat mendekat mencoba melemparkan selendangnya hingga mengenai pakaiannya lalu mencium selendang itu seperti yang dilakukan orang terhadap kiswahh kabah ketika dibawa di Kairo.

Mengalah dan Rendah Hati
Diantara akhlak mereka Adalah sikap sangat mengalah hingga diantara mereka ada yang mencari barakah dari muridnya dan membawakan bawaan serta tidak memandangnya lebih mengetahui dari pada muridnya atau merasa lebih banyak amalnya, bilamana yang demikian itu tidak menimbulkan fitnah.

Dikisahkan bahwa Imam Syafi'i (ra) ketika mengutus utusannya kepada Imam Ahmad bin Hanbal bahwa ia akan mengalami cobaan besar dan akan bebas dari cobaan itu dalam keadaan selamat, yakni masalah apakah al-Qur'an makhluk atau bukan. Lalu ketika utusan itu memberitahukan kepadanya, Imam Ahmad bin Hanbal melepas gamisnya karena bahagia dengan kehadiran utusan Imam Syafi'i. Ketika utusan itu kembali dengan membawa gamis itu dan memberitahukan kepada Imam Syafi'i, ia bertanya: "Apakah gamis ini dilepas dari tubuhnya tanpa pakaian dalam?" Ia menjawab: "Ya benar" Lalu Imam Syafi'i mencium gamis itu dan dia tutupkan pada kedua matanya. Lalu ia basahi dengan air kedalam tabung dan menggilasnya lalu memerasnya. Aimya kemudian dimasukkan ke dalam botol untuk mengobati para sahabatnya yang sakit dengan cara mengoleskan air itu pada tubuhnya dan berkat pertolongan Allah mereka segera sembuh.

Patut direnungkan bagaimana kerendahan hati Imam Syafi'i terhadap muridnya, Imam Ahmad bin Hanbal. Yang demikian menunjukkan bahwa orang seperti ini meskipun amal shalihnya yang begitu banyak tidak membuat mereka memandang diri mereka sendiri lebih dari orang lain. Berbeda dengan orang orang yang mengaku diri syaikh di zaman sekarang. Orang terakhir yang saya ketahui mengalah dan mencari berkah dari muridnya serta mengirim orang sakit agar berobat padanya adalah Syaikh Muhammad bin Annan dan Syaikh Muhammad as Sarawi.

Syaikh Muhammad bin Annan suka mengirim orang yang menginginkan doa untuk orang yang sakit kepada Syaikh Yusuf al Haritsi. Syaikh Muhammad as Sarawi mengirim utusan kepada Syaikh Ali al Haddad padahal Syaikh Yusuf dan Syaikh Ali adalah murid kedua Syaikh ini.

Lembut dan Santun
Dalam hadits terdapat perintah untuk meluruskan shaf jamaah shalat dan bersikap lembut terhadap sesama.

Dalam al Qur'an juga terdapat peringatan, Firman Allah SWT:
"Jika kiranya kamu bersikap kasar dan keras hati tentu mereka lari dari sekelilingmu." (Ali Imran : 59).

Ketahuilah bahwa termasuk bagian dari sikap lembut terhadap orang orang fakir (para ahli sufi) adalah apabila masuk dalam kelompok yang sedang berdzikir pada Allah (SWT) seperti dzikir kaum Maghribah, Syanawiyah, Rifa'iyah umpamanya, maka hendaknya ikut berdzikir bersama mereka dengan cara seperti yang mereka lakukan sesuai aturan syara'.
Maka sebaiknya juga menyesuaikan dengan dzikir yang mereka ajarkan, yang dibolehkan dan yang jarang oleh mereka, tanpa menolak dengan alasan bahwa yang demikian bukan thariqat Syaikh Anda. Dengan demikian akan kehilangan pahala di samping terjebak dalam sikap kaku dan keras.

Membiarkan Lapar
Di antara akhlak mereka adalah lapar dengan jalan yang sesuai dengan syara'. Bilamana mereka tidak mendapatkan sesuatu yang halal untuk mereka makan, maka berhari-hari mereka menahan lapar. Pengalaman lapar ini telah mereka rasakan lalu menemukan cahaya batin dan kebaikan pada kekosongan perut hingga mereka mengatakan dalam pepatah: "Pada beduk terdapat suara keras hanya karena kosong dalamnya."
Mereka juga mengatakan bahwa seharusnya bagi orang alim tidak kenyang apalagi di hari-hari ia menulis kitab. Yang demikian itu agar ia tidak terhalang dari kesempumaan pemahaman Al-Quran, hadits, fiqih dan lain sebagainya. Sebab pemahaman orang kenyang itu lemah. Jika ada yang ragu mengenai ini, silahkan mencoba.

Kami pernah menemukan banyak orang fakir (ahli sufi) membisaakan lapar hingga di antara mereka ada yang berbuang hajat besar hanya sekali dalam satu minggu, karena malu terhadap Allah (SWT) jika banyak pergi ke kamar kecil dalam keadaan terbuka auratnya.

Bahkan yang lebih dari itu, Syaikh Tajuddin ad-Dzakir mengambil air wudhu hanya pada setiap dua belas hari sekali. Sayidi Ali asy-Syahawi, yang dikenal dengan Dzuaib mengajak semua orang yang ia temui untuk berpuasa dan mengatakan bahwa puasa adalah senjata orang mukmin, dan jika orang yang ahli berpuasa tidak mentaati Allah, ia tidak melakukan maksiat terhadapNya karena tidak ada dorongan yang mengajak kepada kemaksiatan. Di antara orang yang berpuasa sepanjang tahun adalah Syaikh Umar at-Tabtiti dan anak pamannya Syaikh Abdul Qadir. Keduanya sangat tinggi nuraninya dan kemauannya. Ikutilah jejak orang-orang terdahulu dan hendaknya tidak makan kecuali jika sangat lapar.

Tetap Ikhlas memberi Ilmu
Di antara akhlak mereka adalah bahwa jika ada orang yang tidak sepenuh hati belajar ilmu dari mereka, mereka tetap mengajamya akan tetapi senantiasa menghadap kepada Allah (SWT) dalam doa agar niatnya ikhlas. Dengan demikian mereka mendapat pahala dan ia begitu pula.

Sebab ilmu untuk dua hal: diamalkan dan menghidupkan syariah. Maka pemiliknya diberi pahala baik secara penuh maupun tidak penuh.
Syaikh Ali al-Khawwash berkata: "Pembawa ilmu itu mengamalkan ilmunya meskipun melakukan maksiat, karena jika itu terjadi ia bertobat dan menyesali sesuai ilmu yang ia ketahui. Seandainya bukan karena ilmunya itu tentu ia tidak tahu jalan bertobat dan menyesali.

Inilah pengamalan ilmu dari sisi ini. Jika orang yang melakukan maksiat tidak mengamalkan ilmunya, sebagaimana anggapan orang, maka ketahuilah bahwa ilmu itu bermanfaat bagi pemiliknya bagaimana pun, dan ilmu setiap orang tetap lebih banyak dari pada amalnya di setiap masa."

Tekad mengamalkan Ilmu
Di antara akhlak mereka adalah tekad mengamalkan ilmu semua orang alim yang mereka ketahui, tidak memperhatikan apakah orang alim itu mengamalkan ilmunya atau tidak.
Kemudian menjadikan pahala amal itu dalam catatan amal orang alim ini dan mereka memohon pahala dari Allah (SWT) sebagai karunia dan kemurahan.
Begitu pula bilamana membaca suatu ilmu mereka menjadikan pahalanya untuk pengarangnya, karena pahala setiap perkataan adalah untuk penuturnya.
Yang demikian tidak mungkin tercapai kecuali orang yang lebih mengutamakan orang-orang mukmin dari pada dirinya sendiri, sebagai peninggalan Rasulullah (SAW), sebagaimana yang kami bahas dalam kitab al-Minan at-Kubra.

Tetap Bergaul dengan Orang yang Memusuhinya
Di antara akhlak mereka adalah bergaul dengan orang yang secara diam-diam memusuhi tetapi menampakkan diri menyukai mereka. Mereka juga tidak menolak sama sekali terhadap orang yang ingin dekat kepada mereka.

Sebab jika ditolak yang demikian akan dapat menimbulkan fitnah dan menambah permusuhan. Akan tetapi ini membutuhkan kewaspadaan terhadap pelanggaran sebab bisa jadi orang yang tidak senang akan secara sengaja sedang mencari keburukan agar dapat dijadikan bahan untuk menjatuhkan mereka, sebagaimana yang banyak terjadi.

Oleh sebab itu bergaul dengan orang yang tidak dalam hatinya tidak menyukai harus bersikap waspada, sebab jauh dari musuh lebih baik bagi orang yang tidak memiliki kesempurnaan perilaku dan lemah agama. Sadarilah yang demikian.

Melihat Atas Kebaikan dan Menutupi Keburukan Orang lain
Di antara akhlak mereka adalah membuka mata lebar lebar atas kebaikan orang dan menutup mata rapat rapat atas kekurangan yang ada padanya. Maka Di antara mereka ada yang sama sekali tidak mau melihat aib saudara seagamanya sedikit pun dan semua orang baginya salih dan orang salih tidak ada yang memusuhi kecuali hanya karena iri dan dengki.

Jika dikatakan bahwa yang mempunyai kedudukan ini atau itu sedikit manfaatnya bagi teman-temannya karena tidak memberi nasihat dan peringatan dan kemungkaran lalu dengan demikian menjadi pelaku maksiat terus menerus dan tidak tertuntun untuk memberi peringatan, karena semua orang dianggap baik, maka jawabnya adalah bahwa ia memberi peringatan karena semua orang dianggap baik, maka jawabnya adalah bahwa ia memberi peringatan dengan ilham yang benar melalui berkaca diri atau dengan mengaitkan itu dengan dirinya sendiri dan berkata: "Sebagaimana aku juga melakukan pelanggaran umpamanya orang lain juga dapat berbuat salah. Semua kesalahan yang bisa terjadi pada diriku dapat terjadi pula pada orang lain."

Sementara dimaklumi di kalangan mereka bahwa menyebutkan kekurangan saudara mereka tidak lain adalah peringatan, bukan menganggap mereka bebas dari kesalahan seperti ini. Sebab orang yang sempurna di kalangan mereka dijuluki Abul Uyun, "maka segala sesuatu ada mata yang melihatnya, lalu ia memandang saudaranya lepas dari kekurangan seperi riya' dan kemunafikan atau lain lainnya dengan satu mata. ia menyikapi dengan hati hati seperti kehati hatian orang yang benar menuduhnya dengan kekurangan-kekurangan itu atau perkiraan dengan mata yang lain.






(Anwar al Qudsiyyah - Syaikh Abdul Wahab Sya'rani)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar